Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 29 Juni 2021

drone gaza IranJakarta, ICMES. Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami mengklaim bahwa negaranya memiliki drone berjarak tempuh 7000 kilometer.

Faksi-faksi pejuang Irak bersumpah akan membalas serangan tentara AS terhadap beberapa posisi pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi di perbatasan Irak-Suriah yang menyebabkan sejumlah relawan gugur.

Pemerintah Iran mengutuk serangan udara sengit pasukan AS terhadap pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi dan menilainya sebagai pertanda bahwa AS di bawah kepresidenan Joe Biden masih melanjutkan “jalan yang salah dan menimbulkan krisis” sebagaimana di masa kepresidenan Donald Trump.

Berita Selengkapnya:

Heboh Klaim Iran Miliki Drone Berjarak Tempuh 7000 Kilometer

Militer Iran kembali mengejutkan dunia dengan perkembangannya yang pesat di bidang alutsista, termasuk pesawat nirawak atau drone.

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami dalam kata sambutannya pada acara peluncuran satu lagi vaksin Covid-19  yang dinamai “Noura” buatan Iran pada Ahad lalu (27/6) mengklaim bahwa negaranya memiliki drone berjarak tempuh 7000 kilometer.

Klaim ini tak pelak menghebohkan publik Iran sebelum kemudian khalayak regional dan dunia sehingga Senin kemarin berbagai media regional Timteng dan dunia, termasuk Aljazeera, Al-Arabiya Reuters dan AFP, memberitakannya, dan dikutip oleh pula berbagai media Indonesia, termasuk Tempo, Berita Satu, Sindonews dan CNBC Indonesia.

Menurut kantor berita Tasnim milik Iran, klaim itu dinyatakan oleh Salami ketika dia menyebutkan berbagai prestasi Iran di bidang sains dan teknologi, termasuk kedirgantaraan.

“Kita sekarang memiliki pesawat-pesawat nirawak berukuran besar yang dapat terbang sejarak 7000 kilometer serta dapat kembali (mendarat ke tempat semula – red.) ataupun mendarat di titik manapun yang ia inginkan,” ujarnya.

Sebelum itu, Iran sudah membuat berbagai jenis drone supercanggih, termasuk tipe Shahed 171 yang merupakan duplikat drone jenis RQ-170 berjarak tempuh 4400 kilometer. Iran pernah membajak dan menangkap drone siluman AS itu dan kemudian membuat tiruannya sehingga Shahed 171 menjadi drone Iran yang paling jauh jarak jangkaunya.

Kemudian, pada Mei lalu Iran juga telah meluncurkan drone berukuran besar yang dinamai “Gaza” alias Shahed 149 dengan ukuran yang lebih besar dari drone sejenis pendahulunya, Shahed 129. Drone Gaza menggunakan mesin turboprop, dan berkemampuan lebih besar dalam membawa amunisi. Meski tak secara resmi disebutkan berapa jarak tempuhnya, tapi drone Gaza diperkirakan berkemampuan menjelajah lebih jauh daripada semua drone lain yang dimiliki IRGC, karena menggunakan mesin turboprop.

Mengenai drone terbaru yang diklaim Jenderal Salami pada Ahad lalu, Tasnim menyebutkan bahwa poin terpenting dalam pernyataan Salami ialah kemampuan drone berjarak jangkau 7000 kilometer itu mendarat di manapun yang dikehendaki. Karena drone ini kemungkinan didukung dengan sistem auto take off –land (lepas landas-darat otomatis) serta dapat melanjutkan misinya tanpa harus kembali ke pangkalan asal.

Tasnim menjelaskan bahwa jika drone itu memutuskan untuk kembali ke pangkalan asal setelah menunaikan misinya maka separuh jangkauan operasionalnya akan terpakai dalam perjalanan pulang, dan dengan demikian radius operasionalnya berkurang separuh.

Namun, dengan dilengkapi sistem auto take off –land maka radius operasionalnya bertambah dan dapat mendarat di pangkalan lain setelah terbang dari pangkalan asal, dan dengan demikian bertambahlah kemampuan operasional drone berjarak tempuh 7000 kilometer tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, militer Iran, terutama Pasukan Dirgantara IRGC, telah berinvestasi secara besar-besaran di bidang drone hingga dalam waktu relatif singkat menghasilkan berbagai prestasi yang mencengangkan.

Para sekutu Iran di kawasan Timteng turut menikmati hasil jerih payah Iran itu, terutama berupa pesawat-pesawat nirawak kamikaze yang mereka gunakan untuk memperkuat pertahanan.

Pesatnya kemajuan Iran di bidang drone bahkan membuat para petinggi militer AS mengakui bahwa Iran telah meruntuhkan supremasi AS di angkasa Timteng serta menambah kecemasan militer AS terhadap serangan drone-drone kamikaze yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan bahkan menerjang radar sistem rudal Patriot yang ditempatkan AS di Pangkalan Udara Ain Al-Assad serta sarang CIA di Arbil. (tasnim)

Pasukan Relawan Irak Bersumpah akan Membalas Serangan Udara AS

Faksi-faksi pejuang Irak bersumpah akan membalas serangan tentara AS terhadap beberapa posisi pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi di perbatasan Irak-Suriah yang menyebabkan sejumlah relawan gugur.

Dalam sebuah statemennya yang dirilis Senin (28/6), Al-Hashd Al-Shaabi menjelaskan bahwa pada dini hari Senin pukul 02.00 jet tempur AS telah menyerang tiga posisi Brigade 14 dan 46 Al-Hashd Al-Shaabi di distrik Qaim, provinsi Anbar, pada lokasi yang berjarak 13 kilometer dari perbatasan Irak-Suriah.

Menurut statemen ini, serangan udara itu mengugurkan empat relawan yang sedang menunaikan misinya mencegah masuknya kawanan teroris ISIS dari Suriah ke Irak.

“Kami mempertahankan hak kami yang sah untuk membalas agresi ini dan menghukum para pelakunya di tanah Irak,” tegas Al-Hashd Al-Shaabi.

Kelompok pejuang yang sangat berjasa menumpas ISIS di Irak ini menyebutkan bahwa serangan AS itu bertujuan menguatakan kelompok-kelompok teroris dan melemahkan tentara dan relawan Irak yang AS sendiri dan negara-negara dunia lainnya menyaksikan bagaimana tentara dan relawan itu telah berjuang dengan segenap jiwa dan raga “menumpas teroris dan menjauhkan seluruh dunia dari bahaya dan keburukannya”.

Al-Hashd Al-Shaabi menilai serangan itu melanggar kedaulatan Irak, terlebih setelah pasukan relawan ini menggelar parade akbar di Baghdad, ibu kota Irak, dalam rangka memperingati hari jadi pasukan ini dan ketika sehari sebelumnya berlangsung pertemuan puncak segi tiga Arab di Baghdad.

Karena itu, Al-Hashd Al-Shaabi, menyerukan kepada pemerintah Irak agar memperkuat tekadnya untuk mengusir pasukan asing dari Irak demi menegakkan kedaulatan penuh negara ini.

Panglima Angkata Bersenjata Irak Brigjen Yahya Rasool mengutuk serangan udara tersebut dan menilainya sebagai “pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan nasional nasional Irak berdasarkan semua konvensi internasional”.

Dia memastikan bahwa Irak akan menyelidiki peristiwa ini dan melakukan komunikasi yang diperlukan di berbagai level untuk “mencegah terjadinya lagi pelanggaran seperti ini”.

Faksi-faksi militan bersenjata Irak melalui statemen Dewan Koordinasi Resistensi Irak bersumpah akan membalas serangan udara AS tersebut. Dewan ini mencakup faksi-faksi pejuang Irak yang didukung Iran, termasuk Brigade Hizbullah Irak, Ashaib Ahl Haq, Kataib Sayyid Al-Syuhada dan Harakah Al-Nujaba.

“Kami di Dewan Koordinasi Resistensi Irak akan membalas darah para syuhada mulia kami terhadap para pelaku kejahatan keji ini. Dengan pertolongan Allah, kami akan menimpakan kepada musuh pahitnya pembalasan,” tegas mereka.

Anggota parlemen Irak, Ahmad Al-Asadi, dalam siaran persnya memperingatkan bahwa darah para syuhada yang gugur akibat serangan udara AS dapat berubah menjadi amarah besar bangsa Irak terhadap pasukan agresor. (raialyoum)

Iran Sebut Serangan AS di Irak akan Rugikan AS Sendiri

Pemerintah Iran mengutuk serangan udara sengit pasukan AS terhadap pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi yang terjadi dini hari Senin (27/6) dan menilainya sebagai pertanda bahwa AS di bawah kepresidenan Joe Biden masih melanjutkan “jalan yang salah dan menimbulkan krisis” sebagaimana di masa kepresidenan Donald Trump.

Juru bicara Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh, Senin, mengatakan, “AS melanjutkan jalannya yang salah di kawasan, dan perilaku regionalnya itu adalah kelanjutan dari kebijakan dan warisan AS yang gagal di kawasan.”

Dia mengimbau Washington agar “memperbaiki jalannya daripada menciptakan krisis dan problema bagi bangsa-bangsa kawasan, dan membiarkan bangsa-bangsa ini menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan AS”.

Seperti diberitakan sebelumnya, serangan udara AS pada dini hari Senin ke posisi-posisi Al-Hashd Al-Shaabi di dekat perbatasan Irak-Suriah telah menggugurkan empat orang relawan. Serangan itu diinstruksikan oleh Joe Biden sehari sebelumnya.

Khatibzadeh juga memastikan bahwa serangan itu akan merugikan kepentingan AS sendiri karena akan memperbesar perlawanan bangsa Irak. (raialyoum)