Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 21 Maret 2023

Jakarta, ICMES. Jurnalis senior Arab dan pemimpin redaksi Rai Al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan, membuat beberapa catatan khusus menyusul tersiarnya berita bahwa Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi telah melayangkan surat undangan kepada Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi untuk berkunjung ke Saudi.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant berusaha meyakinkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa “proses sepihak dalam revolusi peradilan harus dihentikan,”  dan mengancam akan mengundurkan diri.

Badan intelijen Rusia menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) bermaksud mengirim lusinan truk yang dilengkapi dengan senjata otomatis berat, serta sistem rudal bergerak Igla anti-pesawat  dan sistem rudal TOW dan NLAW anti-tank   untuk kelompok ekstremis di Suriah.

Berita Selengkapnya:

Tujuh Catatan Penting Abdel Bari Atwan Terkait Undangan Raja Saudi untuk Presiden Iran

Jurnalis senior Arab dan pemimpin redaksi Rai Al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan, membuat beberapa catatan khusus menyusul tersiarnya berita bahwa Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi telah melayangkan surat undangan kepada Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi untuk berkunjung ke Saudi.

Atwan menilai undangan Salman dan respon positif Raisi menegaskan keinginan kepemimpinan kedua negara untuk bergerak maju dalam menerapkan ketentuan perjanjian rekonsiliasi, dan menunjukkan bahwa pertemuan puncak yang akan diadakan di Riyadh antara Raja Salman dan Presiden Iran dapat menjadi puncak dari kesepahaman dalam banyak  masalah bilateral dan regional, terutama perang Yaman, krisis Lebanon, serta pencabutan blokade Suriah dan kembalinya negara ini ke Liga Arab.

Mengenai efek pesatnya kemajuan dalam rekonsiliasi Iran-Saudi itu bagi kawasan Timteng dan dunia, Atwan menyebutkan beberapa catatan sebagai berikut;

Pertama,  rekonsiliasi itu akan memulihkan keharmonisan dunia Islam, dan menyatukan dua poros paling menonjol, melalui rekonsiliasi Sunni-Syiah, dan mengakhiri konspirasi perpecahan dan hasutan sektarian yang dimotori oleh Amerika Serikat (AS) dan Rezim Zionis Israel.

Kedua, menutup pintu bagi semua aspirasi normalisasi Israel dan memperluas lingkarannya untuk memasukkan negara-negara baru, khususnya Saudi, serta meminggirkan atau bahkan mungkin meluruhkan semua perjanjian Abraham dengan segala literatunya.

Ketiga, era AS, yang telah mendominasi kawasan Timteng sejak akhir Perang Dunia II, mulai menghembuskan nafas terakhirnya. Aliansi China-Rusia dan sistem  BRICS akan semakin mencuat sebagai tatanan dunia baru ekonomi maupun militer, dan menjadi pesaing NATO.

Keempat,  klausul yang disebutkan dalam perjanjian Iran-Saudi tentang pengaktifan kerjasama keamanan, yang disebutkan dalam perjanjian tahun 2002, adalah klausul yang paling krusial, karena berarti membatalkan semua rencana AS untuk menjadikan negara pendudukan Zionis Israel sebagai platform regional pelindung negara-negara Teluk dengan label menghadapi ancaman Iran.

Aktivasi ini dapat mengarah pada strategi sebaliknya yaitu, koordinasi antara dua negara besar Muslim untuk menghadapi ancaman Israel, karena Iran tidak lagi menjadi “hantu” bagi negara-negara Teluk.

Kelima, akan terjadi konvergensi kepentingan Iran-Saudi atas dasar dialog untuk menemukan solusi permanen bagi semua masalah yang diperselisihkan.  Iran, yang menghadapi ancaman Israel-AS  karena program nuklirnya, ingin mengatasi ancaman ini, sementara Saudi  ingin keluar dari perangkap perang Yaman , baik secara finansial maupun kemanusian, demi mewujudkan ambisi internasionalnya untuk menjadi salah satu pusat ekonomi dan keuangan paling terkemuka di dunia, dan demi  mengurangi ketergantungannya pada minyak dalam implementasi visi 2030.

Keenam, pernyataan Menteri Keuangan Saudi Muhammad Al-Jadaan mengenai kesiapan negaranya untuk memompa dana miliaran untuk berinvestasi di pasar Iran yang besar, menegaskan terjadinya perubahan radikal dalam prioritas pemerintahannya, yaitu mengutamakan kepentingan daripada permusuhan sejarah, politik dan ideologi serta membuka lembaran baru.

Ketujuh, isu utama dan sentral Arab dapat diharap akan pulih di forum-forum Arab dan Islam semisal Liga Arab dan Organisasi Kerjasama (OKI), yaitu isu pembebasan tanah Palestina.

Menurut Atwan, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi bisa jadi akan berkunjung ke Riyadh dalam waktu dekat, dan dia akan mendapat sambutan istimewa dan “meriah” dari Raja Saudi. Hal ini akan menjadi akhir suatu era lama dan awal sebuah era baru, bukan hanya bagi Timteng, melainkan bagi dunia secara keseluruhan, serta surut atau bahkan mungkin berakhirnya hegemoni AS, dan kemudian terbitnya gugusan bintang baru yang dipimpin China.

Atwan juga menyebutkan bahwa kemajuan teknologi Iran di bidang produksi militer berupa rudal supersonik, drone, dan kapal selam, serta proyek nuklir dapat menjadi salah satu ranah terpenting kerjasama masa depan antara negara republik Islam ini dengan Kerajaan Saudi dalam beberapa hari mendatang, karena kerjasama di bidang ini, jika diselesaikan, akan mengarah pada berakhirnya kompetisi senjata di Timteng, yang tidak menguntungkan siapapun kecuali AS dan negara-negara Barat lainnya selama beberapa dekade terakhir. (raialyoum)

Tekan Netanyahu, Menhan Israel Ancam Undurkan Diri

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant berusaha meyakinkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa “proses sepihak dalam revolusi peradilan harus dihentikan,”  dan mengancam akan mengundurkan diri.

Dilaporkan oleh saluran Israel I24, Senin (20/3), Gallant dalam beberapa hari terakhir mengatakan kepada Netanyahu bahwa “proses sepihak dalam revolusi peradilan harus dihentikan” karena berpengaruh pada pasukan cadangan tentara dan berdampak moral terhadap masyarakat Israel.

Gallant juga mengatakan kepada Netanyahu bahwa “jika undang-undang sepihak berlanjut tanpa persetujuan luas,” maka Galant akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri pertahanan.

Belum lama ini ketua partai koalisi memutuskan bahwa undang-undang untuk mengubah komite pemilihan hakim harus diselesaikan pada akhir musim semi di Knesset saat ini, sebelum Hari Raya Paskah, menurut kesepakatan baru yang diajukan oleh Ketua Komite Legislatif Rotman.

Laporan lain menyebutkan bahwa  Netanyahu telah mengumumkan pelunakan rencana perubahan yudisial pemerintah sayap kanannya, dan ini menjadi suatu konsesi nyata untuk lebih dari dua bulan protes nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Memegang mayoritas parlemen, Netanyahu tampaknya akan meratifikasi paket reformasi pada reses Knesset 2 April.

Namun, sebagian besar elemennya sekarang akan ditangguhkan sampai parlemen bersidang kembali pada 30 April, kata Netanyahu dan sekutu koalisi nasionalis-agama, Senin (20/3).

Bagian dari undang-undang yang masih dijadwalkan untuk diratifikasi dalam dua minggu ke depan akan mengguncang metode Israel dalam memilih hakim, sebuah isu yang menjadi inti kontroversi reformasi di mana Netanyahu dianggap oleh para pengkritiknya berusaha mengekang independensi pengadilan.

Dia menegaskan tujuannya adalah keseimbangan di antara cabang-cabang pemerintahan.

Kegaduhan terkait perubahan hukum telah menjerumuskan Israel ke dalam salah satu krisis domestik terburuknya. Di luar protes, yang telah menarik puluhan ribu orang Israel ke jalan-jalan dan belakangan  ini berubah menjadi kekerasan, penentangan telah melonjak dari seluruh masyarakat, dan para pemimpin bisnis dan pejabat hukum pun angkat bicara menentang apa yang mereka katakan sebagai efek merusak dari rencana tersebut.

Undang-undang tersebut akan memberi bobot lebih kepada pemerintah dalam komite yang memilih hakim dan akan menyangkal hak Mahkamah Agung untuk membatalkan amandemen apa pun yang disebut Undang-Undang Dasar, kuasi-konstitusi Israel. (raialyoum/aljazeera)

Intelijen Rusia: AS Berencana Persenjatai Ekstremis untuk Bangkitkan Gejolak di Suriah

Badan intelijen Rusia, Senin (20/3) menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) bermaksud mengirim lusinan truk yang dilengkapi dengan senjata otomatis berat, serta sistem rudal bergerak Igla anti-pesawat  dan sistem rudal TOW dan NLAW anti-tank   untuk kelompok ekstremis di Suriah.

Dikutip kantor berita RIA Novosti Rusia, kantor pers dinas intelijen Rusia menyatakan, “Direktur dinas intelijen asing, Sergey Naryshkin, mengatakan bahwa AS terus menggunakan kelompok-kelompok Islam di bawah kendalinya di Suriah untuk melemahkan posisi pemerintah yang sah di negara ini, yang dipimpin oleh Bashar al-Assad.”

Kantor tersebut mengindikasikan bahwa Washington memberikan peran khusus pada apa yang disebut “Tentara Pembebasan Suriah” (FSA).

Dia menjelaskan, “AS dan sekutu Inggris mereka bekerja dengan formasi rahasia organisasi ISIS yang masih beroperasi di daerah terpencil di negara itu.”

Kantor itu menyebutkan bahwa “masalah mempersenjatai ISIS” sedang disetujui di pangkalan militer AS di al-Tanf, provinsi Homs.

“Beberapa teroris akan digunakan oleh sponsor mereka di wilayah ibu kota, termasuk untuk penculikan personel militer Rusia dan Iran,” ungkapnya.

Dia mencatat bahwa Moskow menganggap “kerjasama erat antara AS dan teroris” sebagai “manifestasi negara teroris.” (raialyoum)