Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 24 Mei 2021

Jakarta, ICMES. Seorang purnawirawan jenderal Israel menilai negara Zionis ini telah menghancurkan Jalur Gaza dalam peperangan yang terjadi belum lama ini selama 11 hari tapi gagal menghentikan amuk badai roket Hamas.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyampaikan pernyataan bernada ancaman terhadap para petinggi Gerakawan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh mengadakan pertemuan dengan rekan seperjuangannya di Jalur Gaza Sekjen Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Nakhalah

Tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) membuat kejutan dengan aksi nekat jubir militer Yaman, Brigjen Yahya Saree,  mendatangi posisi pasukannya di wilayah Jizan, Arab Saudi. Bersamaan dengan ini, pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyampaikan pidato yang menegaskan bahwa Israel pasti akan musnah.

Berita Selengkapnya:

Purnawirawan Jenderal Israel: Gaza Hancur, Tapi Tapi Amuk Roket Hamas Tak Terhentikan

Seorang purnawirawan jenderal Israel menilai negara Zionis ini telah menghancurkan Jalur Gaza dalam peperangan yang terjadi belum lama ini selama 11 hari tapi gagal menghentikan amuk badai roket Hamas.

Mayjen purn. Yitzhak Brik saat menyebutkan penilaian itu kepada radio militer Israel, Ahad (23/5), sembari mengatakan, “Sudah runtuh secara tatal teori yang mengatakan bahwa kemenangan dalam perang dapat dicapai dengan jet tempur semata.”

Brik yang pernah menjabat sebagai komandan pasukan rahasia Israel dalam Perang Oktober 1973 antara Mesir dan Suriah di satu pihak dan Israel di pihak lain memperingatkan skenario buruk yang dapat menimpa Israel.

Dia menyoal, “Jika dalam 11 hari kita gagal menghentikan serangan roket Gaza, lantas bagaimana kita dalam melakukannya dalam perang multi-front yang juga melibatkan Hizbullah? Hal ini akan menjadi kehancuran yang sebenarnya, dan kita tak mampu mencegahnya.”

Mantan ombudsman Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ini menambahkan, “Dalam dua pekan lalu jet tempur  (Israel) telah menghancurkan Gaza, tapi ada satu hal yang gagal diwujudkan, yaitu penghentian penembakan roket Hamas.”

Brik mencatat bahwa berbagai kota dan permukiman Zionis Israel telah diserang dengan sekira 4000 roket dari Gaza dalam 11 hari perang yang meletus mulai 10 Mei dan berujung gencatan senjata pada 21 Mei. (raialyoum)

Menhan Israel: Gencatan Senjata Tak Berarti Keamanan bagi Para Petinggi Hamas

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyampaikan pernyataan bernada ancaman terhadap para petinggi Gerakawan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Dia mengatakan bahwa gencatan senjata tak menjamin keamanan para pemimpin Hamas, termasuk Kepala Biro Politik Hamas di Gaza Yahya Sinwar dan Komandan Umum Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas Mohammad al-Dhaif.

Pernyataan ini dia lontarkan setelah beredar video Yahya Sinwar muncul di tengah masyarakat Gaza untuk pertama sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Gaza dan Israel.

Dalam video itu tampak Sinwar berjalan kaki di jalanan kota Khan Yunis di selatan Jalur Gaza disambut oleh sejumlah orang dan kemudian mendatangi sebuah tenda yang dihadiri oleh para pelayat acara belasungkawa atas gugurnya Basim Isa, salah seorang komandan Brigade Al-Qassam.

“Tak ada kekebalan bagi para pemimpin Hamas, termasuk Mohammad al-Dhaif dan Yahya Sinwar. Saya tak menjalin perjanjian perlindungan dengan siapapun di antara mereka, dan saya tidak terikat untuk tidak adanya gangguan terhadap mereka,” ungkap Gantz, Ahad (23/5).

“Tel Aviv hanya akan memperkenankan masuknya kebutuhan dasar kemanusiaan saja ke Gaza sampai para tahanan dan orang-orang Israel yang hilang di Gaza dikembalikan,” imbuhnya.

Hamas menawan empat orang Israel, dua di antaranya tentara, dalam peristiwa perang Gaza-Israel tahun 2014.

Dia juga menyebutkan bahwa tindakan Israel terhadap Gaza sekarang akan jauh lebih terbatas dibanding masa sebelum serangan ke Israel ke Gaza yang berlangsung selama 11 hari sejak 10 hingga 21 Mei lalu.

Dia mengatakan bahwa Israel akan melarang perluasan zona pencarian ikan di kawasan pantai Gaza di Laut Mediterania, mengupayakan penguatan otorita Palestina, dan tidak memperkenankan Hamas membuat jadwal kerja.

Seperti diketahui, gencatan senjata diterapkan sejak Jumat 21 Mei lalu setelah Israel 11 hari melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza yang dihuni oleh lebih dari dua juta orang Palestina dan diblokade oleh Israel sejak tahun 2006 sampai sekarang.

Serangan Zionis itu menggugurkan 279 orang Palestina di Gaza, termasuk 69 anak kecil dan 40 wanita dewasa, serta melukai 8900 orang lainnya dengan kondisi 90 di antaranya parah.

Sedangkan di pihak Israel tercatat 13 korban tewas dan ratusan lainnya terluka akibat gempuran rudal para pejuang Palestina di Gaza. (raialyoum)

Pemimpin Hamas dan Pemimpin Jihad Islam Bertemu dan Berbagi Ucapan Selamat atas Kemenangan

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh mengadakan pertemuan dengan rekan seperjuangannya di Jalur Gaza Sekjen Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Nakhalah, Ahad (23/5).

Dilaporkan bahwa dalam pertemuan itu keduanya saling berbagi ucapan selamat atas kemenangan rakyat dan para pejuang Palestina dalam perlawanan gagah berani mereka di Jalur Gaza terhadap Rezim Zionis Israel selama 12 hari perang yang berujung gencatan senjata pada Jumat lalu.

Keduanya menekankan keharusan persatuan antara kedua faksi besar pejuang Palestina tersebut di lapangan maupun di kancah politik.

Selain itu, keduanya juga membicarakan eskalasi militer Gaza-Israel yang terjadi selama dua pekan lalu, yang bermula dari berbagai insiden kekerasan Israel terhadap warga Palestina di komplek Masjid Al-Aqsa dan lingkungan Sheikh Jarrah di kota pendudukan Quds yang kemudian menjalar ke Tepi Barat hingga pecah konfrontasi militer antara Gaza dan Israel selama 12 hari.

Haniyeh dan Nakhala menyatakan bahwa perlawanan para pejuang Palestina bersandi “Pedang Gaza” terhadap serangan Israel bersandi “Penjaga Perbatasan” menjadi kemenangan bagi kubu resistensi dan rakyat Palestina, umat Arab dan Islam serta seluruh kaum berjiwa merdeka dunia.

Keduanya memastikan bahwa situasi pasca Perang Gaza di bulan Mei itu akan jauh berbeda dengan sebelumnya, yang menuntut adanya pandangan komprehensif di berbagai level nasional dan internal maupun dalam konteks hubungan dengan umat Islam dan masyarakat internasional demi kesuksesan cita-cita pembebasan Palestina dari pendudukan kaum Zionis Israel. (alalam)

Brigjen Yahya Saree Menyusup ke Wilayah Arab Saudi

Tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) membuat kejutan dengan aksi nekat jubir militer Yaman, Brigjen Yahya Saree,  mendatangi posisi pasukannya di wilayah Jizan, Arab Saudi. Bersamaan dengan ini, pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyampaikan pidato yang menegaskan bahwa Israel pasti akan musnah.

Dalam video yang beredar sejak Ahad (23/5) terlihat Yahya Saree berada di tempat terbuka di perbukitan dan menyapa pasukan Yaman yang berjaga-jaga di sana. Di situ dia menyampaikan pernyataan sembari menyebutkan bahwa wilayah di sekitarnya itu adalah wilayah Arab Saudi.

“Kami sekarang berada di kedalaman wilayah Saudi, dan semua area yang kini sekarang ada di sebelah kanan kami ini adalah wilayah Saudi, dan semua daerah pegunungan ini dikuasai oleh para ksatria Lijan Shaabiya. Semua ini berkat anugerah Allah,” ujar Saree dalam video tersebut.

“Kami hari ini mengadakan kunjungan ied ke tentara dan para pejuang Lijan Shaabiya yang berjaga-jaga di sini, pada 4 Syawal 1442 H. Dengan izin Allah, tahun ini akan menjadi tahun kemenangan, baik di front perbatasan maupun di front-front lain. Semua ini berkat pertolongan Allah dan kesolidan saudara-saudara mujahidin yang berjaga-jaga di tempat-tempat ini,” lanjutnya.

Sembari menunjuk ke arah suatu kota kecil, Saree mengatakan, “Sekarang Anda dapat melihat kota Al Khubah, yang sekarang ada di hadapan kami dari arah ini dan terlihat sepenuhnya di depan kami dan di dalam gambar. Kami sekarang memantaunya di garis kontak depan dan garis konfrontasi langsung dengan musuh. Semua ini berkat anugerah Allah SWT, dan tiada kemenangan kecuali dari Allah.”

Bersamaan dengan ini, pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyampaikan pidato panas mengenai Rezim Zionis Israel dan negara-negara pendukungnya.

Dia menegaskan, “Israel mendapat dukungan nyata dari Inggris serta dukungan dari podium-podium media beberapa negara (Arab) yang telah menormalisasi hubungan dengannya dan berkhianat kepada umatnya. Meski demikian, mereka gagal karena satu di antara tiga kepastian yang telah kami bicarakan pada Hari Quds Sedunia ialah keruntuhan , keberakhiran dan kekalahan entitas musuh, (Israel), ini. Kepastian itu antara lain ialah kerugian mereka yang berpihak kepada Israel sebelum maupun setelah kekalahannya.”

Dia menambahkan, “Karena itu, kami memastikan untuk terus melanjutkan semua upaya mendukung resistensi.” (alalam)