Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 8 Desember 2020

bashar assad dan ulama 0Jakarta, ICMES. Presiden Suriah Bashar Assad menyatakan bahwa jika suatu masyarakat hendak dirusak maka yang dirusak terlebih dahulu adalah paham keagamaannya.

Ansarullah di Yaman menyatakan bahwa para pejabat Amerika Serikat (AS) telah menegaskan kepada Ansarullah bahwa tidak akan ada perdamaian di Yaman jika para pejabat Washington itu tidak menyetujuinya.

Lembaga studi strategi Israel berkesimpulan bahwa perang yang berpotensi terjadi di masa mendatang antara Israel dan Poros Resistensi menyimpulkan bahwa perang itu akan berlangsung multi-arena, yang bisa jadi mencakup Lebanon, Suriah, Irak, dan Gaza.

Tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) melancarkan serangan baru dengan menggunakan pesawat nirawak terhadap posisi-posisi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Berita Selengkapnya:

Assad di Tengah Alim Ulama: Kalau Mau Merusak Masyarakat Rusaklah Agama

Presiden Suriah Bashar Assad menyatakan bahwa jika suatu masyarakat hendak dirusak maka yang dirusak terlebih dahulu adalah paham keagamaannya,  dan Suriah pasti sudah “tenggelam” sejak minggu-minggu pertama gejolak terorisme dan pemberontakan seandainya tidak ada faktor keamanan dan stabilitas di tengah masyarakat.

Dalam kata sambutannya pada pertemuan berkala yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf dan melibatkan banyak alim ulama di Masjid Jami’ Al-Usman, Damaskus, Senin (7/12/2020), Assad menekankan pentingnya faktor pemikiran.

“Kita sedang dalam kondisi perang, terkadang perang ekonomi ataupun militer, dan terkadang pula perang pemikiran yang membidik akidah,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa agama yang diturunkan untuk mengembangkan komunitas-komunitas masyarakat manusia oleh sebagian orang malah digunakan sebagai alat untuk merusak mereka, dan mirip dengan kondisi dunia yang dikitari oleh samudera yang bergelora dan menghantam dari semua arah, “keamanan dihantam melalui terorisme, ekonomi dihantam melalui blokade dan pelaparan, dan pemikiran dihantam melalui dorongan ke arah lapisan paling bawah.”

Dia menyebutkan bahwa di tengah samudera itu sebagian kapal dapat bertahan berkat melawan guncangan faktor keamanan dan stabilitas, dan sebagian lain tenggelam.

“Inilah kondisi kita sebagai sebuah masyarakat, seandainya kita tidak memiliki faktor-faktor itu niscaya kita sudah tenggelam sejak pekan-pekan pertama (gejok terorisme dan pemberontakan di Suriah yang bermula pada tahun 2011 – red.), dan di saat yang sama seandainya dulu kita sudah menjaga faktor-faktor itu dengan baik niscaya kita tidak sekarang tidak membayar sedemikian mahal,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Inti pemikiran di kawasan, di Timur, dan bukan di Suriah saja, adalah agama karena agama masuk ke semua aspek kehidupan sehingga cukuplah pemikiran ini dirusak agar komunitas-komunitas masyarakatpun rusak.” (rta)

Ansarullah: Washington Menyatakan Tak Ada Perdamaian di Yaman Tanpa Persetujuan AS

Anggota senior Dewan Tinggi Politik Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah (Houthi), Mohammad Ali Al-Houthi, menyatakan bahwa para pejabat Amerika Serikat (AS) telah menegaskan kepada Ansarullah bahwa tidak akan ada perdamaian di Yaman jika para pejabat Washington itu tidak menyetujuinya.

“Orang-orang Amerika telah mengirim (pesan) kepada kami melalui para perantara… Mereka mengatakan bahwa perdamaian tidak akan terwujud, bahkan seandaipun Saudi rela kepadanya, jika kami tidak menyetujuinya,” ungkap Ali Al-Houthi di halaman Twitter-nya, disertai tagar berbaha Arab yang berarti “blokade AS, pembunuh bangsa Yaman”, Senin (7/12/2020).

Seperti diketahui, AS getol menyuplai senjata, perlengkapan, nasihat militer serta informasi intelijen kepada koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi untuk menyokong agresi militer terhadap Yaman sejak lebih dari lima tahun silam sampai sekarang untuk memerangi Ansarullah yang bersiteru dengan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi. (rta)

INSS: Perang Arab-Israel di Masa Mendatang Mencakup Libanon, Suriah, Irak, dan Gaza

Sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Studi Keamanan Nasional Israel  (Institute for National Security Studies/INSS) mengenai skenario perang yang berpotensi terjadi di masa mendatang Israel melawan Arab dan Iran yang tergabung dalam Poros Resistensi menyimpulkan bahwa perang itu akan berlangsung multi-arena, yang bisa jadi mencakup Lebanon, Suriah, Irak, dan Gaza.

Direktur lembaga think tank Israel tersebut, Brigjen Purn. Udi Dekel, memperingatkan, “Dalam perang mendatang, garis depan Israel akan diserang dengan ribuan rudal, serta pemboman dengan pesawat-pesawat nirawak dari beberapa arena; Lebanon, Suriah, Irak barat dan mungkin Gaza.”

Menurut studi tersebut, konfrontasi berikutnya adalah melawan poros “Syiah Iran”, yang – dalam rangka mengkristalkan porosnya – telah menciptakan rantai internal yang terhubung dari Teheran ke Beirut dan mencakup penggalangan berbagai kemampuan untuk menyerang Israel dalam skala besar dengan misil, pesawat nirawak, dan unit-unit gerilya yang menyusup ke dalam wilayah Israel serta menyerbu permukiman dan situs-situs penting di dekat perbatasan dengan Lebanon dan Dataran Tinggi Golan.

Kajian INSS juga menyebutkan, “Perang mendatang akan multi-arena, termasuk Lebanon, Suriah dan Irak barat, dengan kemungkinan Hamas dan Jihad Islam bergabung dengan Jalur Gaza.”

Para penulis studi tersebut menekankan bahwa ada perubahan besar dalam ancaman yang diwakili oleh intensifikasi kehadiran kelompok pejuang Hizbullah, terutama upayanya untuk mempersiapkan rudal berpresisi dengan bantuan Iran.

“Perang mendatang di utara akan menghancurkan dan berat, dan tampaknya tidak ada pihak yang menginginkannya pecah,” kata peneliti senior INSS, Orna Mizrahi, seperti dikutip Channel 12 milik Israel, Senin (7/12/2020).

Dia menambahkan, “Meskipun berbagai pihak tidak menginginkan perang (terjadi) sekarang, namun konfrontasi ini dapat pecah dan lepas kendali karena beberapa alasan; instabilitas kawasan pasca pembunuhan ilmuwan Iran Mohsen Fakhrizadeh, dan desakan Iran untuk terus memperkuat kesiapannya untuk perang di utara.”

Para penyusun kajian itu menyatakan bahwa perang berikutnya akan berbeda dengan perang sebelumnya dari segi lingkup dan intensitas, karena banyak kerusakan diperkirakan terjadi di garis depan Israel, termasuk obyek-obyek strategis di Israel, namun kerusakan terbesar akan terjadi di Lebanon dan Suriah.

Studi itu menyebutkan bahwa “skenario serangan tiba-tiba dapat melemahkan dan mengganggu kemampuan tentara untuk bertindak dalam tanggapan langsung dan kesiapan pasukan pertahanan udara, dan untuk memobilisasi pasukan cadangan”, dan bahwa “dalam skenario apa pun, fokusnya akan menimbulkan kerusakan parah pada bagian depan rumah sipil Israel dan melumpuhkan ekonomi.”

Udi Dekel mengatakan, “Situasi masyarakat Israel yang mengkhawatirkan, sebagaimana terlihat dalam krisis Corona, menimbulkan keprihatinan besar tentang hasil perang.” (raialyoum)

Pasukan Yaman Gempur Posisi-Posisi Saudi dengan Drone

Tentara Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) melancarkan serangan baru dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap posisi-posisi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, Senin (7/12/2020).

Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Maliki, mengkonfirmasi serangan itu namun mengklaim pihaknya berhasil mencegat drone penyerang.

Surat kabar Al-Khaleej yang berbasis di Uni Emirat Arab mengutip pernyataan Maliki bahwa serangan drone Yaman itu dilancarkan ke wilayah selatan Arab Saudi.

Pada pekan lalu Ansarullah Yaman juga telah menggempur posisi-posisi Saudi dengan tiga drone, dan Riyadh lantas mengaku berhasil menembak jatuh semuanya. (presstv)