Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 16 Mei 2022

Jakarta, ICMES. Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi mengatakan negaranya berusaha memperkuat persatuan negara-negara Islam di tengah gencarnya sepak terjang pemerintah Inggris dan AS untuk menyulut perselisihan umat Islam yang dilakukan dengan cara mempromosikan versi menyimpang dari Islam Syiah maupun Islam Sunni.

Surat kabar Israel Haaretz memuat rincian baru terkait dengan penyelidikan militer Israel atas penembakan terhadap wartawati jaringan berita Al Jazeera Shirin Abu Aqleh.

Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh kembali menegaskan penolakan Otoritas Palestina atas partisipasi pihak Israel dalam penyelidikan  kasus pembunuhan jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Aqleh.

Liga Arab memperingatkan potensi bahaya tersulutnya perang bermotif agama dari aksi-aksi rezim Zionis Israel terhadap status quo kompleks Masjid al-Aqsa.

Berita Selengkapnya:

Presiden Iran: Syiah Inggris dan Sunni AS Tebar Perpecahan Umat Islam

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi mengatakan negaranya berusaha memperkuat persatuan negara-negara Islam di tengah gencarnya sepak terjang pemerintah Inggris dan AS untuk menyulut perselisihan umat Islam yang dilakukan dengan cara mempromosikan versi menyimpang dari Islam Syiah maupun Islam Sunni.

“Syiah Inggris dan Sunni Amerika setali tiga uang, keduanya menentang persatuan dunia Muslim, sementara persatuan adalah strategi dan bukan taktik bagi republik Islam Iran,” kata Raisi dalam pertemuan dengan alim ulama Sunni Iran, Ahad (15/5).

Menyinggung adanya pertumbuhan kelompok takfiri di kawasan Timur Tengah, dia mengimbau setiap orang agar waspada dan mencegah penyusupan faham takfiri dan Salafi.

Dia menekankan pentingnya persatuan Syiah dan Sunni di Iran serta memastikan bahwa “saudara-saudara dan cendekiawan Sunni memiliki tempat yang signifikan dalam sejarah Iran”

Presiden Raisi menjelaskan bahwa Syiah dan Sunni telah sekian lama hidup berdampingan dengan rukun dan damai di Iran, dan pemerintahpun  serius berusaha untuk mengatasi masalah mata pencaharian rakyat.

Pada bulan Desember tahun lalu Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataannya menggarisbawahi urgensi persatuan  dan solidaritas Sunni-Syiah demi mengandaskan upaya pemecah belahan umat Islam oleh pihak-pihak yang memusuhi mereka.

Kementerian luar negeri Iran memperingatkan terhadap skema musuh bagi dunia Muslim dan menyerukan penguatan persatuan umat Islam dan penolakan terhadap kekerasan dan ekstremisme atas nama Islam. (fna)

Pertama Kali, Ini Pengakuan Tentara Israel Penembak Shireen Abu Aqleh

Surat kabar Israel Haaretz, Ahad (15/5), memuat rincian baru terkait dengan penyelidikan militer Israel atas penembakan terhadap wartawati jaringan berita Al Jazeera Shirin Abu Aqleh.

Menurut surat kabar Al-Quds, sesuai penyelidikan Israel, tentara unit Dovdovan yang datang untuk menangkap seorang aktivis Jihad Islam melepaskan tembakan setidaknya enam kali di daerah antara kamp pengungsi Jenin dan Wadi Burqin dalam operasi pada Rabu pagi pekan lalu.

Penyelidikan itu menyebutkan; “Dalam satu kasus, seorang tentara (penembak jitu) menembak dari jarak sekitar 190 meter dari jurnalis Abu Aqleh, sementara tentara itu duduk dan mengangkat senapan sniper dengan penglihatan teleskopik di jip militer, dan menembak dari lubang di jip.”

Penyelidikan itu mengklaim; “Tentara itu mencoba untuk membidik seorang pria bersenjata Palestina yang muncul tiga kali dari balik tembok dan menembaki jip, sementara para jurnalis berada tak jauh di belakangnya, dan penembakan dari jip memberikan sudut pandang yang terbatas.”

Tentara Israel kepada tim penyelidik bahwa mengaku “tidak melihat Abu Aqleh dan tak juga berusaha mencelakannya”.

Menurut klaim penyelidikan itu, sekelompok orang bersenjata berada di belakang para wartawan dan melepaskan tembakan terhadap tentara, dan karena itu sumber tembakan yang menerjang Abu Aqleh tak akan dapat diketahui selama pengujian tidak dilakukan.

Jurnalis Shireen Abu Aqleh gugur ketika meliput peristiwa serbuan pasukan Zionis Israel ke kamp Jenin pada pagi hari Rabu 11 Mei 2022. (raialyoum)

Tolak Serahkan Barang Bukti, Palestina Nyatakan Penyelidikan Pembunuhan Shireen Hampir Selesai

Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh kembali menegaskan penolakan Otoritas Palestina atas partisipasi pihak Israel dalam penyelidikan  kasus pembunuhan jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Aqleh.

Dalam pidatonya di rumah duka di Ramallah pada Ahad malam (15/5), Shtayyeh mengatakan, “Komite investigasi akan menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang sangat singkat, dengan profesionalisme tinggi.  Peluru dikirim ke laboratorium kriminal Palestina, dan kami tidak akan menyerahkan barang bukti apa pun kepada siapa pun karena kami tahu mereka dapat memalsukan fakta.”

Shtayyeh menyebutkan adanya tekanan besar terhadap pihak Palestina agar  melakukan penyelidikan bersama dengan Israel, namun dia menekankan penolakan terhadap tekanan ini, karena yang menembak mati Shireen di Jenin tak lain adalah tentara pendudukan Israel.

“Kami juga menolak penyelidikan internasional karena kami mempercayai kemampuan kami, kami sama sekali tidak mempercayai rezim pendudukan, dan kejahatan pembunuhan ini akan diadukan ke Mahkamah Pidana Internasional.”

Sembari menegaskankan  tanggung jawab penuh Israel atas pembunuhan tersebut, Shtayyeh menyebut Shireen sebagai “model wanita Palestina terhormat yang menjalankan misinya dengan profesionalitas tinggi”.

“Shireen telah melakukan survei rakyat Palestina mengenai spirit resistensi Palestina, dan duniapun mengutuk kejahatan ini, dia ingin rezim pendudukan dikutuk di semua ibu kota dunia,” lanjutnya.

Sementara itu, TV Israel saluran 12 melaporkan bahwa Amerika Serikat meminta Israel memberikan penjelasan mengenai penyilidikan atas pembunuhan Shireen Abu Aqleh. (raialyoum)

Liga Arab: Aksi Israel Berpotensi Picu “Perang Agama”

Liga Arab memperingatkan potensi bahaya tersulutnya perang bermotif agama dari aksi-aksi rezim Zionis Israel terhadap status quo kompleks Masjid al-Aqsa.

Sekretariat Jenderal Liga Arab, Ahad (15/5), mengeluarkan peringatan demikian pada momen Peringatan Hari Nakba yang ditandai oleh orang-orang Palestina dan para simpatisan mereka dengan unjuk rasa mengenang tragedi 1948 di mana rezim Zionis Israel mendeklarasikan eksistensinya menyusul perang kaum Zionis yang didukung Barat melawan beberapa negara sekitar.

Di bawah perlindungan pasukan Israel, para pemukim Zionis setiap hari menyerbu kompleks Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga umat Islam sedunia setelah Masjidil Haram dan Madinah Al-Munawwaroh.  Para pendatang Zionis itu kerap menyerang warga Muslim maupun Kristen Palestina, yang berkumpul di komplek itu untuk beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan.

“Serangan ini merupakan pelanggaran besar terhadap hukum internasional, dan menghalangi upaya internasional yang bertujuan membangun perdamaian,” tegas Liga Arab.

Organisasi negara-negara Arab ini menyebut serangan Israel berpotensi mengobarkan kekacauan dan instabilitas di kawasan, yang “dapat menyeret  (seluruh) kawasan pada  kekerasan dan memulai perang agama,” tambahnya.

Sekretariat Liga Arab menyatakan bahwa Tragedi Nakba sudah berlalu sekitar tujuh dekade, tapi orang-orang Palestina masih mengalami dampak tragedi itu dan menjadi korban pelanggaran-pelanggaran yang mengancam  eksistensi, tanah, hak, dan kesucian mereka.

Liga Arab menyebutkan beberapa contoh agresi Israel, termasuk penghancuran rumah dan pengusiran warga Palestina serta “eksekusi lapangan” terhadap mereka, termasuk pembunuhan jurnalis ternama Shireen Abu Akleh.

Liga Arab mendesak Dewan Keamanan PBB turun tangan mendukung rakyat Palestina dan pelaksanaan resolusi PBB yang mengutuk pendudukan dan agresi rezim Israel.

“Dewan Keamanan harus segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan, yang akan memberikan tekanan pada otoritas pendudukan Israel untuk mengakhiri pelanggaran mereka terhadap bangsa Palestina,” tegas Liga Arab. (presstv)