Jakarta, ICMES. Media Israel melaporkan bahwa pasukan Zionis sedang mempersiapkan konfrontasi maritim dengan Hizbullah, setelah Iran dilaporkan berhasil mengirim rudal canggih kepada kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon tersebut, dan mengalami kemajuan di Laut Merah.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa semua operasi serangan yang dilakukan oleh Rezim Zionis Israel terhadap Iran dan sekutunya di kawasan Timur Tengah telah ditanggapi tanpa kecuali.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat bentrokan di Sudan bertambah menjadi 420 orang, dan jumlah korban luka 3.700 orang.
Berita Selengkapnya:
Iran Berhasil Kirim Rudal Canggih ke Lebanon, Israel Siapkan Konfrontasi Maritim
Media Israel melaporkan bahwa pasukan Zionis sedang mempersiapkan konfrontasi maritim dengan Hizbullah, setelah Iran dilaporkan berhasil mengirim rudal canggih kepada kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon tersebut, dan mengalami kemajuan di Laut Merah.
Amir Bukhbut, seorang koresponden untuk situs Walla Israel, membenarkan bahwa “tentara Israel sedang terjun di arena maritim, karena menilai Iran sedang memajukan kapal ke Laut Merah, dan bahwa Hizbullah memiliki lusinan rudal yang mengancam kapal, anjungan, dan instalasi sensitif di sepanjang pantai.â€
Dia menjelaskan, “Menurut perkiraan tentara Israel, dalam beberapa tahun terakhir Hizbullah telah memperoleh kapal-kapal yang dikendalikan dari jarak jauh, pesawat nirawak, rudal presisi, dan bahkan lusinan rudal pantai-ke-laut yang mengancam kapal Angkatan Laut, anjungan gas, dan fasilitas area sensitif dan strategis di sepanjang pantai Israel.â€
Di antara rudal-rudal itu, ada perkiraan bahwa Iran telah mentransfer rudal Khalij Fars (Teluk Persia) ke Hizbullah, rudal balistik satu tahap yang digunakan untuk menyerang sasaran angkatan laut.
Rudal Khalij Fars memiliki jangkauan sekitar 400 km, dan mungkin segera mencapai 700 km, berhulu ledak seberat 650 kg, dan sistem peluru kendali telah diintegrasikan ke dalamnya sehingga memungkinkannya mencapai akurasi delapan setengah meter.
Tentara pendudukan Israel menyatakan, “Ancaman maritim langsung dan tidak langsung ke Israel telah meluas, dan hari ini mencakup Irak, Yaman, Suriah, Lebanon dan Gaza, tapi di atas segalanya, ancaman dari Iran telah meningkat.”
Tentara Zionis itu menambahkan, “Karena itu, ada niat untuk meningkatkan kesibukan di sana, dengan fokus pada arena maritim. Salah satu fokus perhatian dari pembentukan keamanan Israel saat ini adalah kapal sipil Iran.â€
Tentara Zionis mengklaim bahwa kapal-kapal sipil itu telah diubah fungsi untuk aktivitas militer di Laut Merah, dan mereka membawa rudal pesisir ke laut, rudal darat ke udara, serta drone, dan Angkatan Laut Israel bekerja melawan Iran, Yaman, dan lain-lain.
Dalam persiapan untuk peningkatan kecepatan konfrontasi ini, Amir Bukhbut mengatakan bahwa Angkatan Laut Israel akan menyerap kapal serbu amfibi pertama Nahshon pada musim panas ini, dan selama musim dingin, kapal serbu amfibi kedua juga akan didatangkan.
Dia menambahkan bahwa pada saat yang sama kapal selam sedang dibangun di Jerman, kapal-kapal juga sedang dibangun di galangan kapal Israel, kapal rudal Nerit sedang diganti, ada niat untuk mempercepat penggunaan kapal angkatan laut tak berawak dalam serangan, pelaksanaan patroli dan pertahanan, bersamaan dengan percepatan dalam mengadopsi alat kecerdasan buatan, yang akan mempersingkat proses operasional.
Menurut penilaian tentara Israel, drone Shoval, yang diintegrasikan ke dalam aktivitas Angkatan Laut di kedalaman laut, akan dapat memperpanjang durasi operasionalnya lebih dari 12 jam berturut-turut, berkat sebuah perkembangan khusus. (raialyoum)
IRGC: Semua Serangan Israel terhadap Iran dan Sekutunya telah Ditanggapi
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa semua operasi serangan yang dilakukan oleh Rezim Zionis Israel terhadap Iran dan sekutunya di kawasan Timur Tengah telah ditanggapi tanpa kecuali.
Asisten Panglima IRGC, Brigjen Mohammad Reza Naqdi, Ahad (23/4), mengatakan, “Sudah lama Rezim Zionis tidak berani melancarkan serangan ke Lebanon, dan belakangan ini tingkat pencegahan telah mencapai titik di mana mereka (Israel) bahkan tak berani menyerang Palestina.â€
Dia menambahkan bahwa Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa kemampun Zionis mencegah serangan telah terkikis, sebagaimana juga mereka akui sendiri, dan jika sudah mencapai titik ini maka kejatuhannya tidak akan dapat dihindari.
Dia kemudian menegaskan, “Rakyat hendaklah mengetahui bahwa operasi yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap Republik Islam dan teman-teman kita di kawasan telah ditanggapi tanpa kecuali, dan Zionis sendiri menyadarinya, tapi ini bukan tanggapan pokok kita.â€
Sembari menekankan keharusan pembasmian entitas Zionis, dia menjelaskan, “Pada tahun 2022, kubu resistensi telah melakukan 10.000 operasi, rata-rata lebih dari 27 operasi per hari, melawan entitas Zionis di dalam wilayah Palestina, dan hari ini 70 persen tentara Zionis terlibat di Tepi Barat, artinya jika mereka diserang dari perbatasan dan mereka tidak dapat menanggapinya, apalagi mereka disibukkan oleh masalah internal mereka.â€
Beberapa waktu lalu, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, menanggapi pernyataan kepala staf tentara Israel bahwa bahwa Israel mampu menyerang Iran tanpa bantuan Amerika.
Mousavi mengatakan, “Siapa pun yang memiliki sedikit pengetahuan tentang urusan militer akan memahami dengan baik bahwa ukuran entitas Zionis lebih kecil dari salah satu operasi kami selama delapan tahun perang kami dengan rezim Saddam Hussein pada tahun 1980-an.” (raialyoum)
Perang Saudara di Sudan Berlanjut, Jumlah Korban Tewas Capai 420 Orang
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Sabtu (22/4), melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat bentrokan di Sudan bertambah menjadi 420 orang, dan jumlah korban luka 3.700 orang.
Media AS, termasuk Associated Press, melaporkan bahwa lebih dari 420 orang, termasuk 264 warga sipil, tewas dan lebih dari 3.700 lainnya terluka dalam bentrokan antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
WHO mengumumkan Jumat lalu bahwa jumlah korban tewas 413 orang dan korban luka 3,551 orang, sementara Menteri Kesehatan Sudan Haitham Ibrahim di televisi mengatakan t lebih dari 400 kematian telah dicatat di semua rumah sakit negara ini.
Namun, komite medis independen menyatakan sulit mendapatkan jumlah korban yang lengkap dan akurat, mengingat kurangnya akses beberapa dari mereka ke rumah sakit, penyebaran mayat di jalan-jalan, dan ketidakmampuan untuk berurusan dengan mereka di tengah berlanjutnya pertempuran.
RSF dibentuk pada tahun 2013 untuk mendukung pasukan pemerintah dalam upaya melawan gerakan pemberontak di wilayah Darfur, dan kemudian mengambil tugas-tugas lain, termasuk memerangi migrasi tidak teratur dan menjaga keamanan, sebelum tentara menyebut mereka sebagai “pemberontak†setelah pecahnya bentrokan.
Sejumlah pemerintah Arab dan asing bergegas mengevakuasi staf diplomatik dan warga negara mereka di Sudan yang sudah 10 hari berturut-turut diwarnai perang saudara.
Sebelumnya, tentara Sudan menuduh RSF melakukan beberapa “serangan” terhadap misi diplomatik asing saat melakukan evakuasi dari ibu kota, Khartoum. (raialyoum)







