Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 22 Juni 2021

ebrahim raisiJakarta, ICMES. Presiden terpilih Iran Sayid Ebrahim Raisi mengadakan konferensi pers untuk pertamanya kali, Senin (21/6), dan menyebut partisipasi rakyat Iran dalam pilpres membawa pesan tentang keteguhan bangsa Iran kepada jejak pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomaini, dan jalan para martir Iran, terutama sang pejuang legendaris Qasem Soleimani.

Dewan Revolusi gerakan Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen membuka sidang berkala ke-8 yang mengangkat slogan “Quds Ibu Kota Kami, Alamat Identitas Kami dan Kemerdekaan Bangsa Kami”.

Pasukan Zionis Israel menyerang orang-orang Palestina yang berkonsentrasi di lingkungan Sheikh Jarrah di kota Quds (Yerussalem).

Anggota Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzook menegaskan bahwa faksi pejuang Palestina terbesar di Jalur Gaza ini menentang hubungan negara-negara Arab dalam bentuk apapun dengan Rezim Zionis Israel.

Berita Selengkapnya:

Adakan Konferensi Pers Pertama, Sayid Raisi Pastikan Tak akan Adakan Pertemuan dengan Biden

Presiden terpilih Iran Sayid Ebrahim Raisi mengadakan konferensi pers untuk pertamanya kali, Senin (21/6). Mula-mula, rohaniwan bergelar hujjatul Islam ini mengapresiasi partisipasi rakyat Iran dalam pilpres Jumat pekan lalu, yang menurutnya, juga membawa pesan tentang keteguhan bangsa Iran kepada jejak pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomaini, dan jalan para martir Iran, terutama sang pejuang legendaris Qasem Soleimani.

Setelah berbicara mengenai kebijakan dalam negerinya, terutama dalam upaya memperbaiki kondisi ekonomi, Raisi juga bicara mengenai kebijakan luar negerinya.

Ditanya mengenai apa pesan pemerintahannya untuk AS dan Eropa, Raisi mengatakan, “Saya menekankan keharusan AS kembali kepada kesepakatan nuklir dan konsisten kepada janjinya dalam kesepakatan ini, dan ini sudah ditegaskan oleh bangsa Iran.”

Dia memastikan bahwa “interaksi secara meluas dan seimbang” dengan semua negara dunia akan menjadi menjadi salah satu kebijakan prinsipalnya. Dia lantas menyindir AS bahwa “tekanan maksium terhadap Iran sudah tak berguna lagi sehingga perlu dipertimbangkan lagi.”

“Bangsa Iran telah membuktikan ketahanannya di depan segala tekanan. Dunia harus tahu bahwa kebijakan luar negeri kami bertolak bukan dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (perjanjian nuklir JCPOA), tidak terbatas padanya, melainkan kami menindak lanjuti interaksi luas dan seimbang dengan semua negara dunia sebagai prinsip kebijakan kami,” terangnya.

Mengenai perundingan nuklir di Wina untuk pemulihan JCPOA yang dilanggar oleh AS dan kemudian dibalas pelanggaran oleh Iran, Raisi mengatakan, “Kami mendukung segala pembicaraan yang mengandung kepentingan nasional kami. Di saat yang sama, kami tak akan menggadaikan situasi ekonomi dan keadaan yang dialami oleh rakyat demi negosiasi ini, dan kami tak akan pernah menerima adanya negosiasi demi suatu negosiasi.”

Dia menambahkan bahwa Iran tak akan membiarkan perundingan dilakukan hanya demi menguras tenaga, melainkan harus segera membuahkan hasil bagi bangsa Iran.

“Kami bekerja demi mewujudkan hasil bagi bangsa Iran, dan mencabut sanksi dan pembatasan yang dipaksakan terhadap kami,” ujarnya.

Ditanya mengenai kemungkinan dirinya akan mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden, dia menepisnya dan memastikan tak akan ada negosiasi dengan pemerintah Biden. Dia menyoal, “Apa faktor di balik tak adanya keterikatan Biden dengan komitmen pemerintah AS sebelumnya?”

Dia mengatakan, “Usulan saya kepada pemerintah AS ialah segera menjalankan semua komitmennya (kepada JCPOA) dan mencabut sanksinya.”

Menurutnya, bangsa Iran sudah pesimis terhadap JCPOA akibat pelanggaran AS, dan tak akan pernah ada pembicaraan mengenai isu regional dan rudal Iran dengannya. (alalam)

Presiden Palestina Minta Fatah, Hamas, PLO dan Jihad Islam Segera Kembali kepada Dialog

Dewan Revolusi gerakan Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen membuka sidang berkala ke-8 yang mengangkat slogan “Quds Ibu Kota Kami, Alamat Identitas Kami dan Kemerdekaan Bangsa Kami”, Senin malam (21/6).

Dalam kata sambutannya pada sidang itu dia menyerukan kepada Fatah, Hamas, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Jihad Islam Palestina (PIJ) agar “segera kembali ke meja dialog serius demi menyudahi perpecahan dan untuk membangun kemitraan nasional di semua level dalam menghadapi tantangan dan bahaya yang mengancam bangsa dan urusan nasional Palestina”.

Tokoh Palestina yang lebih dikenal dengan nama panggilan Abu Mazen ini mengatakan, “Dengan persatuan nasional yang kokoh kita akan tumbangkan semua konspirasi yang bertujuan menghantam front internal kita, kami akan melindungi PLO sebagai representasi sah dan satu-satunya bagi bangsa kita Palestina, dan kami akan melanjutkan upaya intensif kami untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional Palestina.”

Mahmoud Abbas menegaskan, “Bangsa Palestina tak akan lelah dan kendur dalam perjalanannya yang agung  sampai berakhirnya pendudukan atas tanah negara Palestina dan ibu kotanya, Quds Timur… Kita katakan dengan suara lantang; enyahlah pendudukan dari dada, tanah dan bangsa kita.”

Mengenai hubungannya dengan luar negeri dia mengatakan, “Kami terus berkomunikasi dengan saudara-saudara kami di Mesir, Yordania, Qatar dan negara-negara sahabat serta masyarakat internasional untuk rekonstruksi Gaza. Telah kami katakan dan kita katakan lagi bahwa negara Palestina adalah alamat yang sah untuk rekonstruksi, dan ini menuntut penghentian secara total dan menyeluruh atas agresi di semua tempat di tanah negara Palestina.” (wafa)

Pasukan Zionis Serang Kawasan Sheikh Jarrah, 20 Orang Palestina Terluka

Sumber-sumber Palestina pada dini hari Selasa (22/6) melaporkan bahwa pasukan Zionis Israel telah menyerang orang-orang Palestina yang berkonsentrasi di lingkungan Sheikh Jarrah di kota Quds (Yerussalem).

Terkait dengan peristiwa ini, lembaga Bulan Sabit Merah Palestina mengumumkan bahwa 20 orang Palestina terluka akibat serangan Zionis.

Sebanyak hampir 500 warga Palestina di Quds yang tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah terancam diusir dari 28 rumah milik mereka akibat kebersikerasan kaum pendatang Yahudi Zionis untuk mengambil alih semua rumah itu melalui pengadilan-pengadilan di kota suci yang diduduki Israel tersebut.

Sesuai perjanjian tahun 1965 antara pemerintah Yordania dan badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), daerah itu adalah milik orang Palestina dan rumah-rumah tersebut dibangun oleh pemerintah Yordania.

Tapi kaum pendatang Zionis mengklaim bahwa tanah di lingkungan Sheikh Jarrah tempat rumah-rumah itu didirikan semula adalah milik keluarga Yahudi. Otoritas Israel lantas menyesuaikan diri dengan klaim itu dan membawa perkaranya ke meja pengadilan sehingga ratusan warga Palestina terancam diusir dari rumah-rumah mereka.

Masalah ini telah memicu ketegangan di Quds dan Masjid Al-Aqsa sebelum kemudian mengobarkan perang Israel-Gaza selama 11 hari pada tanggal 10-21 Mei 2021 yang menjatuhkan banyak korban tewas dan luka, terutama di pihak Palestina. (fna)

Soal Kunjungan ke Maroko, Hamas Tegaskan Penolakannya Terhadap Hubungan Arab dengan Israel

Anggota Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzook menegaskan bahwa faksi pejuang Palestina terbesar di Jalur Gaza ini menentang hubungan negara-negara Arab dalam bentuk apapun dengan Rezim Zionis Israel.

Hal itu dinyatakan Abu Marzook di halaman Twitternya, Senin (21/6), menjelang berakhirnya kunjungan resmi delegasi Hamas pimpinan Israel Haniyeh, ketua Biro Politik Hamas di luar negeri, ke Maroko, negara Arab yang belakangan ini turut menormalisasi hubungan dengan Israel, menyusul Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan.

Dia menjelaskan bahwa para pemimpin Hamas dalam kunjungan resminya ke berbagai negara adalah untuk berkomunikasi dengan elemen-elemen rakyat, nasional dan Islam negara setempat guna menjelaskan situasi kekinian Palestina.

“Kami menolak hubungan dengan entitas Zionis dalam segala bentuknya, rahasia maupun terbuka, dan kami melawan hubungan ini dengan segala kemampuan kami secara politik, tapi tak menganggap hubungan ini sebagai kendala untuk komunikasi resmi dan kerakyatan,” tulisnya.

Ismail Haniyeh dan para petinggi Hamas lainnya berkunjung ke Maroko sejak Rabu lalu. Kunjungan ini mendapat sambutan resmi dari pemerintah, meski pihak yang mengundangnya adalah Partai Keadilan dan Pembangunan Maroko.

Dari Maroko dia dan rombongan dijadwalkan bertolak ke Nouakchott, ibu kota Mauritania, untuk melakukan kunjungan resmi atas undangan dari Presiden Mauritania, Mohamed Ould Ghazouani. (alalam)