Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 5 Januari 2021

sentrifugal nuklir iranJakarta, ICMES. Iran telah memulai proses produksi uranium dengan pengayaan 20% di fasilitas nuklir Ferdow, dan hal ini mendapat kecaman keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Asisten Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan tidak tertutup kemungkinan buyarnya perjanjian nuklir JCPOA, dan Teheran siap hidup berdampingan tanpanya.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menahan sebuah kapal tanker bernama MT Hankuk Chemi dan berbendera Korea Selatan di Teluk Persia.

Anggota Dewan Tinggi Politik Ansarullah di Yaman,  Mohammad Ali Al-Houthi, menyambut baik pemulihan hubungan antara Arab Saudi dan Qatar.

Berita Selengkapnya:

Iran Mulai Perkaya Uranium 20% di Fasilitas Ferdow, Ini Komentar Pedas Netanyahu

Iran telah memulai proses produksi uranium dengan pengayaan 20% di fasilitas nuklir Ferdow, dan hal ini mendapat kecaman keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam pembicaraan singkat dengan kantor berita Mehr, Senin (4/1), juru bicara pemerintah Ali Rabiei menyebutkan rencana kontra aktif Iran untuk memperkaya uranium hingga kemurnian hingga 20%.

Dia menjelaskan bahwa proses injeksi gas ke dalam sentrifugal dimulai “beberapa jam yang lalu” sesuai perintah Presiden Hassan Rouhani belakangan ini untuk penerapan rencana tersebut.

Rabiei mencatat bahwa pengayaan uraium itu dimulai pada Senin pagi, dan telah dilakukan tindakan prasyarat seperti penginformasian kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan pengiriman kuesioner berbasis kewajiban pengamanan negara.

Dia mengatakan bahwa produk UF6 pertama akan tersedia dalam beberapa jam berikutnya.

Pada bulan Desember 2020 parlemen Iran Majelis Permusyawaratan Islam menyetujui rancangan undang-undang  yang bertujuan mencabut sanksi setelah pihak Eropa dalam perjanjian nuklir JCPOA gagal memenuhi komitmennya, dan setelah terjadi kasus pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Sementara itu, Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengomentari tindakan Iran itu dengan menyebutnya bertujuan mengembangkan senjata nuklir.

Dia lantas memperingatkan bahwa Israel tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata pemusnah massal itu.

“Israel tidak akan pernah mengizinkan Iran memproduksi senjata nuklir,” tegasnya.

Netanyahu mengklaim bahwa keputusan Iran mengenai pengayaan uranium itu hanya dapat dijelaskan sebagai upaya “untuk terus melaksanakan niatnya mengembangkan program senjata nuklir.” (mn)

Iran Teropong Semua Pangkalan Militer AS dan Siap Hidup Tanpa Perjanjian Nuklir

Asisten Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan tidak tertutup kemungkinan buyarnya perjanjian nuklir JCPOA, dan Teheran siap hidup berdampingan tanpanya.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah, Senin (4/1), Araghchi juga memperingatkan bahwa Teheran memantau semua pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan, siap meladeni setiap serangan, dan sejauh ini belum bertukar pesan dengan tim presiden terpilih AS Joe Biden.

Mengenai apa yang dilakukan Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, untuk memperpanjang masa tinggal kapal induk USS Nimitz untuk memberi layanan lagi di perairan Teluk Persia, Araghchi mengatakan, “Teheran memantau semua pangkalan militer Amerika di kawasan, dan angkatan bersenjata Iran berada di puncak kesiapan mereka …  Tanggapan terhadap setiap serangan akan ekstensif dan komprehensif.”

Menurutnya, pergerakan militer AS di kawasan menunjukkan kekhawatiran negara arogan ini terhadap pembalasan Iran pada momen peringatan satu tahun terbunuhnya mantan komandan pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Letjen Qassem Soleimani pada tanggal 3 Januari.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan bahwa pergerakan dan beberapa “tindakan keji” AS di kawasan “tidaklah tersembunyi dari penglihatan” Iran.

“Badan-badan keamanan, intelijen, dan militer Iran memantau sepenuhnya pergerakan yang sepintas terselubung di kawasan dan Irak, dan telah disampaikan pesan-pesan secara transparan kepada Washington dan negara-negara kawasan,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Kami melihat peranan anasir dan sekutu Rezim Zionis dalam membangkitkan beberapa ketegangan, terutama di Irak, dan tentu respon kami ialah bahwa kami tidak berupaya di balik ketegangan, namun kami tak ragu sedikitpun dalam membela kemaslahatan nasional dan negeri kami. Kami akan bereaksi dengan sangat tegas.”

Di pihak lain, Penjabat Menteri Pertahanan AS Christopher Miller Senin pagi mengumumkan bahwa kapal induk USS Nimitz, yang semula akan ditarik, akan tetap bertahan di perairan Teluk setelah ada “ancaman” dari pihak Iran.

“Karena ancaman baru-baru ini oleh para pemimpin Iran terhadap Presiden Trump dan pejabat pemerintah AS lainnya, kapal induk Nimitz telah diperintahkan untuk menghentikan pemindahan rutin,” ungkap Miller. (raialyoum)

Iran Tahan Kapal Tanker Korea Selatan, Sebagian Awaknya WNI

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menahan sebuah kapal tanker bernama MT Hankuk Chemi dan berbendera Korea Selatan di Teluk Persia.

Data satelit dari MarineTraffic.com menunjukkan kapal itu ada di lepas pantai Bandar Abbas, Iran selatan, pada Senin sore waktu setempat (4/1), tanpa penjelasan lebih lanjut. Kapal itu telah berlayar dari Arab Saudi ke Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA).

Dalam sebuah pernyataan, IRGC mengumumkan bahwa dalam perjalanan dari pelabuhan Al-Jubail Saudi menuju Korea Selatan, kapal tanker itu dicegat dan digiring oleh  pasukan Iran karena berulang kali melanggar undang-undang lingkungan laut.

Disebutkan bahwa kapal itu membawa 7.200 ton etanol, sementara awak yang ditangkap berasal dari Korea Selatan, Indonesia, Vietnam dan Myanmar.

IRGC menambahkan bahwa papal tanker itu telah berlabuh di Pelabuhan Bandar Abbas, dan kasusnya akan dilimpahkan kepada otoritas penegak hukum.

Jubir Kemenlu Iran Said Khatibzadeh menjelaskan bahwa penahanan kapal Korea Selatan semata karena faktor teknis.

“Keputusan penggiringan kapal ini ke darat dibuat karena adanya pencemaran laut dan adanya perintah pengadilan untuk mengusut pelanggaran ini,” ujarnya kepada wartawan.

Dia menambahkan, “Sebagaimana negara-negara lain di dunia, Iran sensitif terhadap pelanggaran sedemikian rupa, apalagi pencemaran laut, dan memperlakukannya dalam kerangka undang-undang. Sesuai laporan awal dari pihak-pihak setempat, penyebab masalah ini bersifat teknis.” (mn/alalam)

Ansarullah Yaman Sambut Baik Pemulihan Hubungan Saudi-Qatar

Anggota Dewan Tinggi Politik Ansarullah di Yaman,  Mohammad Ali Al-Houthi, menyambut baik pemulihan hubungan antara Arab Saudi dan Qatar.

Dalam rangka ini, Al-Houthi mengucapkan selamat kepada Qatar dan rakyatnya karena blokade terhadap negara ini telah dicabut.

“Kami mengucapkan selamat kepada Qatar dan rakyatnya atas pencabutan blokade, dan kami mengucapkan selamat atas pemulihan hubungan dengan Kerajaan Arab Saudi,” tulis AL-Houthi di halaman Twitter-nya, Senin (4/1).

Dia juga mengungkapkan harapannya agar perkembangan ini akan menjadi awal dari berakhirnya perang dan ketegangan di kawasan, kembalinya kearifan Arab dengan pemupukan rasa persaudaraan, penghentian perang di Yaman serta  pencabutan blokade atas negara ini.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Ahmed Al-Nasser mengumumkan bahwa telah dicapai kesepakatan untuk membuka zona udara serta perbatasan darat dan laut antara Arab Saudi dan Qatar mulai Senin malam.

Al-Nasser juga mengumumkan bahwa Emir Kuwait, Nawaf Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, telah menghubungi Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad, dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, dan dalam kontak telefon ini telah ditegaskan rekonsiliasi Saudi-Qatar dan pembukaan “lembaran cerah”.

Menteri Luar Negeri Kuwait menyebutkan bahwa telah ada persetujuan untuk penanganan semua persoalan yang terkait.

Beberapa media resmi Qatar memberitakan bahwa Tamim bin Hamad Al-Thani selaku ketua delegasi negara ini akan menghadiri Pertemuan Puncak Dewan Kerjasama Teluk (GCC) ke 41 di Saudi pada hari ini, Selasa. (rta)