Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 24 Oktober 2022

Jakarta, ICMES. Kelompok baru pejuang Palestina Arin Al-Usud (Sarang Singa) yang berbasis di wilayah pendudukan Tepi Barat, mengumumkan Israel telah membunuh salah satu kadernya di Kota Tua Nablus, sehari setelah tiga tentara Israel terluka dalam konfrontasi dengan warga Palestina di kota Quds yang diduduki Israel.

Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah menegaskan menegaskan  bahwa Palestina adalah hak  bangsa Palestina sendiri, dan memuji pendirian Iran dalam masalah ini.

Bentrokan antarsuku di Sudan yang berlangsung selama beberapa hari dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 220 orang, dan menjadi salah satu peristiwa kekerasan rasial paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berita Selengkapnya:

Israel Bunuh Seorang Anggota Pejuang Arin Al-Usud, Faksi-Faksi Palestina Serukan Pembalasan

Kelompok baru pejuang Palestina Arin Al-Usud (Sarang Singa) yang berbasis di wilayah pendudukan Tepi Barat, Ahad (23/10), mengumumkan Israel telah membunuh salah satu kadernya di Kota Tua Nablus, sehari setelah tiga tentara Israel terluka dalam konfrontasi dengan warga Palestina di kota Quds yang diduduki Israel.

Kelompok pejuang  yang terdiri dari para anggota berbagai faksi Palestina itu menjelaskan bahwa Israel membunuh pemuda Tamer Al-Kilani dengan alat peledak yang dipasang di sepeda motor, ketika dia melewati lingkungan Al-Yasmina di kota tua Nablus, Tepi Barat.

Kelompok itu menyebutkan bahwa rekaman video kamera CCTV memperlihatkan alat peledak high eksplossive dipasang pada sepeda motor kemudian diledakkan ketika Al-Kilani melintas.

Gerakan Fatah berduka cita dan mengumumkan belasungkawa di Nablus atas gugurnya al-Kilani.

Dalam peristiwa lain, seorang pemukim Zionis terluka parah akibat ditikam di Quds (Yerussalem). Koresponden Al-Jazeera mengatakan bahwa pasukan Zionis Israel menembak seorang anak pria yang dicurigai sebagai pelaku penikaman.

Pasukan pendudukan itu juga menangkap seorang pria Palestina yang mereka sebut sebagai “ayah pelaku” di Quds, setelah mereka menggerebek rumahnya di timur kota ini.

Sementara itu, faksi-faksi Palestina pada hari itu menyerukan eskalasi perlawanan terhadap Israel di Tepi Barat, sebagai tanggapan atas eskalasi pembunuhan Israel terhadap orang Palestina.

Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dalam sebuah pernyataan menyebutkan, “Al-Kilani berasal dari barisan PFLP sejak awal, dan dia adalah seorang tahanan yang dibebaskan setelah delapan tahun mendekam di penjara rezim pendudukan atas tuduhan terhubung dengan sayap militer PFLP.”

Faksi ini menegaskan, “Pembunuhan al-Kilani tak kan dapat menghentikan gelombang revolusi, dan reaksi terhadapnya akan dilakukan melalui eskalasi lebih lanjut resistensi dan konfrontasi terhadap rezim pendudukan di semua lini dan poros.”

Hamas mengutuk pembunuhan itu dengan menegaskan, “Kejahatan membunuh al-Kilani tidak akan dibiarkan begitu saja. Darah syuhada tidak akan sia-sia, dan bangsa (Palestina) ini akan melanjutkan jalan resistensi.”

Hamas menyerukan kepada rakyat Palestina di Tepi Barat untuk “meningkatkan perlawanan dan membalas darah al-Kilani dan para syuhada lainnya.”

Senada dengan  ini, faksi Jihad Islam Palestina (PIJ) menyatakan, “Pembunuhan itu mengingatkan peran al-Kilani yang pemberani dan rekan-rekannya di Arin Al-Usud, yang telah menjadi mimpi buruk bagi musuh. Pembunuhan orang Palestina tidak akan dibiarkan begitu saja.”

PIJ menambahkan, “Kejahatan ini tidak akan mempengaruhi tekad para pejuang, api akan meningkat dan tidak akan berhenti di hadapan tentara pendudukan dan pemukim.”

Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina (DFLP) juga turut angkat suara menyerukan eskalasi perlawanan terhadap “kejahatan fasis rezim pendudukan”. Menurut faksi ini, pembunuhan yang dilakukan secara licik oleh Israel itu menunjukkan “kegagalan dan ketakutan” Rezim Zonis.

DFLP menyerukanreaksi atas kejahatan itu dengan “meningkatkan perlawanan rakyat dalam semua bentuk yang tersedia di semua bidang dan menimpakan kerugian materi pada tentara pendudukan dan pemukimnya untuk memaksa mereka meninggalkan tanah Palestina.”

Kota Nablus dan kamp-kamp pengungsinya sudah 13 hari diblokir secara ketat oleh tentara Israel sejak seorang anggota terbunuh di tangan seorang pejuang Palestina. (raialyoum)

Sekjen Jihad Islam Palestina Puji Iran dan Sebut Rekonsialisi Palestina Sia-Sia

Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah menegaskan menegaskan  bahwa Palestina adalah hak  bangsa Palestina sendiri, dan memuji pendirian Iran dalam masalah ini.

Dalam sebuah wawancara eksklusif di saluran Al-Jazeera, Ahad malam (23/10), Al-Nakhalah menyebutkan bahwa proyek Zionis adalah untuk memusnahkan bangsa Palestina.

“Ketika kita memahami dengan baik dan menyadari proyek Zionis, kita dapat mempersiapkan alat untuk menghadapinya dengan lebih baik,” ungkapnya.

Dia menilai Israel memperlakukan Tepi Barat sebagai gudang bagi pekerja, dan menyebut rezim Zionis itu sebagai kekuatan yang membunuh, menghancurkan dan menangkap, sementara otoritas Palestina malah melayani rezim pendudukan dan dibayar untuk itu sehingga rekonsiliasi Palestina menjadi sia-sia dan “membuang-buang waktu” karena segala sesuatunya dilakukan sesuai persetujuan Israel.

Mengenai Iran, dia menyebut negara republik islam sebagai sekutu PIJ dan bangsa Palestina karena memiliki pendirian yang tegas, memusuhi Israel dan gigih menyokong perlawanan Palestina.

“Kami dan Iran dalam satu aliansi, Iran menyokong resistensi dan mendukungnya secara politik, semua gerakan Islam semula mendukung revolusi Islam Iran, tapi kemudian banyak yang berubah (sikap),” ujarnya.

Al-Nakhalah menambahkan, “Iran anti AS dan Israel, menyokong resistensi, sementara rezim-rezim resmi Arab bersekutu dengan Israel dan Barat, tak mendukung resistensi. Jadi, Iranlah negara yang menyokong  gerakan Jihad Islam dan semua faksi resistensi Palestina.”

Mengenai dukungan Iran itu sendiri, Sekjen PIJ mengatakan, “Dukungan Iran kepada kami terbatas, tak memenuhi apa yang dibutuhkan oleh gerakan (PIJ) ini, seandainya ada dukungan yang lebih niscaya jihad akan lebih baik daripada apa yang kita lihat. Hamas mendapat porsi dukungan lebih banyak, mengingat bahwa Hamas adalah organisasi yang lebih besar.”

Dia menilai sangatlah berlebihan anggapan sementara orang bahwa Iran mengendalikan aneka peristiwa di lapangan dan peperangan Gaza melawan Israel.

Al-Nakhala lantas mengecam normalisasi hubungan Arab dengan Israel. Dia mengatakan, “Arab bergegas menuju normalisasi hubungan dengan Israel, sedangkan Iran justru bereskalasi anti rezim pendudukan ini. Saya tidak dalam posisi membela mereka (Iran), mereka toh bisa membela diri.” (raialyoum)

Ngeri, Bentrokan Antarsuku di Sudan Tewaskan Sedikitnya 220 Orang

Bentrokan antarsuku di Sudan yang berlangsung selama beberapa hari dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 220 orang, dan menjadi salah satu peristiwa kekerasan rasial paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pertempuran di provinsi Nil Biru, yang berbatasan dengan Ethiopia dan Sudan Selatan, kembali pecah pada bulan ini akibat sengketa tanah yang memicu konflik orang Hausa, yang berasal dari Afrika Barat, melawan komunitas Berta.

Ketegangan meningkat pada hari Rabu dan Kamis lalu di kota Wad al-Mahi di perbatasan dengan Ethiopia. Kerusuhan menambah kesengsaraan negara yang terperosok dalam konflik sipil dan kekacauan politik ini.

Fath Arrahman Bakheit, Dirjen Kementerian Kesehatan Nil Biru, Ahad (23/10), mengatakan bahwa para pejabat telah menghitung sedikitnya 220 tewas akibat bentrokan tersebut, dan angka itupun masih bisa jauh lebih tinggi karena tim medis belum mampu mencapai pusat pertempuran.

Bakheit mengatakan konvoi kemanusiaan dan medis pertama mencapai Wad al-Mahi pada Sabtu malam untuk menilai situasi, termasuk menghitung “sejumlah besar mayat” dan lusinan korban luka.

Bakheit mengatakan, “Dalam bentrokan seperti ini, semua orang kalah. Kami berharap ini segera berakhir dan tidak pernah terjadi lagi, tapi kami membutuhkan intervensi politik, keamanan, dan sipil yang kuat untuk mencapai tujuan ini.”

Rekaman dari tempat kejadian menunjukkan rumah dan mayat yang hangus terbakar serta kaum wanita dan anak-anak kecil yang melarikan diri dengan hanya berjalan kaki.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyebutkan banyak rumah terbakar sehingga sekira7.000 orang terpaksa mengungsi ke kota Rusyaris, dan beberapa lainnya melamatkan diri ke provinsi tetangga.

Menurut PBB, secara keseluruhan, sekira 211.000 orang telah mengungsi akibat konflik antarsuku dan berbagai kekerasan lain di seantero Sudan pada tahun ini. (aljazeera)