Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 6 April 2021

Jordan's King Abdullah II and Crown Prince Hussein (R) arrive for the opening session of the fourth ordinary parliamentary session  in the capital Amman on November 10, 2019. (Photo by Khalil MAZRAAWI / AFP) (Photo by KHALIL MAZRAAWI/AFP via Getty Images)

Jordan’s King Abdullah II and Crown Prince Hussein (R) arrive for the opening session of the fourth ordinary parliamentary session in the capital Amman on November 10, 2019. (Photo by Khalil MAZRAAWI / AFP) (Photo by KHALIL MAZRAAWI/AFP via Getty Images)

Jakarta, ICMES. Rezim Zionis penjajah Palestina itu tak segan-segan membocorkan berbagai informasi sensitif kepada media terkait dengan insiden upaya kudeta di Yordania.

Pasukan Ansarullah di Yaman dilaporkan kembali melesatkan beberapa rudal balistik ke wilayah selatan dan barat Arab Saudi.

Pasukan keamanan Iran di provinsi Azerbaijan Timur menciduk sejumlah orang yang diduga bekerja sebagai agen spionase badan-badan intelijen asing, MOSSAD Israel.

Sebanyak 110 anggota kelompok militan Taliban dilaporkan tewas dalam kelanjutan operasi militer Afghanistan di berbagai bagian negara ini.

Berita Selengkapnya:

Sarkasme Israel Soal Gejolak Yordania, Pelajaran Bagi Semua Negara Arab dan Muslim

Bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), Israel adalah pihak yang diduga bermain di balik insiden upaya kudeta di Yordania belakangan ini. Meski demikian, tak seperti Saudi dan UEA, Rezim Zionis penjajah Palestina itu tak segan-segan membocorkan berbagai informasi sensitif kepada media, termasuk mengenai peran Israel sendiri, tanpa mempertimbangkan hubungannya yang masih terjalin dengan Raja Yordania, Abdullah II.

Adalah Yedioth Ahronoth (YA)  surat kabar Israel yang terlihat tampil mengemban tugas mengumbar informasi mengenai bayang-bayang segi tiga Israel, Saudi dan UEA di balik layar upaya kudeta Yordania.

Sejak awal merebaknya berita mengenai gejolak di Amman itu, YA tampil dengan bongkar-bongkaran informasi yang menyebutkan keterlibatan beberapa nama besar, termasuk Pangeran Sharif Hasan bin Zayed, bangsawan Yordania yang tinggal di Saudi dan memegang kewarganegaraan ganda Saudi dan Yordania, dan Bassem Ibrahim Awadallah, mantan kepala istana kerajaan Yordania yang juga pernah menjabat sebagai utusan Raja Abdullah II untuk Saudi.

Menurut media Israel tersebut, Jawad Anani, mantan wakil perdana menteri dan menteri luar negeri Yordania, dalam wawancara dengan situs berita Ammon mengungkapkan bahwa Israel telah menawarkan pesawat khusus untuk melarikan Putri Basma binti Talal, bibi Raja Abdullah II, ke Israel.  Basma adalah saudara perempuan mendiang Raja Hussein, ayah Raja Abdullah II.

YA juga melaporkan bahwa pasukan keamanan Yordania mengepung Kedubes UEA di Amman setelah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menyatakan adanya negara asing yang terlibat dalam upaya kudeta, di tengah tersiarnya rumor mengenai penangkapan dubes UEA.

Surat kabar Israel itu menyebutkan; “Negara-negara asing yang disinggung oleh Menteri Luar Negeri Yordania dalam jumpa pers adalah Saudi dan UEA, sementara penguasa Dubai Mohammed bin Rashid Al Maktoum ceritanya panjang dengan Yordania, menyusul pelarian istrinya, Haya, saudara tiri Raja Abdullah, bersama dua putranya ke London.”

Parahnya, informasi sensitif itu diumbar oleh media Israel dengan nada euforia dan satir, meski rezim Zionis itu masih terikat hubungan dan perjanjian damai dengan Yordania.

Realitas ini menandakan bahwa Israel tak menjaga tatakrama apapun  karena keberadaannya di Timur Tengah memang untuk membebani negara-negara kawasan ini, sehingga alih-alih merawat hubungannya dengan Yordania agar membaik, kalau bukan mesra dan istimewa, malah cenderung memperolok Kerajaan Yordania.

Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua negara Arab dan Muslim, terutama sejumlah negara yang sudah menjalin hubungan ataupun berpotensi menjalin hubungan dengan Israel seperti UEA, Bahrain, Sudan, Maroko dan Arab Saudi.

Beberapa negara ini telah membuka perbatasan dan masyarakatnya kepada kaum Zionis Israel dengan dalih demi mewujudkan cita-cita luhur perdamaian. Padahal, semua negara ini tak pernah berperang dengan Israel untuk kemudian berdamai, sedangkan Yordania dan Mesir yang pernah berperang dengannya lalu berdamai justru tak pernah merasakan manisnya madu perdamaian. Sebaliknya, racunlah yang selalu diterima oleh Mesir dan Yordania selama sekian dekade sejak perdamaian itu terjalin.

Apa yang diumbar oleh media Israel tak berarti mengecilkan kemungkinan keterlibatan orang-orang atau berbagai pihak lain, karena akan banyak lagi misteri yang dapat diungkap di masa mendatang. Tapi terlepas dari itu, satu realitas yang tak patut diabaikan ialah bahwa Israel adalah ibarat air di daun talas, yang akan selalu berubah pendirian sesuai arah angin bertiup,  sehingga konyol jika seseorang menaruh percaya, bersimpati dan optimis kepadanya. (alalam)

Pasukan Ansarullah Yaman Lesatkan Rudal Balistik ke Jeddah

Pasukan Ansarullah di Yaman dilaporkan kembali melesatkan beberapa rudal balistik ke wilayah selatan dan barat Arab Saudi.

Kanal telegram Sabereen News pada Selasa dini hari (6/4) menyebutkan bahwa pasukan Yaman telah menggempur beberapa sasaran militer pasukan agresor Saudi di kota Jeddah dan kedalaman wilayah Saudi lainnya.

Reporter Al-Alam juga melaporkan bahwa serangan ke Jeddah menyebabkan penundaan jadwal penerbangan di bandara kota ini dan bandara di kota Jizan sehingga angkasa sebagian wilayah Saudi kosong dari penerbangan pesawat.

Beberapa sumber mengatakan bahwa bagian militer di Bandara Jeddah menjadi sasaran serangan, sementara gambar-gambar dari informasi penerbangan memperlihatkan beberapa pesawat yang hendak mendarat di Bandara Jeddah berputar di angkasa dan dalam posisi pendaratan.

Belum ada penjelasan lebih rinci mengenai serangan Yaman terhadap Saudi tersebut.

Sebelumnya, Mohammad Naser Al-Atifi, Menteri Pertahanan Pemerintahan Keselamatan Nasional yang berbasis di Sanaa, ibu kota Yaman, menegaskan bahwa jika koalisi yang dipimpin Saudi masih ingin melanjutkan “kebodohannya” menyerang Yaman maka Sanaa akan menerapkan strategi yang disebutnya “penderitaan besar” bagi Saudi.

Tentara Yaman dan pasukan Ansarullah belakangan ini mengintensifkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawaknya ke berbagai wilayah Saudi.

Serangan itu membuat Saudi tampak tertekan, terutama setelah invasi militernya yang sudah berjalan lebih dari enam tahun gagal mencapai tujuannya. Karena itu Riyadh lantas mengajukan apa yang disebutnya prakarsa damai untuk menyudahi perang Yaman.

Namun, pihak Sanaa menganggap Saudi tak serius karena prakarsa itu tak diimbangi dengan penghentian serangan udara dan pencabutan blokade terhadap Yaman. (fna)

Iran Ringkus Sejumlah Agen Spionase  Asing, termasuk Israel

Pasukan keamanan Iran di provinsi Azerbaijan Timur menciduk sejumlah orang yang diduga bekerja sebagai agen spionase badan-badan intelijen asing, MOSSAD Israel.

Dirjen Kementerian Intelijen Iran di provinsi Azerbaijan Timur, Senin (5/4),  mengatakan, “Seorang mata-mata Israel dan beberapa orang lainnya yang terkait dengan dinas keamanan negara yang berbeda telah ditangkap di provinsi itu.”

Dia menambahkan, “Telah ditangkap sebanyak 19 anggota sebuah komplotan yang melakukan kejahatan penipuan sistematis untuk penerbitan cek bank dan pemalsuan dokumen di provinsi Azerbaijan Timur.”

Pejabat itu menepis keberadaan teroris takfiri di provinsi tersebut.

Kementerian intelijen Iran pada tahun lalu juga meringkus lima mata-mata yang berafiliasi dengan badan intelijen asing.

“Pasukan Kementerian Intelijen telah mengidentifikasi dan menangkap lima mata-mata yang memiliki hubungan dengan badan mata-mata asing,” ungkap kementerian itu pada Agustus 2020.

Dikutip  Fars,  kementerian itu menyebutkan bahwa dengan menggunakan metode intelijen yang rumit, para agen CIA AS, Mossad Israel, dan badan intelijen Eropa tertentu berusaha memata-matai proyek nuklir, politik, ekonomi, militer, dan infrastruktur Iran dengan tujuan menyabotase infrastruktur dan proyek, memperburuk dampak sanksi, menghalangi akses Iran ke teknologi modern serta menciptakan tantangan dalam hubungan Iran dengan negara lain. (alalam/fna)

110 Anggota Taliban Dikabarkan Tewas di Afghanistan

Sebanyak 110 anggota kelompok militan Taliban dilaporkan tewas dalam kelanjutan operasi militer Afghanistan di berbagai bagian negara ini.

Media Afghanistan TOLO News mengutip pernyataan Divisi Operasi Khusus Tentara Afghanistan, Senin (5/4), bahwa dalam 24 jam terakhir sebanyak 110 anggota Taliban tewas dan 81 lainnya terluka di

di provinsi Ghazni, Nangarhar, Zabul, Herat, Kunduz, Baghlan dan Kandahar di Afghanistan.

Disebutkan bahwa dalam operasi militer itu sejumlah besar senjata dan amunisi Taliban dihancurkan dan sekira 90 sepeda motor mereka disita oleh tentara.

Bentrokan berlanjut di berbagai bagian Afghanistan saat kedua belah pihak mempersiapkan diri untuk KTT Perdamaian Turki dan sedang menyusun rencana untuk masa depan politik Afghanistan.

Dalam hal ini, menurut dokumen yang diberikan kepada Reuters, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani akan mengusulkan rencana tiga tahap sebagai “peta jalan perdamaian” pada KTT Turki berikutnya.

Menurut dokumen tersebut, Ashraf Ghani bermaksud mencapai kesepakatan dan gencatan senjata permanen dengan Taliban sebelum pemilu di Afghanistan. (mna)