Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 2 Desember 2019

parlemen irakJakarta, ICMES. Parlemen Irak menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi yang diajukan setelah ulama yang paling berpengaruh di Irak Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani mendesak parlemen agar “mempertimbangkan kembali” dukungannya kepada pemerintahan Abdul-Mahdi.

Pejuang Ansarullah (Houthi) menembak jatuh satu unit drone pengintai milik pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi saat terbang di angkasa provinsi Hajjah di bagian barat laut Yaman.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam enam negara Eropa yang menjadi anggota baru mekanisme barter INSTEX yang bermaksud mengabaikan sanksi AS terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi akan berkunjung ke Teheran untuk mengadakan pembicaraan dengan sejawatnya di Iran, Mohammad Javad Zarif, termasuk mengenai inisiatif Perdamaian Hormuz baru-baru ini.

Berita selengkapnya:

Parlemen Irak Menyetujui Pengunduran Diri Perdana Menteri

Parlemen Irak menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi yang diajukan setelah ulama yang paling berpengaruh di Irak Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani mendesak parlemen agar “mempertimbangkan kembali” dukungannya kepada pemerintahan Abdul-Mahdi.

Persetujuan itu dicapai pada sesi parlemen yang diadakan di Baghdad,Minggu (1/12/2019), namun pemerintahan Abdul-Mahdi diperkirakan masih akan berperan sampai blok terbesar di parlemen menyetujui kandidat baru penggantinya.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi mengaku mengundurkan diri demi menyelesaikan krisis dan meredakan gejolak.

“Pengunduran diri ini penting untuk mengurai krisis dan meredakan situasi di Irak… Saya berharap kepada parlemen memilih pengganti saya secepatnya,”ujarnya, Sabtu (30/11/2019), dalam pernyataan pertamanya usai menyerahkan surat pengunduran dirinya secara resmi kepada parlemen.

Jumat lalu Ayatollah Sistani melalui wakilnya, Syeikh Ahmad al-Shafi,  mendesak parlemen agar “mempertimbangkan kembali” dukungannya kepada pemerintah.

Hampir dua bulan penuh gelombang untuk rasa yang menuntut reformasi melanda Baghdad serta berbagai kota dan daerah di bagian selatan Irak.

Unjuk rasa ini berujung kerusuhan dan kekerasan pada banyak kesempatan. Menurut komisi hak asasi manusia parlemen Irak, sejak 1 Oktober lalu lebih dari 300 orang tewas akibat kerusuhan itu. (presstv/alalam)

Pejuang Yaman Tembak Jatuh Drone Pengintai Saudi

Pejuang Ansarullah (Houthi) menembak jatuh satu unit drone pengintai milik pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi saat terbang di angkasa provinsi Hajjah di bagian barat laut Yaman.

Biro media Ansarullah dalam sebuah pernyataannya, Ahad (1/12/2019),  mengumumkan bahwa pasukan pertahanan udara Yaman telah membidik drone Wing Loong yang terbang pada  ketinggian sedang dengan rudal darat-ke-udara di distrik Hayran pada Sabtu malam (30/11/2019).

Tentara Yaman dan sekutunya, pejuang Komite Rakyat yang berafiliasi dengan Ansarullah, dalam beberapa bulan terakhir sering berhasil menembak jatuh pesawat musuhnya.

Drone Wing Loong buatan Cina juga pernah tertembak jatuh di daerah Bani Muadh di distrik Sahar, provinsi Sa’ada, di barat laut  Yaman pada 19 April 2019.

Pada Kamis pekan lalu tentara dan pejuang Yaman juga telah menembak jatuh helikopter Apache milik Saudi di dekat perbatasan Yaman hingga kedua pilotnya tewas.

Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan invasi militer ke Yaman sejak Maret 2015 untuk memerangi Ansarullah dengan dalih memulihkan pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Lembaga Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata yang bermarkas di AS (ACLED) memperkirakan bahwa sejak invasi Saudi dan sekutunya itu perang di Yaman telah merenggut lebih dari 100.000 jiwa.

Perang Yaman juga telah menghancurkan banyak infrastruktur negara ini, dan PBB mencatat lebih dari 24 juta orang Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk 10 juta orang yang menderita kelaparan tingkat ekstrem. (presstv)

PM Israel Kecam Eropa dan Nyatakan Simpatinya kepada Saudi terkait dengan Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam enam negara Eropa yang menjadi anggota baru mekanisme barter INSTEX yang bermaksud mengabaikan sanksi AS terhadap Iran.

Netanyahu menilai mereka mendorong apa yang disebutnya penindasan rezim Iran terhadap warganya.

“Sementara rezim Iran membunuh rakyatnya sendiri, negara-negara Eropa bergegas untuk mendukung rezim yang sangat mematikan itu,” kecamnya dalam sebuah video yang dirilis, Minggu (1/12/2019), seperti dikutip Times of Israel dan al-Alam.

Mengacu pada maraknya aksi protes massa terhadap pemerintah dan kelompok yang didukung Iran di Irak dan Libanon serta di Iran sendiri, tanpa menyinggu gelombang unjuk rasa akbar pro-pemerintah Iran,  Netanyahu mengklaim bahwa masyarakat di kawasan Timteng “muak” terhadap Iran.

“Mereka muak terhadap korupsi. Mereka muak terhadap ekonomi yang gagal. Mereka muak (terhadap) penyedotan harta dan hidup mereka untuk perang agresi Iran di kawasan,” katanya Netanyahu yang justru terbelit berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang di Israel.

Sembari terus menabur klaim dan tudingan anti-Iran, Netanyahu juga menyinggung simpati Israel kepada Saudi terkait insiden serangan rudal dan nirawak yang menerjang fasilitas minyak Aramco milik Saudi beberapa waktu lalu.

“Dan sementara orang-orang di Timteng dengan berani menentang Iran dan antek-anteknya, inilah hal yang absurd: Sementara semua ini terjadi, negara-negara di Eropa malah bekerja untuk memotong sanksi AS terhadap Iran… Sementara Iran membom instalasi minyak Arab Saudi, sementara Iran bergegas untuk memperkaya uranium untuk senjata nuklir, negara-negara Eropa bergegas untuk menenangkan Iran dengan lebih banyak konsesi,” klaim Netanyahu.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, “Belgia, Denmark, Finlandia, Belanda, Norwegia, dan Swedia tidak mungkin memilih waktu yang lebih buruk. Ratusan warga Iran yang tidak bersalah yang terbunuh dalam putaran terakhir protes yang bergulir di kuburan mereka.” (timesofisrael/alalam)

Soal Prakarsa “Perdamaian Hormuz”, Menlu Oman Berkunjung ke Teheran

Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi akan berkunjung ke Teheran hari ini,  Senin (2/12/2019), untuk mengadakan pembicaraan dengan sejawatnya di Iran, Mohammad Javad Zarif, termasuk mengenai inisiatif Perdamaian Hormuz baru-baru ini.

Kantor berita Fars menyebutkan bahwa kunjungan ini dilakukan dalam rangka pertukarang pendapat mengenai perkembangan terbaru regional dan penjelasan pandangan Muscat mengenai inisiatif Perdamaian Hormuz yang diajukan oleh Iran untuk meningkatkan keamanan di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Kementerian Luar Negeri Iran belum lama ini mengumumkan bahwa naskah lengkap inisiatif perdamaian Selat Hormuz yang diajukan oleh Presiden Hassan Rouhani telah dikirim kepada para pemimpin Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan Irak.

Berapa waktu lalu Rouhani juga telah menyampaikan inisiatif ini dalam sidang Majelis Umum PBB di New York, AS.

Saat itu Rouhani menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan  “meningkatkan perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan bagi semua orang yang mendapat manfaat dari Selat Hormuz, membangun hubungan persahabatan, dan meluncurkan aksi kolektif untuk menjamin pasokan energi dan kebebasan pelayaran.”

Ketegangan di kawasan Teluk Persia belakangan meningkat setelah AS dan sejumlah negara Arab di kawasan ini, terutama Saudi, menuduh Iran telah menyerang kapal-kapal dan fasilitas-fasilitas minyak Teluk dan mengancam pelayaran.  Iran menepis keras tuduhan ini, dan balik menawarkan perjanjian non-agresi dengan negara-negara Teluk.

Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa pembentukan aliansi militer yang melibatkan pihak-pihak asing di Teluk Persia justru “membuat kawasan ini tidak aman,” dan menekankan bahwa penyelesaian ketegangan lebih memerlukan dialog daripada aliansi militer.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perairan paling penting dan strategis di dunia untuk perdagangan minyak. (raialyoum)