Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 24 November 2020

netanyahu dan pompeoJakarta, ICMES. Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan secara masih telah berkunjung ke Arab Saudi, dan mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman.

Faksi-faksi Palestina mengutuk kunjungan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu ke kota Neom, Arab Saudi, yang menurut media Israel telah dilakukan secara diam-diam.

Seorang pejabat senior Israel mengumumkan bahwa delegasi rezim Zionis ini tiba di Sudan.

Berita Selengkapnya:

Media Israel Ramai-Ramai Ungkap Kunjungan Rahasia Netanyahu ke Saudi

Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan secara masih telah berkunjung ke Arab Saudi, pada hari Ahad lalu (22/11/2020), dan mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman.

Sejumlah media Israel, termasuk situs berita Walla, Senin, mengungkap rincian kunjungan tersebut.   Menurut Walla, Direktur MOSSAD Yossi Cohen telah menyertai kunjungan Netanyahu itu dan tiba di Neom, Saudi, dengan menggunakan pesawat milik pengusaha Israel Udi Angel.

Menurut data dari situs pelacakan penerbangan, pesawat lepas landas dari Israel pada hari Ahad pukul 17.00 waktu setempat,  dan langsung menuju ke pantai Laut Merah, lalu kembali ke Israel lima jam kemudian.

Surat kabar Haaretz melaporkan bahwa pesawat itu melakukan penerbangan ke Neom, tempat pertemuan antara bin Salman dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dijadwalkan pada hari itu.

Situs berita i24news menjelaskan bahwa Netanyahu berada dalam perjalanan ke Arab Saudi ketika sebuah rapat kabinet Israel dijadwalkan berlangsung hari itu untuk membahas penanggulangan pandemi Covid-19.

Kantor Perdana Menteri Israel pada Sabtu malam mengumumkan bahwa rapat itu ditunda hingga Senin, dengan alasan bahwa dua menteri, Ze’ev Elkin dan Yizhar Nitzan Shai, belum selesai menyiapkan rekomendasi tentang penggunaan sarana digital untuk mengurangi penularan penyakit tersebut.

Para pejabat Israel menyebut alasan itu untuk menutupi kunjungan Netanyahu ke Arab Saudi.

Kantor Netanyahu masih bungkam mengenai laporan kunjungann itu, sementara i24News menyatakan bahwa sumber Saudi telah mengkonfirmasi validitas laporan tersebut.

Netanyahu sendiri juga enggan berterus terang. Seperti dikutip Reuters, di sela rapat Partai Likud dia mengatakan, “Apakah Anda serius? Rekan-rekanku, sepanjang umurku saya tidak akan berkomentar untuk perkara seperti ini, dan tak berniat untuk memulainya sekarang.”

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan membantah adanya pertemuan petinggi negara ini dengan para pejabat Israel.

“Saya mengikuti laporan pers tentang dugaan pertemuan antara Yang Mulia Putra Mahkota dan pejabat Israel dalam kunjungan Pompeo baru-baru ini. Tidak terjadi pertemuan seperti itu. Pejabat yang hadir hanyalah orang Amerika dan Saudi,” ungkap Faisal melalui akun Twitter-nya, Senin.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan bahwa pertemuan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dengan Mohamed bin Salman di Neom membuahkan hasil, namun para juru bicara Pompeo menolak berkomentar mengenai kabar partisipasi Netanyahu dalam pertemuan itu.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyebut “pembocoran berita mengenai pertemuan rahasia” antara Netanyahu dan Bin Salman sebagai “tindakan tak bertanggung jawab dan menimbulkan keresahan”.

Lain halnya Menteri Pendidikan Israel Yoav Galant, yang justru menyambut baik pengungkapan kunjungan itu meski tidak secara resmi. Dia membenarkan laporan mengenai kunjungan Netanyahu ke Neom. (rta/raiayoum)

Netanyahu Dikabarkan Berkunjung ke Saudi, Faksi-Faksi Palestina Kutuk Rezim Riyadh

Faksi-faksi Palestina mengutuk kunjungan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu ke kota Neom, Arab Saudi, yang menurut media Israel telah dilakukan secara diam-diam pada hari Ahad (22/11/2020).

Kecaman itu dikemukakan dalam beberapa pernyataan terpisah, Senin, yang dikeluarkan oleh berbagai faksi Palestina.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyebut kunjungan itu “berbahaya,” dan sementara petinggi gerakan itu, Sami Abu Zuhri, di Twitter menyatakan, “Informasi tentang kunjungan Netanyahu ke Arab Saudi berbahaya, jika benar.”

Abu Zuhri meminta Arab Saudi untuk “mengklarifikasi apa yang terjadi, karena menghina bangsa dan menyia-nyiakan hak Palestina.”

Faksi Jihad Islam di Palestina mengutuk kunjungan itu dengan menyebutnya sebagai pengkhianatan rezim Saudi terhadap bangsa Palestina.

“Apa yang diungkap oleh media Israel tersebut merupakan keterjatuhan (Arab Saudi) secara politik, penolakan terhadap prinsip, pengkhianatan terhadap Quds, Mekkah Al-Mukarromah, Madinah Al-Munawwaroh, dan Masjid Al-Aqsa, yang memang direncanakan Si Penjahat Netanyahu untuk menguasainya dan meruntuhkan identitasnya,” kecam Jihad Islam.

Faksi ini memperingatkan,  “Kunjungan ini dengan sendirinya memotivasi rezim pendudukan (Israel) untuk melanjutkan politik antagonistiknya terhadap Palestina… dan merupakan pendahuluan bagi agresi masif yang menyasar bangsa ini dan kesuciannya”.

Front Rakyat Pembebasan Palestina (PFLP) juga angkat bicara dengan menegaskan bahwa kunjungan itu dilakukan sebagai bagian dari sepak terjang AS-Zionis “untuk memperluas lingkaran normalisasi (hubungan) sejumlah negara Arab dengan pemerintah musuh, Israel”.

PLFP melanjutkan, “Kami yakin bahwa kunjungan ini akan menjadi pembukaan bagi normalisasi dan pengkhianatan baru negara-negara Arab dan Islam.” Faksi ini menyerukan “persatuan Arab untuk melawan pengkhianatan terbuka yang dilakukan beberapa rezim Arab”.

Senada dengan ini, Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP) menegaskan, “Respon Arab Saudi terhadap normalisasi hubungan dengan Israel menyebabkan patahnya pendirian Arab.”

Wakil Sekretaris Jenderal DFLP Qais Abdul Karim mengatakan kepada kantor berita Turki, Anadolu, bahwa kunjungan tersebut sejauh ini “belum diumumkan secara resmi oleh pihak Saudi, dan belum ada konfirmasi tentang itu.”

Dia menambahkan, “Kami mengonfirmasi bahwa upaya sedang dilakukan untuk menyeret Arab Saudi ke posisi-posisi normalisasi hubungan dengan Israel, dan ini merupakan upaya berbahaya.”

Pada pertengahan September lalu Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menandatangani dua perjanjian untuk menormalisasi hubungan dengan Israel melalui mediasi Amerika Serikat di Washington.

Semua faksi dan para pemimpin Palestina mengutuk perjanjian itu dan menganggapnya sebagai “pengkhianatan dan tikaman ke punggung bangsa Palestina”.

Para pemimpinan Palestina menolak normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab, sebelum Israel mengakhiri pendudukannya atas wilayah pendudukan pada tahun 1967. (raialyoum)

Delegasi Pertama Israel Tiba di Sudan

Seorang pejabat senior Israel mengumumkan bahwa delegasi rezim Zionis ini tiba di Sudan, Senin (23/11/2020).

Kunjungan itu merupakan yang pertama kali dilakukan delegasi negara Rezim Zionis sejak kesepakatan untuk menormalisasi hubungan antara kedua negara diumumkan pada bulan lalu.

Beberapa sumber terpisah belum lama ini menyebutkan bahwa delegasi Israel akan mengunjungi Khartoum, ibu kota Sudan, menyusul kesepakatan normalisasi yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 23 Oktober 2020.

Sudan adalah negara Arab ketiga yang tahun ini mengumumkan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel, setelah UEA dan Bahrain yang menekan kesepakatan serupa pada September 2020. (mrta)