Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 6 Juli 2021

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa selain kekuatan militer, kekuatan media dan propaganda juga harus dikembangkan untuk melawan kampanye fitnah yang bertujuan menggembosi resistensi terhadap hegemoni AS dan Israel.

Surat kabar Israel Haaretz mengutip pernyataan narasumber yang disebutnya sebagai pejabat senior Israel bahwa Israel sudah tak sanggup lagi mempengaruhi kandungan dan spirit perjanjian nuklir negara-negara besar dunia, termasuk AS, dengan Iran.

Sumber-sumber keamanan Irak menyatakan bahwa tentara AS di negara ini telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak atau drone berbahan peledak yang terbang di angkasa sekitar komplek Kedubes AS untuk Irak di Baghdad.

Berita Selengkapnya:

Sayid Nasrallah: Perang Media adalah Bagian dari Inti Konfrontasi Akbar

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa selain kekuatan militer, kekuatan media dan propaganda juga harus dikembangkan untuk melawan kampanye fitnah yang bertujuan menggembosi resistensi terhadap hegemoni AS dan Israel.

“Kami ingin membantu media untuk memperkuat perimbangan regional baru berupa pembelaan Quds… Meski semua orang mengakui kemenangan kubu resistensi di Palestina tapi beberapa media di Teluk mengingkarinya,” ujar Sayid Nasrallah dalam kata sambutannya pada peresmian Konferensi Pembaharuan Wacana Media dan Manajemen Perlawanan, Senin (5/7).

“Kami serahkan kepada konferensi ini dan kepada diskusi serta hasilnya dalam perang media kita, yang merupakan bagian dari inti pertempuran besar dan konfrontasi menyeluruh kita,” lanjutnya.

Sekjen Hizbullah menjelaskan, “Pentingnya media dan wacana media sangatlah jelas tanpa perlu kita terangkan kepada para jurnalis, sebagaimana pembaharuan wacana media juga jelas, persisnya sekarang ini, baik dari segi prinsip – dan ini merupakan sunnah (kodrat) kehidupan agar tak ada kejumudan-  maupun dari segi sarana konfrontasi.”

Dia melanjutkan, “Sebagaimana kita mengembangan sarana konfrontasi militer, keamanan dan politik, kita juga harus mengembangkan konfrontasi media, karena ini merupakan bagian dari inti pertempuran. Kita wajib mengembangkan wacana untuk mengikuti perkembangan di berbagai gelanggang lain, sebab medialah yang menjelaskan apa yang terjadi di gelanggang-gelanggang lain; politik, militer dan keamanan.”

Sayid Nasrallah mengatakan, “Juga ada kebutuhan mendesak untuk pengembangan wacana media sebagai akibat dari apa yang terjadi di arena kita berupa badai kencang yang sangat berdampak dan bertujuan antara lain penelantaran Palestina, yang nyaris terlupakan seandainya Poros Resistensi tak bertahan solid. Poros ini sedang menghadapi fitnah besar.”

Dia menambahkan, “(Mengenai) wacana media yang hendak kita kembangkan itu, kita harus tahu berhadapan dengan siapa? Di sini kita tidak berbicara mengenai urusan domestik dan negara, melainkan tentang proyek Zionis Israel-AS dan dominasi (AS) di kawasan, dan juga pendudukan Israel atas Palestina, Golan, daerah pertanian Sheeba, Perbukitan Kfar Shuba dan bagian Libanon di desa Al-Ghajr.”

Sayid Nasrallah menegaskan, “Dominasi AS di kawasan adalah yang prinsipal dan paling krusial, karena ia merupakan problema itu sendiri dan bertumpu pada peniadaan anugerah (sumber daya alam dan manusia) dan pencegahan bangsa-bangsa kita dari pembuatan keputusan atas nasib sendiri. Dominasi inilah yang melindungi Israel, sehingga Palestina tak mungkin dapat dibebaskan tanpa perlawanan terhadap hegemoni AS atas kawasan kita, sebab hegemoni inilah yang mengubah pasukan-pasukan (Arab) menjadi badan-badan yang mati, dan hegemoni inilah yang memberikan anasir ketahanan kepada kepada entitas rezim perampas (Israel).”

Pemimpin berserban hitam sebagai tanda keturunan Rasululllah saw ini menekankan aspek kejujuran dalam penyampaian berita, yang notabene memang prinsip bagi media Poros Resistensi.

Dia mengatakan, “Keistimewaan media Poros Resistensi ialah kejujurannya dalam penyampaian berita, dan ini harus berlanjut karena perkara inilah yang mengakumulasikan kredibilitas sejati. Pihak musuh dan kaum pendatang (Zionis) lebih percaya kepada media Poros Resistensi daripada kepada para pemimpin dan media mereka sendiri.” (raialyoum)

Pejabat Senior Israel Akui Tak Sanggup Pengaruhi Perundingan Nuklir Iran

Surat kabar Israel Haaretz, Senin (5/7), mengutip pernyataan narasumber yang disebutnya sebagai pejabat senior Israel bahwa Israel sudah tak sanggup lagi mempengaruhi kandungan dan spirit perjanjian nuklir negara-negara besar dunia, termasuk AS, dengan Iran.

Pejabat yang juga mengaku mengetahui komunikasi-komunikasi Israel dengan AS, Rusia dan berbagai negara besar lain itu mengatakan, “Tel Aviv sudah tak punya kemampuan mempengaruhi pasal-pasal perjanjian nuklir yang dibahas di Wina.”

Menurutnya, ada dua kemungkinan bagi para perunding nuklir; kembali kepada perjanjian nuklir yang orsinil, Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), atau tidak kembali kepadanya, tanpa ada pilihan lain.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett Ahad lalu memimpin pertemuan yang membahas perkembangan perundingan nuklir Wina, dan sejak beberapa bulan lalu negara Zionis ilegal itu mengerahkan segenap kemampuannya di berbagai lini untuk menekan Iran dan mendesak AS agar terus meningkatkan sanksinya terhadap Iran.

Sementara itu, Wakil Tetap Rusia untuk oganisasi-organisasi internasional yang berkedudukan di Wina, Swiss, Mikhail Ulyanov, di Twitter, Senin, menyatakan bahwa tujuan yang disepakati dari pembicaraan Wina hanyalah untuk pemulihan JCPOA asli.

Menyinggung adanya upaya-upaya sebagian pihak untuk memasukkan topik lain dalam perundingan Wina, Ulyanov mencuit; “Dalam konteks #ViennaTalks, beberapa analis dan pejabat menganjurkan untuk menangani topik baru seperti keamanan regional dan rudal.”

Dia menambahkan, “Upaya untuk memukul 3 burung dengan 1 batu. Tidak realistis dan kontraproduktif. Tujuan pembicaraan yang disepakati hanya untuk mengembalikan #JCPOA yang asli.”

Iran telah mengadakan enam putaran pembicaraan di Wina dengan peserta JCPOA yang dikenal sebagai P4+1 dengan tujuan menyelamatkan JCPOA.

Teheran bersikeras bahwa pihaknya akan melanjutkan kepatuhan penuh kepada kesepakatan itu jika AS mencabut secara penuh sanksi-sanksinya terhadap Iran. Sanksi itu diberlakukan secara ilegal oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump setelah dia mengeluarkan negaranya secara sepihak dari JCPOA pada Mei 2018. (raialyoum/mna)

Tentara AS Tembak Jatuh Drone Berbahan Peledak di Sekitar Kedubesnya di Baghdad

Sumber-sumber keamanan Irak menyatakan bahwa tentara AS di negara ini telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak atau drone berbahan peledak yang terbang di angkasa sekitar komplek Kedubes AS untuk Irak di Baghdad pada Senin malam (5/7).

Penembakan itu terjadi beberapa jam setelah terjadi serangan roket terhadap sebuah pangkalan yang ditempati pasukan AS di Irak barat.

Reporter AFP mengaku melihat sistem-sistem pertahanan udara AS melepaskan beberapa rudalnya di Baghdad pada Senin malam, sementara pihak keamanan Irak menyebutkan bahwa rudal itu menyasar sebuah drone berbahan peledak.

Dua sumber keamanan Irak mengatakan kepada Reuters bahwa drone itu tertembak dan gagal mencapai komplek Kedubes AS.

Jumat pekan lalu dikabarkan bahwa sirine di dalam komplek Kedubes AS untuk Irak di Baghdad berbunyi menyusul dugaan adanya drone yang terbang di atas komplek tersebut.

Berbagai kelompok pejuang relawan Irak bersumpah untuk membalas serangan udara pasukan AS terhadap posisi-posisi pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi di dekat perbatasan Irak-Suriah yang telah menggugurkan empat relawan pada tanggal 27 Juni lalu. (raialyoum)