Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 15 Juli 2019

iran dan ASJakarta, ICMES: Iran membantah kabar bahwa Teheran telah menerima surat dari negara musuh besarnya, AS, melalui Rusia untuk perundingan tingkat menteri luar negeri.

Israel menerima dua unit F-35 sembari mengaku bahwa dengan jet tempur siluman buatan AS ini dapat melancarkan misi di kedalaman wilayah musuh tanpa sepengetahuannya.

Militer Iran menegaskan bahwa jika terjadi serangan terhadapnya maka Iran tidak akan mengandalkan pertahanan saja, melainkan juga kekuatan ofensif dan balasan yang mematikan.

Petinggi Hizbullah memastikan bahwa sanksi AS terhadap Hizbullah hanya menambah tekad kelompok pejuang yang berbasis di Libanon ini.

Berita selengkapnya:

Iran Bantah Terima Surat dari AS untuk Negosiasi

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi membantah kabar bahwa Teheran telah menerima surat dari negara musuh besarnya, AS, melalui Rusia untuk perundingan tingkat menteri luar negeri.

Dalam pernyataannya pada hari Ahad (14/7/2019) dia juga menegaskan Teheran tidak melakukan perundingan dengan pejabat Washington di level manapun.

Di hari yang sama, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya hanya akan siap berunding dengan AS jika Washington mencabut sanksinya terhadap Iran serta kembali kepada perundingan nuklir yang telah dicapai pada tahun 2015 dan kemudian ditinggalkan oleh AS pada tahun 2018.

“Kami selalu percaya pada perundingan … jika mereka mencabut sanksi, mengakhiri tekanan ekonomi yang diberlakukan dan kembali kepada kesepakatan, kami siap mengadakan pembicaraan dengan Amerika hari ini, sekarang, dan di mana saja,” kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan di televisi.

Rouhani juga menyebutkan utang luar negeri Iran justru turun sebanyak 25% meskipun dikenai sanksi oleh AS sejak 14 bulan lalu.

“Sanksi yang dipaksakan AS terhadap Iran seandainya dipaksakan terhadap negara lain niscaya negara itu menghadapai berbagai keruntuhan, tapi kami solid,” imbuhnya.

Ketegangan meningkat antara Iran dan AS sejak tahun lalu setelah Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran dengan enam negara terkemuka dunia serta menerapkan kembali sanksi terhadap Iran yang semula dicabut berdasarkan perjanjian tersebut.

Sanksi itu secara khusus menarget aliran pendapatan asing, terutama Iran dari ekspor minyak mentah.

Sebagai reaksi atas sanksi itu Teheran pada Mei lalu mengumumkan bahwa negara republik Islam ini akan mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir tersebut.

Awal bulan ini, Iran mengumumkan pemenuhan cadangan uraniumnya yang diperkaya telah melampaui batas yang diizinkan oleh kesepakatan nuklir sebesar 300 kilogram. (raialyoum/aljazeera)

Terima 2 Unit Jet Tempur F-35, Israel Mengaku Dapat Masuk ke Negara Lain Tanpa Diketahui

Israel menerima dua unit jet tempur F-35 buatan AS, Ahad (14/7/2019), melalui transaksi yang dilakukan rezim Zionis ini pada tahun lalu untuk pembelian jet tempur siluman itu dan penerimaannya dalam jumlah total hingga akhir tahun 2021.

Berbicara tentang ini, juru bicara resmi perdana menteri Israel Ofir Gendelman melalui akun Twitter-nya mengucapkan selamat atas penerimaan dua unit F-35 sembari mengatakan, “Kita dapat melancarkan misi di kedalaman wilayah musuh tanpa sepengetahuannya.”

Dia menambahkan, “Angkatan Udara Israel adalah satu-satu angkatan udara di luar AS yang memiliki jet tempur luar biasa itu.”

Sebelumnya, juru bicara militer Israel Avichai Adraee dalam sebuah statemennya menyatakan, “Hari ini di pangkalan udara Nevatim telah mendarat dua jet tempur baru tipe F-35 yang akan bergabung dengan sistem jet tempur besar, yang kesiapan operasionalnya telah diumumkan pada Desember 2017.”

Awal pekan lalu Perdana Menteri Israel juga melontarkan pernyataan  tentang jet tempur itu sembari mengancam Iran.

Di pangkalan udara yang sama, dia mengatakan bahwa Iran “harus ingat bahwa pesawat-pesawat ini dapat mencapai setiap tempat di Timur Tengah, termasuk Iran dan, tentu saja, Suriah “.

Menanggapi ancaman ini, Menteri Pertahanan Iran Brigjen  Amir Hatami menegaskan, “Setiap musuh yang berusaha melanggar kedaulatan Republik Islam Iran, di level mana pun, akan menerima balasan telak, menghancurkan, dan menjerakan.” (raialyoum/alalam)

Militer Iran: Kekuatan Ofensif Kami Akan Mematikan

Panglima Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Sayid Abdul-Rahim Mousavi menegaskan negaranya tidak akan pernah memulai perang terhadap negara manapun, namun jika terjadi serangan terhadapnya maka tidak akan mengandalkan pertahanan saja, melainkan juga kekuatan ofensif dan balasan yang mematikan.

Dalam pidato pada apel gelar pasukan Brigade 25 Pasukan Khusus Reaksi Cepat Angkatan Darat di Tabriz, Iran barat laut, Ahad (14/7/2019), dia mengatakan, “Situasi global sekarang mengharuskan kesiapan kita secara lebih besar.”

Dia menambahkan bahwa “musuh telah menetap rencana-rencana kejinya sejak awal kemenangan revolusi Islam” dan “harus ada kesiapan penuh (Iran) di semua level nasional dan militer untuk melawan semua tipudaya.”

Permusuhan dan aksi saling gertak antara Iran dan AS belakangan ini meningkat terutama setelah pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh drone siluman pengintai milik AS di Selat Hormuz. (raialyoum)

“Sanksi AS Justru Memperkuat Hizbullah”

Petinggi kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Libanon mengecam tindakan Departemen Keuangan AS menambahkan tiga pejabat Hizbullah dalam daftar individu yang terkena sanksi AS, sembari memastikan bahwa tindakan itu justru hanya menambah tekad Hizbullah.

“Penargetan wakil kita (anggota parlemen) oleh sanksi ekonomi adalah serangan terhadap perwakilan rakyat kita. Mereka menggunakan sanksi ekonomi terhadap kita, dan ini adalah tindakan agresi yang nyata. Mereka juga menggunakan agresi politik, ” kecam Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam kata sambutannya pada sebuah acara di kota Humin al-Tahta, Lebanon selatan, Ahad (14/7/2019).

Kepada AS dia menyoal, “Apakah Anda ingin memaksakan pendapat Anda terhadap kami? Jika Anda menambahkan wakil, pejabat, partai politik atau apa pun ke daftar sanksi, ini hanya akan meningkatkan tekad kami dan akan membuat kami berpikir bagaimana memenangi pertempuran dan agresi ini. Anda melakukan ini dalam upaya menekan perlawanan dan publik. ”

Pejabat Hezbullah kemudian mengecam sanksi ekonomi Washington terhadap Iran yang notabene pemimpin poros perlawanan.

“Hari ini seluruh dunia disibukkan dengan tawaran berulang AS dan upayanya untuk menyerang Iran. Apa yang telah dilakukan Iran sehingga menjadi target kampanye yang sangat menekan? Iran telah membuktikan kemampuannya memimpin poros perlawanan, mendukung rakyat di kawasan dan resistensi itu. Ia telah mampu mencetak banyak prestasi, ” terang Naim Qassem.

Dia menambahkan, “Tanpa Iran dan dukungannya, perlawanan tidak akan dapat tampil sebagai pemenang di Libanon dan Suriah, Irak tidak akan terbebaskan (dari cengkeraman terorisme), dan Yaman tidak akan melawan (agresi militer Saudi dan sekutunya) . Semua orang di wilayah ini berhutang budi kepada Republik Islam (Iran) yang didirikan oleh Alm. Ayatollah Ruhollah Khomeini, dan sekarang dipimpin oleh Ayatullah Sayid Ali Khamenei.”

Kantor Departemen Pengendalian Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS pada 10 Juli lalu memberlakukan sanksi terhadap dua anggota parlemen Libanon yang berasal dari Hizbullah dan seorang pejabat keamanan yang bertanggung jawab mengoordinasikan antara gerakan perlawanan dan badan-badan keamanan Libanon.

Sekira 50 tokoh Hizbullah telah dicantumkan dalam daftar hitam oleh Departemen Keuangan AS sejak 2017. (presstv)