Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 16 November 2020

iran dan irakJakarta, ICMES. Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menyatakan negaranya siap menghadang segala faktor yang dapat menyebabkan kacaunya keamanan bangsa Iran dan Irak.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan “mobilisasi umum” untuk melawan gelombang ketiga pandemi Covid-19 atas usulan Kementerian Kesehatan dan Pusat Operasi Penanggulangan Covid-19, dan dengan demikian akan diterapkan pembatasan berskala besar di berbagai kota negara ini.

Sekelompok masyarakat adat Arab Suriah mengadakan pertemuan di Provinsi Al-Hasakah dalam rangka merapatkan barisan dan mengonsolidasikan kekuatan antara komponen masyarakat untuk mengusir semua tentara asing yang menduduki wilayah Suriah.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, mengecam keputusan Jerman melarang ekspor senjata buatannya ke Saudi, sembari menegaskan bahwa  Saudi “tidak membutuhkan peralatan militer Jerman.”

Berita Selengkapnya:

Ditemui Menhan Irak, Petinggi Dewan Keamanan Iran Nyatakan Siap Hadapi AS

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menyatakan negaranya siap menghadang segala faktor yang dapat menyebabkan kacaunya keamanan bangsa Iran dan Irak.

Hal itu diungkap oleh Shamkahni ketika ditemui oleh Menteri Pertahanan Irak Juma Emad Saadoun, yang sedang berkunjung ke Teheran, Ahad (15/11/2020).

Dalam pertemuan ini Syamkhani menyinggung kerjasama pertahanan dan keamanan yang baik dan efektif antara Iran dan Irak dalam perang melawan terorisme yang diorganisir oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di kawasan, dan  dukungan Iran dalam perjuangan pembebasan kota-kota Irak dari pendudukan kelompok teroris ISIS.

“Kerjasama ini menjamin stabilitas dan keamanan di kawasan, dan harus ditingkatkan ke tingkat strategis,” ujarnya.

Shamkhani menjelaskan bahwa salah satu tujuan AS bercokol di kawasan Timteng ialah membangkitkan perselisihan dan konflik antarnegara regional, dan karena itu diperlukan kewaspadaan semua negara demi menggagalkan konspirasi tersebut.

“Republik Islam Iran siap menghadang anasir pengacau keamanan, yang hendak menjadikan stabilitas bangsa dunia negara ini sebagai target serangan,” ungkapnya.

Dia juga menyinggung pengakuan gamblang para pejabat senior AS bahwa kehadiran negara arogan ini di kawasan Timteng tidak menghasilkan apa-apa selain perang, instabilitas, dan hilangnya sumber daya vital di kawasan itu.

Shamkhani memuji keputusan parlemen Irak yang menyerukan keluarnya pasukan AS dari Irak, dan menekankan bahwa salah satu elemen terpenting untuk perdamaian di kawasan adalah penarikan sepenuhnya pasukan AS.

Di pihak lain, Menteri Pertahanan Irak Juma Emad Saadoun berterima kasih kepada Iran atas dukungan dan bantuan komprehensifnya dalam penumpasan terorisme dari Irak, dan menekankan perlunya penguatan hubungan Iran-Irak, terutama di bidang militer dan keamanan. (raialyoum)

Terserang Gelombang BaruPandemi, Presiden Iran Umumkan Mobilisasi Umum

Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan “mobilisasi umum” untuk melawan gelombang ketiga pandemi Covid-19 atas usulan Kementerian Kesehatan dan Pusat Operasi Penanggulangan Covid-19, dan dengan demikian akan diterapkan pembatasan berskala besar di berbagai kota negara ini.

Kementerian Kesehatan mengumumkan jumlah terbesar kasus infeksi harian. Rouhani lantas mengumumkan pernyataan melalui berbagai media resmi.

“Saya menyerukan kepada seluruh lembaga pemerintah dan pilar-pilar negara serta berbagai institusi lainnya untuk bersiap membantu Kementerian Kesehatan dan para tenaga kesehatan dengan segala fasilitas yang tersedia,”seru Rouhani, Ahad (15/11/2020).

Sehari sebelumnya pemerintah menyatakan akan menerapkan pembatasan ekstra ketat di Teheran dan sekira 100 kota dan daerah di seluruh penjuru negara Republik Islam ini per 21 November 2020.

Sesuai pembatasan ini, pekerjaan dan layanan non-darurat akan diliburkan, sementara jalur akses antarkota dan daerah tersebut ditutup untuk sementara waktu.

Para pejabat Iran kembali mengeluhkan banyaknya orang yang mengabaikan imbauan untuk menetap di dalam rumah. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Teheran Mohsen Hasyemi bahkan memperingatkan resiko lonjakan kasus kematian hingga 1000 orang perhari dalam beberapa pekan mendatang.

Kementerian Kesehatan Iran, Ahad, mengumumkan bahwa kasus infeksi Covid-19 di negara ini mencapai 12,543 dalam 24 terakhir sehingga total kasus berjumlah 762,068.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Sima Sadat  Lari mengatakan kepada televisi resmi bahwa sebanyak 459 orang meninggal dunia akibat virus tersebut dalam 24 terakhir sehingga total jumlah kematian menjadi 41,493 kasus, jumlah terbesar di kawasan Timteng. (alalam/raialyoum)

 Suku Arab di Suriah Serukan Perlawanan Rakyat terhadap Pasukan AS dan Turki

Sekelompok masyarakat adat Arab Suriah mengadakan pertemuan di Provinsi Al-Hasakah dalam rangka merapatkan barisan dan mengonsolidasikan kekuatan antara komponen masyarakat untuk mengusir semua tentara asing yang menduduki wilayah Suriah.

Dilaporkan bawa suku Tayy mengadakan pertemuan di kota Jarmouz  di dekat kota besar Al-Qamishli di utara Al-Hasakah.

Dalam pertemuan tersebut, suku Tayy mengibarkan bendera Republik Arab Suriah sembari menegaskan bahwa Tentara Arab Suriah (SAA) adalah satu-satunya organisasi militer yang sah di negara ini.

Mereka juga berterima kasih kepada Angkatan Bersenjata Rusia yang telah membantu Republik Arab Suriah memerangi kelompok teroris.

Para anggota suku itu sepakat bahwa perlawanan rakyat terhadap pasukan AS dan Turki harus berlanjut sampai keduanya meninggalkan negara itu, terutama wilayah Al-Jazirah, yang terletak di sebelah timur Sungai Efrat.

Pertemuan ini terjadi hanya dua bulan setelah Suku Al-Akidat bentrok dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS di pedesaan timur Deir Ezzor. (amn)

Al-Jubeir: Saudi Tak Butuh Senjata Jerman

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, mengecam keputusan Jerman melarang ekspor senjata buatannya ke Saudi, sembari menegaskan bahwa  Saudi “tidak membutuhkan peralatan militer Jerman.”

“Ide menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi karena perang Yaman menurut saya tidak masuk akal. Ini adalah perang yang terpaksa kami lakukan,” kata Al-Jubeir dalam wawancara dengan kantor berita Jerman, DPA, seperti dikutip RT Arabic, Ahad (15/11/2020).

Al-Jubeir menambahkan bahwa negaranya telah membeli senjata dari negara lain, dan bahwa embargo Jerman tidak akan dapat mengubah kebijakan Saudi.

“Kami tidak membutuhkan senjata Jerman untuk mengelola tentara kami,” ujarnya.

Pada 19 November 2018, Kementerian Ekonomi Jerman mengumumkan penerapan embargo senjata terhadap  negara-negara yang terlibat dalam perang di Yaman.

Berlin telah sepenuhnya menghentikan penerapan semua lisensi yang telah diserahkan kepada berbagai perusahaan dan institusi untuk memasok senjata Jerman ke Arab Saudi, dan juga telah mengambil keputusan untuk tidak memberikan lisensi baru di bidang ini.

Keputusan tersebut diambil pemerintah Jerman menyusul heboh kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi oleh sekelompok orang Saudi di konsulat negaranya di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Embargo senjata Jerman terhadap Arab Saudi, yang sebelumnya diperpanjang beberapa kali, akan dibahas lagi dalam beberapa pekan mendatang sebelum berakhir pada 31 Desember. (rta)