Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 24 Juni 2019

iran menlu javad zarifJakarta, ICMES: Iran menyatakan bahwa insiden pelanggaran pesawat nirawak pengintai AS terhadap wilayah Iran merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya oleh “Tim-B” untuk menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam perang AS melawan Iran.

Penasehat Keamananan Nasional Gedung Putih John Bolton angkat bicara mengenai penembak jatuhan pesawat nirawak pengintai MQ-4C Triton milik AS oleh Iran dengan meminta Teheran untuk tidak menganggap AS lemah.

Demi meraup uang Arab Saudi, Presiden AS Donald Trump menolak permintaan PBB agar Polisi Federal AS, FBI, menyelidiki kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman menyerang Bandara Abha dan Bandara Jizan, Arab Saudi, dengan pesawat nirawak.

Berita selengkapnya:

Menlu Iran: “Tim-B” Ingin Jebak Trump Ke Dalam Perang Melawan Iran

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan insiden pelanggaran pesawat nirawak pengintai AS terhadap wilayah Iran di Laut Oman merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya oleh “Tim-B” untuk menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam perang AS melawan Iran.

“Tim-B ” atau “Kubu Elang” adalah sebutan untuk sekelompok orang yang terdiri atas Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Di halaman resmi Twitter-nya, Minggu (23/6/2019), Zarif menyebutkan bahwa tim itu sebelumnya juga telah melakukan upaya kotor terhadap Republik Islam, termasuk pelanggaran wilayah Iran oleh pesawat nirawak MQ2 pada akhir Mei lalu, dan panggilan telepon untuk mengaitkan Iran dengan serangan terhadap kapal-kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah Uni Emirat Arab.

Menurut Zarif, semua tindakan itu dihasut oleh B-Team dengan tujuan menggelincirkan Trump ke dalam perang melawan Iran, tapi “kehati-hatian telah mencegahnya.”

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani di hari yang sama mengatakan pelanggaran zona udara itu merupakan “awal ketegangan baru di kawasan.”

“Wilayah ini sangat sensitif dan keamanan Teluk Persia dan Laut Oman penting bagi banyak negara. Karena itu, kami berharap semua badan internasional menunjukkan reaksi yang sesuai terhadap tindakan agresif oleh AS,” kata Rouhani dalam sebuah pertemuan dengan Organisasi Antarparlemen Dunia (IPU) Gabriela Cuevas Barron di Teheran. (presstv)

John Bolton: Pembatalan Serangan ke Iran Jangan Sampai Dianggap AS Lemah

Penasehat Keamananan Nasional Gedung Putih John Bolton angkat bicara mengenai penembak jatuhan pesawat nirawak pengintai MQ-4C Triton milik AS oleh Iran dengan meminta Teheran untuk tidak menganggap AS lemah.

“Iran hendaknya tidak salah menafsirkan keputusan Presiden (AS) Donald Trump membatalkan serangan terhadap Iran pada saat-saat terakhir sebagai suatu kelemahan. Iran ataupun pihak lain yang memusuhi (AS) jangan sampai salah dengan menganggap rasionalitas dan kesabaran AS sebagai kelemahan, ” ujar Bolton menjelang pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Quds (Yerussalem), Ahad (23/6/2019).

Dia melanjutkan, “Pasukan kami telah dibangun kembali, dan siap meluncur.”

Hal itu dia katakan dua hari setelah apa yang disebut Presiden Trump “pembatalan serangan” ke Iran, sebagai reaksi atas penembak jatuhan pesawat nirawak AS oleh pasukan elit Iran Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Kamis lalu (20/6/2019).

MQ-4C Triton  adalah nirawak seharga lebih dari US$ 200 juta, lebih mahal daripada jet tempur AS manapun, dan  merupakan yang tercanggih di arsenal militer AS. Satu unit nirawak tipe istimewa ini dirontokkan oleh Iran dengan sistem payung udara “Khordad 3” buatan Iran sendiri.

Jumat lalu Trump mengaku “tidak terburu-buru” membalas Iran secara militer sehingga membatalkan serangan ke Iran pada saat-saat terakhir menjelang waktu penyerangan pada Kamis malam.

Dia menyebutkan bahwa serangan itu dibatalkan karena ada jenderal AS menyatakan bahwa serangan itu beresiko menewaskan 150 orang.

Di halaman Twitternya dia mencuit, “Pada hari Senin (sebenarnya Kamis, red.) mereka menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang terbang di Perairan International. Kami dimiringkan & dimuat untuk membalas semalam pada 3 pemandangan yang berbeda. Ketika saya bertanya, berapa banyak yang akan mati. 150 orang, tuan, adalah jawaban dari seorang Jenderal. 10 menit sebelum serangan saya menghentikannya.” (alalam/nyt)

Demi Meraup Uang Saudi, Trump Tetap Bela Bin Salman Soal Pembunuhan Khashoggi

Presiden AS Donald Trump menolak permintaan PBB agar Polisi Federal AS, FBI, menyelidiki kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Pada pekan lalu Pelapor Khusus PBB untuk Eksekusi ekstra-Yudisial, Agnes Callamard, merilis laporan mengenai pembunuhan itu dan menyebutkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) harus tunduk kepada penyelidikan tindak pidana. Callamard lantas meminta antara lain supaya FBI melakukan penyelidikan dan “menindak lanjuti tuntutan pidana di AS secara tepat”.

Dalam wawancara dengan NBC, Minggu (23/6/2019), saat menanggapi pertanyaan berulang kali apakah FBI akan diizinkan melakukan penyelidikan, Trump mengatakan, “Saya pikir itu telah diselidiki secara intensif…  Jika Anda melihat Arab Saudi maka lihatlah Iran dan negara-negara lain, saya tidak akan menyebut nama, dan lihatlah apa yang terjadi.”

Dia kemudian menyebutkan bahwa Saudi adalah pembeli utama alutsista dari AS.

“Jika mereka (Saudi) tidak membeli dari kita maka mereka akan menjalin transaksi dengan Rusia atau Cina. Kita harus mendapatkan uang mereka… Mereka membela banyak sekali senjata kita senilai $150 miliar, dan jika mereka tidak membeli perlengkapan dari kita maka mereka akan membelinya dari Cina dan Rusia,” ujarnya.

Dia menambahkan, “AS adalah pembeli besar produk-produk AS, dan memberiku kesempatan untuk banyak pekerjaan, berbeda dengan negara-negara lain, yang tidak memiliki harta, sehingga kitalah yang malah menyokong segalanya secara materi, dan ini berarti banyak hal bagi saya.”

AS membela Saudi sepenuhnya, termasuk di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai perang Saudi terhadap Yaman dan pembunuhan Khashoggi.

Saudi menolak laporan PBB tersebut sembari berdalih bahwa pemimpin Saudi tidak punya peran apapun dalam pembunuhan Khashoggi di Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki, dan Saudi sendiri juga sudah mulai mengadili 11 tersangka yang lima di antaranya diancam hukuman mati. (raialyoum)

Ansarullah Yaman Serang Bandara Abha dan Jizan Dengan Pesawat Nirawak, 1 Tewas

Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman menyerang Bandara Abha dan Bandara Jizan, Arab Saudi, dengan pesawat nirawak, Ahad malam (23/6/2019).

Juru bicara militer Yaman Brigjen Yahya Sarie dalam sebuah keterangan persnya mengatakan, “Dua pesawat nirawak Qasif-2K telah melancarkan operasi luas dengan beberapa serangan yang menyasar bandara kubu agresor (Pasukan Koalisi Arab) di Abha dan Jizan.”

Dia menjelaskan bahwa operasi pertama mengarah ke Bandara Jizan dengan target lapangan udara, serta sasaran-sasaran militer militer penting dan sensitif, sedangkan operasi kedua menargetkan posisi-posisi militer di Bandara Internasional Abha.

Menurutnya, serangan ini “menyebabkan terhentinya navigasi udara di bandara-bandara itu.”

Dia menekankan bahwa serangan ini merupakan balasan atas “kejahatan agresi”, blokade dan serangan terus-menerus terhadap rakyat Yaman, “termasuk 30 serangan terbaru dalam 48 jam terakhir, yang menjatuhkan sejumlah syuhada dan korba luka.”

Yahya Sarie juga memastikan bahwa operasi serangan dari pasukan Yaman “akan berlanjut dan lebih menyakitkan dalam beberapa hari mendatang jika mereka (Pasukan Koalisi Arab) terus melakukan eskalasi, menyerang, dan memblokir”.

Di pihak lain, koalisi Arab dalam sebuah statemennya mengumumkan bahwa Bandara Abha mendapat serangan “teror” dari Ansarallah hingga menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya.

Uni Emirat Arab dan Bahrain turut mengutuk serangan Ansarullah itu sembari menyebutnya “melanggar seluruh undang-undang dan konvensi internasional.”

Belakangan ini Ansarullah meningkatkan serangan udaranya ke berbagai fasilitas Saudi. Pada 12 Juni lalu koalisi Arab menyatakan bahwa Bandara Abha mendapat serangan “teror” dari Ansarullah, dan Ansarullah sendiri juga mengaku telah melancarkan serangan itu dengan menggunakan rudal cruise. (raialyoum)