Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 9 Januari 2024

Jakarta, ICMES. Wissam Hassan al-Tawil, seorang komandan senior Hizbullah Lebanon gugur akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan.

Sumber-sumber Israel menyatakan sembilan tentara Israel, termasuk perwira, tewas dalam 24 jam terakhir dalam dua serangan selama pertempuran di Gaza, dan dengan demikian jumlah kematian  tentara Zionis dalam perang di Gaza menurut catatan resmi Israel bertambah menjadi 112 orang.

Operasi Badai Al-Aqsa yang dilakukan oleh para pejuang resistensi Palestina dinilai oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Baqeri sebagai titik balik dalam perjuangan bangsa Palestina melawan rezim pendudukan Zionis Israel.

Berita Selengkapnya:

Komandan Senior Hizbullah Gugur Diserang Israel, Ketegangan Meningkat

Wissam Hassan al-Tawil, seorang komandan senior Hizbullah Lebanon gugur akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan.

Al-Tawil bertugas di pasukan elit Radwan Hizbullah, dan dia gugur ketika Israel menyerang mobil yang membawanya di desa Khirbet Selm pada hari Senin (8/1).

Israel mengalami depresi dalam melancarkan invasi darat ke Jalur Gaza sejak awal Oktober, dan belum mencapai tujuan apa pun di Gaza, selain melakukan genosida yang sejauh ini telah menggugurkan lebih dari 23.000 warga sipil.

Sejak saat itu, Lebanon selatan juga dilanda ketegangan di mana pasukan Hizbullah setiap hari terlibat konfrontasi bersenjata melawan Israel di perbatasan.

Pada hari Senin, satu anggota Hizbullah lainnya juga gugur akibat serangan udara Israel di desa Majdal Selm, dan Hizbullah memperingatkan Israel mengenai konsekuensi eskalasi lebih lanjut di kawasan.

Jumat pekan lalu, Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah mengatakan Israel kewalahan dan merahasiakan “kerugian besar” yang dideritanya dalam pertempuran dengan Hizbullah di Lebanon selatan.

Militer Israel mengakui bahwa pangkalan udara strategisnya di Gunung Meron “rusak parah” akibat serangan rudal Hizbullah.

Serangan itu merupakan reaksi keras Hizbullah terhadap serangan Israel yang menggugurkan wakil pemimpin  Hamas Saleh al-Arouri  di pinggiran selatan Beirut, pada 2 Januari.

Pada hari Senin juga dilaporkan bahwa pertempuran sengit di mana kedua pihak saling membom berlanjut di perbatasan, dan jet tempur Israel terbang sejak pagi hari, termasuk pada ketinggian rendah.

Pemboman baru Israel menyasar kota Kafr Shuba dan perbukitan atas Kafr Shuba, sementara Hizbullah menggempur situs militer Israel di dekat situs radar dekat situs Ruwaisat Al-Alam dan Al-Samaqa dan di puncak bukit di Kafr Shuba dan Shebaa Farms.

Di sisi lain, media Israel menyebutkan bahwa sebuah rudal besar jatuh di daerah Kiryat Shmona tanpa ada sirene, dan Iron Dome pun tidak aktif, sehingga berarti bahwa rudal itu bisa jadi mengecoh radar Israel dan tidak terdeteksi oleh sensor Iron Dome.

Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengancam akan menjadikan Lebanon seperti Gaza yang luluh lantak, di tengah mengingkatnya ketegangan Israel dengan Hizbullah.

“Mereka melihat apa yang terjadi di Gaza, mereka tahu kita bisa menyalin dan menempelkannya ke Beirut,” kata Gallant dalam wawancara dengan Wall Street Journal.

Namun, Gallant tampak mengulangi kekhawatiran Israel terhadap kekuatan Hizbullah, dengan mengatakan bahwa “prioritasnya bukanlah berperang” dengan Hizbullah. (presstv/alalam)

Sembilan Tentara Israel Tewas dalam Dua Serangan di Gaza

Sumber-sumber Israel menyatakan sembilan tentara Israel, termasuk perwira, tewas dalam 24 jam terakhir dalam dua serangan selama pertempuran di Gaza, dan dengan demikian jumlah kematian  tentara Zionis dalam perang di Gaza menurut catatan resmi Israel bertambah menjadi 112 orang.

Sumber-sumber Israel menyatakan bahwa sembilan tentara pendudukan itu tewas dan beberapa lainnya terluka  dalam dua serangan selama pertempuran di Jalur Gaza selama 24 jam terakhir.

Menurut sumber-sumber yang sama, salah satu dari dua serangan tersebut dilakukan dengan meledakkan amunisi di dalam truk Israel, yang mengakibatkan terbunuh dan cederanya sejumlah tentara.

Sebelumnya di hari yang sama, media Israel mengungkapkan bahwa data Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menunjukkan bahwa sebanyak 103 tentara terluka, dua di antara parah, selama pertempuran pada hari Ahad, dan bahwa  sejak pecahnya perang pada 7 Oktober, 222 orang terluka telah dirawat di Rumah Sakit Rambam.  Mereka terluka dalam pertempuran di selatan, Tepi Barat, dan utara.

Dua hari lalu, media Israel melaporkan bahwa Kementerian Keamanan Israel memperkirakan sekitar 12.500 tentara Israel akan cacat permanen akibat perang di Gaza.

Di pihak lain, sayap militer Hamas, Brigade  al-Qassam pada hari Senin menyatakan para pejuangnya menembak dan membunuh seorang tentara Israel dengan senapan Qassam Ghoul , di sebelah timur kamp pengungsi Bureij  ​​di Jalur Gaza tengah.

Brigade Al-Qassam juga mengumumkan bahwa mereka telah menggagalkan upaya Israel untuk membebaskan seorang tahanan pendudukan di kamp Bureij.

“Pasukan khusus Israel menyusup ke tempat di mana pasukan pendudukan percaya bahwa ada tahanan Israel di dalamnya, dan kelompok ini dihadang dan misinya digagalkan, menyebabkan anggotanya tewas dan terluka serta tersitanya beberapa barang milik mereka,” Ungkap Al-Qassam.

 Brigade Al-Qassam juga mengumumkan pihaknya telah membom  Tel Aviv  dengan rentetan roket. (almayadeen)

Jenderal Iran: Badai Al-Aqsa, Titik Balik dalam Perjuangan Palestina Melawan Israel

Operasi Badai Al-Aqsa yang dilakukan oleh para pejuang resistensi Palestina dinilai oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Baqeri sebagai titik balik dalam perjuangan bangsa Palestina melawan rezim pendudukan Zionis Israel.

Baqeri pada hari Senin (8/1), menjelaskan bahwa pejuang Palestina berhasil merancang dan melakukan aksi militer berskala besar meski Gaza diblokade dan tanpa akses ke fasilitas apa pun.

Menurutnya, kubu pejuang Palestina memanfaatkan kapasitas mereka sendiri dalam operasi tersebut dan membuat kubu musuh di tingkat internasional terpukau oleh tingginya kemampuan dan kecerdasan mereka.

“Mereka juga berhasil melemahkan keamanan Israel dan menghancurkan harapan Zionis di masa depan,” ungkap Baqeri.

Jenderal ternama Iran ini menyebutkan bahwa setelah operasi 7 Oktober, para pejuang Palestina memang menyaksikan dahsyatnya kebrutalan Israel terhadap rakyat Palestina, namun mereka terbukti tangguh dan bertahan melawan pasukan Zionis, dan ini praktis menimbulkan tekanan mental pada Zionis.

Baqeri memastikan Rezim Zionis runtuh dan gagal bertahan jika AS berhenti mendukung mereka barang sehari pun.

Menurutnya, AS membekali Israel dengan jet tempur, bom, dan berbagai peralatan setiap hari, sementara beberapa negara regional juga mengirimkan fasilitas militer ke rezim tersebut.

Dia mengatakan bahwa beberapa kapal mengangkut bantuan kepada Israel berangkat ke wilayah pendudukan Palestina setiap hari. Namun, lanjut Bageri, kelangsungan hidup Rezim Zionis tetap disangsikan. (presstv)