Jakarta, ICMES. Juru bicara gerakan Ansarullah, Muhammad Abdul Salam, Ahad (24/4), menyatakan bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi memobilisasi pasukannya di front Marib.

Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menyatakan bahwa Baghdad akan menjadi tuan rumah putaran baru pembicaraan antara Teheran dan Riyadh.
Pasukan komando selatan Rezim Zionis Israel mempertahankan status siaga tinggi terhadap Jalur Gaza, dan para pejabat keamanannya memandang bahwa jika petinggi politik mengambil keputusan maka mereka akan siap melancarkan militer operasi segera di Jalur Gaza.
Berita Selengkapnya:
Ansarullah: Koalisi Saudi Kerahkan Pasukannya di Front Ma’rib
Juru bicara gerakan Ansarullah, Muhammad Abdul Salam, Ahad (24/4), menyatakan bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi memobilisasi pasukannya di front Marib.
Abdul Salam mengingatkan bahwa tanggapan pihaknya terhadap pelanggaran gencatan senjata PBB di Yaman “akan sangat menyakitkan bagi Riyadh dan Abu Dhabi,” dan bahwa angkatan bersenjata Yaman dan para pejuang Ansarullah “siap untuk menghadapi agresi apapun.”
Sebelumnya, Ketua Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mahdi Al-Mashat, menegaskan keinginan pihaknya untuk menyukseskan gencatan senjata, pembukaan kembali bandara Sanaa dan pelabuhan Hudaydah, dan pencabutan blokade demi meringankan penderitaan rakyat Yaman.
Koalisi pimpinan Saudi dilaporkan terus melanggar gencatan senjata di Yaman. Perusahaan Minyak Yaman pada Kamis lalu mengkonfirmasi bahwa koalisi Saudi telah menahan kapal desel ambulan Harvest, meskipun telah diperiksa dan memperoleh izin dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menilai bahwa “gencatan senjata masih rentan dan temporal.”
Gencatan senjata antara koalisi pimpinan Saudi dan pemerintah Sanaa mulai berlaku pada malam tanggal 2 April lalu. Saat itu Grundberg mengumumkan bahwa “di bawah gencatan senjata ini, semua operasi militer ofensif melalui darat, udara dan laut akan dihentikan.” (raialyoum)
Menlu Irak Ungkap Perkembangan Perundingan Iran-Saudi di Baghdad
Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menyatakan bahwa Baghdad akan menjadi tuan rumah putaran baru pembicaraan antara Teheran dan Riyadh.
Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita resmi Irak, INA, Ahad (24/4), Fuad mengatakan, “Pembicaraan putaran kelima antara Arab Saudi dan Iran di Baghdad berakhir dalam suasana yang positif, dan “Ibu Kota Baghdad akan menjadi tuan rumah putaran baru pembicaraan setelah selesainya putaran kelima antara Riyadh dan Teheran.â€
Sebelumnya, Fuad mengatakan bahwa pemerintah Irak akan mengerahkan segenap upayanya dan memanfaatkan semua hubungannya demi menciptakan situasi yang kondusif bagi kesepahaman antara Teheran dan Riyadh.
Dalam beberapa bulan lalu Baghdad telah menjadi tuan rumah empat putaran perundingan Iran-Saudi.
Sementara itu, Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di parlemen Iran Majelis Syura Iran, Mahmoud Abbaszadeh Meshkini, memuji dialog kelima Iran-Saudi, dan menyebutnya “sangat positif dan konstruktif.â€
Dalam siaran pers dia mengatakan; “Jika negara-negara penting seperti Iran, Arab Saudi dan Turki menikmati hubungan baik maka Asia Barat (Timur Tengah) dapat berubah menjadi blok kekuatan.”
Dia menekankan bahwa Iran “berkeinginan mengambil kendali inisiatif penguatan hubungan antaranegara kawasan dan memainkan peran yang bijaksana, tanpa melihat ke belakang,” serta mengapresiasi upaya “Kesultanan Oman dan Irak untuk memberikan landasan yang sesuai untuk memulai pembicaraan antara Iran dan Arab Saudi.”
Meshkini juga mengatakan “Teheran akan melanjutkan dialog Iran-Saudi sampai hasil positif tercapai, karena memperkuat hubungan antara kedua negara akan menguntungkan kawasan secara politik, budaya dan ekonomi.” (raialyoum/alalam)
Militer Israel Nyatakan Siap Lancarkan Operasi Militer Masif Di Jalur Gaza
Pasukan komando selatan Rezim Zionis Israel mempertahankan status siaga tinggi terhadap Jalur Gaza, dan para pejabat keamanannya memandang bahwa jika petinggi politik mengambil keputusan maka mereka akan siap melancarkan militer operasi segera di Jalur Gaza.
Dikutip Rai Al-Youm, Ahad (24/4), saluran Kan milik Israel melaporkan, “Pasukan Komando Selatan-lah yang merekomendasikan petinggi politik untuk tidak menyetujui tanggapan militer terhadap penembakan roket pada malam lalu dari Gaza, sebab persepsi yang ada di lembaga keamanan ialah bahwa mencegah masuknya pekerja dari Gaza lebih efektif daripada pemboman.â€
Sementara itu, surat kabar Yedioth Ahronoth mengutip pernyataan sumber-sumber keamanan Israel bahwa tentara sangat siap untuk operasi militer skala besar di Jalur Gaza, dan minggu depan akan menentukan.
Surat kabar Israel itu menyebutkan bahwa peluncuran roket dari Gaza ke Israel menyebabkan tentara mempersiapkan serangkaian target ofensif di Jalur Gaza dan membuat mereka bersepakat dengan para petinggi politik.
Menurut Yedioth Ahronoth, para pemimpin politik Israel memutuskan untuk menanggapi peluncuran roket itu dengan “pesawat sipil†di atas Jalur Gaza. Dan selain bersiap untuk menyerang sasaran di Gaza, tentara merekomendasikan kepada pimpinan politik untuk menahan diri dari serangan kali ini dan menggantinya dengan mencoba menerapkan sanksi sipil sebagai alternatif.
Sanksi Israel itu dilakukan dengan menutup pintu perbatasan Beit Hanun (Erez) untuk pertama kalinya sejak mengizinkan puluhan ribu pekerja Palestina bekerja di dalam wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948) di mana sekitar 10.000 pekerja masuk untuk bekerja setiap minggu. Israel memutuskan untuk menutup pintu perbatasan itu sampai hari Ahad dan kembali mengevaluasi situasi keamanan.
Jumlah izin masuk ke Israel diperkirakan akan berlipat ganda dalam waktu dekat sebagai bagian dari kebijakan “carrot and stick”, namun pemerintah Israel sekarang memutuskan untuk menggunakan alat tekan sipil terhadap Hamas di Gaza.
Di pihak lain, pemimpin Gerakan Jihad Islam, Khader Habib, memperingatkan Israel konsekuensi penutupan pintu penyeberangan Gaza, dan menekankan bahwa berlanjutnya kebijakan penutupan dan blokade merupakan agresi yang akan memicu ledakan situasi.
Dalam sebuah siaran pers, Habib menegaskan, “Penutupan itu mencerminkan karakter agresif rezim pendudukan (Israel), yaitu terus menerus mendera orang-orang kami di Gaza, dan kubu resistensi tak akan membiarkan hal ini berkelanjutan.â€
Habib menyatakan bahwa kubu resistensi sedang mempelajari masalah ini, “dan jika terus berlanjut, pasti akan menyebabkan ledakan situasi.”
Pasukan pendudukan menutup pos pemeriksaan Erez sejak Jumat malam sampai pemberitahuan lebih lanjut. Pada dasarnya, sejak tahun 2006 Israel telah menutup lima dari tujuh pintu penyeberangan di Jalur Gaza. (raialyoum)







