Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 13 Mei 2019

kapal induk ASJakarta, ICMES: Seorang petinggi parlemen Iran, Majelis Syura Islam, menilai Amerika Serikat (AS) tidak berniat menyulut konfrontasi militer dengan Iran, dan apa yang dilakukan AS sekarang hanyalah “perang psikologis” terhadap Iran.

Jurnalis senior Arab Abdel Bari Atwan menilai ajakan dialog Presiden AS Donald Trump kepada pemerintah Iran untuk dialog disampaikan setelah Trump menyadari bahwa Iran tak mempan digertak dengan kekuatan militer.

Pasukan Arab Suriah melancarkan serangan masif dan menghancurkan sarang-sarang kelompok teroris Jabhat al-Nusra di provinsi Idlib.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengangkat kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Berita selengkapnya:

Petinggi Parlemen Iran Nyatakan AS Tak Berniat Berkonfrontasi Dengan  Iran

Seorang petinggi parlemen Iran, Majelis Syura Islam, menilai Amerika Serikat (AS) tidak berniat menyulut konfrontasi militer dengan Iran, dan apa yang dilakukan AS sekarang hanyalah “perang psikologis” terhadap Iran.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam, Heshmatollah Falahatpisheh,  menyatakan demikian usai pertemuan tertutup para anggota parlemen dengan komandan baru pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Hossein Salami, Ahad (12/5/2019).

“Analisis perilaku orang Amerika menunjukkan bahwa mereka tidak mencari konfrontasi militer dengan Iran dan hanya mengobarkan perang psikologis terhadap Republik Islam,” ungkap Falahatpisheh.

Dia menambahkan bahwa pemerintah AS berusaha menggabungkan perang psikologisnya terhadap Iran dengan sanksi dan berbagai bentuk tekanan ekonomi.

Mengenai peningkatan kehadiran pasukan AS di Timur Tengah, khususnya di Teluk Persia, Falahatpisheh mencatat bahwa Iran mampu menggempur targetnya dari jarak 2.000 kilometer sesuai dengan kebijakan pertahanannya, sementara kapal perang AS berada pada jarak maksimal 500 kilometer dari Iran.

Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi dan ancaman militer terhadap Iran, tapi belakangan ini Presiden AS juga mendesak para petinggi Teheran agar bersedia menghubunginya guna mengadakan negosiasi baru antara Iran dan AS, namun Iran tidak menanggapi desakan ini. (presstv)

Atwan: Trump Ajak Iran Berdialog Setelah Gertakan Militernya Tak Mempan

Dalam waktu kurang dari dua hari untuk kedua kalinya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajak para pejabat Iran untuk duduk  bersama di meja dialog.  CNN melaporkan bahwa Gedung Putih memberikan nomor telefonnya kepada Swiss selaku pemangku kepentingan Iran di AS agar diberikan kepada Iran dengan harapan para petinggi Iran dapat menghubungi Trump. Namun, otoritas Swiss tidak memberikan nomor itu karena Iran tidak memintanya.

Dalam sebuah konferensi pers pada Kamis lalu Trump menyilakan Iran datang meja dialog untuk mencapai perjanjian nuklir baru. Dia bersumbar bahwa perjanjian yang akan dijalin nanti akan adil, dan karena itu dia mengatakan bahwa apa yang harus dilakukan Iran sekarang adalah menghubunginya.

Mengomentari hal tersebut, Pemimpin Redaksi media online berbahasa Arab Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan, menilai Iran tidaklah menghendaki nomor telefon khusus Trump. Sebab, kalau Iran memang berminat untuk bernegosiasi lagi dengan AS, cukuplah Menlu Iran Mohammad Javad Zarif membuat pernyataan itu melalui konferensi pers.

Sejauh ini Iran belum dan bisa jadi tidak akan pernah menunjukkan minat itu. Menurut Atwan, ketidak sediaan Iran itu tak lain karena Iran bersiteguh pada pernyarataannya yang tersimpul pada dua poin; pertama, pencabutan embargo AS terhadap Iran; kedua, kembalinya AS kepada perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia yang diteken pada tahun 2015.

Lantas mengapa Trump sedemikian percaya diri mengajak Iran berdialog? Atwan dalam artikel Tajuk Rencana Ray al-Youm, Sabtu (11/5/2019),  berpendapat bahwa Trump berbuat demikian setelah merasa yakin sepenuhnya bahwa Iran tak mempan ditakut-takuti dengan pengiriman kapal induk dan pesawat pembom B-52 ke kawasan Teluk Persia. Trump menurunkan volume tekanannya dari level intimidasi ke level persuasi.

Di bagian akhir artikelnya Atwan menuliskan, “Kami tidak yakin bahwa Iran akan menyerah pada ancaman pemerasan ini, dan akan tetap konsekuen pada semua persyaratannya untuk kepada segala bentuk dialog. Pernyaratan itu ialah pencabutan sanksi sepenuhnya, pembatalan keluarnya AS dari perjanjian nuklir. Jika tidak maka Iran akan kembali memperkaya uranium pada level tertinggi, dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan segala bentuk agresi, termasuk dengan menggempur pangkalan serta kapal induk dan kapal-kapal perang AS lain, memblokir Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb, serta membuka pintu arsenal rudalnya yang memang dipersiapkan untuk menghadapi agresi militer musuhnya.”

Atwan juga menyebutkan bahwa di Irak ada 6000 tentara AS yang berada dalam pantauan pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi yang merupakan sekutu kuat Iran, dan di Suriah juga ada 2000 tentara AS yang akan mendapat serangan dari sekutu Iran. Sedangkan untuk Israel ada rudal-rudal Hizbullah dan faksi Jihad Islam yang siap menggulung negara Zionis itu dengan lautan api. (raialyoum)

Tentara Suriah Hancurkan Sarang-Sarang Teroris al-Nusra Di Provinsi Idlib

Pasukan Arab Suriah (SAA) melancarkan serangan masif dan menghancurkan sarang-sarang kelompok teroris Jabhat al-Nusra di desa Badama di bagian barat daya provinsi Idlib, Suriah utara, Ahad (12/5/2019).

Sehari sebelumnya, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Suriah, SANA, SAA memfokuskan serangannya pada markas –markas Jabhat al-Nusra yang menghimpun ratusan teroris asing distrik Has di pinggiran selatan provinsi Idlib hingga menewaskan sejumlah teroris dan melukai beberapa lainnya serta menghancurkan beberapa markas teroris yang semula digunakan untuk melancarkan serangan ke kawasan-kawasan yang sudah aman.

Di wilayah perbatasan antara provinsi Hama dan provinsi Idlib, SAA juga melancarkan operasi militer besar-besaran ke beberapa poros pergerakan kawanan teroris di kawasan antara desa Hish dan Kfar Sajneh hingga melukai beberapa teroris serta menghancurkan beberapa peralatan tempur teroris.

Dilaporkan pula bahwa SAA juga berhasil menimpakan kerugian besar pada kawanan teroris di daerah Kfar Nabal dan Maar Tamsrin di provinsi Idlib serta beberapa daerah lain di provinsi Hama.

PBB menyatakan bahwa beberapa organisasi penyalur bantuan, termasuk Program Pangan Dunia PBB (WFP), menangguhkan aktivitas mereka akibat eskalasi pertempuran di provinsi Idlib.

Disebutkan bahwa bagian selatan provinsi Idlib serta beberapa daerah-daerah di provinsi-provinsi lain yang berbatasan dengannya telah diwarnai serangan berat sejak akhir April lalu oleh tentara Suriah dan Rusia, meskipun kawasan itu tercakup dalam perjanjian de-eskalasi Rusia-Turki yang dicapai tahun lalu.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyatakan, “Beberapa organisasi telah menangguhkan aktivitas mereka setelah markas mereka hancur, rusak atau dianggap tidak aman.” Ada pula organisasi-organisasi yang menghentikan kegiatannya demi menjaga keselamatan pekerja mereka atau bahkan sebagai akibat dari pengungsian semua penduduk di daerah-daerah tertentu. (mm/alalam/raialyoum)

Erdogan Angkat Lagi Kasus Pembunuhan Khashoggi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengangkat kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Erdogan dalam pidatonya pada sebuah acara sambutan bulan suci Ramadhan di Istanbul, Sabtu malam (11/5/2019), mengangkat kasus itu setelah menyoal kepada Saudi, “Mana keadilan kalian?”  Dia juga menyebutkan, “Saudi pernah mengatakan, ‘ kami akan melakukan apa yang diperlukan, Anda jangan khawatir’.”

Presiden Turki melanjutkan, “Belum ada suara atau sikap (dari Riyadh) terhadap para staf yang dikirim oleh Arab Saudi (ke Istanbul) terkait dengan kejahatan pembunuhan Khashoggi.”

Erdogan menjelaskan, “Arab Saudi melakukan pembantaian dengan mengirim 11 pejabat ke Turki dan kemudian ternyata jumlahnya 25. Sejauh ini Barat juga belum mengambil  sikap apa pun mengenai pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi dan kami diberitahu berulang kali bahwa tidak perlu khawatir. Barat gagal dalam ujian kejujurannya pada kasus pembantaian Khashoggi.”

Erdogan kemudian mengecam serangan Israel terhadap gedung kantor berita Turki, Anadolu, di Gaza dalam peristiwa perang Gaza-Israel pada 4-5 Mei lalu.

Dia menyebut negara Zionis ini memanfaatkan kebungkaman khalayak internasional hingga tak segan-segan “mengebom media dan lembaga bantuan serta kantor berita Anadolu, karena Israel tak ingin ada yang memberi tahu dunia tentang realitas tindakannya.” (alalam)