Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 26 Februari 2019

bashar assad di iranJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran menerima kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Teheran sembari menegaskan bahwa kunci kemenangan Suriah atas Amerika Serikat (AS) dan para antek regionalnya adalah keteguhan rakyat dan para pemimpin Suriah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku berhasil meretas sistem komando dan kontrol pesawat nirawak Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif secara tak terduga melalui postingannya di Instragram mengaku telah menyampaikan surat pengunduran dirinya.

Berita selengkapnya:

Presiden Suriah Berkunjung ke Teheran Dan Jumpai Pemimpin Besar Iran

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menerima kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Teheran, ibu kota Iran, Senin (25/2/2019).

Dalam pertemuan ini Ayatullah Khamenei mengatakan kepadanya bahwa kunci kemenangan Suriah atas Amerika Serikat (AS) dan para antek regionalnya adalah keteguhan rakyat dan para pemimpin Suriah dalam melakukan perlawanan terhadap konspirasi mereka, sedangkan peranan Iran adalah menyokong resistensi ini.

“Republik Islam Iran membantu pemerintah dan rakyat Suriah, membantu gerakan resistensi, dan merasa bangga dengan ini dari hati yang terdalam…. Suriah dengan resistensinya yang didukung oleh rakyatnya telah sanggup bertahan di depan aliansi besar yang melibatkan AS, Eropa, dan sekutu regional keduanya, dan telah keluar sebagai pemenang dalam krisis ini, ” ungkapnya.

Namun, dia juga mengingatkan keharusan untuk tetap waspada menghadapi konspirasi demi konspirasi selanjutnya.  Karena, menurutnya, kemenangan ini sudah pasti membangkitkan kegusaran AS sehingga negara arogan ini akan terus berusaha menggalang konspirasi.

“Masalah zona penyangga yang diupayakan oleh AS untuk diterapkan di Suriah adalah bagian dari konspirasi berbahaya yang harus ditolak keras dan dibendung,” tuturnya.

Pemimpin Besar Iran juga menyebutkan contoh upaya AS untuk eksis secara mencolok di kawasan perbatasan Irak-Suriah.

“Iran dan Suriah terjalin ikatan strategis secara mendalam satu sama lain, dan identitas serta kekuatan Poros Resistensi berhutang budi pada komunikasi langgeng dan strategis ini, dan karena itu musuh tak dapat menjalankan rencana-rencananya,” lanjutnya.

Dia kemudian menjelaskan kesalahan pihak musuh dalam membuat perhitungan terhadap Suriah.

“Kesalahan musuh ialah asumsi mereka bahwa Suriah seperti sebagian negara Arab lain, sementara gerakan kerakyatan di negara-negara itu mengarah kepada resistensi, dan pada hakikatnya revolusi anti AS dan para anteknya,” terangnya.

Di pihak lain, Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan apresiasinya kepada Iran atas segala bantuan yang diberikan negara republik Islam ini kepada Suriah.

Al-Assad mengatakan kepada Ayatullah Khamenei, “Perang Suriah sangat menyerupai perang yang dipaksakan terhadap Iran pasca revolusi. Republik Islam Iran menyokong kami dalam peristiwa ini dengan segala bentuk pengorbanan, dan karena itu saya merasa berkewajiban untuk mengucapkan selamat dan rasa terima kasih saya kepada Yang Mulia dan segenap bangsa Iran.”

Dia juga mengatakan, “Banyak negara tunduk di depan AS, dan membayangkan bahwa AS-lah yang menentukan nasib dan masa depan dunia, tapi anggapan keliru ini mulai runtuh perlahan berkat keteguhan bangsa-bangsa Poros Resistensi.”

Dalam kunjungan ini al-Assad juga telah diterima oleh sejawatnya di Iran, Presiden Hassan Rouhani, dan dalam pertemuan usai pertemuan dengan Ayatullah Khamenei itu keduanya telah mengekspresikan kepuasan masing-masing atas tingginya level hubungan kedua negara di berbagai bidang.

Kepada Rouhani, al-Assad menyampaikan apresiasinya atas dukungan Iran kepada Suriah dalam perang, sementara Rouhani mengatakan bahwa dukungan ini bertolak dari prinsip kontra-terorisme yang dianut Iran.

“Kemenangan Suriah adalah kemenangan bagi Iran dan seluruh umat Islam,” ungkap Rouhani, sembari memastikan bahwa Iran akan terus mendukung bangsa Suriah dalam kelanjutan proses penumpasan terorisme dan penggalangan rekonstruksi Suriah. (alalam)

IRGC Retas Sistem Komando Dan Kontrol Nirawak AS Hingga Terhempas

Menteri Komandan Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigjen Amir Ali Hajizadeh menyatakan pihaknya berhasil meretas sistem komando dan kontrol pesawat nirawak Amerika Serikat (AS), dan ini dilakukan sebagai reaksi atas kelancangan AS mengklaim telah menyabotase rudal Iran.

“Kami melakukan ini untuk memberi tahu mereka (AS) bahwa Anda bukan saja gagal mencapai tujuan Anda, melainkan kami malah dapat menyusup ke sistem Anda,”  ungkap Hajizadeh  kepada wartawan di sela-sela sebuah upacara di Teheran, Ahad (24/2/2019).

New York Times pada 12 Februari 2019 melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah mengaktifkan kembali rencana rahasia untuk menyabotase rudal balistik Iran sebagai bagian dari optimalisasi upaya melemahkan kekuatan militer Iran dan melumpuhkan ekonominya.

Menurut laporan itu, program itu dibuat di masa kepresidenan George W. Bush sebagai upaya mengganggu program kedirgantaraan Iran dengan memasukkan bagian-bagian dan bahan-bahan yang rusak ke dalam rangkaian suplainya.

Upaya sabotase ini dipercepat selama tahun-tahun awal periode kepresidenan Barack Obam, namun dilemahkan pada tahun 2017, ketika Mike Pompeo yang belakangan menjadi menteri luar negeri mengambil alih jabatan direktur CIA.

Hajizadeh mengatakan, “Kita mengumumkan masalah ini sekarang karena Amerika cukup kurang ajar mengaku telah mengirim suku cadang yang rusak untuk (tujuan menyabotase) rudal kita.”

Hajizadeh juga mengatakan bahwa AS belakangan ini mengaku ingin mengandaskan program rudal Iran, namun “kami sudah mengetahui hal ini beberapa tahun yang lalu, tapi kami tidak mengumumkannya kepada publik.”

Dia menambahkan, “Mereka mencoba menyabotase beberapa bagian (rudal) untuk membuat rudal kami meledak saat terbang, tapi sampai sekarang mereka belum mampu melakukan apa pun karena kami sudah menengarainya dan memperkuat sektor ini.”

IRGC Jumat lalu mengaku telah menembus jaringan komando dan kontrol drone AS, dan merilis rekaman pesawat militer AS yang membom pesawat tanpa awak yang diretas Iran itu karena khawatir jatuh ke tangan pasukan Iran.

Hajizadeh saat itu menjelaskan bahwa nirawak AS tersebut beroperasi di Suriah dan Irak ketika kemudian terpaksa melakukan pendaratan darurat karena masalah yang dihadapinya selama penerbangan. Nirawak itu mendarat dengan susah payah di daerah gurun sejauh 10 km dari pangkalan AS.

“Namun, Amerika tidak berani mendekati pesawat mereka sendiri” sehingga terpaksa mengebomnya dengan pesawat perang, ungkap Hajizadeh. (presstv)

Javad Zarif Ajukan Pengunduran Diri Dari Jabatan Menlu Iran

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif secara tak terduga melalui postingannya di Instragram mengaku telah menyampaikan surat pengunduran dirinya.

“Saya bersyukur atas kemurahan hati orang-orang terkasih dan pemberani di Iran dan pihak berwenang yang terhormat selama 67 bulan terakhir,” tulisnya dalam postingan pada hari Senin (25/2/2019).

Dia menambahkan “Saya dengan tulus meminta maaf atas ketidakmampuan melanjutkan layanan [saya] dan semua kekurangan selama masa jabatan [saya],” tambahnya. “Semoga kamu bahagia dan bangga.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Mousavi, mengkonfirmasi kepada IRNA bahwa Zarif memang mengundurkan diri.

Presiden Hassan Rouhani belum mengkonfirmasi pengunduran diri Zarif. Kepala Staf Presiden Iran, Mahmoud Vaezi, “dengan keras” membantah laporan bahwa Rouhani telah menerima pengunduran diri tersebut.

Diplomat berusia 59 tahun itu menjabat sebagai menteri luar negeri Iran  setelah Rouhani menjabat sebagai presiden pada 2013.

Zarif diangkat kembali di jabatan itu ketika Rouhani menjabat lagi sebagai presiden. Selama mengemban jabatan itu Zarif gigih mengusung wacana penolakan terhadap Iranophobia dan menggalakkan interaksi internasional.

Dia juga berperan besar dalam negosiasi yang bermuara pada kesepakatan nuklir negaranya dengan dan beberapa negara terkemuka dunia pada tahun 2015. (presstv)