Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 31 Mei 2022

Jakarta, ICMES. Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin Al-Houhi, menyatakan bahwa agresi kaum Zionis Israel di Quds bertujuan menghancurkan Masjid Al-Aqsa, dan bahwa Yaman adalah bagian dari perimbangan kekuatan resistensi anti-Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, mengutuk aksi terbaru “para rasis Zionis” Israel dalam penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa.

Para pengawas nuklir menyatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya Iran telah meroket, dan bahwa negara republik Islam ini terus meletakkan dasar untuk pengembangan kapasitas produksi bahan bakar nuklirnya secara signifikan.

Ratusan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), termasuk pasukan khusus, Ahad lalu bergerak ke negara Siprus untuk berpartisipasi dalam minggu terakhir latihan militer besar yang berlangsung selama sebulan dan mensimulasikan perang melawan Hizbullah Lebanon.

Berita Selengkapnya:

Al-Houthi: Yaman bagian dari Perimbangan Kekuatan Anti-Israel

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin Al-Houhi, menyatakan bahwa agresi kaum Zionis Israel di Quds bertujuan menghancurkan Masjid Al-Aqsa, dan bahwa Yaman adalah bagian dari perimbangan kekuatan resistensi anti-Israel.

Dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan para delegasi kabilah provinsi Dhamar di Sanaa, Senin (30/5), Sayid Al-Houthi mengatakan bahwa “ bahaya Yahudi Zionis adalah bahaya dan ancaman bagi seluruh umat Islam dan hal-hal yang disucikan oleh umat “ dan “penodaan, penyerbuan dan agresi itu merupakan langkah-langkah pendahuluan untuk mencapai tujuan terbuka mereka dalam penghancuran Masjid Al-Aqsa”.

“Kami umumkan dengan sungguh-sungguh bahwa kami ada dalam perimbangan kekuatan yang diumumkan Sayid Hassan Nasrallah (Sekjen Hizbullah Lebanon), dan kami akan menjadi bagian dari orang-orang yang hadir agar ada posisi perang bagi kami di jalan Allah,” lanjutnya.

Sayid Al-Houthi  juga mengatakan, “Jika umat ini mengabaikan Palestina dan Al-Aqsa maka ini berarti memungkinkan musuh untuk melesatkan kekejian dan konspirasinya terhadap seluruh anak umat ini. Lobi Yahudi memiliki rencana-rencana yang membidik umat Islam bahkan sebelum pendudukan atas Palestina.”

Dia menilai apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa dan Palestina merupakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di lingkungan umat Islam, dan agresi terhadap Yamanpun merupakan agresi yang dilancarkan dalam rangka memperkuat eksistensi Israel dan penyingkiran segala yang menjadi kendala dan rintangan bagi rezim Zionis ini.

“Mengungsai secara penuh dan langsung kekayaan umat Islam adalah tujuan AS dan Israel,” imbuhnya.

Dia menyebutkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi tuan rumah “para penjahat Zionis” atas nama agama dan apa yang disebut konferensi antar-agama, dan bahwa Israel tak berani melancarkan agresi ke Yaman secara langsung karena memang “terlalu lemah untuk dapat melakukannya” dan memandangnya sebagai sebagai “pertaruhan yang berbahaya”.

Pemimpin Ansarulah mengatakan, “Israel mendorong para pecundang munafik agar mengagresi Yaman dengan berbagai label lain dan mengerahkan dana sebesar apapun. Media Saudi dan UEA tampak seperti media Israel seandainya tak berbeda bahasa.”

Dia juga mengatakan, “Dunia akan berhadapan dengan krisis pangan akibat konspirasi AS, Israel dan Barat, mereka mengatur untuk krisis ini, musuh mengatur untuk penghentian ekspor beberapa produknya ke dunia Islam demi menciptakan krisis pangan.” (raialyoum)

Iran Peringatkan “Petualangan Baru” Israel terhadap Palestina

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, Senin (30/5), mengutuk aksi terbaru “para rasis Zionis” Israel dalam penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa.

Sembari memuji ketabahan dan perlawanan rakyat Palestina dan “para  pembela al-Quds”, pejabat Iran itu memperingatkan rezim Zionis atas “petualangan baru dan tindakan provokatifnya”.

Khatibzadeh juga menyebutkan bahwa pembebasan al-Quds dari pendudukan dan agresi Israel tetap menjadi “prioritas pertama” Dunia Islam.

“Semua orang yang mencari kebebasan di dunia, terutama orang-orang dan negara-negara Muslim, berkewajiban untuk bersatu bertindak menuju pertahanan Masjid al-Aqsha dan konfrontasi melawan rezim apartheid Zionis,” tegasnya.

Khatibzadeh berharap Poros Perlawanan regional tak akan gagal dalam mempertahankan Masjid al-Aqsa dan menghadapi “aksi teror rezim palsu Israel.”

Dia meminta otoritas dan organisasi internasional untuk bertindak sesuai kewajiban hukum mereka dengan mencegah “serangan penjajah Zionis terhadap rakyat Palestina yang tak berdaya”.

Puluhan ribu pendatang Zionis Israel menggelar Pawai Bendera tahunan mereka pada Ahad lalu dengan berkumpul di jalan utama di Kota Lama Quds Timur, mengibarkan bendera Israel dan meneriakkan slogan-slogan provokatif.

Di bawah perlindungan maksimal dari pasukan rezim, massa Zionis memaksa masuk ke komplek Masjid al-Aqsha dan melakukan ritual keagamaan di sana, meskipun ada kesepakatan yang melarang ibadah non-Muslim di situs tersebut.

Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, setidaknya 145 warga Palestina terluka akibat bentrokan mereka dengan pasukan dan massa Zionis di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat, termasuk al-Quds Timur, tempat para ekstremis Israel melakukan pawai kontroversial. Setidaknya 18 orang di antara para korban luka itu menjadi sasaran tembakan langsung pasukan Israel. (fna)

Badan Pengawas PBB: Iran Sudah Punya Uranium Cukup Untuk Membuat Bom Nuklir

Para pengawas nuklir menyatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya Iran telah meroket, dan bahwa negara republik Islam ini terus meletakkan dasar untuk pengembangan kapasitas produksi bahan bakar nuklirnya secara signifikan.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA)  menyatakan Iran sekarang hampir mengatasi hambatan penting dalam produksi bahan untuk membuat senjata nuklir.

Iran sekarang memiliki sekitar 43 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, kenaikan sekitar 10 kilogram sejak Maret, ungkap IAEA dalam laporan triwulanan yang didapat oleh Wall Street Journal, Reuters, dan AFP Senin (31/5).

Mengutip pernyataan sumber diplomatik, Reuter melaporkan bahwa angka tersebut melampaui jumlah uranium yang dianggap IAEA cukup secara teori untuk membuat alat peledak,  meskipun di dunia nyata, beberapa bahan akan hilang karena semakin diperkaya.

Untuk mencapai tingkat senjata, bahan tersebut harus mencapai setidaknya 90% pengayaan,yang berarti 90% uranium termasuk dalam isotop langka dan lebih fisil yang disebut uranium-235, tapi prosesnya menjadi lebih mudah seiring dengan meningkatnya tingkat pengayaan.

Iran sudah lama dan berulangkali menegaskan program nuklirnya bertujuan damai

Menurut beberapa pemberitaan, sebuah laporan terpisah IAEA pada Senin menyebutkan bahwa para pejabat Iran belum memberikan jawaban yang “secara teknis kredibel” atas pertanyaan lama tentang mengapa bahan nuklir lama ditemukan di beberapa lokasi di Iran. (raialyoum)

Pasukan Khusus Israel Bergerak ke Siprus untuk Berlatih Perang Melawan Hizbullah dan Iran

Ratusan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), termasuk pasukan khusus, Ahad lalu bergerak ke negara Siprus untuk berpartisipasi dalam minggu terakhir latihan militer besar yang berlangsung selama sebulan dan mensimulasikan perang melawan Hizbullah Lebanon.

Menurut IDF, latihan bersama dengan militer Siprus itu ditujukan untuk “meningkatkan kesiapan pasukan dan kompetensi mereka dalam misi operasional jauh di wilayah musuh,” mengacu pada Lebanon.

Militer Israel itu mengatakan bahwa pasukan wajib militer dan pasukan cadangan dari Divisi Penerjun Payung ke-98, bersama dengan unit angkatan udara dan pasukan khusus lainnya seerti unit elit angkatan laut Shayetet 13  akan berpartisipasi dalam latihan di Siprus.

Latihan perang itu antara lain akan mensimulasikan evakuasi pasukan yang terluka dengan helikopter, dan menjatuhkan peralatan logistik dengan skuadron transportasi berat.

IDF mengatakan latihan itu akan dilakukan di berbagai medan, termasuk daerah perkotaan dan pedesaan di daerah pegunungan, yang menyerupai Lebanon.

Pada minggu terakhir latihan besar bersandi “ Chariots of Fire ” itu Angkatan Udara di atas Laut Mediterania akan mensimulasikan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran.

Latihan yang dijadwalkan berlangsung hingga 3 Juni itu merupakan latihan militer terbesar dalam beberapa dekade.

Para pejabat militer mengatakan latihan itu bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan pasukan dan petinggi untuk perang di berbagai bidang, serta koordinasi dengan organisasi darurat lainnya, otoritas lokal, dan kementerian. (raialyoum)