Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 29 Januari 2019

iran IRGCJakarta, ICMES: Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran Brigjen Hossein Salami menegaskan Israel akan musnah jika memulai perang lagi.

Relawan Al-Hashd al-Shaabi menyatakan sudah menyelesaikan semua persiapan untuk menyebrang ke wilayah Suriah demi membebaskan kawasan perbatasan dari keberadaan teroris ISIS.

Pemimpin gerakan Asaib Ahl al-Haq di Irak mengaku berharap di parlemen Irak bulan depan akan dilakukan pemungutan suara untuk pengeluaran tentara Amerika Serikat dari Irak.

Rusia memperingatkan kemungkinan Pasukan Arab Suriah  akan segera melancarkan serangan besar-besaran ke provinsi Idlib yang dikuasai oleh kelompok oposisi dan teroris.

Berita selengkapnya:

Komandan IRGC: Israel Akan Musnah Jika Memulai Perang Lagi

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran Brigjen Hossein Salami menegaskan bahwa Israel akan musnah dan wilayah pendudukan Palestina akan kembali ke tangan penduduknya jika rezim Zionis itu memulai perang lagi.

Peringatan terhadap Israel itu dinyatakan Salami kepada wartawan di Teheran, Senin (28/1/2019), saat ditanya mengenai ancaman Israel untuk menyerang posisi-posisi Iran di Suriah.

“Kami mengumumkan bahwa jika Israel melakukan tindakan apa pun untuk memulai perang lagi maka, tanpa ragu, perang ini akan menjadi perang yang sama, yang akan berakhir dengan kemusnahannya, wilayah pendudukan akan diambil kembali, dan orang-orang Israel bahkan tidak akan menemukan kuburan di Palestina untuk mengubur jenazah mereka, ” tegas Salami.

Dia juga mengatakan, “Strategi kami ialah pemusnahan entitas Zionis dari peta dunia, dan entitas ini tampak sedang menghadapkan dirinya pada kondisi demikian dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya.”

Ancaman keras perwira tinggi IRGC ini dilontarkan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu memperingatkan bahwa Iran akan menerima konsekuensi ancamannya terhadap Tel Aviv.

Dalam pidatonya di depan umum pada 21 Januari, Netanyahu mengatakan bahwa Israel “bertindak melawan Iran dan pasukan Suriah yang membantu agresi Iran… Siapa pun yang mengancam untuk menghancurkan kita akan memikul tanggung jawab penuh.”

Salami mengatakan bahwa Iran sedang berjuang melawan kekuatan besar dunia yang berkonsentrasi pada upaya mengalahkan Iran.

Dia memastikan bahwa Iran tidak memiliki “kehadiran fisik langsung” di kawasan, “sementara ada kekuatan besar yang hadir di seluruh kawasan, mengejar tujuan, dan mengadopsi pendekatan yang mirip dengan yang ada di Iran.”

Salami juga menekankan bahwa AS telah mengenyam pahitnya kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya meskipun pengeluaran politik dan militernya sangat besar, dan bahwa AS akan menghadapi kemunduran yang sama di masa mendatang. (alalam/presstv)

Gerakan Asaib Ahl al-Haq Irak: AS Akan Keluar Dari Irak, Dengan Sukarela Ataupun Dipaksa

Pemimpin gerakan Asaib Ahl al-Haq di Irak, Qais Khazali, mengaku berharap di parlemen Irak bulan depan akan dilakukan pemungutan suara untuk mendesak Amerika Serikat (AS) agar menarik pasukannya dari Negeri 1001 Malam ini. Dia menilai tidak tertutup kemungkinan pasukan itu akan diusir dengan cara paksa.

“Tidak ada lagi dasar bagi keberadaan ribuan tentara AS di Irak setelah kekalahan ISIS,” kata Khazali, yang gerakannya merupakan salah satu elemen utama kelompok relawan besar Irak al-Hash al-Shaabi, dalam wawancara dengan Associated Press di Baghdad, Senin (28/1/2019).

Dia juga menekankan bahwa pasukan AS bisa jadi akan diusir paksa jika mereka tidak menggubris aspirasi rakyat Irak.

Dia menyoal, “Jika tujuan terpenting kehadiran mereka di sini adalah untuk menghadapi ancaman militer yang ditimbulkan oleh ISIS maka bahaya ini sudah musnah. Dalam kondisi demikian lantas apa sekarang apa dasar keberadaan pasukan ini?”

Khazali menjelaskan bahwa keberadaan sejumlah kecil penasihat dan pelatih militer AS di Irak masih berkemungkinan untuk melakukan tugas-tugas logistik, namun, jumlah dan lokasi penempatan mereka harus ditentukan oleh komite bersama, dan setiap kehadiran di luar lingkup ini akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan oleh parlemen, rakyat dan faksi-faksi politik,  termasuk Asaib Ahl al-Haq.

Mengenai keadaan di parlemen tentang masalah ini dia mengatakan, “Saya kira lebih dari separuh anggota Dewan pada dasarnya menolak kehadiran militer AS. Jika AS ingin memaksakan kehadirannya dengan paksa sambil mengabaikan konstitusi negara dan keputusan parlemen maka  Irak mungkin akan menghadapinya dengan cara yang sama, mengusir mereka dengan paksa, tapi tahap pertama adalah politik.”

Khazali, yang gerakannya didukung oleh  Iran juga menyinggung isu serangan Israel terhadap sasaran-sasaran Iran di Suriah. Dia mengatakan bahwa Tel Aviv dan Teheran tampak sedang menuju ke sebuah konfrontasi yang dapat berubah menjadi perang regional.

“Jika Israel menargetkan sasaran di Irak, dengan dalih apa pun, negara kita sebagai negara berdaulat akan membela diri, dan respon kita terhadap serangan Israel tidak terbatas,” tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa Irak tidak akan melakukan intervensi dalam konflik antara kedua kekuatan itu kecuali jika secara langsung diserang oleh Israel.

“Jika Tel Aviv menyerang Libanon atau Suriah dan keduanya meminta bantuan kepada Irak maka saya pribadi akan menjadi orang pertama yang merespon,” lanjutnya.

Khazali pernah ditahan oleh pasukan AS dan Inggris pada kurun waktu antara tahun 2007 dan 2010, dan beberapa tahun kemudian gerakannya ikut andil dalam penumpasan ISIS di Suriah dan Irak.

Pada akhir 2017 Khazali mengunjungi kawasan perbatasan Lebanon-Israel bersama anggota Hizbullah, dan menyatakan solidaritasnya dengan Lebanon dan Palestina di depan Israel.

Dalam pemilihan umum terbaru di Irak Asaib Ahl al-Haq telah mencetak kemajuan besar yang membuat Khazali sekarang memimpin sebuah faksi parlemen yang terdiri atas 15 wakil rakyat. (rt)

Pasukan Relawan Irak Bersiap Menumpas Sisa ISIS Di Wilayah Suriah

Komandan pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi untuk poros barat provinsi Anbar, Qasim Musleh, menyatakan pihaknya sudah menyelesaikan semua persiapan untuk menyebrang ke wilayah Suriah demi membebaskan kawasan perbatasan dari keberadaan sisa-sisa kawanan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Pasukan al-Hashd al-Shaabi yang dikerahkan di sepanjang perbatasan dengan Suriah telah menyelesaikan semua persiapannya untuk menyerbu daerah-daerah konsentrasi ISIS di kedalaman wilayah Suriah dekat perbatasan dengan Irak, dan membebaskannya dari para penjahat ISIS demi mencegah terjadinya segala bentuk pelanggaran keamanan,” ujar Musleh, Senin (28/1/2019).

Dia menambahkan, “Al-Hashd al-Shaabi sedang menunggu perintah dari atasan untuk menyerbu  daerah-daerah konsentrasi ISIS di kedalaman Suriah setelah mengepung semua kawasan gurun yang membentang dari wilayah Irak menuju garis perbatasan dengan Suriah.”

Musleh juga mengatakan, “Penyerbuan ke lokasi-lokasi  ini bertujuan mengamankan garis perbatasan dengan Suriah dan membasmi kelompok-kelompok teroris yang mengancam keamanan dan stabilitas bagian barat provinsi ini  dan provinsi-provinsi lain di Irak.”

Dia kemudian menekankan bahwa pemerintah Irak menjalin koordinasi tingkat tinggi dengan pihak Suriah dalam proses pengamanan perbatasan antara kedua negara  dan pembasmian kawanan teroris ISIS. (alalam)

Rusia Peringatkan Kemungkinan Serangan SAA Ke Idlib Dalam Waktu Dekat

Menteri luar negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan kemungkinan Pasukan Arab Suriah (SAA) segera melancarkan serangan besar-besaran ke provinsi Idlib yang dikuasai oleh kelompok oposisi dan teroris.

Lavrov, Senin 28/1/2019),  mengatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati pemerintah Suriah yang bersekutu dengan Rusia di satu pihak dan kubu pemberontak yang didukung Turki di pihak lain telah secara efektif berakhir akibat dominasi Idlib oleh kelompok teroris Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang semula bernama Jabhat al-Nusra dan berafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda.

HTS dinyatakan Moskow tidak tercakup dalam perjanjian gencatan senjata yang disepakati dengan Turki tahun lalu.

“Sarang teroris masih ada di Idlib adalah fakta, dan para sejawat Suriah kami telah mengkonfirmasi kesiapan mereka untuk menghilangkan hotspot teroris ini,” kata Lavrov, menurut media Rusia.

Dia menambahkan, “Fakta bahwa Nusra dan reinkarnasinya, Tahrir al-Sham, pada kenyataannya telah mengambil alih sebagian besar wilayah di sana, dan ini tentu saja tidak sesuai dengan perjanjian yang dicapai dalam masalah keamanan Idlib.” (alaraby)