Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 23 September 2019

iran menlu javad zarifJakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan tidak tertutup kemungkinan pecahnya perang di Timur Tengah setelah AS mengirim pasukan dan senjata tambahkan ke Arab Saudi.

Presiden Iran mengutuk kebercokolan pasukan asing di Teluk Persia, dan mengumumkan bahwa pada minggu ini akan mepresentasikan rencana kerja sama regional yang diharapkan dapat “menjamin” keamanan regional.

Republik Islam Iran memamerkan sistem pertahanan udara baru berbasis artileri yang diberi nama “Hael” (Penghalang).

Pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, menilai eksistensi Arab Saudi sudah berada di babak akhir dan mendekati ajalnya.

Berita selengkapnya:

Nasrallah Nilai Rezim Saudi Sudah Dekati Ajalnya

Pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, menilai eksistensi Arab Saudi sudah berada di babak akhir dan mendekati ajalnya.

“Usia rezim Saudi sudah renta dan bisa jadi sudah berada di tahap-tahap akhir karena berbagai faktor yang alami,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa faktor itu antara lain “kezaliman selama 100 tahun terakhir, korupsi yang merajalela padanya, penindasan hidup, dan monopoli keluarga kerajaan.”

Namun, lanjut Nasrallah, “apa yang menyebabkannya berada di penghabisannya ialah tindakan yang dilakukan para pejabat Saudi sekarang, yang berseberangan dengan para pendahulu mereka.”

Sekjen Hizbullah mengatakan, “Perang terhadap Yaman dan genosida yang mereka lakukan di sana akan berdampak pada masa depan Saudi. Demikian pula campurtangan Saudi yang begitu jelas dalam urusan negara-negara lain melalui penampilan dirinya sebagai sahabat setiap negara dalam 20 tahun terakhir.”

Dia menyebutkan, “Baru pertama kalinya sekarang kita mendengar slogan ‘mampus dinasti Saud’ di lebih dari satu negara Arab, dan baru pertama kali kita melihat berbagai elemen politik, rakyat, dan pemerintah mengambil sikap yang jelas terhadap dinasti Saud dan campur tangan mereka di kawasan.”

Nasrallah menilai sikap Saudi dalam isu Palestina dan prakarsa Perjanjian Abad ini sebagai ketundukan secara hina kepada Presiden AS Donald Trump sehingga “menjatuhkan wibawa penguasa Saudi yang dulu menampilkan dirinya sebagai orang-orang merdeka dan bebas.”

Sekjen Hizbullah melanjutkan, “Dalam kunjungan terbaru Trump ke Saudi dan apa yang dia katakan sekarang di berbagai festival, serta pengakuannya beberapa hari lalu bahwa dia telah menghubungi Raja Saudi dan memberitahunya bahwa AS telah mengeluarkan banyak dana demi Saudi sehingga Saudi harus membayarnya, dan penyataannya bahwa Saudi telah membayar 450 miliar Dolar sekaligus, kemudian kita melihat media Saudi bungkam di depan peristiwa ini, semua ini merupakan puncak kehinaan di depan gelak tawa Trump, padahal ketika di Dunia Islam ada tokoh yang berbicara (menyudutkan) Saudi niscaya mereka akan marah, menghukuminya kafir, dan memutuskan hubungan dengan negaranya.”

Di bagian akhir, Sayid Nasrallah mengatakan, “Terus terang, dalam sejarah Saudi belum pernah kondisinya sedemikian hina, lemah, dan terungkap. Karena itu mereka tidak akan bertahan lama lagi, sesuai sunnatullah dan aspek alamiah yang mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat bertahan lama.” (alalam)

Presiden Iran Sebut Keberadaan Pasukan Asing di Teluk Persia Sebagai Penyebab Ketidak Amanan

Republik Islam Iran mengutuk kebercokolan pasukan asing di Teluk Persia, dan mengumumkan bahwa pada minggu ini pihaknya akan mepresentasikan rencana kerja sama regional yang diharapkan dapat “menjamin” keamanan wilayah di mana AS bermaksud memperkuat pasukannya.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pidato pada parade militer di Teheran, Ahad (22/9/2019), menyatakan bahwa kawasan Teluk Persia sedang melintasi “periode sensitif nan penting dan bersejarah”.

Menurutnya, keberadaan pasukan asing di Teluk Persia menjadi biang akumulasi “absennya keamanan”. Karena itu kepada AS dan para sekutu baratnya, Rouhani menegaskan, “Keberadaan kalian selalu saja mendatangkan penderitaan dan bencana ke kawasan ini. Kawasan kami aman jika kalian menjauh darinya.”

Dia menambahkan, “Dalam pandangan kami, keamanan Teluk Persia berasal dari dalam, keamanan Teluk Persia tumbuh dari dalam, dan keamanan Selat Hormuz tumbuh dari dalam. Sedangkan pasukan asing adalah sumber problema dan absennya keamanan bagi bangsa kami dan kawasan ini.”

Tanggal 22 September diperingati di Iran sebagai hari pertama Pekan Pertahanan Suci, yaitu peringatan peristiwa perang Iran-Irak tahun 1980-1988.

Mengenai negara-negara Arab pesisir Teluk Persia yang terlibat ketegangan dengan Iran Rouhani mengatakan, “Kami siap melupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, karena situasi sekarang adalah situasi di mana musuh-musuh Islam dan kawasan, yaitu AS dan kaum Zionis, bermaksud  buruk dengan memanfaatkan perpecahan kita.”

Presiden Iran juga menyatakan bahwa pada sidang Majelis Umum PBB yang akan digelar di New York, AS, Selasa (24/9/2019) pihaknya akan mengemukakan rencana kerja sama regional yang dinamai “Amal” (Harapan) dan bertujuan menjamin keamanan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Selat Oman dengan “bantuan negara-negara kawasan”.

Rouhani dijadwalkan bertolak ke New York pada hari ini, Senin (23/9/2019), dan akan berpidato di depan Majelis Umum PBB Rabu mendatang (25/9/2019). Sedangkan Menlu Iran Javad Mohammad Zarif yang dikenai sanksi oleh AS sudah bertolak sebelumnya dan tiba di New York.  (raialyoum)

Iran Pamerkan Sistem Pertahanan Udara Baru Bernama “Hael”

Republik Islam Iran memamerkan sistem pertahanan udara baru berbasis artileri yang diberi nama “Hael” (Penghalang), Ahad (22/9/2019).

Sistem buatan dalam negeri itu dipertontonkan dalam parade yang menandai hari pertama Pekan Pertahanan Suci di komplek makam Imam Khomaini di selatan Teheran.

Dilaporkan bahwa sistem artileri ini dapat mengidentifikasi target tanpa propagasi gelombang, sehingga dapat beroperasi tanpa terlihat.

Salah satu kelebihan sistem ini ialah mobilitasnya yang optimal dan dirancang untuk menghadapi target pada ketinggian rendah semisal rudal jelajah, drone penyusup, dan pesawat kecil.

Sebuah drone tempur yang diproduksi di dalam negeri dengan nama “Kaman-12” (Busur Panah-12) juga dipamerkan dalam parade ini.

Selain itu, jet tempur Kowthar yang juga dikembangkan di dalam negeri dengan arsitektur yang terintegrasi dan canggih juga merupakan hasil pencapaian militer yang dipamerkan dalam parade yang menandai peringatan peristiwa perang Iran-Irak 1980-1988 tersebut. (alalam)

Menlu Iran Nyatakan Tak Tertutup Kemungkinan Pecah Perang

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan tidak tertutup kemungkinan pecahnya perang di Timur Tengah setelah AS mengirim pasukan dan senjata tambahkan ke Arab Saudi sebagai respon atas serangan yang menerjang kilang minyak Aramco dan kemudian AS menuduh Iran bertanggungjawab atasnya.

Dalam wawancara dengan CBS yang ditayangkan pada Ahad  (22/9/2019) Zarif mengatakan,“Saya tidak yakin kami dapat menghindari perang.  Saya hanya yakin bahwa kami tidak akan memulainya, tapi saya juga yakin bahwa pihak yang memulai tidak akan menjadi pihak yang akan mengakhirinya.”

Seperti dilaporkan Bloomberg, saat ditanya mengenai apa yang dia maksudkan dari pernyataan itu dia mengatakan bahwa perang itu “tidak akan menjadi perang yang terbatas”.

Di pihak lain, sejawatnya dari Arab Saudi, Adel al-Jubeir saat menanggapi pernyataan Zarif bahwa “perang total” akan terjadi jika Saudi dan AS menyerang Iran mengatakan bahwa pernyataan itu “menegaskan bahwa dia bicara banyak tentang sesuatu yang memalukan, aneh, dan terus terang, menggelikan.”

Al-Jubeir menambahkan, “Saudi dan AS bersekutu sejak 80 tahun silam, kami menjalani beberapa perang bersama, dan mengeluarkan darah bersama. Saudi dan AS tidaklah sembrono ketika berurusan dengan perang yang menjadi pilihan terakhir. Iranlah yang sembrono dengan terlibat dalam perilaku seperti ini.”

Sebelumnya, Al-Jubeir telah menuduh Iran berada di balik serangan terhadap Aramco dan menyatakan bahwa serangan itu diluncurkan bukan dari Yaman, meskipun kelompok Ansarullah (Houthi) mengaku bertanggungjawab atasnya. (mm/raialyoum)