Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 13 Januari 2020

hossein salami irgcJakarta, ICMES. Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hosein Salami dalam sidang tertutup parlemen Iran menyebut bangsa Iran baru saja keluar sebagai pemenang dalam sebuah konfrontasi.

Sekjen Hizbullah Libanon Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa para pejuang muqawamah (resistensi anti AS dan Israel) di Libanon menjadi ancaman besar bagi Israel adalah berkat jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani.

Tentara Suriah dilaporkan telah menyelesaikan persiapannya untuk memulai sebuah operasi militer di provinsi Aleppo dan sekitarnya.

Berita selengkapnya:

Komandan IRGC: Ngeri Bagi Iran Seandainya Rudalnya Saat itu Tertembak dan Tidak Berpresisi

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hosein Salami dalam sidang tertutup parlemen Iran, Ahad (12/1/2020), menyebut bangsa Iran baru saja keluar sebagai pemenang dalam sebuah konfrontasi.

“Saya ingin mengatakan apa yang ada dalam hati saya. Saya keluar dari sebuah gelanggang kemenangan yang menakjubkan dan tiada taranya, yang telah diraih oleh bangsa Iran dalam sejarahnya, dari tempat di mana AS kali ini secara langsung dan terbuka dikalahkan oleh Iran, meskipun debu-debu tragedi menyedihkan insiden jatuhnya pesawat (Ukraina) masih belum memberi kesempatan bagi pengenalan berbagai dimensi kemenangan yang memukau dan menakjubkan ini,” ujarnya.

Dia juga mengatakan “Mengalahkan AS secara teknologi sangatlah penting, karena perang kita adalah perang teknologi, perang strategi, perang taknik… AS jangan sampai dapat menghancurkan rudal-rudal kita, dan seandainya rudal-rudal kita tertembak, tidak berpresisi, dan tidak dapat menghancurkan maka Anda tahu sendiri apa yang akan terjadi. Karena itu, kita harus mendapatkan banyak informasi mengenai titik target kita, dan meningkatkannya, bukan informasi mengenai luas target.”

Salami mengapresiasi para komandan dan prajurit IRGC yang telah berperan dalam perencanaan serangan itu.

“Saya bersumpah, para komandan dan rekan-rekan tercinta yang berperan dalam perencanaan masalah ini mungkin siang malam selama beberapa hari bahkan tak sempat tidur barang beberapa jam, dan kalaupun tertidur mereka tidur dalam keadaan yang sangat gelisah,” tuturnya.

Komandan IRGC menyatakan bahwa Iran bukan bermaksud mengobarkan perang besar dengan AS.

“Kita ingin merealisasikan satu perang yang kiranya dapat mencegah perang besar. Karena itu kita harus mengejutkan mereka (AS), mengecoh musuh, dan siap mendapat reaksi balik. Dan karena itu pula kita harus menuntaskan masalah ini,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, “Kita harus mempelajari mekanisme pengendalian musuh, itupun dalam sebuah perang yang tak diketahui, sebab kita harus pertama kali berkonfrontasi dengan AS secara langsung, meskipun logika kita bukan pembalasan semata…. Tindakan kita merupakan keputusan Iran paling berani, bijaksana, dan suci, yang dilandasi manejemen, tawakkal, dan kemampuan.”

Seperti diketahui, Pentagon pada Jumat (3/1/2020) mengumumkan bahwa serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabu, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Sebagai balasan atas serangan ini, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Rabu lalu (8/1/2020) menggempur pangkalan-pangkalan udara yang ditempati oleh pasukan AS di Irak. (fars)

Nasrallah: Pejuang Libanon Jadi Ancaman bagi Israel Berkat Jenderal Soleimani

Sekjen Hizbullah Libanon Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa para pejuang muqawamah (resistensi anti AS dan Israel) di Libanon dapat melindungi Libanon dan menjadi ancaman besar bagi rezim Zionis Israel adalah berkat dukungan Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pemimpin besar Iran, dan jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani yang gugur diserang AS.

Dalam pidatonya pada acara mengenang tujuh hari gugurnya jenderal mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tersebut, Ahad (12/1/2020), Sayid Nasrallah menepis keras tuding AS bahwa Soleimani berencana meledakkan Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Dia juga menjelaskan bahwa proses pembalasan atas darah Soleimani akan berlangsung lama, dan tidak akan berhenti pada gempuran rudal Iran yang telah menerjang markas militer AS di Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad, Irak.

“Balasan atas pembunuhan Soleimani bukanlah berupa operasi tunggal, melainkan merupakan proses yang harus berujung pada keluarnya AS dari kawasan, dan apa yang terjadi Ain Assad merupakan satu tamparan dalam peroses panjang ini… Sasaran utama memang Ain Assad, rudal-rudal telah menjangkau jantung pangkalan ini dan menimpa target-targetnya… Ketika mulai diumumkan pernyataan (Presiden AS Donald Trump) bahwa di sana tidak ada korban tewas dan luka dan diapun meremehkan serangan ini maka kita mengetahui bahwa Trump tidak ingin berperang… Keputusan membalas AS menunjukkan suatu keberanian yang langka,” terangnya.

Dia juga menilai gempuran rudal itu sekaligus pesan bagi Israel agar “serius memandang ancaman Iran”.

“Gempuran rudal Iran mendarat di Ain Assad, Irak, tapi yang meratapinya adalah Rezim Zionis,” ujarnya.

Sayid Nasrallah juga menyebut pemborbardiran oleh Iran telah meruntuhkan wibawa AS, sementara reaksi Trump yang hanya berupa peningkatan sanksi adalah karena ketangguhan Iran.

Dia menambahkan bahwa Poros Resistensi sudah mulai bekerja untuk mengusir pasukan AS dari kawasan.

“Seperti pernah saya katakan, pasukan AS datang dengan kondisi tegak, tapi mereka harus tahu bahwa mereka akan pergi dalam keadaan berbaring,” ancamnya.

Mengenai Jenderal Soleimani dia mengaku menjalin hubungan yang erat dengannya.

“Dia memberikan bantuan pikiran dan materi…  Syahid Qassem Soleimani adalah mitra utama dalam pembebasan Libanon (dari pendudukan Israel) pada tahun 2000, dan sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk mengatakan hal ini setelah kesyahidannya…. Keberadaan Qassem Soleimani di tengah kami merupakan salah satu penyebab kemenangan kami atas Israel pada tahun 2000. Dia adalah mitra kami dalam kemenangan. Setelah tahun 2000 kami memasuki fase baru hubungan kami dengan Soleimani dan pengembangan kekuatan rudal kami,” kenangnya.

Sekjen Hizbullah memastikan bahwa prosesi penghormatan dan pemakaman jenazah Soleimani telah “menakutkan Trump dan pemerintahannya serta membuat mereka benar-benar frustasi”. Dia juga menegaskan bahwa AS merupakan “ancaman pertama, sedangkan Israel hanyalah alat dan barak militer AS yang dipasang di kawasan kita”. (alalalam)

Tentara Suriah Persiapkan Serangan Lebih masif di Aleppo

Tentara Suriah dilaporkan telah menyelesaikan persiapannya untuk memulai sebuah operasi militer di provinsi Aleppo dan sekitarnya.

Surat kabar Suriah Al-Watan, Ahad (12/1/2020), menyatakan bahwa operasi ini akan dapat mengaktifkan lagi jalur internasional yang menghubungkan Aleppo dengan Hama sesuai Perjanjian Sochi 2018 dan mengamankan front-front di barat kota Hama dari terorisme.

Sebuah sumber lapangan mengungkapkan bahwa tentara Suriah telah menggerakkan konvoi militer baru, termasuk yang membawa rudal-rudal baru yang belum pernah digunakan di Aleppo, ke garis kontak front-front barat dari kota dan ke daerah pedesaan di bagian selatan provinsi Aleppo, untuk ditambahkan ke bala bantuan yang telah dikirim sebelumnya, sehingga menandai kemungkinan dimulainya operasi militer sewaktu-waktu.

Sumber itu menambahkan bahwa tentara Suriah sehari sebelumnya telah melancarkan serangan roket dan artileri yang menarget markas dan pergerakan kawanan bersenjata di daerah pedesaan barat dan selatan Aleppo. (raialyoum)