Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 1 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Media Israel mengomentari video ancaman yang dirilis oleh kelompok pejuang Hizbullah Lebanon terhadap Rezim Zionis.

Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini akan menentukan bagaimana mereka akan bertindak terhadap Israel berdasarkan hasil negosiasi perbatasan laut Lebanon-Israel.

Blok Kerangka Koordinasi Irak sempat menyerukan kepada rakyat Irak untuk mengadakan demo tandingan “deemi mempertahankan negara”, tapi kemudian mengumumkan penundaan aksi itu sampai pemberitahuan selanjutnya.

Juru bicara angkatan bersenjata Yaman kubu Sanaa, Brigjen Yahya Saree, menegaskan pasukan Yaman siap bertempur jika Arab Saudi dan sekutunya memutuskan untuk melanjutkan agresi militernya terhadap Yaman.

Berita Selengkapnya:

Hizbullah Rilis Video Ancaman, Ini Komentar Media Israel

Media Israel mengomentari video ancaman yang dirilis oleh kelompok pejuang Hizbullah Lebanon terhadap Rezim Zionis, Ahad (31/7).

Video Hizbullah itu memperlihatkan koordinat anjungan gas Israel di lepas pantai Palestina dan membawa pesan tegas untuk Tel Aviv.

Koresponden Channel 12 Israel urusan Arab Yaron Schneider mengatakan,”Video yang diterbitkan oleh media perang Perlawanan Islam di Lebanon diarahkan pada kami (Israel), dan itu merupakan ancaman terbaru Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah.”

Schneider menambahkan, “Ancaman Sayyid Nasrallah ditujukan terhadap platform gas Karish, dan bahkan juga kapal-kapal di perairan sekitarnya, serta  serangkaian target di laut, terutama di sekitar wilayah yang disengketakan, yang merupakan subjek negosiasi yang saat ini sedang berlangsung antara Israel dan Lebanon.”

Sebelumnya di hari yang sama, Media Perang Resistensi Islam di Lebanon menerbitkan sebuah video yang menampilkan koordinat anjungan gas Rezim Zionis di lepas pantaiPalestina pendudukan 1948. Video ini diberi judul bernada ancaman terhadap Israel: “(Kalian) ada dalam bidikan kami… Percuma Mengulur Waktu”.

Video itu memperlihatkan kapal bor dan unit produksi terapung serta informasi yang berkaitan dengan spesifikasi dan kordinat geolokasinya  serta asal dan rincian kapal di laut berdasarkan bendera yang terpasang. Video itu juga menyebutkan jarak setiap kapal itu dari pantai Lebanon.

Video tersebut dirilis oleh Hizbullah bersamaan dengan kunjungan koordinator AS, Amos Hochstein, ke Lebanon, dan pertemuannya dengan para pejabat Lebanon untuk membahas demarkasi perbatasan Lebano-Israel.

Seorang ahli militer mengatakan bahwa video itu dirilis oleh media militer Resistensi Islam di Lebanon dan direkam dengan menggunakan kamera termal canggih.

“Video ini membuktikan bahwa kubu resistensi (Hizbullah) tidak memerlukan drone untuk mengambil gambar kapal angkatan laut pasukan pendudukan,” ungkap ahli itu.

Dia menambahkan bahwa kapal angkatan laut Israel masih berada di radius bidik Hizbullah dan radarnya.

Beberapa waktu lalu, pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menegaskan, “Ketika segala sesuatunya menemui jalan buntu, kami tidak hanya akan berdiri di hadapan Karish… Tandai kata-kata ini: kami akan mencapai Karish, di luar Karish, dan di luar, di luar Karish.”

Menyusul pernyataan ini, media Israel melaporkan bahwa pasukan Zionis memperkuat pasukannya untuk melindungi platform lapangan Karish.

Mayjen Amos Gilad dari pasukan cadangan Israel mengatakan bahwa ancaman Nasrallah harus ditanggapi dengan “serius dan kesiapan,” dan bahwa “jika Hizbullah menyerang platform Karish atau platform lainnya, ini tentu saja akan mengarah ke konfrontasi yang bisa mencapai dimensi yang sangat luas.”

Pada 2 Juli lalu, Hizbullah meluncurkan tiga drone menuju  Karish dalam misi pengintaian, dan memastikan bahwa drone itu  “telah menyelesaikan misi yang diperlukan dan menyampaikan pesan (kepada Israel).”  (almayadeen/raialyoum)

Soal Karish, Sayid Nasrallah: Kami akan Bertindak Sesuai Hasil Negosiasi Lebanon-Israel

Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah menyatakan bahwa kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini akan menentukan bagaimana mereka akan bertindak terhadap Israel berdasarkan hasil negosiasi perbatasan laut Lebanon-Israel.

Dalam pidato televisi untuk majelis Asyura di pinggiran selatan Beirut, Ahad (31/7), Sayid Nasrallah menegaskan, “Lebanon memiliki peluang bersejarah dalam masalah migas. Kita memiliki harta karun di laut, dan ada kemungkinan bahwa kita akan berperang, selain kemungkinan tidak memilih opsi itu, dan hari ini kita berada dalam situasi yang lebih baik.”

Dia menambahkan, “Bertolak dari hasil negosiasi, kita akan menentukan bagaimana kita akan bertindak dalam waktu dekat ini.”

Sekjen Hizbullah menuturkan, “Ada kesempatan bersejarah dan emas untuk menyelamatkan negara, dan hal ini perlu diambil. Karena itu, mari kita ambil risiko itu, dan kita siap mempersembahkan diri kita dan orang-orang yang kita cintai demi melindungi negara dan orang-orang kita.”

Menyinggung kedatangan kordinator AS ke Lebanon, Sayid Nasrallah mengatakan, “Yang kita inginkan dalam soal migas adalah untuk membantu negara kita, dan memberikan elemen kekuatan negara dalam negosiasi. Besok pagi, mediator AS Amos Hochstein akan mengadakan pertemuan dengan tiga pimpinan (lembaga tinggi negara Lebanon).”

Dia juga mengatakan, “Kami bukan pihak dalam negosiasi mengenai demarkasi perbatasan, kami tidak menugaskan siapa pun untuk melakukannya, dan bukan tanggung jawab kami untuk melakukan ini.” (raialyoum)

Kubu Kerangka Koordinasi Irak Tunda Demo Tandingan

Blok Kerangka Koordinasi Irak sempat menyerukan kepada rakyat Irak untuk mengadakan demo tandingan “deemi mempertahankan negara”, tapi kemudian mengumumkan penundaan aksi itu sampai pemberitahuan selanjutnya.

Kerangka Koordinasi, yang merupakan blok terbesar di parlemen Irak setelah wakil Blok Sadr mengundurkan diri, menyatakan bahwa seruan untuk demonstrasi itu “datang menyusul perkembangan terakhir yang mengancam untuk merencanakan kudeta yang mencurigakan dan membajak negara.”

Blok Sadr mundur pada 12 Juni lalu dalam sebuah langkah yang dianggap Muqtada Al-Sadr sebagai “pengorbanan demi negara dan rakyat untuk menjauhkan mereka dari nasib yang tak jelas.”

Kerangka Koordinasi Irak, Ahad (31/7), mengumumkan bahwa demonstrasi tandingan ditunda “sampai pemberitahuan lebih lanjut” untuk memberi jalan bagi dialog dan solusi politik “guna memastikan persatuan.”

Panitia demonstasi “Membela Legitimasi Konstitusional”  mengkonfirmasi penundaan demonstrasi. Mereka mengatakan, “Penundaan dilakukan berdasarkan pernyataan para pemimpin Kerangka Koordinasi serta intervensi para sesepuh dan ulama, demi memberi waktu untuk dialog dan solusi politik yang positif untuk memastikan persatuan dan menghindari hasutan.”

Di pihak lain, pemimpin Blok Sadr, Sayid Muqtada Al-Sadr, di hari yang sama menyerukan kepada rakyat Irak untuk mendukung para demonstran yang saat ini memasang tenda-tenda di Zona Hijau Baghdad.

Sehari sebelumnya, para simpatisan Blok Sadr kembali menyerbu parlemen Irak di Zona Hijau. Mereka masuk dengan diatur langsung oleh Blok Sadr.

Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi mengimbau para pengunjuk rasa segera mundur dari Zona Hijau, mematuhi perdamaian, dan menjaga properti publik dan pribadi. (almayadeen)

Yaman Nyatakan Siap Tempur jika Saudi Ingin Melanjutkan Perang

Juru bicara angkatan bersenjata Yaman kubu Sanaa, Brigjen Yahya Saree, menegaskan pasukan Yaman siap bertempur jika Arab Saudi dan sekutunya memutuskan untuk melanjutkan agresi militernya terhadap Yaman.

Dalam pidato pada seremoni kelulusan angkatan militer di Distrik Militer Pusat, Ahad (31/1), Saree mengatakan; “Jika kubu agresor menginginkan perdamaian, maka delegasi perunding (Yaman) telah menyediakan apa yang cukup dan bahkan lebih lagi, dan jika menginginkan perang maka kami adalah orangnya dan siap untuk itu di semua medan dan front.”

Senada dengan ini, Mohammad Ali al-Houthi, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman menegaskan, “Kami tak dapat menerima kekalahan, kubu agresor hendaklah menghentikan blokade, atau kami siap untuk jihad, kami tidak takut apa pun.”

Al-Houthi menambahkan,  “Para lulusan ini dan puluhan ribu lainnya di gelanggang lain siap untuk konfrontasi atau perkembangan apa pun yang dilakukan oleh Saudi-Emirat-AS.”

Sementara itu, kepala pemerintahan Sanaa, Abdul Aziz Saleh bin Habtour, mengatakan, “Negara-negara agresor tidak mengerti bahasa kedewasaan, jadi mereka meminta dan mengupayakan gencatan senjata.”

Gencatan senjata antara koalisi pimpinan Saudi dan pemerintah Sanaa berlaku sejak 2 April, dan diperpanjang pada 2 Juni untuk dua bulan tambahan. (alalam)