Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 6 Agustus 2019

perang twitter Zarif-TrumpJakarta, ICMES: Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menjelaskan ihwal penolakannya diundang ke Gedung Putih, dan menilai AS tidak akan bisa menggalang aliansi untuk melindungi kapal dagang di Teluk Persia.

Militer Iran menyatakan menyatakan pengaruhnya sudah merambah ke wilayah perbatasan Rezim Zionis Israel dan memastikan tidak ada negara yang dapat mengalahkan Iran dalam perang darat.

Para ekstremis Yahudi menyerukan pendudukan atas Masjid Al-Aqsa pada hari raya umat Islam Idul Adha.

Militer Suriah menyatakan akan melancarkan serangan terhadap militan takfiri di Idlib, setelah militan yang berada di zona de-eskalasi dinilai tidak mengindahkan gencatan senjata.

Berita selengkapnya:

Menlu Iran Jelaskan Ihwal Penolakannya Diundang Ke Gedung Putih

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menjelaskan ihwal penolakannya diundang ke Gedung Putih, dan menilai AS tidak akan bisa menggalang aliansi untuk melindungi kapal dagang di Teluk Persia karena para sekutunya merasa “malu” bergabung dengannya.

“AS sekarang sendirian di dunia dan tak sanggup membentuk aliansi. Negara-negara sahabatnya merasa malu berada di satu aliansi dengannya,” tutur Zarif dalam jumpa pers di Teheran, Senin (5/8/2019).

Menurutnya, AS bernasib demikian akibat tindakannya sendiri melanggar undang-undang dengan menciptakan ketegangan dan krisis.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak Presiden AS Donald Trump pada Mei 2018 menarik keluar negaranya dari perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia kemudian menerapkan lagi sanksi ketatnya terhadap Iran.

Ketegangan itu memuncak setelah Iran menembak jatuh pesawat nirawak siluman pengintai AS dan terjadi pula serangan-serangan ke kapal tanker di Teluk Persia yang dituduhkan AS terhadap Iran namun Iran membantahnya.

Meski demikian, AS kesulitan menggalang aliansi karena negara-negara Eropa tampak enggan terseret kepada resiko konflik AS dengan Iran.

Saat ditanya mengenai laporan-laporan tentang penolakan Zarif terhadap undangan datang ke Gedung Putih, dia mengaku memang menolak undangan itu meskipun sudah ada ancaman bahwa dirinya akan dikenai sanksi oleh Washington.

“Telah dikatakan kepada saya di New York bahwa saya akan dikenai sanksi jika tidak menyutui tawaran itu, tapi beruntung saya menolaknya… Tindakan AS terhadap saya tidak akan berarti apa-apa kecuali bahwa AS telah kandas dalam dialog dan diplomasi… Semakin keras mereka menekan dan menerapkan sanksi terhadap kami semakin besar pula kesolidan kami dan kebersandaran kami kepada rakyat. Mereka tidak akan dapat membatasi perkembangan Iran,” terangnya. (raialyoum)

Militer Iran Nyatakan Tak Ada Negara Yang Dapat Mengalahkannya Dalam Perang Darat

Asisten Lapangan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Mehdi Rabbani menyatakan pengaruhnya sudah merambah ke wilayah perbatasan Rezim Zionis Israel dan memastikan tidak ada negara yang dapat mengalahkan Iran dalam perang darat.

“Pengaruh kami sudah mencapai kawasan pesisir Laut Mediterania dan front kami sudah menjangkau perbatasan Rezim Zionis,” ujarnya, Senin (5/8/2019), seperti dikutip kantor berita Fars milik Iran.

Dia menambahkan, “Setidaknya dalam jangka waktu 10 tahun ke depan tidak akan ada satupun negara regional maupun non-regional yang dapat mengalahkan Republik Islam Iran dalam perang darat. Kami sekarang lebih tangguh dari sebelumnya.”

Sebelum itu, asisten politik komandan pasukan elit Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Yadollah Javani, memastikan bahwa jika AS nekat menyerang Iran maka negara arogan itu akan berhadapan dengan Poros Resistensi di seluruh kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

Dia juga mengatakan, “Teheran telah memberitahu Washington dan Tel Aviv bahwa agresi terhadap Iran akan berhadapan dengan Poros Resistensi dari Timur Dekat hingga Laut Merah, Laut Arab, dan Teluk Aden.”

Dia menambahkan bahwa tidak akan ada aliansi maritim seperti yang dikehendaki oleh AS di Teluk Persia.

“Angkatan Bersenjata Iranlah yang menjamin keamanan Teluk Persia,” tegasnya.

AS mengaku berniat membentuk aliansi internasional untuk mengamankan pelayaran di perairan Teluk Persia, terutama Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb. Di saat yang sama, Inggris juga menekankan keharusan pengadaan misi Eropa untuk pengamanan pelayaran di Teluk Persia, menyusul pencegatan dan penyitaan kapal-kapal tanker minyak Inggris oleh Iran pada bulan lalu. (raialyoum)

Ekstremis Yahudi Serukan Pendudukan Masjid Al-Aqsa pada Idul Adha

Kelompok ekstremis kanan Yahudi Israel yang menamakan dirinya “Mahasiswa untuk Kuil” (Students for the Temple Mount) melayangkan surat kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berisi permohonan agar membiarkan para ekstremis Yahudi menduduki Masjid Al-Aqsa pada hari raya umat Islam Idul Adha.

Permohonan itu diajukan dengan alasan bahwa hari Ahad mendatang (11/8/2019) masih berada dalam suasana peringatan apa mereka sebut “Perusakan Kuil 9 Agustus”.

“Hendaknya ada komitmen dan publikasi secara terbuka bahwa warga Yahudi akan diperkenankan masuk ke Aqsa pada hari Ahad, meskipun merupakan hari raya umat Islam, dan hendaknya pula ditambah jadwal kunjung hingga mencakup seluruh jam pagi dan siang sebagai akibat tekanan yang diperkirakan terjadi di gerbang-gerbang, terutama dengan adanya kesulitan berpuasa di hari panas,” bunyi surat itu dalam dua paragraf terakhirnya.

Hari “Perusakan Kuil” merupakan salah satu hari di mana para ekstremis Yahudi selalu menyerbu Masjid Al-Aqsa dengan jumlah massa lebih dari 1000 orang. Saat itu biasanya Gerbang al-Mugharabah di komplek Masjid Al-Aqsa ditutup.

Para tokoh agama memperingatkan bahaya seruan serbuan ke Masjid Al-Aqsa oleh kelompok ekstremis itu pada hari raya umat Islam dan menyebutnya sebagai preseden yang sangat berbahaya. (raialyoum)

Militan Tak Hormati Gencatan Senjata, Tentara Suriah akan Beroperasi Lagi di Idlib

Militer Suriah menyatakan pihaknya akan akan melancarkan serangan terhadap militan takfiri yang disponsori asing di provinsi barat laut Idlib, setelah militan yang berada di zona de-eskalasi itu dinilai tidak mengindahkan gencatan senjata dan terus menyerang kawasan sipil.

“Meskipun Pasukan Arab Suriah (SAA) mengumumkan gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib pada 1 Agustus, kelompok-kelompok teroris bersenjata, yang didukung oleh Turki, enggan mematuhi gencatan senjata dan malah melancarkan banyak serangan terhadap warga sipil di daerah sekitarnya,” ungkap Komando Umum Angkatan Angkatan Bersenjata Suriah dalam statemennya yang dirilis pada hari Senin (5/8/2019), seperti dikutip SANA.

Statemen itu juga menyindir Turki dengan menyebutkan, “Kegigihan rezim Turki dalam mengizinkan pion terorisnya di Idlib melakukan serangan membuktikan bahwa Ankara mempertahankan pendekatan destruktifnya dan mengabaikan komitmennya sesuai dengan perjanjian Sochi. Ini menguatkan nyali para teroris untuk memperkuat posisi mereka, dan menyebabkan penyebaran ancaman terorisme di seluruh wilayah Suriah.”

Statemen itu juga menegaskan, “Meskipun tentara Suriah sepakat untuk gencatan senjata bersyarat di Idlib dan upayapun dilakukan dalam hal ini, Ankara telah gagal memenuhi kewajibannya. Karena itu, SAA akan melanjutkan operasi tempurnya melawan kelompok-kelompok teroris, terlepas dari tata nama mereka dan itu akan membalas sesuai dengan tugas konstitusionalnya melindungi rakyat Suriah.”

Sehari sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan pihaknya akan melancarkan operasi militer di daerah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara. Dia mengatakan bahwa Rusia dan Amerika Serikat telah diberitahu tentang operasi yang direncanakan ini, tapi tidak menyebutkan kapan akan dimulai. (presstv)