Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 22 Maret 2021

ali khamaneiJakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan bahwa Iran tidak percaya kepada janji AS untuk pencabutan sanksi terhadap Iran, dan karena itu Teheran tidak akan kembali mematuhi perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) kecuali setelah AS mencabut semua sanksi itu.

Menjelang genap usia enam tahun perang di Yaman, juru bicara tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree memaparkan data yang dimilikinya terkait dengan hasil perang ini.

Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa negara ini bersama Prancis, Belgia, dan Jepang telah memulai latihan angkatan laut utama di Laut Oman.

Berita Selengkapnya:

Ayatullah Ali Khamenei Pastikan lagi Iran Tak akan Patuhi Perjanjian Nuklir Sebelum AS Mencabut Sanksi

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan bahwa Iran tidak percaya kepada janji AS untuk pencabutan sanksi terhadap Iran, dan karena itu Teheran tidak akan kembali mematuhi perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) kecuali setelah AS mencabut semua sanksi itu.

“Kami percaya AS di masa Obama dan memenuhi janjinya, tapi mereka tidak memenuhi (janji mereka). AS mengatakan di atas kertas bahwa sanksi akan dicabut tapi kenyataannya mereka tidak mencabunya,” ujarnya dalam kata sambutan tahun baru Iran yang ditayangkan di televisi Iran, Ahad (21/3).

Ayatullah Khamenei menambahkan, “AS harus mencabut semua sanksi dan kami akan melihat kepastiannya. Jika sanksi dicabut maka akan kembali memenuhi komitmen kami tanpa ada masalah… Kesabaran kami panjang, dan kami tak terburu dalam urusan kami.”

Presiden AS Joe Biden mengaku mencari-cari jalan untuk kembali kepada JCPOA yang diteken Iran bersama beberapa negara terkemuka dunia, termasuk AS di era Barack Obama, pada tahun 2015, dan yang kemudian diabaikan oleh penerus Obama, Donald Trump, pada tahun 2018, sehingga Trump lantas menerapkan kembali sanksi AS terhadap Iran.

Di masa Biden sekarang AS dan negara-negara Eropa terjebak kesulitan mengenai pihak mana dulu yang harus kembali kepada JCPOA sehingga meluruhkan kemungkinan mengenai pencabutan sanski AS.

Mengenai Arab Saudi, Ayatullah Khamenei menyebut negara kerajaan ini terjerumus ke dalam kubangan perang Yaman tanpa dapat menghentikan ataupun melanjutkannya.

“Agresi terhadap Yaman diluncurkan pada era kaum Demokrat di Washington, dan merekalah yang mulai menyokong Saudi dengan senjata,” ungkapnya.

Ayatullah Khamenei menyalahkan dukungan AS kepada Saudi dalam perang Yaman serta dukungannya kepada Israel dalam memperlakukan Palestina.

Saudi yang notabene sekutu terbesar AS di Timteng memimpin koalisi yang melancarkan invasi militer ke Yaman untuk mendukung pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi memerangi gerakan Ansarullah yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, sejak tahun 2014. (raialyoum)

Ansarullah Ungkap Data Hasil Enam Tahun Perang Yaman

Menjelang genap usia enam tahun perang di Yaman, juru bicara tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree memaparkan data yang dimilikinya terkait dengan hasil perang ini.

Mula-mula dia menyebutkan bahwa jet tempur Saudi selama enam tahun telah melancarkan lebih dari 260,000 kali serangan ke Yaman, yang menjatuhkan puluhan ribu korban tewas dan luka serta hancurnya banyak kota dan desa serta fasilitas umum, termasuk jalan dan masjid, serta infrastruktur milik negara maupun swasta.

Sedangkan pihak tentara Yaman dan Ansarullah telah melancarkan 12,366 operasi militer, yang 6,192 di antaranya merupakan  operasi ofensif, termasuk 167 operasi yang dilakukan dalam dua bulan terakhir. Sedangkan operasi defensif tercatat 6,172 kali dan berhasil membendung gerak maju pasukan koalisi yang dipimpin Saudi.

Menurut Saree, operasi kubu Sanaa yang paling menonjol ialah beberapa operasi yang bersandi “Nasr Minallah”, Al-Buniyan al-Marshush”, “Fa Amkana Minhum” dan “Tawazun al-Rada’”, serta operasi pembebasan kawasan Baida dari kawanan teroris takfiri dan 10 operasi lain yang belum pernah diumumkan di media.

Saree merinci bahwa pasukan sniper pihaknya telah melancarkan 54,025 kali operasi, yang membuat ribuan pasukan lawannya, termasuk tentara Saudi dan pasukan bayaran dari Sudan, tewas. Selain itu, sebanyak 6,385 kali serangan telah dilancarkan ke kendaraan-kendaraan tempur dan peralatan militer pasukan koalisi pimpinan Saudi.

Sedangkan pasukan artileri kubu Sanaa telah melancarkan 59,852 operasi yang 638 di antaranya didukung drone serta berbagai jenis rudal dan roket yang total jumlahnya mencapai lebih dari 10,000 ribu unit.

Sedangkan pasukan pertahanan udaranya telah melancarkan 1,534 operasi yang berhasil merontokkan jet tempur, helikopter, dan drone dengan jumlah total 545.

Yahya Saree menyebutkan bahwa pihaknya sejauh ini telah menembakkan rudal balistik sebanyak 1,348 unit, yang 499 di antaranya mengarah ke wilayah Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dan melesatkan drone dalam 1,150 operasi serangan – termasuk 572 operasi yang menyasar target di luar Yaman- dan 11,473 operasi pengintaian.

Jubir militer Yaman kubu Sanaa juga mencatat korban tewas dan luka tentara Saudi mencapai sekira 10,400 orang, yang detailnya akan diumumkan pada saatnya yang tepat, sementata korban  tewas dan luka tentara UEA sekira 1,240 orang, pasukan bayaran Sudan 4,416 orang, dan pasukan bayaran dari lain-lain negara 4,218 orang.

Yahya Saree juga menyebutkan bahwa jumlah korban tewas dan luka pasukan kubu Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi mencapai 226,615.  (almasirah)

AS, Prancis, Belgia, dan Jepang Gelar Latihan Maritim di Laut Oman

Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa negara ini bersama Prancis, Belgia, dan Jepang telah memulai latihan angkatan laut utama di Laut Oman.

AL AS, Ahad (21/3) menyebutkan bahwa kapal dari empat negara tersebut sedang melakukan Latihan Kelompok Perang Laut Arab di Laut Makran dan Laut Oman.

Beberapa kapal yang dilibatkan antara lain kapal induk Prancis Charles de Gaulle, serta kapal serbu amfibi USS Makin Island.

Fregat Belgia HNLMS Leopold I dan kapal perusak Jepang JS Ariake juga akan ambil bagian, demikian pula empat pesawat dari empat negara.

Latihan perang maritim itu dilakukan di tengah ketegangan terkait dengan program nuklir Iran di wilayah tersebut.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengaku berniat membawa negaranya kembali ke kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang diteken Iran bersama enam negara terkemuka dunia, termasuk AS, pada tahun 2015 , dan kemudian diabaikan oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump.

Iran menegaskan pihaknya tidak terburu-buru soal kembalinya AS ke JCPOA, namun menekankan bahwa Washington tidak dalam posisi yang patut mendiktekan kemauannya terhadap Iran untuk implementasi perjanjian karena penarikan dan pelanggaran terhadap KCPOA telah dilakukan secara sepihak oleh AS sendiri.

Semnatara itu, majalah AS National Interest menyebutkan bahwa Angkatan Udara AS berkemungkinan kalah jika berperang melawan Rusia dan China, karena jet tempur generasi kelima milik AS mengalami banyak masalah.

Dalam artikel karya editor pertahanannya, Kris Osborn, majalah itu menjelaskan bahwa meskipun AS memiliki jet tempur F-22 dan F-35, namun keduanya mengalami banyak cacat produksi.

Menurut Osborn, sebagian besar jet tempur AS adalah generasi keempat, yang jika dihadapkan dengan sistem pertahanan udara Rusia dan China, tidak memiliki kemampuan menyusup ke zona udara lawan secara tersembunyi.

“AU AS membutuhkan jet tempur yang dapat menyusup ke kawasan yang tercakup oleh sistem pertahanan udara,” tulis National Interest, yang juga menyebutkan bahwa keunggulan dalam pertempuran udara memerlukan kecepatan, manuver, dan kemampuan berkelit dari radar.

Majalah ini mencatat bahwa sistem pertahanan udara HQ-9 China serta S-400 Rusia dapat menjadi kendala bagi banyak pesawat AS, sementara Rusia dan China dapat memenuhi jet tempur generasi kelimanya dengan Sukhoi 57 dan J-31, yang menurut para pakar militer AS, dapat dikalah oleh jet tempur generasi kelima AS. (fna)