Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 19 Agustus 2019

serangan isis di kabulJakarta, ICMES: Sedikitnya 63 orang tewas dan 182 orang lain luka-luka terkena serangan bom bunuh diri terhadap sebuah acara resepsi pernikahan di Kabul, ibu kota Afghanistan.

Pasukan elit Iran menyatakan negara-negara Arab di pesisir selatan Teluk Persia yang memiliki kilang-kilang penyulingan air minum tidak akan memiliki air minum sehingga bisa mati kehausan jika terjadi “insiden” di Teluk Persia.

IRGC menyatakan bahwa pembebasan kapal tanker minyak Inggris oleh Iran bukan terkait dengan kapal tanker Iran yang ditahan oleh pasukan Inggris di Gibraltar.

IRGC juga menyatakan bahwa Iran berada di peringkat pertama di antara negara-negara Timur Tengah di bidang teknologi rudal, dan tergolong terkemuka di tingkat global.

Berita selengkapnya:

ISIS Serang Acara Resepsi Pernikahan Warga Muslim Syiah di Kabul, 63 Orang Tewas

Sedikitnya 63 orang tewas dan 182 orang lain luka-luka terkena serangan bom bunuh diri di Kabul, ibu kota Afghanistan, Sabtu malam (17/8/2019). Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/ISIL/DAESH) mengaku bertanggungjawab atas serangan ini.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Nusrat Rahimi memastikan serangan itu dilakukan dengan cara bunuh diri dan di antara korban terdapat kaum wanita dan anak kecil.

Seorang korban luka kepada AFP mengatakan, “Para peserta acara sedang menari dan bersuka ria ketika terjadi ledakan.”

Korban luka lain, Hamid Quraish, 22 tahun, di atas ranjang rumah sakit mengatakan kepada kantor berita yang sama bahwa kepanikan melanda semua orang dan acara pesta berubah menjadi ajang pembantaian akibat serangan keji itu.

Dia yang kehilangan saudaranya akibat insiden kekerasan itu menambahkan bahwa acara itu dihadiri oleh sekitar 1000 orang.

Kelompok Taliban pernah berkuasa namun digulingkan oleh aliansi pimpinan AS pada tahun 2001 turut mengutuk serangan itu dan mengaku tidak terlibat di dalamnya.

Di pihak, kelompok teroris ISIS wilayah Khorasan, Afghanistan, mengaku bertanggungjawab atas serangan itu.

“Saudara pelaku bom bunuh diri berhasil meledakkan diri di sebuah perkumpulan besar Rafidhah,” ungkap kelompok ekstremis bengis berhaluan Salafi/Wahhabi itu melalui aplikasi telegram, Ahad.

Rafidhah adalah stigma yang dilekatkan terhadap para penganut mazhab Syiah oleh kalangan takfiri, dan ISIS telah berulangkali melancarkan serangan terhadap warga Muslim Syiah Afghanistan. (raialyoum)

Militer Iran: Arab Teluk Akan Mati Kehausan Jika Terjadi Perang

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Muda Alireza Tangsiri, Ahad (18/8/2019), menyatakan negara-negara Arab di pesisir selatan Teluk Persia yang memiliki kilang-kilang penyulingan air minum tidak akan memiliki air minum sehingga bisa mati kehausan jika terjadi “insiden” di Teluk Persia.

Dia menjelaskan bahwa Teluk Persia seluas 250,000 kilometer persegi adalah kawasan tertutup dan jika kapal-kapal asing, termasuk kapal selam, yang berbahan bakar nuklir terkena serangan maka negara-negara Arab itu akan mendapat masalah yang akan berlangsung bertahun-tahun.

Tangsiri menegaskan bahwa kawasan Teluk memerlukan jaminan keamanan, dan Iranpun telah menyampaikan pesan damai, persahabatan, keamanan, dan stabilitas kepada negara-negara regional.

Dia menekankan bahwa negara-negara “1+7” (Iran dan negara-negara aggota Dewan Kerjasama Teluk/GCC) sanggup menjamin keamanan Teluk, dan Iran memiliki garis pantai terpanjang yang memungkinkannya untuk melestarikan keamanan.

Menurutnya, jalur-jalur logistik di Teluk Persia dan kawasan pantai Teluk Oman serta kepulauan Iran di Teluk Persia selama ini masih aman dan Iran akan terus menjamin keamanan ini.

Alireza Tangsiri memastikan bahwa keberadaan pasukan asing di kawasan Teluk Persia justru menjadi ancaman bagi keamanan dan stabilitas regional.

Hal yang sama terkait eksistensi pasukan asing itu juga ditegaskan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani pada Rabu lalu.

“Kita tidak memerlukan pasukan asing demi keamanan dan stabilitas di Teluk Persia, sebab negara-negara kawasan ini sendiri dapat menjaga keamanan melalui persatuan, solidaritas, dan dialog,” ujar Rouhani.

Di pihak lain, Amerika Serikat menggalang misi dan aliansi maritim demi apa yang disebutnya menjamin kebebasan pelayaran di kawasan Teluk, menyusul penahanan kapal tanker Inggris oleh Iran. Inggris bergabung dengan aliansi itu, tapi negara-negara Eropa lainnya, terutama Jerman, enggan bergabung dengannya karena khawatir aliansi itu dapat memicu konfrontasi dengan Iran.

Tentang ini Rouhani menegaskan, “Semua slogan yang dilontarkan terkait dengan misi baru di Teluk Persia dan kawasan Laut Oman itu absurd, tidak realistis, dan tidak akan membantu penegakan keamanan.” (raialyoum)

AL Iran: Pembebasan Kapal Tanker Inggris Tak Ada Kaitanya Dengan Kapal Tanker Iran di Gibraltar

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Muda Alireza Tangsiri menyatakan bahwa pembebasan kapal tanker minyak Inggris oleh Iran bukan terkait dengan kapal tanker Iran yang ditahan oleh pasukan Inggris di Gibraltar, melainkan bergantung sepenuhnya kepada keputusan pengadilan serta Organisasi Pelabuhan dan Pelayaran Iran.

“Kapal tanker minyak Inggris telah melanggar tiga undang-undang… dan harus diputuskan. Badan pengadilan serta Organisasi Pelabuhan dan Pelayaran adalah pihak yang berwenang mengambil keputusan dalam masalah ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, pasukan Inggris menahan kapal supertanker minyak Iran “Grace 1” sejak 4 Juli lalu atas dugaan bahwa kapal itu membawa minyak menuju Suriah sehingga melanggar sanksi Uni Eropa.

Kemarin kapal itu telah bebas dan bergerak meninggalkan kawasan lepas pantai Gibraltar dalam kondisi sudah berganti nama menjadi “Adrian Darya 1”.

Pemerintah Gibraltar menolak permintaan AS agar tetap menahan kapal tanker Iran Grace 1, sembari menyatakan pihaknya tidak dapat memenuhi permintaan itu karena terikat oleh hukum Uni Eropa. (raialyoum/alalam)

IRGC: Teknologi Kekuatan Rudal Iran No. 1 di Kawasan, Superior di Dunia

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Amir Ali Hajizadeh, menyatakan bahwa Iran berada di peringkat pertama di antara negara-negara Timur Tengah di bidang teknologi rudal, dan tergolong terkemuka di tingkat global.

“Hari ini, kami menempati peringkat pertama dalam teknologi rudal di tingkat regional dan berada di antara beberapa kekuatan global dalam hal ini,” ungkapnya, Ahad (18/8/2019).  Minggu.

Dia juga mengatakan bahwa peringkat yang sama berlaku bagi status negara republik Islam ini di bidang pesawat nirawak (drone).

Hajizadeh melanjutkan bahwa penembak jatuhan drone mata-mata berteknologi tinggi milik AS oleh IRGC beberapa waktu lalu merupakan indikasi kecakapan kontraofensif Iran serta membuktikan kemampuannya membangun sistem pertahanan radar dan rudal.

Pemerintah Iran telah berulang kali memastikan program rudal negara ini bukan untuk tujuan non-konvensional dan hanya dimaksudkan sebagai bagian dari daya pencegahan.

Pada akhir Juli, Menteri Pertahanan Iran Brigjen Amir Hatami menyebutkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran melakukan berbagai kegiatan, termasuk ujicoba rudal, sesuai rencana dan “secara teratur.”

“Jika pihak tertentu melakukan semacam manuver media (untuk menggambarkan hal lain), maka itu karena mereka mengejar tujuan spesifik mereka sendiri. Angkatan Bersenjata kami, bagaimanapun, melakukan kegiatan mereka, termasuk ujicoba rudal, sepenuhnya secara teratur, “ tutur Hatami. (presstv)