Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 21 Januari 2020

pasukan mansour hadi di yamanJakarta, ICMES. Lebih dari 100 orang pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abed Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan menduduki sebagian wilayah Yaman tewas dalam serangan rudal gerakan Ansarullah (Houthi) yang berkuasa di ibu kota negara ini, Sanaa.

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Soleimani menyatakan bahwa gugurnya komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani merupakan awal kemunculan Soleimani baru.

Komandan baru Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani menyebut AS telah membunuh pendahulunya, Mayjen Qassem Soleimani, “dengan cara pengecut”, namun dia berjanji untuk membalas pembunuhan itu “dengan cara jantan”.

Republik Islam Iran mengancam akan keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) jika isu nuklir Iran dilimpahkan kepada Dewan Keamanan PBB.

Berita selengkapnya:

116 Pasukan Loyalis Hadi Tewas di Yaman Terserang Rudal, Liga Arab Kutuk Ansarullah

Sebanyak lebih dari 100 orang pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abed Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan menduduki sebagian wilayah Yaman tewas dalam serangan rudal gerakan Ansarullah (Houthi) yang berkuasa di ibu kota negara ini, Sanaa.

Televisi pemerintah Saudi pada Sabtu malam lalu menyatakan bahwa serangan Ansarullah telah menargetkan kamp militer yang diduduki oleh pasukan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan negara-negara lain yang beroperasi di bawah pasukan koalisi dipimpin Saudi di Ma’rib.

Berbagai laporan, termasuk dari netizen di media sosia menyatakan jumlah korban tewas mencapai lebih 100  orang berdasarkan pernyataan yang dikutip dari akun rumah sakit militer di Ma’rib yang telah mengeluarkan seruan darurat untuk donor darah. Ada pula laporan yang menyebutkan jumlah korban tewas 116 orang.

Tidak ada pernyataan resmi dari pasukan koalisi mengenai jumlah dan data korban, dan jika angka itu dikonfirmasi maka serangan itu akan menjadi salah satu serangan Ansarullah yang paling mematikan terhadap Saudi dan sekutunya di Yaman belakangan ini.

Di Kairo, Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit juga merilis pernyataan berisi kecaman atas serangan Ansarullah tersebut dan menilainya sebagai pertanda baru “adanya upaya pihak asing memanaskan front Yaman untuk mengalihkan perhatian dari masalah dan tantangan dalam negerinya.”

Serangan mematikan itu terjadi setelah pasukan loyalis Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Saudi melancarkan oporasi militer besar-besaran terhadap Ansarullah di kawasan Nahom di timur laut Sanaa. (presstv/raialyoum)

Panglima IRGC: Gugurnya Soleimani adalah Awal Era Soleimani Baru

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Soleimani menyatakan bahwa gugurnya komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani merupakan awal kemunculan Soleimani baru, dan bahwa gugurnya Soleimani akan mendatangkan celaka yang lebih besar bagi musuh Iran dibanding keadaan ketika Soleimani masih hidup.

Pada upacara pengenalan komandan baru Pasukan Quds IRGC, Brigjen Esmail Qaani, yang dihadiri oleh para petinggi militer, Senin (20/1/2020), Salami menyebut  Soleimani sebagai komandan besar, legendaris tak terlupakan dan tak terulang, serta memiliki semua keutamaan spiritual.

Dia menekankan bahwa Soleimani merupakan perwujudan dari ayat-ayat jihad dalam Al-Qur’an, tulang punggung IRGC, sumber ketenangan bagi semua, sosok yang memiliki peran ideal dalam perlawanan terhadap musuh, dan menjadi perwujudan sejati apa yang disebut dalam ayat suci al-Quran sebagai “orang-orang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”

“Semua orang melihat jelas betapa komandan besar dengan kesyahidannya telah menciptakan gelombang baru gerakan yang bukan hanya di Iran, melainkan juga di tengah umat Islam dan bangsa-bangsa lain…  Soleimani yang syahid lebih berbahaya bagi musuh daripada Soleimani yang hidup… Syahid  Qassem Soleimani sebelum gugur telah berulangkali membalas musuh. Inilah komandan mujahid yang pertama kali dalam sejarah telah membuka front luas di negara-negara Islam melawan musuh dan menguras kekuatan AS dan rezim perampas, Zionis. Komandan besar ini telah membuka front di Libanon, Suriah, Irak, Afghanistan, dan negara-negara Islam lain serta menimbulkan celaka yang tak lazim bagi musuh umat Islam,” paparnya.

Salami menambahkan, “Musuh memiliki angggapan keliru bahwa dengan membunuh komandan besar ini maka perkara akan selesai. Semua orang justru melihat betapa darah syahid ini dan partisipasi puluhan juta orang dalam prosesi pemakaman jenazahnya telah mengandaskan semua konspirasi dan tipu daya keji musuh, dan telah bermula sebuah gerakan baru.”

Panglima IRGC memastikan bahwa gugurnya Soleimani akibat serangan AS pada 3 Januari lalu telah meniupkan spirit baru dalam tubuh umat Islam.

Mayjen Salami lantas menyebutkan bahwa bendera yang semula ada di tangan Soleimani kini ada tangan penerusnya, Brigjen Esmail Qaani, yang juga disebutnya sebagai “sosok brilian, pemberani, bertakwa, kreatif, dan inovatif, yang sudah lebih dari 25 tahun berjuang bersama Soleimani”, dan bahwa Brigjen Mohammad Hijazi telah ditunjuk sebagai wakil komandan Pasukan Quds.

“Ada orang-orang memiliki kealian, keimanan yang mendalam, sanubari yang hidup, dan cita-cita besar, yang akan meneruskan jalan Syahid Qassem Soleimani. Kita bersama bersama mereka, dan tentu kita kalahkan AS dan musuh-musuh umat Islam,” pungkasnya.  (mm/alalam)

Jenderaal Qaani: AS Membunuh Soleimani Secara Licik, Kami akan Membalas Secara Jantan

Komandan baru Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani menyebut AS telah membunuh pendahulunya, Mayjen Qassem Soleimani, “dengan cara pengecut”, namun dia berjanji untuk membalas pembunuhan itu “dengan cara jantan”.

“Mereka (AS) menyerangnya (Soleimani) dengan cara pengecut, tetapi dengan rahmat Allah dan melalui upaya para penuntut kebebasan di seluruh dunia yang ingin membalas dendam atas darahnya, kami akan menghantam musuh dengan cara jantan,” tegas Qaani pada upacara pengantar tugas yang diselenggarakan untuk dirinya oleh IRGC untuk menandai awal resmi masa jabatannya, Senin (20/1/2020).

Dia menjelaskan bahwa AS menghabisi Jenderal Soleimani bukan  di medan laga, melainkan dengan cara “licik dan pengecut”.

Qaani mengutuk praktik-praktik politik AS yang disebutnya “Setan Besar penuh tipu daya, pemusuhan, dan keji”.

“Musuh-musuh kita tidak mengerti kecuali bahasa kekuatan, karena itu mereka harus dihadang dengan tegas,” ungkap Qaani.

Mengenai kehebatan Jenderal Soleimani dia mengatakan, “Lisan tak sanggup menjelaskan keutamaan akhlaknya, tapi indikator utama dan sentral bagi komandan besar ini antara ialah kepatuhannya kepadanya pemimpin besar revolusi (Ayatullah Ali Khamenei), dan keikhalasannya dalam berbuat, sehingga tercapailah cita-cita lamanya dalam kesyahidan setelah sekian tahun berjihad demi berkibarnya bendera Islam.”

Seperti diketahui, serangan udara AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada dini hari Jumat 3 Januari 2020 telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menghantamkan puluhan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh ribuan tentara AS.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan sekira 80 tentara AS, sementara Pentagon belakangan ini secara resmi menyatakan 11 tentara AS terluka dalam serangan rudal balistik tersebut, setelah Presiden AS Donald Trump semula mengklaim tidak ada korban tewas maupun luka.

Iran berjanji masih akan menempuh berbagai cara untuk membalas serangan udara AS, terutama agar AS terusir dari kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah secara umum. (alalam/aljazeera)

Iran Ancam Keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir

Republik Islam Iran mengancam akan keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) jika isu nuklir Iran dilimpahkan kepada Dewan Keamanan PBB.

“Jika Eropa masih melanjutkan praktik-praktiknya yang tak logis, dan jika berkas nuklir Iran dilimpahkan kepada Dewan Keamanan PBB maka kami akan keluar dari NPT,” tegas Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam rapat parlemen negara ini mengenai tindakan trio Eropa Inggris, Prancis, dan Jerman terkait dengan perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia (JCPOA), Senin (20/1/2020).

Dia menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran menindak lanjuti masalah ini melalui jalur hukum, dan mulai menjalankan prosedur penyelesaian sengketa secara resmi pada Mei 2018 setelah AS menarik diri dari JCPOA.

Dalam rangka ini kementerian itu pada 19 Mei 2018 serta 26 Agustus dan November 2018 telah mengirim tiga surat kepada Federica  Mogherini yang saat itu menjabat kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, dan secara resmi mengumumkan bahwa Iran telah memulai mekanisme penyelesaian perselisihan.

Selanjutnya, kementerian itu memberi Uni Eropa tenggat waktu tujuh bulan, dan pada Mei 2018 Iran mulai mengurangi komitmennya kepada JCPOA, dan setelah sekitar dua bulan tindakan itu membuahkan “hasil-hasil kongkret”.

Zarif mengatakan, “Pernyataan Eropa tidak memiliki dasar hukum, jadi kami mengambil keuntungan dari tindakan ilegal mereka, dan jika Eropa mengambil langkah lain, maka sesuai pesan Presiden (Rouhani) pada Mei 2018, masalah penarikan Iran keluar dari NPT akan diangkat.”

Dia menambahkan, “Jika Eropa kembali kepada kewajibannya maka Iran akan berhenti mengurangi komitmennya, tapi jika Eropa melanjutkan pendekatan mereka berdasarkan permainan politik yang tidak memiliki dasar hukum maka kami memiliki banyak kemungkinan, sebagaimana dinyatakan dalam pesan Presiden, bahwa jika masalah ini dirujuk ke Dewan Keamanan maka penarikan diri Iran dari NPT akan diangkat, tapi sebelum itu program-program lain dapat dimasukkan dalam agenda.” (alalam)