Jakarta, ICMES. Kelompok pejuang Hizbullah melancarkan serangan telak terhadap pusat-pusat militer dan situs-situs Israel di kota Haifa, yang berujung pada terbunuhnya sejumlah tentara Israel

Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengumumkan pihaknya telah menyerang kendaraan dan tentara Israel di Jalur Gaza utara hingga menewaskan dan melukai sejumlah tentara Zionis.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan AS agar tidak mengerahkan pasukannya ke Israel untuk mengoperasikan sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dan menekankan bahwa Iran “tidak memiliki garis merah” dalam membela kepentingannya.
Berita selengkapnya:
Wow, Satu Drone Serang Hizbullah Tewaskan Belasan Tentara Israel, Apa Itu Drone Serang?
Kelompok pejuang Hizbullah melancarkan serangan telak terhadap pusat-pusat militer dan situs-situs Israel di kota Haifa, yang berujung pada terbunuhnya sejumlah tentara Israel pada hari Ahad (13/10).
Dikutip Al-Alam, media Israel melaporkan 15 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam operasi serangan yang menerjang daerah Binyamina, selatan Haifa, setelah 110 orang dilaporkan terluka dengan kondisi beberapa di antaranya kritis.
Beberapa laporan lain menyebutkan korban tewas Israel hanya empat orang, namun juga menyebutkan banyak korban luka dengan kondisi kritis.
Sumber-sumber Israel menyebutkan bahwa sebuah drone menghantam target di selatan Haifa tanpa membunyikan sirene, dan sejumlah besar korban dilaporkan jatuh di tempat kejadian, dan sebanyak 50 unit mobil ambulan dikerahkan di tempat kejadian.
Hizbullah dalam sebuah pernyataan menegaskan, “Kami melakukan operasi peluncuran satu skuadron drone serang di kamp pelatihan Brigade Golani di Binyamina, selatan wilayah pendudukan Haifa, sebagai balasan atas serangan Zionis, terutama di Lingkungan Al-Nuwairi dan Basta di Beirut.
Gerakan Al-Ahrar mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi yang menghantam ruang makan di pangkalan militer Israel tersebut.
“Operasi Hizbullah memulihkan dan menegaskan prinsip keseimbangan pencegahan, dan teror yang kini telah merasuki para pemimpin dan tentara rezim pendudukan Israel,” ungkapnya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Hizbullah mengumumkan para pejuangnya terlibat kontak senjata dari jarak dekat dengan tentara Zionis yang berupaya melakukan infiltrasi di daerah perbatasan.
Hizbullah juga mengaku telah melancarkan sejumlah operasi militer khusus terhadap posisi pendudukan dan posisi di wilayah utara Palestina pendudukan, dan memastikan bahwa dalam peristiwa ini telah jatuh sejumlah korban tewas dan luka di pihak Israel.
Drone Serang
Hizbullah Lebanon menggunakan drone yang mampu mencapai kamp milik Brigade Golani Israel, di selatan kota Haifa, dalam serangan telak yang menewaskan dan melukai banyak tentara Israel.
Drone yang digunakan Hizbullah diklasifikasikan sebagai drone serang, yang dapat mengidentifikasi target saat berada di udara dan meluncurkan rudal ke target sebelum menghantamkan diri dalam serangan kamikaze.
Bahaya dari drone jenis ini terletak pada kombinasi antara keunggulannya dalam penentuan ketinggian penerbangan dan jalur variabel menuju sasaran sehingga sulit diintersepsi di satu sisi dan keunggulan rudal berdaya destruktif besar yang ditembakkan dari jarak yang sangat dekat di sisi lain.
Menurut Perusahaan Penyiaran Israel, dua drone diluncurkan bersama beberapa rudal yang menargetkan Israel, dan satu di antaranya berhasil menghindari sistem pertahanan udara dan mencapai kamp tentara di Binyamina di selatan Haifa.
Pada dini hari Senin (14/10), Hizbullah merilis pernyataan yang memperingatkan bahwa mereka akan menjadikan Haifa dan lain-lain sama dekatnya dengan Kiryat Shmona, Metulla, dan daerah permukiman lain di dekat perbatasan Lebanon, bagi rudal dan drone Hizbullah. (alalam/raialyoum)
Serang Gedung Sekolah, Israel Bunuh 22 Orang Palestina, Al-Qassam Lancarkan Serangan Telak
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada hari Minggu (13/10), mengumumkan pihaknya telah menyerang kendaraan dan tentara Israel di Jalur Gaza utara hingga menewaskan dan melukai sejumlah tentara Zionis.
Al-Qassam di platform Telegram menyatakan bahwa serangan itu dilakukan sehubungan dengan berlanjutnya serangan darat Israel pada hari kesembilan di Kegubernuran Gaza Utara, yang diblokade secara ketat oleh pasukan Zionis.
Al-Qassam melaporkan bahwa para pejuangnya menargetkan dua tank Merkava Israel, dengan dua senjata anti-lapis baja dan sebuah peluru Tandem di dekat Aisyah di kamp Jabalia di Jalur Gaza utara.
“Kami dapat menargetkan salah satu rumah di mana puluhan tentara pendudukan dikurung dengan peluru TBG, menyebabkan mereka tewas dan terluka di sebelah timur kamp Jabalia,” ungkap Al-Qassam.
“Kami menggempur pengangkut pasukan Zionis dengan bom Tandom di utara kota Beit Lahia,” sambungnya.
Al-Qassam juga menyebutkan bahwa para pejuangnya mampu “meledakkan terowongan yang dibuka oleh pasukan Zionis, hingga menyebabkan mereka tewas dan terluka di utara kota Beit Lahia, di utara Jalur Gaza.”
Militer Israel belum memberikan komentar atas apa yang tertuang dalam pernyataan Brigade Al-Qassam.
Pada hari Minggu, 22 warga Palestina, termasuk anak-anak dan wanita, gugur dalam pemboman Israel terhadap Sekolah Al-Mufti, yang menampung pengungsi di kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Awda menyebutkan bahwa 22 orang gugur, dan sejumlah korban luka, termasuk anak-anak dan wanita, dilarikan ke di rumah sakit.
Dengan dukungan AS, genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza selama setahun telah menjatuhkan korban tewas dan luka warga Palestina sebanyak lebih dari 140.000 orang, dan lebih dari 10.000 orang hilang, di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang telah menewaskan puluhan anak-anak dan lansia.
Tel Aviv terus melanjutkan pembantaiannya, mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk segera mengakhiri pembantaian tersebut, dan tak menggubris perintah Mahkamah Internasional untuk mengambil tindakan guna mencegah tindakan genosida dan mengurangi situasi bencana kemanusiaan di Gaza. (raialyom)
AS Kerahkan Pertahanan Udara THAAD di Israel, Ini Tanggapan Sengit Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan AS agar tidak mengerahkan pasukannya ke Israel untuk mengoperasikan sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dan menekankan bahwa Iran “tidak memiliki garis merah” dalam membela kepentingannya.
Peringatakan itu disampai Araghchi dalam sebuah postingan di plaform X pada hari Ahad (13/10), di tengah beredarnya laporan bahwa AS sedang mempertimbangkan pengiriman sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke Israel yang meniscayakan pengerahan pasukan AS untuk mengoperasikannya.
Araghchi mengatakan bahwa Washington telah mengirimkan sejumlah besar senjata ke Israel selama perang di Jalur Gaza, dan bahwa kini Washington “membahayakan nyawa pasukannya” dengan mengerahkan mereka ke Israel untuk mengoperasikan sistem rudal AS.
“Meskipun kami telah melakukan upaya luar biasa dalam beberapa hari terakhir untuk mencegah perang besar di wilayah kami, saya tegaskan bahwa kami tidak memiliki batasan dalam membela rakyat dan kepentingan kami,” tegasnya.
Sementara itu, dalam konferensi pers bersama sejawatnya dari Irak Fuad Hussein di Bagdad pada hari yang sama, Araghchi memastikan Iran tidak takut perang, dan siap dengan segala pilihan, namun juga menekankan keharusan mencapai perdamaian yang adil di Gaza dan Lebanon, penghentian agresi Zionis terhadap keduanya, dan penerapan gencatan senjata.
Sembari menyebutkan kemungkinan konflik menjurus pada perang total, dia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah Irak yang tidak memperkenankan wilayahnya digunakan oleh serangan terhadap Iran. (presstv/alalam)







