Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 12 Oktober 2020

hizbullah irakJakarta, ICMES. Kelompok pejuang Kataeb Hizbullah di Irak menyatakan pihaknya menyetujui gencatan senjata bersyarat dengan pasukan Amerika Serikar (AS).

Wakil panglima pasukan elit Iran, Korps GardaRevolusi Islam (IRGC) untuk koordinasi, Brigjen Mohammad Reza Naqdi, menyatakan bahwa banyak kelompok kerakyatan di dunia  bersekutu dengan Iran dan siap beraksi jika terjadi perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Armenia memublikasi video yang disebutnya sebagai hasil rekaman pasukan bayaran asal Suriah yang bertempur di barisan militer Azerbaijan di daerah konflik Nagorno-Karabakh.

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir warga Zionis Israel menggelar unjuk rasa besar-besaran mendesak Benjamin Netanyahu mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri atas dugaan korupsi dan ketidak becusan dalam pengendalian pandemi Covid-19.

Berita selengkapnya:

Para Pejuang Irak Setujui Penangguhan Serangan terhadap Pasukan AS

Kelompok pejuang Kataeb Hizbullah di Irak menyatakan pihaknya menyetujui gencatan senjata bersyarat dengan pasukan Amerika Serikar (AS), tetapi tetap akan menggunakan semua senjata yang tersedia bagi mereka jika pasukan itu tetap bercokol di Negeri 1001 Malam tersebut.

Mohammed Mohi, juru bicara kelompok yang didukung Iran tersebut dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Ahad (11/10/2020), mengatakan bahwa faksi Irak akan menangguhkan serangan roket terhadap target AS demi memberi waktu kepada pemerintah Irak untuk mengajukan jadwal penarikan pasukan AS.

“Ancaman Amerika untuk menutup kedutaan membuat masalah menjadi sangat rumit di Irak, dan menyerukan untuk meredakan ketegangan,” katanya.

Meski demikian, dia mengancam bahwa Kataeb Hizbullah  “akan  menggunakan semua senjata yang tersedia bagi mereka jika pasukan AS masih bercokol hinggawaktu yang tidak ditentukan”.

Badan Koordinasi Mujahidin Irak mengatakan, “Di Irak ada orang yang tidak akan setuju dengan kehadiran pasukan asing yang menodai tanah airnya.”

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh saluran TV Al-Mayadeen, otoritas Irak itu menyatakan akan “memberikan kesempatan bersyarat kepada pasukan asing untuk menetapkan jadwal terbatas dan spesifik untuk keluar” dari Irak, dan memperingatkan pemerintah AS agar tidak mengelak dan mengulur waktu dalam memenuhi permintaan utama rakyat Irak.

Badan koordinator itu menegaskan, “Penundaan akan memaksa kami untuk maju ke tahap pertempuran lanjutan, dan kami akan membayar dua kali lipat harga”.

Dia juga menekankan bahwa peluang bersyarat itu tersedia karena ada iktikad baik dan upaya beberapa tokoh dan politisi nasional. (amn/aljazeera)

IRGC: Sekutu Iran di Dunia Siap Beraksi Jika Terjadi Perang

Wakil panglima pasukan elit Iran, Korps GardaRevolusi Islam (IRGC) untuk koordinasi, Brigjen Mohammad Reza Naqdi, menyatakan bahwa banyak kelompok kerakyatan di dunia  bersekutu dengan Iran dan siap beraksi jika terjadi perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

“Jika perang pecah maka tak sedikit sekutu militer kita. Pasukan yang telah dibentuk dan orang-orang yang sama yang ada di pelbagai penjuru dunia merupakan sebagai sekutu militer kami, ”katanya dalam wawancara dengan TV pemerintah.

Dia menjelaskan bahwa sekutu militer Iran itu lebih berbahaya bagi musuh daripada tentara resmi karena mereka tak dikenal, tak teridentifikasi, dan siap membantu Iran jika terjadi perang.

“Karena itu, jika musuh bertindak keliru maka akan mendapat serangan dari semua sisi tanpa mengetahui siapa yang telah memberikan pukulan itu dan akan menerima laporan dari berbagai belahan dunia setiap saat,” ujar Naqdi.

Pada bulan lalu Naqdi mengatakan bahwa serangan rudal IRGC terhadap pangkalan AS di Irak hanyalah puncak gunung es serangan balasan Iran atas pembunuhan mantan komandan Pasukan Quds IRGC Qassem Soleimani.

“Balasannya adalah bahwa AS harus meninggalkan kawasan, dan ini akan terjadi. Serangan terhadap Ein Al-Assad hanyalah deklarasi tekad Republik Islam untuk membalas,”sumbarnya.

Dia juga mengatakan, “Pukulan yang ditimbulkan terhadap (pangkalan) Ain Al-Assad penting, dan semua kekuatan dunia mengirim pesan kepada Iran bahwa mereka tidak berani menyerang AS. Dunia memahami betapa Republik Islam itu perkasa dan betapa AS telah semakin lemah. ”

Dia menambahkan, “Serangan itu memiliki konsekuensi yang sangat besar tapi itu bukan balasan telak (yang sudah menjadi sumpah Iran).” (fna)

Militan Suriah Bertempur dan Pamerkan Korban Tewas Pasukan Armenia

Pemerintah Armenia, Ahad (11/10/2020), memublikasi video yang disebutnya sebagai hasil rekaman pasukan bayaran asal Suriah yang bertempur di barisan militer Azerbaijan di daerah konflik Nagorno-Karabakh.

Disebutkan bahwa militan yang dikerahkan oleh Turki terlihat sedang meninjau keadaan medan perang setelah bertempur dengan pasukan Armenia di Karabakh.

Militan Suriah merekam sembari menghina mayat-mayat pasukan Armenia yang bergelimpangan di sepanjang kubu pertahanan.

Sementara itu, kantor berita Anna yang berbasis di Moskow, Rusia, merilis rekaman video dari ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, yang menunjukkan kota itu mendapat serangan sengit dari pasukan Azerbaijan.

“Gencatan senjata tidak berhasil! Seorang pria tua di Stepanakert berbicara tentang penembakan baru! Kru film kami, bersama dengan tim penyelamat, berada di lokasi penembakan. Kurang dari 12 jam setelah gencatan senjata diumumkan, kota itu kembali diserang. Sebuah bangunan luar dibakar dari ledakan sebuah peluru, ”lapor reporter Anna. (amn)

Puluhan Ribu Orang Israel Berunjuk Rasa Tuntut Pengunduran Netatanyahu

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir warga Zionis Israel menggelar unjuk rasa besar-besaran mendesak Benjamin Netanyahu mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri atas dugaan korupsi dan ketidak becusan dalam pengendalian pandemi Covid-19.

Massa menegaskan Netanyahu tak layak lagi memerintah karena sedang menjalani proses pengadilan atas tuduhan korupsi dan salah manejemen pengendalian pandemi.

Para pengunjuk rasa Sabtu lalu (10/10/2020) menggelar aksi di ratusan lokasi di seluruh Israel. Massa tersebar sekian banyak karena pemberlakuan lockdown yang melarang mereka menggelar unjuk rasa di tempat biasanya, yaitu sekitar kediaman resmi Netanyahu di Quds (Yerussalem).

Lockdown membuat warga Israel hanya dapat berkonsentrasi dalam radius satu kilometer dari rumah mereka.

Konsentrasi massa terbesar terjadi di Habima Square di pusat kota Tel Aviv di mana ribuan pengunjuk rasa membunyikan terompet dan klakson serta menabuh drum dan rebana. Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera merah muda dan hitam yang melambangkan gerakan protes akar rumput.

Tulisan di beberapa spanduk menyebut Netanyahu dengan nama panggilannya; “Bibi, kamu menghancurkan masa depanku.” Ada pula spanduk bertuliskan; “Enyahlah!” dan “Crime Minister”.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa polisi dilaporkan terlibat bentrok dengan pengunjuk rasa di Tel Aviv dan Quds, dan setidaknya empat orang ditangkap karena melanggar penghalang polisi.

“Pengganggu perdamaian bentrok dengan petugas yang berdiri di penghalang dan menyerang mereka sambil melemparkan benda ke arah mereka. Sejumlah petugas terluka dan dirawat di tempat kejadian,” kata polisi, seperti dikutip oleh Haaretz.

Gerakan Bendera Hitam yang menggerakkan aksi protes itu menyatakan bahwa demonstrasi itu dijadwalkan di 1.200 lokasi di seluruh penjuru Israel.

Salah satu kelompok aksi protes dalam sebuah pernyataan memperingatkan bahwa demonstrasi itu baru sebatas “pemanasan” untuk demonstrasi lain yang direncanakan di luar kediaman Netanyahu pada minggu depan, yaitu setelah pencabutan larangan menggelar protes di luar radius satu kilometer dari rumah. (aljazeera)