Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 24 Agustus 2021

ebrahim raisiJakarta, ICMES. Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa keluarnya tentara AS dari Afghanistan merupakan kesempatan bagi semua kelompok di Afghanistan untuk mendapatkan model pemerintahan yang dapat diterima oleh seluruh rakyat negara ini.

Taliban menyatakan pihaknya telah memberi amnesti kepada presiden pelarian Afghanistan Ashraf Ghani, dan siap memulihkan hubungan dengan semua negara, termasuk Pakistan.

Menyusul pernyataan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah mengenai pendatangan bahan bakar minyak Iran ke Libanon, pemerintah Iran mengaku tak dapat berdiam diri melihat penderitaan bangsa Palestina akibat krisis bahan bakar.

Jet-jet tempur Israel melancarkan serangan ke posisi-posisi Hamas di Jalur Gaza dengan dalih membalas penerbangan balon-balon api dari Jalur Gaza ke wilayah selatan Israel, yang menyebabkan sejumlah kebakaran.

Berita Selengkapnya:

Presiden Iran: Afghanistan Berkesempatan Mencari Model Pemerintahan yang Diterima Khalayak

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa keluarnya tentara AS dari Afghanistan merupakan kesempatan bagi semua kelompok di Afghanistan untuk mendapatkan model pemerintahan yang dapat diterima oleh seluruh rakyat negara ini.

Hal tersebut dikatakan Raisi dalam panggilan telefon dengan Kanselir Austria, Sebastian Kurz, Senin (23/8), sembari mengapresiasi hubungan konstruktif Iran-Austria yang disebutnya memiliki latar belakang sejarah 500 tahun.

Namun demikian, dia menyesalkan berkurangnya volume transaksi dagang antara kedua negara, yang dinilai tak memiliki alasan yang logis.

“Kita harus menjaga kepentingan kedua negara, dan jangan sampai membiarkan pihak lain yang beriktikad buruk mempengaruhi hubungan ini dengan berbagai tipu daya,” ungkapnya, seakan menyindir sepak terjang AS selama ini dalam berusaha mengisolasi Iran dari pergaulan dengan dunia, terutama Barat.

Ketika ditanya oleh Kanselir Kurz mengenai sikap Iran terhadap perkembangan situasi di Afghanistan di mana kelompok militan Taliban berhasil mengambil alih kekuasaan, Presiden Raisi mengatakan, “Kalau kita mencermati sejarah kontemporer Afghanistan maka kita melihat bahwa Afghanistan tak pernah mujur barang sehari sejak AS mencampuri urusan negara ini.”

Dia menambahkan, “Kami berkeyakinan bahwa berbagai kelompok di Afghanistan harus memandang keluarnya AS sebagai satu titik balik, dan dalam berinteraksi satu sama lain sudah seharusnya mereka memperoleh sebuah model pemerintahan yang diterima oleh rakyat secara umum.”

Dia menyebutkan bahwa meski Iran selama ini menjadi sasaran sanksi zalim dari AS, namun masih terus menampung para pengungsi Afghanistan dengan semua biaya materi dan mentalnya.

“Upaya Republik Islam Iran untuk menegakkan perdamaian dan keamanan di Afghanistan berlanjut tanpa henti, dan kami siap bekerja sama dengan semua negara yang merasa punya tanggungjawab untuk menciptakan perdamaian dan ketentraman di Afghanistan,” imbuhnya.

Di pihak lain, Kanselir Austria mengaku berharap hubungan bilateral negaranya dengan Iran tetap berlanjut dan berkembang di berbagai bidang.

“Kami berharap pemerintahan baru Iran dapat lebih sukses mewujudkan perkembangan ekonomi dan sosial untuk rakyat negara ini, dan di kancah internasionalpun dapat secepatnya memulai perundingan nuklir dengan negara-negara yang terlibat perundingan, serta dapat berakhir sukses,” ungkapnya.

Dia juga mengaku prihatian atas perkembangan situasi di Afghanistan, dan mengapresiasi kesediaan Iran selama ini menampung para pengungsi Afghanistan. (alalam)

Taliban Ampuni Ahsraff Ghani dan Siap Pulihkan Hubungan dengan Semua Negara

Taliban menyatakan pihaknya telah memberi amnesti kepada presiden pelarian Afghanistan Ashraf Ghani, dan siap memulihkan hubungan dengan semua negara, termasuk Pakistan.

Dalam wawancara dengan situs berita Arabi 21, Senin (23/8), juru bicara Taliban Qari Yusuf Ahmadi mengatakan, “Dalam kerangka prinsip saling menghormati dan mempertimbangkan kepentingan nasional, Emirat Islam (Afghanistan) akan menjalin hubungan dengan semua negara, termasuk Pakistan.”

Para pengamat menduga Pakistan mencemaskan monopoli Taliban dalam pengendalian kekuasaan di Kabul, dan menilai kelompok ini berusaha mengulangi pengalaman yang sama di Pakistan.

Jubir Taliban ketika ditanya pendapat kelompok ini mengenai pemerintahan sebelumnya dan kemungkinan pemberdayaan para pegawai yang ada selama ini mengatakan, “Mula-mula perlu kami konfirmasi bahwa identitas kami adalah emirat (keamiran), bukan gerakan. Ya, emirat ini sepenuhnya memperhatikan keharusan menerima dan memanfaatkan para pegawai pemerintahan sebelumnya.”

Mengenai “perubahan politik dan sosial” yang terjadi pada perspektif Taliban sejak 2001 sampai sekarang, Ahmadi mengatakan, “Perubahan pertama dan terpenting bagi Taliban ialah perubahan yang menyajikan perdamaian dan amnesti umum di negara ini.”

Beberapa hari lalu, Zabihullah Mujahid, salah satu pentingi Taliban, menyatakan pihaknya mengharapkan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan semua negara.

“Taliban tak pernah berbicara mengenai pemutusan hubungan dagang dengan negara manapun, semua ini rumor belaka, dan tidak faktual,” ungkap Mujahid.

Dia menyatakan demikian manakala sebagian besar negara Barat dan Eropa menarik para diplomatnya dari Afghanistan dan belum menyatakan pendapat mereka mengenai bagaimana kelanjutannya di kemudian hari ini.

Mujahid di awal konferensi persnya beberapa waktu lalu memastikan Taliban tidak akan membalas dendam siapapun.

“Sekarang perang sudah berakhir, semua orang yang semula berlawanan dengan Taliban telah mendapat amnesti. Taliban tak bermusuhan dengan siapapun, permusuhan sudah berakhir,” tegasnya.

Dalam perkembangan terbaru, Khalil Al-Rahman Haqani, salah satu pejabat Taliban, dalam wawancara dengan saluran TV Geo Pakistan menyatakan bahwa Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang kabur ke luar negeri serta wakil pertamanya, Amrullah Saleh, telah mendapat amnesti dari Taliban, dan dengan demikian keduanya dapat pulang ke Afghanistan jika berminat.  (alalam)

Iran Angkat Bicara Soal Pengiriman Bahan Bakar ke Libanon

Menyusul pernyataan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah mengenai pendatangan bahan bakar minyak Iran ke Libanon, pemerintah Iran mengaku tak dapat berdiam diri melihat penderitaan bangsa Palestina akibat krisis bahan bakar.

“Kami tak sanggup dengan cukup menyaksikan penderita bangsa Palestina. Bangsa ini adalah bangsa yang berkemampun dan kaya, dan wajar kami mengirim bahan bakar kepada siapa yang membelinya dari kami… Kami siap membantu Libanon dalam hal ini, jika pemerintah Libanon memintanya,” ungkap Jubir Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh, Senin (23/8),

Sehari sebelumnya, Sayid Nasrallah mengatakan bahwa Kedubes AS untuk Libanon terkejut oleh pengumuman mengenai keberangkatan kapal tanker minyak Iran menuju Libanon.

Dia juga mengatakan, “Kapal tanker kedua kita akan bergerak dari Irak beberapa hari lagi, dan kapal-kapal tanker lainpun masih akan menyusulnya. Masalah kita bukan soal satu dan kapal, melainkan bahwa dengan proses ini kita akan terus memenuhi kebutuhan Libanon.”

Libanon mengalami krisis bahan bakar yang bahkan melumpuhkan berbagai sektor vital, sementara otoritas keuangan Libanon yang memutuskan pencabutan subsidi bahan bakar terus terlibat perselisihan dengan presiden dan kepala negara yang menolak keputusan tersebut. (raialyoum)

Israel Serang Posisi Hamas di Jalur Gaza

Jet-jet tempur Israel melancarkan serangan ke posisi-posisi Hamas di Jalur Gaza pada Senin malam (23/8) dengan dalih membalas penerbangan balon-balon api dari Jalur Gaza ke wilayah selatan Israel, yang menyebabkan sejumlah kebakaran.

Sumber keamanan di Gaza mengatakan,”Jet-jet tempur rezim pendudukan (Israel) melancarkan beberapa serangan udara agresif terhadap posisi kelompok-kelompok resistensi di kota Gaza, Khan Yunis dan Jabalia hingga menyebabkan kerusakan fisik, namun tak menjatuhkan korban.”

Otoritas pemadam kebakaran Israel menyatakan bahwa balon-balon api telah diterbangkan dari Jalur Gaza pada siang hari Senin hingga menyebabkan sejumlah kebakaran di wilayah selatan Israel.

Balon-balon api biasa digunakan oleh para aktivis Palestina untuk menimbulkan kebakaran di ladang-ladang pertanian Israel yang ada di sekitar Jalur Gaza sebagai bentuk aksi protes mereka atas blokade Israel terhadap Jalur Gaza sejak 15 tahun silam.

Israel menganggap Hamas bertanggungjawab atas segala kebakaran yang disebabkan oleh serangan para aktivis dari Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menyatakan bahwa pada Sabtu lalu sebanyak 41 orang Palestina menderita luka dalam konfrontasi dengan pasukan Israel di sekitar pagar pembatas antara Israel dan Jalur Gaza. Satu korban luka di antaranya adalah anak kecil dengan kondisi parah.

Di pihak lain, militer Israel menyatakan satu anggotanya menderita luka parah dan dirawat di rumah sakit akibat diterjang peluru yang ditembakkan dari arah Jalur Gaza. (raialyoum)