Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 31 Desember 2019

IRGCJakarta, ICMES. Pemerintah Irak mengecam keras serangan udara AS terhadap pangkalan-pangkalan kelompok pejuang Brigade Hizbullah Irak di perbatasan Irak-Suriah yang menewaskan sedikitnya 25 orang.

Para tokoh dan masyarakat di Irak, termasuk ulama terkemukanya, Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani, juga mengutuk serangan brutal AS tersebut.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut serangan itu sebagai bukti baru bahwa AS merupakan penyebab utama kekacauan dan ketegangan serta pembangkit konfrontasi di kawasan.

Berita selengkapnya:

Buntut Serangan Terhadap Relawan, Pemerintah Irak Ancam Revisi Hubungan dengan AS

Pemerintah Irak mengecam keras serangan udara AS terhadap pangkalan-pangkalan kelompok pejuang Brigade Hizbullah Irak di perbatasan Irak-Suriah yang menewaskan sedikitnya 25 orang (sebelumnya dilaporkan 15 orang) pada Ahad malam lalu.

Pemerintah Irak menegaskan bahwa serangan ini mendorong Baghdad untuk mempertimbangkan kembali hubungannya dengan Washington.

Hal ini dinyatakan dalam statemen dewan kabinet keamanan keamanan nasional Irak yang menggelar rapat darurat menyusul peristiwa serangan terhadap kelompok pejuang yang bersekutu dengan Iran tersebut. Mereka mengadakan rapat untuk mempelajari dampak buruk serangan ini.

“Pasukan AS mengandalkan kesimpulan-kesimpulan dan prioritas politiknya sendiri, bukan prioritas yang dilihat oleh pemerintah dan rakyat Irak… Melindungi Irak beserta semua kamp dan pasukan yang ada di dalamnya, begitu pula perwakilan negara asing, adalah tanggungjawab pasukan keamanan Irak semata,” bunyi statamen yang dirilis Senin (30/12/2019).

Sebelumnya, Washington menyatakan bahwa serangan itu dilancarkan demi menghentikan serangan roket yang sudah 11 kali terjadi dalam dua bulan terakhir dengan sasaran pasukan dan para diplomatnya.

Statemen dewan kabinet Irak menambahkan, “Serangan berlumur dosa yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip pembentukan aliansi internasional ini mendorong Irak untuk merevisi hubungan, dan membuatnya menempuh tindakan keamanan, politik, dan hukum yang sekiranya menjaga kedaulatan negara dan keamanannya, melindungi jiwa anak-anak bangsanya, dan memperkuat kepentingan bersama.”

Serangan itu juga membangkitkan gelombang protes dari berbagai kalangan di Negeri 1001 Malam tersebut. (raialyoum)

Puluhan Relawan Gugur, Irak Dilanda Gejolak Anti-AS

Para tokoh dan masyarakat di Irak, termasuk ulama terkemukanya, Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani, mengutuk serangan brutal AS terhadap kelompok relawan Brigade Hizbullah Irak yang menggugurkan sedikitnya 25 orang.

Kantor Ayatullah al-Sistani, Senin (30/12/2019), merilis pernyataan yang mengutuk serangan itu sembari menyebut pemerintah Irak sebagai satu-satunya pihak yang berwenang menangani masalah ini dan mendesaknya agar menempuh tindakan yang memadai supaya peristiwa demikian tidak terulang lagi.

Sayid al-Sistani menegaskan “keharusan menghormati kedaulatan Irak dan tidak adanya pelanggaran terhadapnya meski dengan dalih bereaksi terhadap aksi-aksi ilegal sebagian pihak.”

Dia menyerukan kepada pemerintah Irak untuk mencegah upaya dan tindakan yang menjadikan negara ini sebagai ajang konflik regional dan internasional serta intervensi negara lain terhadap urusan internal Irak.

Serangan AS terhadap Hizbullah Irak juga membangkitkan gelombang unjuk rasa protes anti AS di Irak, yang juga dilanda protes anti-pemerintah sejak sekian bulan lalu.

Kota-kota Najaf dan Basrah di selatan dan Kirkuk di bagian tengah Irak menjadi ajang unjuk rasa yang diwarnai aksi pembakaran bendera AS, Senin.

Laporan terbaru dari kelompok relawan besar Irak al-Hashd al-Shaabi menyebutkan bahwa korban gugur akibat “serangan brutal terhadap markas-markas Brigade 45 dan 46” mencapai 25 orang, sedangkan korban luka 51 orang.

Menurut milisi yang andil besar dalam penumpasan ISIS di Irak ini, jumlah korban gugur bertambah karena beberapa orang menderita luka parah dan kritis akibat serangan AS yang menyasar beberapa fasilitas Brigade Hizbullah dekat kota Al-Qaim di perbatasan Irak-Suriah.

Kelompok Sadr juga angkat bicara mengutuk serangan tersebut, dan bahkan menyatakan kesiapannya bekerjasama dengan para lawan politiknya yang dekat dengan Iran untuk bersama-sama mengusir serdadu AS dari Irak.

Kelompok ini menyerukan kepada mereka “kerjasama dan penyatuan barisan demi mengusir pasukan AS melalui jalur-jalur politik dan hukum secepatnya. Jika pasukan AS tidak menarik diri maka kita akan melakukan tindakan lain bersama kalian.”

Di Irak terdapat sekira 5000 personil tentara AS yang menempati pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru Irak dengan kedok aliansi internasional anti-ISIS.

Departemen Pertahanan AS Minggu lalu menyebut serangan itu dilakukan sebagai reaksi terhadap serangan-serangan roket Brigade Hizbullah di sebuah pangkalan-pengkalan militer Irak yang menampung tentara dan diplomat Amerika.

Serangan roket terbaru di antaranya terjadi empat hari lalu yang menarget pangkalan “K-1” di Kirkuk dan menewaskan seorang kontraktor AS serta melukai seorang warga sipil AS, empat personel sektor jasa AS, dan dua pasukan keamanan Irak.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut serangan terhadap pangkalan Brigade Hizbullah yang pro-Iran di Irak dan Suriah itu “berhasil”. Dia juga bersumbar bahwa serangan serupa masih akan dilakukan oleh AS “jika perlu untuk bertindak dalam membela diri dan menghalangi milisi atau Iran” dari melakukan serangan.

Para pejabat AS menuduh Iran berada di balik serangan-serangan roket tersebut, namun Iran membantahnya. (raialyoum/alalam)

IRGC Kutuk Serangan di Irak, AS Nyatakan Tak Bermaksud Tingkatkan Ketegangan dengan Iran

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengutuk serangan AS terhadap markas Brigade Hizbullah Irak yang merupakan bagian dari komponen pasukan relawan besar al-Hashd al-Shaabi.

IRGC menegaskan bahwa rakyat dan para pejuang Irak berhak membalas serangan brutal yang menggugurkan 25 pejuang Irak di wilayah perbatasan Irak-Suriah tersebut.

“Serangan udara yang dilancarkan para teroris agresor AS terhadap pangkalan-pangkalan al-Hashd al-Shaabi dan menjatuhkan beberapa korban gugur dan luka di antara para pejuang muqawamah (resistensi) dan relawan di Irak merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional negara ini,” ungkap IRGC dalam statemennya yang dirilis, Senin (30/12/2019).

IRGC menambahkan, “Serangan ini merupakan satu bukti baru bahwa AS merupakan penyebab utama kekacauan dan ketegangan serta pembangkit konfrontasi di kawasan.”

IRGC juga mengingatkan kepada Israel untuk tidak bersuka cita atas serangan AS tersebut.

“Rezim imitasi Zionis dan pembunuh anak-anak kecil tak usah bergembira atas ulah Setan Besar (AS) dan para teroris AS karena umat Islam menghargai anak-anak bangsanya di front resistensi, dan akan memperluas skala kemarahan dan tekad sucinya dalam menghadapi para Zionis penjajah Tanah Suci Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem)”, pungkas IRGC.

Di pihak lain, seorang pejabat senior AS di hari yang sama menyatakan Washington tidak bermaksud meningkatkan konflik dengan Iran dalam peristiwa serangan yang terjadi pada Minggu malam lalu tersebut.

Asisten Menteri Luar Negeri AS David Schenker mengatakan serangan itu merupakan pesan bagi Iran setelah sekian bulan “pengekangan” oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Schenker mengatakan serangan itu merupakan balasan atas tewasnya seorang kontraktor sipil AS di Kirkuk akibat serangan roket Brigade Hizbullah yang pro-Iran pada Jumat lalu.

“Kami telah melihat penting pencapaian target besar untuk mengirim pesan yang sangat jelas kepada mereka (Iran) bahwa kami serius memandang nyawa orang Amerika… Itu adalah respon serius, tapi kami percaya, tepat,” katanya. (alalam/raialyoum)