Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 11 November 2019

RIYAHD, SAUDI ARABIA - APRIL 20 : Crown Prince of Abu Dhabi and Deputy Supreme Commander of the UAE Armed Forces Mohammed bin Zayed Al Nahyan attends the GCC-Morocco Summit in Riyadh, Saudi Arabia on April 20, 2016. (Photo by Pool / Bandar Algaloud/Anadolu Agency/Getty Images)

Putra Mahkota Abu Dhabi, UEA, Mohamed bin Zayed

Jakarta, ICMES. Sebanyak 87 ulama dari pelbagai penjuru dunia meneken sebuah statemen bersama berisi seruan kepada  masyarakat Arab dan umat Islam secara keseluruhan untuk memboikot Uni Emirat Arab (UEA) atas kejahatan negara ini di pelbagai negara.

Republik Islam Iran menyatakan siap membantu negara-negara Teluk Arab di bidang energi nuklir.

Militer Iran memastikan hubungan negara republik Islam ini “sangat baik” dengan Uni Emirat Arab (UEA), dan menyerukan penarikan armada AS dari kawasan Teluk Persia.

Berita selengkapnya:

87 Ulama Sunni Serukan Pemboikotan Uni Emirat Arab atas Kejahatan di Libya dan Yaman

Sebanyak 87 ulama dari pelbagai penjuru dunia meneken sebuah statemen bersama berisi seruan kepada  masyarakat Arab dan umat Islam secara keseluruhan untuk memboikot Uni Emirat Arab (UEA) secara politik dan ekonomi, dengan latar belakang apa yang mereka sebut “konspirasi dan penyepelean” terharap darah umat Islam di berbagai negara, termasuk Yaman dan Libya.

Mereka mendasari seruan ini dengan dalil sejumlah ayat Alquran dan hadis mengenai “kewajiban melemahkan musuh secara ekonomi demi menghentikan penyebaran kehancuran dan kerusakan di muka bumi.”

Statemen itu menyerukan kepada para pebisnis yang menjadikan UEA sebagai pusat bisnis mereka “untuk berpaling dari UEA, dan memboikot pelabuhannya, yang merupakan salah satu sumber penting pendanaan ekonomi negara ini”.

Mereka menegaskan bahwa dengan dana ini “umat Islam dibunuhi, dan dengannya UEA membeli orang-orang bayaran, mengendalikan kudeta-kudeta atas pemerintahan-pemerintahan yang sah, menghabisi impian bangsa-bangsa Arab untuk bebas dari pemaksaan dan diktatorisme, mengelola intrik-intrik anti resistensi Palestina dan menudingnya sebagai terorisme demi menyokong kaum Zionis, dan dengan demikian ia telah membunuhi Muslimin dengan dana Muslimin.”

Statemen itu juga menjelaskan, “Anda hampir tidak dapat menemukan agresi pengkhianatan terhadap Muslimin – baik di tingkat negara mereka, seperti dalam kasus Mesir dan kudeta terhadap almarhum Presiden terpilih Mohamed Morsi, demikian pula di Libya dan Yaman, atau pada tingkat minoritas, seperti dalam kasus Muslim Cina (Uyghur), atau wilayah Kashmir – kecuali UEA terlibat di dalamnya, dan dananya sangat besar, secara diam-diam dan terbuka.”

Puluhan ulama ini menyebut UEA telah membeli “dengan uangnya senjata, peralatan, pesawat terbang, dan tentara bayaran, serta mengirim mereka kepada kematian merah untuk membunuh Muslimin dan menghancurkan kota-kota mereka.”

Para ulama ini berasal dari Mauritania, Sudan,  Tunisia, Mesir, Maroko, dan Palestina, Libanon, Yaman, dan sebagian besar dari Libya.

Alim ulama Arab ini menyerukan kepada pemerintah dan rakyat di semua negara Islam agar “memboikot UEA, memboikot barang-barangnya, dan menahan diri dari membelinya.”

UEA dituduh berada di belakang berbagai aksi konspirasi dan intervensi di beberapa negara Arab dan Islam dengan tujuan menghancurkan pemerintah yang ada, atau mendukung satu pihak dengan mengorbankan pihak lain, seperti di Libya dan Yaman. (mm/alkhaleejonline/aljazeera)

Iran Siap Bantu Negara-Negara Arab Teluk Persia di Bidang Energi Nuklir

Republik Islam Iran siap membantu negara-negara Teluk Arab di bidang energi nuklir.

Hal ini dinyatakan oleh Kepala Badan Tenaga Atom Iran, Ali Akbar Salehi, sebagaimana dilaporkan Rai Al-Youm yang mengutip laporannya dari PressTV, Ahad (10/11/2019).

Tanpa menyebutkan ihwal pernyataan itu lebih lanjut, Rai Al-Youm juga mengutip pernyataan Salehi: “Pemimpin Revolusi Islam  (Ayatullah Sayid Ali Khamenei) telah menetapkan dua fitur utama yang menjamin energi nuklir untuk generasi mendatang, selain telah memastikan bahwa industri nuklir adalah industri yang akan mencetak keberdayaan bagi negara.”

Dia menjelaskan, “Negara-negara yang bergabung dengan Perjanjian Paris bertekad untuk mencegah emisi gas polutan dalam  beberapa tahun ke depan, sementara pembangkit nuklir adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah ini.”

Salehi juga mengatakan, “Di pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, dan setelah berjalan enam tahun, lebih dari 90 persen kontraktor bekerja dengan sekitar 2000 ahli, sementara sebagian besar pekerja adalah warga Iran.”

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengatakan bahwa negaranya belum membuat keputusan akhir untuk menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Dia menyebutkan bahwa “Republik Islam Iran belum memutuskan untuk mundur dari NPT”, “telah menetapkan berbagai skenario”, dan dalam rangka ini “akan bertindak berdasarkan persyaratan sementara dan langkah-langkah yang diambil dari sisi lain”.

Duta Besar Iran untuk Inggris, Hamid Baidi-Nejad, sehari sebelumnya mengatakan bahwa setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian multinasional mengenai nuklir Iran, Teheran akan mengurangi komitmennya kepada perjanjian ini dan “mungkin menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir”. (raialyoum)

Militer Iran Tegaskan Keharusan Armada AS Enyah dari Teluk Persia

Militer Iran memastikan hubungan negara republik Islam ini “sangat baik” dengan Uni Emirat Arab (UEA), dan menyerukan penarikan armada AS dari kawasan Teluk Persia, bersamaan dengan seruan UEA untuk solusi diplomatik dan de-eskalasi di kawasan ini.

“Sekarang ada hubungan yang sangat baik antara Iran dan negara-negara tetangga di kawasan Teluk, terutama UEA, Qatar, dan Kuwait,” kata komandan pasukan penjaga perbatasan Iran Brigjen Qasim Rezaei pada konferensi pers, Minggu (10/11/2019).

Dia menyebutkan bahwa otoritas penjaga perbatasan Iran telah mengadakan banyak pertemuan dengan mitranya dari UEA, dan telah mencapai kesepakatan yang sangat baik di tingkat nasional dan regional. Dia juga menyebutkan terjalinnya hubungan baik Iran dengan Turki.

Belum ada komentar dari pihak UEA mengenai pernyataan tersebut, namun di tengah ramainya pembicaraan mengenai pemulihan hubungan Iran-UEA Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash sebelumnya di hari yang sama menyerukan “kebutuhan kepada penggunaan solusi diplomatik dan de-eskalasi terkait dengan Iran”.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi UEA, WAM, Gargash di Forum Strategis Abu Dhabi bahkan menyebut gerakan Ansarullah (Houthi) yang didukung Iran “bagian dari masyarakat Yaman dan akan memiliki peran dalam masa depan negara ini”.

Lebih jauh, Qasim Rezaei menekankan bahwa “kehadiran kapal perang AS di Teluk Persia telah meminimkan aktivitas perdagangan dan perikanan untuk negara-negara di kawasan ini, dan semua orang menyerukan penarikan armada ini.”

Di pihak lain, Armada Kelima AS Kamis lalu justru mengumumkan pembukaan pusat komando di Bahrain untuk aliansi angkatan laut pimpinan AS untuk melindungi pelayaran di kawasan ini.

Aliansi ini mencakup AS, Arab Saudi, UEA, Bahrain, Inggris, Australia dan Albania, menurut pernyataan yang dirilis Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain melalui situs webnya.

Kawasan Teluk Persia mengalami eskalasi ketegangan setelah AS dan negara-negara Arab Teluk Persia sekutunya, terutama Saudi, menuduh Iran menyerang kapal-kapal dan fasilitas-fasilitas minyak di Teluk Persia dan mengancam pelayaran. Iran membantah keras tuduhan ini, dan balik menawarkan penandatanganan perjanjian non-agresi dengan negara-negara Arab Teluk Persia. (raialyoum)