Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 21 Juni 2021

hamas yahya sinwar palestinaJakarta, ICMES. Pemimpin Hamas di Gaza,Yahya Sinwar, memastikan bangsa Palestina sudah semakin dekat dengan pembebasan kota Quds (Yerussalem) dari pendudukan Rezim Zionis Israel berkat perjuangan kubu resistensi Palestina.

Hamas menyampaikan pesan-pesan yang memperingatkan para mediator gencatan senjata Gaza-Israel bahwa ketentraman di Gaza berpotensi pudar akibat pengetatan blokade Israel terhadap Gaza.

Naftali Bennett dalam sebuah pidato resmi pertama sejak dilantik sebagai perdana menteri Israel menegaskan pihaknya sudah habis kesabaran dan tak akan menoleransi kekerasan dan gangguan.

Proses perundingan Iran dengan enam negara terkemuka dunia untuk pemulihan perjanjian nuklir tahun 2015 yang dikenal dengan nama Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) ditangguhkan sampai batas waktu yang belum jelas.

Berita Selengkapnya:

Sinwar Janjikan Pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Shalat di Sana

Pemimpin Hamas di Gaza,Yahya Sinwar, memastikan bangsa Palestina sudah semakin dekat dengan pembebasan kota Quds (Yerussalem) dari pendudukan Rezim Zionis Israel berkat perjuangan kubu resistensi Palestina.

Hal itu dinyatakan Sinwar dalam sebuah muktamar yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok adat Palestina di Jalur Gaza, Ahad (20/6), dalam rangka mendukung resistensi dan membela Quds, sebagaimana disebutkan di website Hamas.

“Perang Pedang Quds telah menciptakan sebuah perubahan strategis dalam konflik melawan rezim pendudukan,” ungkap Sinwar, mengacu pada keberhasilan kubu resistensi Palestina memaksakan terhadap Israel perimbangan bom dibalas bom.

“Kita sudah semakin dekat dengan Quds, kepulangan (pengungsi) dan pembebasan berkat resistensi… Bangsa kita dengan semua elemennya telah mencetak kemenangan manakala mereka membina anak-anaknya dengan kecintaan kepada tanah air, kesiapan untuk berkorban, dan pengerahan segenap upaya demi pembebasannya,”imbuhnya.

Kepada kelompok-kelompok adat Palestina Sinwar mengatakan, “Anda sekalianlah yang mencetak kemenangan ini manakala Anda mendidik anak-anak Anda makna-makna yang indah ini sehingga kita memiliki generasi Brigade Al-Qassam, Brigade Quds dan seluruh pemuda resistensi lainnya, yang telah mewujudkan kemenangan yang menciptakan perubahan strategis dalam konflik dengan rezim pendudukan. Andalah yang mencetak kemenangan manakala Anda merangkul kubu resistensi, bersabar dan tabah atas blokade dan upaya penaklukan.”

Menyinggung normalisasi sejumlah negara Arab dengan Israel, Sinwar menegaskan kepada suku-suku Palestina di Gaza, “Keyakinan Anda sekalian tak berubah meskipun kampanye penyelesaian dan normalisasi dilakukan sedemikian rupa. Quds tumbuh subur dalam sanubari Anda.”

Seperti diketahui, kubu resistensi Palestina di Gaza telah terlibat pertempuran melawan Israel selama 11 hari pada 10-21 Mei 2021. (raialyoum)

PM Israel: Kesabaran Kami Sudah Habis terhadap Gaza

Naftali Bennett dalam sebuah pidato resmi pertama sejak dilantik sebagai perdana menteri Israel menegaskan pihaknya sudah habis kesabaran dan tak akan menoleransi kekerasan dan gangguan.

“Kami tak akan pernah menoleransi kekerasan dan gangguan, sebab kesabaran kami sudah habis… Jalur Gaza harus terbiasa dengan konsep-konsep lain Israel untuk inisiasi, serangan dan inovasi,” katanya pada momen peringatan korban Operasi Protective Edge atau Perang Gaza 2014, Ahad (20/6).

“Kami tak berniat menimpakan kerugian pada orang yang tak berusaha membunuh kami, kami juga tak membenci mereka yang disandera oleh musuh yang keras dan kejam. Tapi di saat yang sama, musuh-musuh kita harus belajar kaidah; kami tak akan pernah menoleransi kekerasan dan gangguan, kesabaran kami sudah habis,” lanjutnya.

Bennett menyebutkan, “Penduduk sekitar Gaza bukanlah warga kelas dua, mereka berhak hidup tentram dan aman seperti warga Israel lainnya.”

Mengenai tentara Israel yang ditawan oleh para pejuang Palestina di Gaza sejak tahun 2014, Bennett mengatakan, “Hadar Goldin dan Oron Shaul sudah tujuh tahun ditawan, dan ini adalah waktu lama yang tak lazim, kami akan mengerahkan segenap upaya kami untuk memulangkan mereka.”

Pekan lalu Israel melancarkan serangan udara ke Gaza untuk pertama kalinya sejak pemberlakuan gencatan senjata antara Israel dan Gaza. Serangan itu dilakukan menyusul maraknya penerbangan balon api dari Gaza ke wilayah Israel, yang menyebabkan terjadinya kebakaran di banyak titik lahan terbuka. (raialyoum)

Hamas Ingatkan Resiko Gaza Meradang lagi Akibat Ulah Israel

Seorang narasumber dari Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyatakan bahwa faksi pejuang Palestina terbesar di Jalur Gaza ini telah menyampaikan pesan-pesan yang memperingatkan para mediator gencatan senjata Gaza-Israel bahwa ketentraman di Gaza berpotensi pudar akibat pengetatan blokade Israel terhadap Gaza.

Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan kepada kantor berita Jerman, DPA, Ahad (20/6), bahwa pesan-pesan itu telah disampaikan secara lisan oleh para pemimpin Hamas kepada Mesir, Qatar, dan berbagai pihak regional lain serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut sumber itu, Hamas telah meminta pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir serta pencabutan pembatasan, termasuk demi memulai langkah-langkah kongkret untuk menjamin kelancaran masuknya material bangunan yang diperlukan untuk memulai proses rekonstruksi di Gaza.

Dia menambahkan bahwa Hamas dalam hal ini telah berkoordinasi dengan berbagai faksi lain di Gaza, dan kemudian memperingatkan bahwa buruknya situasi kemanusiaan yang berkelanjutan pasti akan direaksi keras oleh para pejuang Palestina di lapangan demi menekan Israel agar menyudahi pengetatan blokade.

Pada pekan lalu  faksi-faksi Palestina kembali melepas balon-balon api di wilayah Israel di sekitar Gaza sebagai reaksi atas pengetatan blokade.

Israel lantas membalasnya dengan serangan udara pada Selasa dan Kamis lalu dengan sasaran kamp-kamp pelatihan militer Hamas di Jalur Gaza, namun tak menjatuhkan korban.

Israel masih menutup pintu perbatasan Kerem Shalom dan Beit Hanun yang dikhususkan untuk lalu lintas orang dari dan ke Jalur Gaza meskipun gencatan senjata sudah satu bulan diterapkan dengan mediasi Mesir.

Sumber-sumber Palestina menyebutkan bahwa Israel hanya memperkenankan masuknya bantuan medis, sedangkan lalu lintas sangat dibatasi. Selain itu, Israel juga terus mempersempit area penangkapan ikan para nelayan Palestina di sekitar pantai Gaza. (raialyoum)

Proses Perundingan Nuklir Iran Ditangguhkan Sampai Batas Waktu yang Tak Jelas

Para pejabat menyatakan bahwa proses perundingan Iran dengan enam negara terkemuka dunia untuk pemulihan perjanjian nuklir tahun 2015 yang dikenal dengan nama Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dihentikan pada hari Ahad (20/6) agar delegasi bisa pulang ke negara masing-masing untuk konsultasi lebih lanjut karena ada beberapa perselihan yang harus dipecahkan.

Perunding senior Iran Abbas Araghchi kepada stasiun televisi resmi Iran dari Wina, Swiss, mengatakan, “Kami sekarang sudah semakin mendekati kesepakatan, tapi masih ada kesenjangan antara kami dan kesepakatan, sementara upaya untuk menutupi kesenjangan ini bukanlah misi yang mudah. Kami akan pulang ke Teheran malam ini.”

Setelah lebih dari satu pekan perundingan pada putaran terbaru, para delegasi perunding menutup putaran itu dengan pernyataan delegasi Rusia bahwa jadwal putaran selanjutnya masih belum jelas, namun dia mengisyaratkan kemungkinan dimulai lagi dalam jangka waktu 10 hari ke depan.

Perundingan di Wina itu dimulai sejak April lalu  demi mencapai kepastian Iran dan AS menempuh langkah-langkah kongkret untuk pemulihan JCPOA yang dikhianati oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump sehingga Iran mereaksinya dengan mengabaikan banyak komitmennya kepada JCPOA.

Terpilihnya tokoh konservatif Ebrahim Raisi sebagai presiden Iran dalam pilpres yang berlangsung Jumat pekan lalu diduga kuat tidak akan menjadi kendala bagi upaya Iran, karena keputusan final dalam masalah ini ada di tangan pemimpin besarnya, Ayatullah Sayid Ali Khamenei. (raialyoum)