Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 16 Maret 2020

ulama al-azhar mesirJakarta, ICMES. Dewan Ulama Senior al-Azhar di Kairo, Mesir, merilis fatwa yang membolehkan penghentian atau peliburan shalat jumat dan jamaah untuk sementara waktu demi membendung penyebaran virus corona.

Wakil Pertama Presiden Iran Eshaq Jahangiri menghadiri rapat pemerintah, Ahad (15/3/2020) setelah sembuh dari pilek yang semula membuatnya berinisiatif untuk mengisolasi diri karena khawatir terpapar virus corona.

Pakar strategi Iran Hussain Rouz memastikan bahwa virus corona dijadikan senjata oleh AS untuk menekan negara-negara musuhnya ketika virus yang belakangan dinamai COVID-19 itu sudah mewabah.

Sekjen gerakan Saraya Khorasani di Irak, Ali al-Yasiri, menegaskan bahwa kelompok-kelompok pejuang resistensi akan memaksa AS berunding dengan pemerintah Irak agar keluar dari Negeri 1001 Malam ini.

Berita selengkapnya:

Cegah Corona, Dewan Ulama Al-Azhar Bolehkan Penghentian Shalat Jumat dan Jamaah

Dewan Ulama Senior al-Azhar di Kairo, Mesir, merilis fatwa yang membolehkan penghentian atau peliburan shalat jumat dan jamaah untuk sementara waktu demi membendung penyebaran virus corona.

Dalam fatwa untuk seluruh umat Islam yang dirilis  pada hari Ahad (15/3/2020) itu disebutkan penjelasan sebagai berikut;

Mengingat adanya laporan-laporan kesehatan mengenai cepatnya penyebaran virus corona (COVID-19) dan perubahannya menjadi pandemi global, serta adanya konsensus data-data medis mengenai kemudahan dan kecepatan penyebarannya dan bahwa penderita terkadang tidak merasakan gejalanya dan tidak mengetahui bahwa dia terinfeksi olehnya sehingga penularan menyebar di setiap tempat di mana dia berpindah;

Dan mengingat bahwa tujuan syariat (maqashid al-syari’ah) yang terbesar adalah menjaga dan melindungi jiwa manusia dari segala bahaya dan celaka;

Maka, bertolak dari tanggungjawab syar’i-nya, Dewan Ulama Senior mengumumkan kepada para pejabat di semua penjuru bahwa boleh secara syar’i menghentikan shalat jumat dan jamaah di negara karena khawatir terhadap penyebaran virus ini dan terjadinya kematian di negara dan di tengah para hamba.

Fatwa al-Azhar ini juga menyebutkan;

Wajib bagi orang yang sakit dan lanjut usia menetap dalam rumahnya, konsisten kepada tindakan pencegahan yang telah diumumkan oleh pihak yang berwenang di setiap negara, tidak keluar untuk shalat Jumat dan jamaah, setelah secara medis dan dari data-data resmi terbukti adanya penyebaran virus ini dan kepastiannya sebagai penyebab kematiannya banyak orang di dunia, dan dalam perkiraan bahaya wabah ini cukuplah kiranya dugaan kuat dan berbagai indikasi seperti peningkatan jumlah penderita, kemungkinan penularan, dan perkembangan virus ini.

Dewan Ulama Senior Al-Azhar menegaskan bahwa para pejabat setiap setiap negara berkewajiban mengerahkan segenap kemampuannya dan menempuh berbagai metode pencegahan penyebaran virus ini.

Selain menyebutkan alasan logis untuk mendukung fatwa ini, Al-Azhar juga menyebutkan beberapa dalil antara lain hadis yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim sebagai berikut;

?? ?????? ????? ???? ???????? ??? ????????????? ??? ?????? ???????: ????? ??????: ???????? ????? ?????????? ??????? ?????? ????? ?????? ???? ????? ??????????? ????: ??????? ??? ???????????? ????????? ???????? ?????????????? ?????: ???????? ???? ???? ?????? ??????? ????? ??????????? ????????? ???????? ???????? ???? ????????????? ??????????? ??? ???????? ???????????.

Sesungguhnya Abdullah bin Abbas berkata kepada muazzinnya ketika sedang turun hujan;  “Setelah kamu mengucapkan ‘Asyhadu Muhammadan Rasulullah, maka jangan janganlah kamu ucapkan ‘Hayya ala al-shalah’ (Mari menunaikan shalat), melainkan ucapkanlah ‘shallu fi buyutikum’ (shalatlah di rumah kalian)’.”

Orang-orang saat itu tampak menentang perkataan Ibnu Abbas tersebut, tapi dia berkata, “Orang yang lebih baik dariku telah melakukannya. Sesungguhnya shalat Jumat adalah suatu azmat (hak Allah atas hamba-Nya), dan sungguh aku tidak ingin menyulitkan kalian dengan berjalan di tanah liat dan tempat yang licin.”

Dewan Ulama Senior al-Azhar menyatakan; “Hadis ini menunjukkan adanya perintah meninggalkan shalat jamaah demi menghindari kesulitan yang disebabkan hujan, sementara bahaya virus lebih memberatkan daripada kepergian menuju shalat itu dalam kondisi hujan. “ (mm/raialyoum)

Wapres Iran Dinyatakan Negatif Corona, Namun Wabah Makin Mengganas

Wakil Pertama Presiden Iran Eshaq Jahangiri menghadiri rapat pemerintah, Ahad (15/3/2020) setelah sembuh dari pilek yang semula membuatnya berinisiatif untuk mengisolasi diri karena khawatir terpapar virus corona (COVID-19).

Kantor Jahangiri mengumumkan bahwa dia telah sembuh dan kembali beraktivitas setelah selama dua minggu mendapat penanganan medis terkait dengan keluhan pilek yang dideritanya.

Ditekankan pula bahwa tes corona yang dilakukan terhadap Jahangiri ternyata membuahkan hasil negatif, dan karena itu dia segera bekerja dan berpartisipasi lagi dalam perjuangan negara ini memberantas COVID-19 yang belakangan ini dinyatakan WHO sebagai pandemi.

Pada 11 Maret lalu beredar kabar bahwa wakil pertama presiden Iran dan sejumlah pejabat tinggi negara ini terpapar virus corona.

Sementara itu, wabah corona di negera republik Islam ini masih terus mengganas dan merenggut banyak nyawa. Kementerian Kesehatan Iran mencatat 113 kasus kematian baru akibat virus ini dalam 24 terakhir, dan ini merupakan angka terbesar selama ini untuk kasus kematian dalam sehari, setelah pada Sabtu lalu tercatat sebanyak 94 kasus.

Parahnya lagi, di negara ini juga ditemukan sebanyak 1209 kasus baru sehingga jumlah total kasus corona mencapai 13.938, sementara jumlah pasien corona yang sembuh 4590 orang. (mm/alalam)

Pakar Iran Pastikan Virus Corona Dijadikan Senjata oleh AS

Pakar strategi Iran Hussain Rouz memastikan bahwa virus corona dijadikan senjata oleh AS untuk menekan negara-negara musuhnya ketika virus yang belakangan dinamai COVID-19 itu sudah mewabah.

Meski demikian, Rouz yang juga seorang dosen sebuah universitas di Iran ini mengaku tak dapat mengiyakan ataupun menepis kecurigaan yang berkembang bahwa virus yang ditemukan pertama kali di kota Wuhan, China, ini merupakan hasil rekayasa di laboratorium.

“Sepanjang sejarahnya AS menggunakan segala cara untuk memerangi para pesaingnya, dan ada indikasi-indikasi bahwa virus corona dibuat di laboratoriumnya,” ujar Rouz dalam wawancara dengan al-Alam yang disiarkan pada Ahad (15/3/2020).

Dia menambahkan, “Di dunia ini tak ada satupun negara yang mengaku menggunakan senjata biologi, tapi ada dokumen-dokumen yang mengkonfirmasi bahwa AS memandang senjata biologi sebagai senjata strategis.”

Hussain Rouz menilai negaranya dalam beberapa hari terakhir dapat mengendalikan penyebaran virus corona, dan bahkan dapat mengubah ancaman menjadi kesempatan seperti terlihat dalam manuver pertahanan  melawan serangan biologi, yang menunjukkan kesiapan negara republik Islam ini menghadapi segala skenario terburuk dalam membela bangsa Iran.

Selain itu, dia juga menilai pandemi COVID-19 akan mempercepat laju pembentukan tatanan baru dunia. (mm/alalam)

Relawan Irak Tegaskan akan Terus Berjuang untuk Mengusir Pasukan AS

Sekjen gerakan Saraya Khorasani di Irak, Ali al-Yasiri, menegaskan bahwa kelompok-kelompok pejuang resistensi akan memaksa AS berunding dengan pemerintah Irak agar keluar dari Negeri 1001 Malam ini.

Seperti dikutip al-Alam, Ahad (15/3/2020), dalam wawancara dengan saluran TV berbasis satelit milik Iran ini al-Yasiri menyebut serangan udara AS baru-baru ini terhadap relawan dan tentara Irak merupakan penistaan terhadap bangsa Irak.

Meski demikian, dia juga mengatakan, “Pemboman dan penistaan terhadap bangsa dan kedaulatan Irak ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi kami… dan segala bentuk serangan terhadap elemen, pihak, dan faksi manapun merupakan serangan terhadap semua kelompok.”

Dia menambahkan, “Permusuhan (AS) sudah nyata dan blak-blakan, dan sekarang setelah para pengecut (tentara AS) itu kabur dari Pangkalan al-Taji mereka akan terus dikejar di pangkalan kedua, ketiga,… sampai mereka keluar dari Irak dengan kondisi kerdil.”

Ali al-Yasiri kemudian memastikan bahwa serangan faksi-faksi pejuang Irak selanjutnya akan sangat menyakitkan dan membuat AS terpaksa berundingan pemerintah Irak untuk keluarnya mereka dari Irak. (mm/alalam)