Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 28 Januari 2020

pesawat militer AS tertembak di afghanistanJakarta, ICMES. . Pesawat militer AS terjatuh di Afghanistan timur hingga menyebabkan semua tentara AS yang ada di dalamnya, termasuk perwira tingggi, tewas.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC/Pasdaran) membalas ancaman AS terkait pembunuhan perwira militer.

Rakyat meluapkan kemarahannya atas prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinamai “Deal of The Century” (Perjanjian Abad Ini).

Berita selengkapnya:

Pesawat Militer AS Jatuh di Afghanistan, Taliban Mengaku Menambaknya

Pesawat militer AS terjatuh di Afghanistan timur hingga menyebabkan semua tentara AS yang ada di dalamnya, termasuk perwira tingggi, tewas, Senin (27/1/2020).

Juru bicara kelompok militan Taliban mengaku telah menembak pesawat itu di atas wilayah yang mereka kuasai di dekat kota Ghazni,  namun militer AS yang mengkonfirmasi jatuhnya pesawat itu mengklaim “tidak ada indikasi kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh”.

Pesawat pembom E-11A milik AS itu terjatuh pada Senin sore. Otoritas Afghanistan semula mengiranya pesawat penumpang, tapi sebuah penggalan video yang disebutkan sebagai rekaman bangkai dan serpihan pesawat itu segera beredar di media sosial dan terlihat dalam video itu simbol angkatan udara AS pada bangkai pesawat yang hangus.

“Sementara penyebab kecelakaan sedang diselidiki, tidak ada indikasi bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh… Taliban mengklaim bahwa pesawat tambahan yang jatuh adalah palsu,” tulis juru bicara militer AS Kol. Sonny Leggett di Afghanistan di Twitter.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid,  dalam sebuah pernyataan yang diposting online menyatakan, “Sebuah pesawat penyerbu milik pasukan pendudukan (AS) telah ditembak jatuh. Banyak perwira yang terbunuh. ” Menurutnya, di dalam pesawat itu juga terdapat perwira tinggi CIA.

Dalam komentar terpisah, Mujahid mengatakan kepada Guardian bahwa penembakan yang diklaim terhadap pesawat itu “tidak berdampak” pada negosiasi atas penarikan AS dari Afghanistan.

“Belum ada kesepakatan yang tercapai, dan orang Amerika juga masih melanjutkan serangan mereka,” ujarnya.

Tariq Ghazniwal, seorang jurnalis lokal, mengaku melihat dua mayat dalam insiden tersebut, tetapi yang lain mencatat total lima mayat. (guardian/time)

IRGC Balik Mengancam akan Menyerang Para Perwira Tinggi AS

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC/Pasdaran) membalas ancaman AS terkait pembunuhan perwira militer.

Panglima IRGC Mayjen Hossein Salami dalam pidato di depan para komandan pasukan relawan Iran, Basij, Senin (27/1/2020), bersumbar bahwa tidak akan ada komandan militer AS yang aman di bagian dunia mana pun jika AS terus mengancam para komandan Iran.

Salami bersumbar demikian setelah seorang pejabat AS belum lama ini melontarkan pernyataan bernada ancaman bahwa AS masih akan membunuh komandan militer Iran setelah membunuh mantan komandan Pasukan Quds IRGC, Letjen Qassem Soleimani, pada 3 Januari lalu.

Dalam wawancara dengan surat kabar Saudi Asharq al-Awsat di sela-sela konferensi Forum Ekononomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, perwakilan khusus AS untuk Iran Brian Hook menyatakan bahwa komandan Pasukan Quds IRGC sekarang, Brigen Esmail Qaani, akan bernasib seperti Soleimani, jika dia mengikuti jejak pendahulunya itu.

“Jika dia mengikuti jalan yang sama untuk membunuh orang Amerika, maka dia akan menemui nasib yang sama,” ujar Hook.

Menanggapi ancaman ini, Salami balik mengancam, “Maksud saya, jika mereka mengancam para komandan kita dengan teror atau menerapkan ancaman mereka, maka nyawa para komandan mereka tidak akan aman.”

Salami memastikan bahwa musuh-musuh Iran sudah mengalami sebagian “konsekuensi menyakitkan” dari pembunuhan Soleimani sehingga menyadari bahwa mereka akan menerima pukulan “menghancurkan dan terus menerus” jika mereka mengulangi aksi demikian.

“Jika mereka melanjutkan permainan ini maka respons kita akan sangat berbeda dengan sebelumnya, dan skalanyapun juga akan berbeda. Mereka akan menghadapi kondisi baru di mana mereka tidak akan dapat mengelola dan mengendalikan,” imbuhnya.

Panglima IRGC menyatakan bahwa musuh-musuh Iran selalu menggunakan terorisme dan pembunuhan sebagai senjata .

Dia juga mengatakan, “Alasan lain mengapa mereka mengancam dengan terorisme adalah sifat dari rezim semacam itu. Rezim Amerika, rezim Zionis dan rezim-rezim yang merupakan sekutu mereka dan bergantung pada mereka, pada dasarnya adalah rezim teroris, dan mereka sekarang menunjukkan kenyataan ini dengan jelas.” (presstv)

Rakyat Palestina Luapkan Kemarahan terhadap “Perjanjian Abad Ini”

Orang-orang Palestina meluapkan kemarahannya atas prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinamai “Deal of The Century” (Perjanjian Abad Ini) dan dimaksudkan untuk menyudahi isu Palestina dengan kondisi yang menguntungkan Rezim Pendudukan Israel dengan semua proyek pengembangan permukiman Zionisnya itu.

Dalam meluapkan kemarahan tersebut, Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine/DFLP) menggelar aksi longmarch hingga ke depan kantor PBB di bagian barat kota Gaza, Senin (27/1/2020).

Massa yang mengikuti aksi itu membakar boneka dan poster Trump serta bendera AS dan Israel. Anggota DFLP Talal Abu Tarifeh menyebut deklarasi Perjanjian Abad Ini akan memberi lampu hijau bagi Rezim Zionis untuk melanjutkan proyek permukimannya untuk mencaplok Lembah Yordania dan bagian utara Laut Mati.

Dia menyerukan pengaduan atas pemerintah AS kepada Dewan Keamanan PBB karena prakarsa penyelesaian yang diajukan AS justru merupakan pernyataan perang terhadap bangsa Palestina.

Panitia Tinggi Nasional Great March of Return dalam rapat mingguan di markas Gerakan Fatah di Gaza membahas mekanisme perlawanan terhadap Perjanjian Abad Ini. Mereka juga menyerukan penyelenggaraan unjuk rasa di seluruh Jalur Gaza, pengadaan konferensi-konferensi rakyat Palestina, dan solidaritas antara Gaza dan Tepi Barat.

Komisi Pemantau Kekuatan Nasional dan Islam Palestina menyerukan supaya hari Selasa dan Rabu (28-29/1/2020) menjadi hari kemarahaman di semua gelanggang, dan meminta orang-orang Palestina turun ke jalan dan alun-alun untuk menggelar aksi protes.

Komisi ini memandang prakarsa Trump itu sebagai bagian dari mata rantai konspirasi AS terhadap bangsa Palestina, dan menyerukan keteguhan perlawanan dan upaya untuk menggagalkannya.

Pemerintah Palestina di Ramallah, Tepi Barat, menyerukan kepada masyarakat internasional pemboikotan terhadap prakarsa AS, dan menyatakan bahwa prakarsa AS itu alih-alih menganggap kota Quds (Yerussalem) sebagai tanah pendudukan, justru menyerahkannya kepada Israel sehingga memberangus perkara Palestina.

Para pejabat Palestina menegeskan penolakan Presiden Palestina Mahmoud Abbas terhadap beberapa upaya Presiden Trump untuk mendiskusikan apa yang disebut ”rencana perdamaian yang diharapkan” itu.

Para pejabat itu mengatakan bahwa Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir ini berusaha menjalin kontak tidak langsung dengan Abbas, tapi semua itu ditolak olehnya.

Sebelumnya, otoritas Palestina kembali menunjukkan penolakannya terhadap prakarsa Trump dan menganggap sepihak.

Juru bicara kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudaineh mengingatkan bahwa pemimpin Palestina akan meminta pemerintah Israel sebagai otoritas pendudukan bertanggungjawab penuh jika prakarsa itu jadi dideklarasikan. (alalam)