Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 22 Juni 2020

Pasukan GNA LibyaJakarta, ICMES. Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli, ibu kota Libya, mengecam statemen Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengenai kemungkinan intervensi militer Mesir di Libya, dan bahkan menyebutnya sebagai “deklarasi perang.”

Teheran mengumumkan bahwa sampai akhir tahun ini dalam kalender Iran (19 Maret 2021) jumlah satelit buatan negara republik Islam ini akan bertambah menjadi 18 unit.

Pasukan elit Iran memastikan negara-negara musuhnya, termasuk negara arogan Amerika Serikat, sudah tak bernyali lagi untuk mencoba berperang dengan nIran  setelah melihat kekuatan militer dan pertahanan negara republik Islam ini terus berkembang pesat.

Pasukan Arab Suriah (SAA) belum lama ini menemukan senjata dan obat-obatan buatan asing dalam jumlah besar, yang ditinggalkan oleh kawanan bersenjata di Provinsi Damaskus.

Berita selengkapnya:

Kubu Libya Pro-Turki Sebut Statemen Mesir sebagai Pernyataan Perang

Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli, ibu kota Libya, mengecam statemen Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengenai kemungkinan intervensi militer Mesir di Libya, dan bahkan menyebutnya sebagai “deklarasi perang.”

Dewan Kepresidenan yang berafiliasi dengan GNA, Ahad (21/6/2020), menyatakan, “Negara Libya menegaskan bahwa campur tangan dalam urusan internal dan pelanggaran kedaulatan negara, baik melalui pernyataan media dari beberapa negara seperti yang dilakukan oleh Presiden Mesir, atau dukungan untuk kudeta, milisi dan tentara bayaran, tak dapat diterima. Itu tercela dan dianggap sebagai aksi permusuhan, campur tangan secara terbuka dan pernyataan perang. ”

Dewan ini menambahkan, “Kami mengingatkan semua orang bahwa GNA adalah satu-satunya perwakilan sah negara Libya, dan hanya ini yang berhak menentukan bentuk dan jenis perjanjian dan aliansi.”

Dewan Kepresidenan juga menyebutkan bahwa GNA pada tahun lalu telah menyerukan solusi politik damai untuk krisis di negara ini, namun  “beberapa negara mengancam akan melakukan intervensi militer.”

“Kami akan menghadapi dengan kuat segala ancaman terhadap negara kami, dan negara-negara itu harus memperhatikan masalah dan ancaman keamanan mereka di dalam wilayah mereka,” lanjut dewan itu.

El-Sisi Sabtu lalu menyatakan bahwa intervensi langsung Mesir di Libya memiliki legitimasi internasional. Dia juga menyerukan kesiapan tentara Mesir menjalankan operasi militer di luar negeri.

Perkembangan ini terjadi ketika pasukan GNA yang didukung Turki sedang bersiap untuk meluncurkan serangan ke kota Sirte, yang dikendalikan oleh Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Marsekal Lapangan Khalifa Haftar yang didukung oleh Mesir. (amn)

Tahun ini Iran Membuat 18 Satelit

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi mengumumkan bahwa sampai akhir tahun kalender Iran (19 Maret 2021) jumlah satelit buatan negara republik Islam ini akan bertambah menjadi 18 unit.

“Iran telah membuat tiga satelit pada tahun 2013, meningkat menjadi 7 pada tahun 2017, 15 pada tahun 2020, dan insya Allah, kita akan memiliki 18 satelit buatan dalam negeri pada akhir tahun ini,” ungkap Jahromi kepada para anggota parlemen di Teheran, Ahad (21/6/2020).

Dia juga menyatakan bahwa satelit militer pertama Iran bernama “Nour 1” yang diorbitkan oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir April lalu merupakan satu langkah besar yang telah memperluas kapasitas sains negara ini dan membuka jalan bagi kemajuan selanjutnya.

IRGC mengorbitkan satelit itu dengan roket “Qassed” yang menggunakan senyawa bahan bakar padat-cair dalam sebuah operasi di Dasht-e Kavir, sebuah kawasan gurun yang luas di Iran.

Satelit militer Nour 1 diorbitkan di ketinggian  425 km dari atas permukaan bumi pada momen peringatan berdirinya IRGC (22 April 1979).

Kepala Badan Antariksa Iran (ISA) Morteza Barari awal bulan ini mengumumkan rencana Iran mengorbit satelit berkualitas tinggi pada ketinggian 1.000 km.

Sembari memastikan negaranya sama sekali tidak mengandalkan pihak asing dalam memajukan program luar angkasanya, dia juga menyinggung ambisi negaranya mengorbitkan satelit pada ketinggian 36.000 km.

“Kami akan mencapai orbit 2.000 km dalam dua tahun, dan langkah berikutnya adalah mencapai orbit 36.000 km,” ujar Barari.

Dia menambahkan,”Mujur, sekarang kita mandiri dalam merancang dan membangun satelit, platform, pembawa satelit, stasiun pengendali dan pemandu, pengumpulan data stasiun darat dan seluruh siklus teknologi ini dengan mengandalkan kemampuan para ilmuwan dan spesialis Iran, dan seluruh siklus ini beroperasi dengan mekanisme yang sepenuhnya pribumi.” (fna)

IRGC: Musuh Sudah Tak Bernyali untuk Bertarung Militer dengan Iran

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan negara-negara musuhnya, termasuk negara arogan Amerika Serikat (AS), sudah tak bernyali lagi untuk mencoba berperang dengan nIran  setelah melihat kekuatan militer dan pertahanan negara republik Islam ini terus berkembang pesat.

“Musuh tidak lagi mempertimbangkan untuk melancarkan perang militer terhadap Iran karena kesiapan dan pertahanan negara ini semakin meningkat,” ungkap komandan IRGC, Mayjen Hossein Salami, Ahad (21/6/2020).

Dia menyatakan kemampuan militer Iran telah menggagalkan rencana musuh-musuhnya dan membuat mereka tidak lagi mencari perang dengan Iran.

“Kami hari ini berada di puncak perang dan agresi musuh, tapi musuh tidak berpikir untuk meluncurkan perang militer melawan Iran. Sebabnya adalah karena kekuatan kemampuan negara ini hari demi hari sebanding dengan pertumbuhan ancaman untuk mencegah mereka memilih strategi ini,” terangnya.

Dia menilai kubu musuh Iran tetap tidak akan berhenti berusaha merongrong Iran dengan berbagai cara lain, sebab Iran di mata mereka merupakan “sumber inspirasi yang menghasilkan kesadaran pemberi kehidupan dan memobilisasi energi”.

Menurut Salami, musuh-musuh Iran sekarang berusaha untuk mencekik bangsa Iran melalui penerapan sanksi dan embargo dengan tujuan menciptakan perubahan rezim di Teheran.

“Dalam tingkat yang sama revolusi telah tumbuh dan mencapai kesempurnaan, musuh-musuh kita merasakan bahaya, dan berupaya merusak semua urusan kehidupan bangsa Iran dan mengubahnya menjadi medan perang,” katanya.

Komandan IRGC lantas membuat kesimpulan dengan mengatakan, “Kita sekarang hidup di puncak perang habis-habisan dengan semua standarnya melawan musuh, dan musuh sekarang membidik ekonomi dan kehidupan rakyat Iran, karena ekonomi merupakan sudut terpenting dalam strategi permusuhan yang dikejar musuh terhadap Iran.” (fna)

Tentara Suriah Temukan Banyak Senjata Buatan AS dan Israel

Pasukan Arab Suriah (SAA) belum lama ini menemukan senjata dan obat-obatan buatan asing dalam jumlah besar, yang ditinggalkan oleh kawanan bersenjata di Provinsi Damaskus.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, Sabtu (20/6/2020), melaporkan bahwa SAA telah menyita sejumlah besar senapan mesin, senapan sniper, RPG, rudal anti tank (ATGM), amunis, dan perangkat telekomunikasi.

SANA menyebutkan bahwa beberapa senjata di antaraya adalah buatan Amerika Serikat dan Israel, dan SAA menyita banyak narkotika yang tersimpan di dalam kantung-kantung yang sebagian besar berisi pil Captagon.

Captagon adalah obat doping jenis amfetamin yang pernah beredar luas di tengah kawanan teroris, terutama ISIS, dalam Perang Suriah. Obat ini membuat mereka menjadi memiliki nyali besar dan tak takut mati.

Sejak kawanan pemberontak dan teroris terpaksa angkat kaki dari posisi-posisi mereka di Provinsi Damaskus, SAA telah menyisir beberapa daerah di Ghouta Timur untuk merebut senjata yang ditinggal kawanan itu dan menghancurkan terowongan-terowongan mereka. (sana)