Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 22 Desember 2020

120715-N-FG395-033Jakarta, ICMES. Pentagon mengumumkan bahwa kapal selam nuklir USS Georgia bersama beberapa kapal perang lainnya akan melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya.

Serangan roket Katyusha menerjang Zona Hijau Baghdad yang ditempati gedung pemerintah dan misi diplomatik, termasuk kedutaan AS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa Iran mengecam dan menentang segala bentuk serangan terhadap misi diplomatik.

Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) harus kembali ke perjanjian nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif Bersama  (CPOA), tanpa prasyarat apa pun.

Berita Selengkapnya:

AS Peringatkan Iran dengan Mengirim Kapal Selam Nuklir

Kementerian Pertahanann Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengumumkan bahwa kapal selam nuklir USS Georgia bersama beberapa kapal perang lainnya akan melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya.

Seorang pejabat Pentagon, Senin (21/12), mengatakan bahwa pergerakan kapal selam itu merupakan pesan kepada Teheran dan komitmen Washington untuk melindungi sekutunya, dan bahwa kapal selam itu dilengkapi dengan lebih dari 150 rudal Tomahawk.

Penyeberangan kapal selam ini terjadi hanya beberapa jam setelah komandan pasukan AS di Timur Tengah, Jenderal Frank McKenzie, mengatakan bahwa negaranya “siap merespon” jika Iran menyerangnya pada peringatan satu tahun pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.

“Kami siap membela diri dan teman serta sekutu kami di kawasan ini, dan kami siap merespons jika perlu,” katanya kepada wartawan.

Perkembangan juga terjadi sehari setelah Zona Hijau di Baghdad menjadi sasaran serangan lima roket Katyusha, yang beberapa di antaranya mendarat di dekat kedutaan AS di Irak. (amn)

Lokasi Kedubes AS di Baghdad Dihantam Serangan Roket

Serangan roket Katyusha menerjang Zona Hijau Baghdad yang ditempati gedung pemerintah dan misi diplomatik, termasuk kedutaan AS, pada Ahad malam (20/12).

Sumber-sumber Irak mengatakan sedikit tiga roket Katyusha yang ditembakkan ke arah kedutaan AS menghantam kawasan yang dijaga ketat di ibu kota Irak tersebut.

Dua sumber keamanan Irak yang dikutip oleh Reuters menyebutkan roket-roket itu mendarat di dekat misi diplomatik AS, dan menyebabkan raungan sirene.

Meski peristiwa itu menyebabkan beberapa kerusakan material bangunan dan mobil, namun tidak sampai menjatuhkan korban jiwa.

Seorang pejabat di Zona Hijau mengatakan bahwa salah satu roket teralialihkan oleh sistem anti-roket yang dipasang untuk mempertahankan kedutaan.

Beberapa video beredar terkait dengan tembakan dari sistem pertahanan yang dipasang pasukan AS di sekitar Kedubes AS.

Wartawan AFP di timur ibukota Irak mengaku mendengar sedikitnya lima ledakan, yang disusul dengan pekikan sirine.

Militer Irak dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa “kelompok penjahat” telah menembakkan roket ke Zona Hijau Baghdad.

Misi AS di Irak juga mengeluarkan pernyataan yang menyebut serangan roket itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan serangan langsung terhadap kedaulatan Irak, dan menyerukan kepada para pemimpin Irak  agar mencegah serangan demikian.

Pada tahun ini Kedutaan Besar AS telah menjadi sasaran beberapa kali serangan di tengah meningkatnya sentimen anti-AS di Irak menyusul serangan militer AS yang menewaskan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Letjen Qassem Soleimani, dan wakil ketua pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, di Baghdad pada 3 Januari.

Pada bulan Juli, tiga roket Katyusa menghantam lokasi dekat Kedutaan Besar AS. Pada September, roket Katyusha mendarat di Zona Hijau Baghdad hingga mendorong pasukan AS untuk menutup pintu kedutaan AS.

Pada 16 Agustus, setidaknya empat roket Katyusha ditembakkan ke arah kedutaan AS, satu di antaranya menerjang lokasi yang ditempati pasukan AS. (pt/mn)

Iran Tepis Tuduhan Menyerang Kedubes AS di Irak

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa Iran mengecam dan menentang segala bentuk serangan terhadap misi diplomatik.

Hal itu ditegaskan sebagai tanggapan atas tuduhan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo terkait dengan serangan roket yang menyasar lokasi Kedutaan Besar AS di Baghdad pada Ahad malam lalu.

“Kami membantah keras tuduhan anti- # Iran @ SecPompeo, yang secara terang-terangan bertujuan menciptakan ketegangan. Iran menolak serangan apapun terhadap misi diplomatik,” ungkap Saeed Khatibzadeh di halaman Twitter-nya, Senin (21/12)

“Kehadiran militer AS adalah sumber instabilitas di kawasan kami. Tidak ada putaran apapun yang dapat mengalihkan kesalahan atas kejahatannya,” tambah Khatibzadeh.

Menyusul serangan roket tersebut, Pompeo menuding Iran berada di balik serangan itu melalui pernyataan yang dipublikasi oleh layanan pers Departemen Luar Negeri AS sebelum kemudian melalui pernyataan di Twitter.

“Milisi yang didukung Iran menyerang lagi secara mencolok dan sembrono di Baghdad, melukai warga sipil Irak,” tuding Pompeo di Twitter.

Dia menambahkan “Rakyat Irak pantas meminta para penyerang ini diadili. Penjahat yang kejam dan korup ini harus menghentikan tindakan destabilisasi mereka.”

Pompeo mengklaim telah jatuh korban sipil, sementara beberapa media Irak Saberin News melaporkan bahwa sistem pertahanan Kedutaan Besar AS telah menimbulkan kerusakan di daerah pemukiman di sekitar Zona Hijau. (mn)

Rusia: AS Harus Kembali ke Perjanjian Nuklir Iran Tanpa Prasyarat

Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah statemennya terkait dengan sebuah pertemuan yang melibatkan berbagai pihak internasional menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) harus kembali ke perjanjian nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif Bersama  (CPOA), tanpa prasyarat apa pun.

“Hari ini,Senin, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menghadiri webinar dan pertemuan informal negara-negara peserta JCPOA. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell berpartisipasi dalam pertemuan JCPOA,” bunyi pernyataan itu.

Disebutkan bahwa dalam pertemuan itu Lavrov menekankan bahwa ada resep untuk perbaikan JCPOA, antara lain implementasi berkelanjutan oleh seluruh negara anggota JCPOA yang telah menyusun dan menandatanganinya.

Dia juga menyatakan bahwa tindakan destruktif AS masih faktor utama destabilisasi dalam implementasi kesepakatan nuklir Iran tersebut.

Meskipun AS melancarkan tekanan maksimum terhadap Iran, JCPOA masih dipertahankan sebagaimana Resolusi DK PBB 2231 juga diterapkan seperti sebelumnya.

Menlu Rusia mengingatkan bahwa implementasi penuh ketentuan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231 oleh AS bukanlah perkara selektif, melainkan sudah merupakan komitmen masing-masing negara yang ditegaskan dalam Pasal 25 Piagam PBB.

“Kami percaya bahwa kembalinya Amerika Serikat ke JCPOA harus dilakukan tanpa prasyarat apapun. Kami siap bekerja sama dengan mitra lain mengenai detail JCPOA dan membantu pihak Amerika untuk mengikutinya. Ini demi kepentingan kita semua,” lanjutnya.

Dalam pertemuan para menteri luar negeri JCPOA telah dikeluarkan pernyataan bersama, dan kontak antaranegara anggota JCPOA juga dinyatakan akan terus berlanjut. (mn)