Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 8 Agustus 2023

Jakarta, ICMES. Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan lebih dari 3.000 pelaut dan pasukan marinir ke Timur Tengah dengan dalih demi melindungi kapal-kapal yang melintasi jalur air utama di kawasan strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian dalam konferensi pers di Tokyo, ibu kota Jepang, menyalahkan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait dengan perang antara Rusia dan Ukraina.

Lebih dari 300 rumah dan toko milik warga Muslim telah dihancurkan oleh otoritas pemerintah di negara bagian Haryana, India, dalam tempo empat hari, hampir seminggu setelah serangan mematikan terhadap sebuah masjid oleh massa Hindu di sebuah distrik yang mayoritas penduduknya Muslim.

Berita Selengkapnya:

AS Kerahkan Ribuan Pasukan dan Kapal Serbu ke Timteng untuk Hadapi Iran

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan lebih dari 3.000 pelaut dan pasukan marinir ke Timur Tengah dengan dalih demi melindungi kapal-kapal yang melintasi jalur air utama di kawasan strategis tersebut.

Komando Pusat Angkatan Laut AS (CENTCOM), Senin (7/8), mengumumkan bahwa pasukan dari Bataan Amphibious Ready Group (ARG) dan 26th Marine Expeditionary Unit (MEU) telah tiba di Timur Tengah.

“Kapal serbu amfibi USS Bataan (LHD 50) dan kapal pendaratan dermaga USS Carter Hall (LSD 50) memasuki Laut Merah setelah transit dari Laut Mediterania melalui Terusan Suez,” ungkap CENTCOM.

“Unit Bataan ARG/MEU ke-26 membawa aset penerbangan dan angkatan laut tambahan ke wilayah ini, serta lebih banyak Marinir dan Pelaut AS, memberikan fleksibilitas dan kemampuan maritim yang lebih besar untuk Armada ke-5 AS,” lanjutnya.

Menurut  CENTCOM, kapal serbu amfibi dapat membawa lebih dari dua lusin pesawat sayap putar dan sayap tetap, selain beberapa kapal pendarat amfibi.

Angkatan Laut AS mengklaim pengerahan itu dilakukan menyusul seruan Pentagon untuk pengiriman pasukan tambahan setelah “upaya baru-baru ini oleh Iran untuk merebut kapal komersial di area operasi CENTCOM.”

Angkatan Laut AS menuduh Iran “menyerang, merebut, atau berusaha merebut” hampir 20 kapal dagang berbendera internasional di kawasan itu selama dua tahun terakhir.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran selama beberapa tahun terakhir telah menggagalkan beberapa serangan terhadap kapal tanker Iran dan asing di wilayah Teluk Persia yang strategis dan laut lepas lainnya.

Angkatan Laut IRGC menyita lebih dari 50 juta liter bahan bakar selundupan, terutama diesel, dalam berbagai misi tahun lalu.

Pada bulan April, pasukan Iran menyita dua kapal tanker dalam rentang waktu seminggu di Teluk Persia dan Teluk Oman, salah satunya atas pengaduan yudisial oleh penggugat pribadi dan yang lainnya atas kecelakaan laut dengan kapal penangkap ikan Iran.

Dalam beberapa tahun terakhir, Angkatan Laut AS telah beberapa kali menyita kapal tanker yang dikendalikan Iran dan pengiriman minyak dalam perjalanan ke negara lain, mengutip sanksinya sendiri terhadap ekspor minyak Iran.

Iran menyatakan pihaknya memandang kapal militer AS yang mengintai di perairan Teluk Persia sebagai ancaman terhadap keamanannya dan sumber ketegangan serta ketidakstabilan di kawasan.  (presstv)

Berada di Jepang, Menlu Iran Sebut Perang Ukraina Tersulut oleh Provokasi NATO

Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian dalam konferensi pers di Tokyo, ibu kota Jepang, Senin (7/8), menyalahkan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait dengan perang antara Rusia dan Ukraina.

 â€œKami menganggap NATO dan provokasinya sebagai akar penyebab perang dan krisis. Kami melanjutkan upaya kami untuk menghentikan perang dan membuat semua pihak fokus pada solusi politik,” katanya.

Amir-Abdollahian juga menegaskan bahwa Republik Islam selalu mempertahankan pendirian prinsipalnya yang menolak perang sebagai solusi.

“Sejak awal perang, kami telah mengagendakan diakhirinya perang serta kembalinya semua pihak kepada dialog dan solusi politik, dan mengambil tindakan aktif dalam rangka ini,” tambahnya.

Pada Februari 2022, Rusia memulai apa yang disebutnya operasi militer khusus di Ukraina sebagai upaya mencegah ekspansi NATO ke arah timur setelah memperingatkan bahwa aliansi militer tersebut menempuh “garis agresif” terhadap Moskow.

Negara-negara Barat telah menyulut perang dengan pengiriman senjata mereka ke Ukraina. Di saat yang sama, mereka menuduh Iran memberi Rusia peralatan militer, termasuk drone, untuk digunakan di Ukraina. Tuduhan ini dibantah keras oleh Teheran.

Dalam konteks ini, Menlu Iran menyebut klaim tersebut “benar-benar salah dan tidak benar”.

Dia beralasan bahwa kerja sama pertahanan Teheran dengan Moskow tidak pernah melibatkan penggunaan drone atau senjata Iran dalam perang Ukraina karena Rusia sendiri adalah salah satu produsen dan pengekspor senjata terbesar di dunia.

“Kami tidak menyediakan drone untuk digunakan di Ukraina kepada pihak mana pun (dalam perang),” tegasnya.

Dia mengaku bahwa tahun lalu telah meminta Ukraina menyerahkan bukti-bukti untuk klaim itu kepada pejabat militer Iran.

Dia menambahkan bahwa pihak Ukraina menghindari pertemuan dengan delegasi militer Iran di Warsawa, Polandia, dan tidak memberikan dokumen yang dapat diterima dalam pertemuan selanjutnya di Oman.

“Disepakati bahwa pihak Ukraina sekali lagi akan meninjau dokumennya untuk diperiksa dalam pertemuan lain dengan pihak Iran. Kami berulang kali meminta pertemuan seperti itu, tetapi pihak Ukraina tidak menghadiri putaran pembicaraan baru,” terangnya.

Amir-Abdollahian juga mengatakan, “Dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Ukraina, saya mengatakan saya yakin Anda tidak memiliki dokumen yang dituduhkan dan bahwa tuduhan terkait penggunaan pesawat nirawak Iran dalam perang Ukraina sepenuhnya keliru dan tidak benar.”

Sembari memastikan Iran enggan mempersenjatai pihak mana pun dalam perang Ukraina, dia juga menegaskan bahwa aliran senjata AS dan sejumlah negara Barat ke Ukraina akan memicu ketidak amanan dan instabilitas di sana serta menyebabkan kematian dan kehancuran lebih lanjut. (presstv)

Tragis, Ratusan Rumah dan Toko Milik Warga Muslim Dihancurkan di India

Lebih dari 300 rumah dan toko milik warga Muslim telah dihancurkan oleh otoritas pemerintah di negara bagian Haryana, India, dalam tempo empat hari, hampir seminggu setelah serangan mematikan terhadap sebuah masjid oleh massa Hindu di sebuah distrik yang mayoritas penduduknya Muslim.

Pihak berwenang mengkampanyekan penghancuran terhadap rumah dan bangunan Muslim di Nuh, satu-satunya distrik mayoritas Muslim di Haryana, pada hari Kamis, menyusul serangan umat Hindu di masjid yang menewaskan lima jamaah Muslim awal pekan lalu dan serangan lain yang menewaskan empat Muslim.

Kekerasan pertama kali meletus pada 31 Juli dan dengan cepat meluas ke daerah-daerah yang berdekatan, termasuk pusat bisnis Gurugram, yang bertetangga dengan New Delhi, di mana pihak berwenang menuduh pemilik rumah dan toko “ilegal” terlibat dalam serangan terhadap prosesi Hindu di distrik tersebut.

Sepak terjang Perdana Menteri Narendra Modi untuk agenda “Utamakan Hindu” sejak berkuasa pada tahun 2014 telah memicu ketegangan komunal di India.

Dalam beberapa tahun terakhir pihak berwenang di beberapa negara bagian yang diperintah oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di bawah Modi telah menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai rumah “ilegal” milik orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan dan berpartisipasi dalam bentrokan agama, banyak di antaranya adalah warga Muslim.

Tindakan keras pemerintah telah memaksa ratusan orang meninggalkan rumah mereka karena ketakutan.

Insiden terbaru terjadi menyusul meningkatnya kekerasan terhadap minoritas Muslim India yang dilakukan oleh nasionalis Hindu yang disemangati oleh diamnya Modi atas serangan demikian sejak dia berkuasa. (presstv)