Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 22 Juli 2019

kapal stena emperoJakarta, ICMES: Iran menyatakan siap menghadapi segala skenario pasca pencegatan dan penyitaan kapal tanker minyak Inggris oleh pasukan Iran di Teluk Persia.

Negara-negara besar Eropa kompak mengecam tindakan Iran menyita dua kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz, Teluk Persia.

Seorang komandan IRGC menyebut kebohongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedemikian besar sehingga sempat percaya bahwa AS dapat menjatuhkan drone Iran.

Berita selengkapnya:

Iran Nyatakan Siap Hadapi Segala Skenario Pasca Penyitaan Tanker Inggris

Duta Besar Iran untuk Inggris Hamid Baeidinejad menyatakan negaranya siap menghadapi segala skenario pasca pencegatan dan penyitaan kapal tanker minyak Inggris oleh pasukan Iran di Teluk Persia.

Baeidinejad mendesak Inggris untuk menahan “kekuatan politik domestik” yang bermaksud meningkatkan ketegangan antara kedua negara menyusul insiden tersebut.

“Pemerintah Inggris hendaknya menahan kekuatan politik domestik yang ingin meningkatkan ketegangan yang ada antara Iran dan Inggris di luar masalah kapal. Ini sangat berbahaya dan tidak bijaksana pada waktu yang sensitif di kawasan itu,” tulis Hamid Baeidinejad di Twitter, Ahad (21/7/2019).

Dia menambahkan,”Namun Iran tegas dan siap untuk skenario yang berbeda.”

Sehari sebelumnya, pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis rekaman video aksi mereka menggerebek kapal tanker Stena Impero berbendera Inggris di Selat Hormuz. Kapal itu merupakan satu di antara dua kapal Inggris yang disita pada Jumat lalu.

Menteri luar negeri Inggris Jeremy Hunt, Sabtu, berkomentar bahwa Iran mungkin memilih “jalur berbahaya perilaku ilegal dan tidak stabil”.

Mengenai kemungkinan London akan menjatuhkan sanksi terhadap Teheran, menteri yunior Kementerian Pertahanan Inggris Tobias Ellwood, Minggu, menyatakan pihaknya sedang mencari “serangkaian opsi” untuk menanggapi Iran.

“Tanggung jawab kami yang pertama dan terpenting adalah memastikan bahwa kami mendapatkan solusi untuk masalah yang berkaitan dengan kapal saat ini, memastikan kapal berbendera Inggris lainnya aman untuk beroperasi di perairan ini dan kemudian melihat gambaran yang lebih luas,” kata Ellwood kepada Sky News.

Dia menambahkan, “Kami akan melihat serangkaian opsi … Kami akan berbicara dengan kolega kami, sekutu internasional kami, untuk melihat apa yang sebenarnya bisa dilakukan.”

Kantor berita Fars, Sabtu, mengutip pernyataan seorang pejabat Iran bahwa kapal tanker Inggris bertabrakan dengan kapal penangkap ikan sebelum ditahan.

“Kapal itu terlibat dalam kecelakaan dengan kapal penangkap ikan Iran … Ketika kapal itu mengirim panggilan darurat, kapal berbendera Inggris itu mengabaikannya,” kata kepala Pelabuhan dan Organisasi Maritim di provinsi Hormozgan selatan, Allahmorad Afifipourm, kepada Reuters.

Dia melanjutkan, “Kapal tanker itu sekarang berada di pelabuhan Bandar Abbas Iran dan semua dari 23 awaknya akan tetap di kapal sampai penyelidikan selesai.” (raialyoum/euronews)

Negara-Negara Eropa Kompak Peringatkan Iran Soal Penyitaan Tanker Inggris

Negara-negara besar Eropa kompak mengecam tindakan Iran menyita dua kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz, Teluk Persia.

Jerman, Sabtu (20/7/201), menyebut aksi Iran itu “tidak dapat dibenarkan” dan menilainya memperkeruh situasi yang sudah tegang di daerah itu.

“Kami mendesak Iran untuk segera membebaskan kapal itu dan awaknya,” kata seorang juru bicara kementerian luar negeri Jerman dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan bahwa peningkatan lebih lanjut ketegangan regional “akan sangat berbahaya”, dan akan “melemahkan semua upaya yang sedang berlangsung untuk menemukan jalan keluar dari krisis saat ini.”

Kementerian luar negeri Prancis di hari yang sama membuat statemen berisi pengakuan pihaknya sangat prihatin atas penyitaan kapal Inggris, dan menyebut merusak upaya-upaya de-eskalasi di Teluk Persia.

“Kami telah belajar dengan keprihatinan yang besar atas penyitaan kapal Inggris oleh pasukan Iran. Kami mengutuknya dengan keras dan mengekspresikan solidaritas penuh kami dengan Inggris.”

Inggris sendiri saat itu juga mengecam keras dan tak dapat menerima penyitaan dua kapal tankernya oleh pasukan Iran, serta menyebutnya tindakan ilegal dan berbahaya.

Menteri luar negeri Inggris Jeremy Hunt di halaman Twitter-nya menyatakan, “Tindakan kemarin di Teluk menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa Iran mungkin memilih jalur berbahaya perilaku ilegal dan tidak stabil setelah penahanan LEGAL Gibraltar atas minyak yang ditujukan ke Suriah,” ungkap Hunt di Twitter.

Dia memperingatkan, “Seperti saya katakan kemarin reaksi kita akan dipertimbangkan tetapi kuat. Kami telah berusaha menemukan cara untuk menyelesaikan masalah Grace1 tetapi AKAN memastikan keamanan pengiriman kami.”

Dia juga menyebutkan bahwa Dubes Inggris untuk Iran melakukan kontak dengan Kemlu Iran untuk meredakan ketegangan dan bahwa London bekerjasama dengan para mitranya di dunia.

Dia menambahkan, “Penyitaan ini tidak bisa diterima. Sangat penting bahwa kebebasan navigasi dijaga dan bahwa semua kapal dapat bergerak dengan aman dan bebas di kawasan itu. ”

Kemhan Inggris, Ahad, menyatakan pihaknya konsisten kepada eksistensi militernya di Timteng untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Dia mengatakan, “Saya kira, semua pihak prihatin atas kemungkinan pecahnya konflik, kita harus menenangkan sikap.”

Meski demikian, dia mengaku pihaknya sedang mempelajari berbagai opsi untuk menanggapi tindakan Iran itu.

Menteri yunior Kementerian Pertahanan Inggris Tobias Ellwood, Ahad, mengakui keterbatasan kemampuan intervensi militernya.

“Angkatan Laut Kerajaan sangat kecil untuk mengelola kepentingan kami di dunia. Jika ini kita kehendaki di masa mendatang maka perdana menteri yang akan datang harus mengakuinya,” ujar Ellwood. (euronews/raialyoum)

Soal Klaim Penembak Jatuhan Drone Iran, IRGC Sebut Kebohongan Trump Terlampau Besar

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Hajizadeh,  menyebut kebohongan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedemikian besar sehingga Hajizadeh sempat percaya bahwa AS dapat menjatuhkan drone Iran.

Jenderal Hajizadeh kepada wartawan, Ahad (21/7/2019), mengaku melakukan penyelidikan segera setelah Trump mengklaim bahwa kapal induk AS USS Boxer telah menjatuhkan satu unit drone Iran.

“Kami segera melakukan penyelidikan beberapa kali atas masalah ini bersama berbagai satuan, tapi kebohongan Trump sedemikian besar sehingga kami semula sempat percaya bahwa mereka (AS) dapat menjatuhkan salah satu drone kami. Sebab, bagi kami tak masuk akal dia (Trump) bernisiatif sendiri melontarkan kebohongan sebesar ini secara langsung melalui media,” terang Hajizadeh.

Dia melanjutkan, “Karena itu kami lambat dalam membantah kabar ini, dan pada akhirnya kami menemukan drone kami telah memantau aktivitas kapal perusak sejak masuk ke Selat Hormuz sampai keluar darinya.”

Hajizadeh mengatakan bahwa orang-orang AS sendiri tak lama kemudian menyesal dan menyalahkan Penasehat Keamanan Nasional John Bolton atas peristiwa ini. (alalam)