Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 2 Maret 2021

rudal iran ke ain assadJakarta, ICMES. Militer Amerika Serikat (AS) mengungkap rekaman video yang sebelumnya dirahasiakan terkait dengan serangan rudal Iran ke Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad yang ditempati oleh pasukan AS di Irak.

Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) berhak menghukum Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed Bin Salman (MBS) di masa mendatang jika dirasa perlu.

Kapal dagang Helios Ray milik Israel terkena beberapa ledakan yang belum jelas sumbernya ketika sedang berlayar di Laut Oman, namun otoritas Israel menuduh Iran bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Sebuah kelompok yang terdiri atas sekira 1800 mantan pejabat militer dan dinas rahasia Israel, Mossad, telah membuat sebuah petisi yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan berisi desakan kepadanya untuk tidak mengembalikan AS kepada perjanjian nuklir Iran Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Berita Selengkapnya:

Pertama Kali, AS Rilis Rekaman Video Serangan Rudal Iran ke Ain Assad

Militer Amerika Serikat (AS) mengungkap rekaman video yang sebelumnya dirahasiakan terkait dengan serangan rudal Iran ke Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad yang ditempati oleh pasukan AS di Irak.

Seperti diketahui, pada 8 Januari 2020, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggempur pangkalan yang ditempati sekira 2000 tentara dan sejumlah pesawat AS tersebut dengan beberapa rudal sebagai pembalasan atas serangan udara AS di Baghdad lima sebelumnya, yang menewaskan Komandan Pasukan Quds IRGC, Letjen Qassem Soleimani, dan rekan seperjuangannya, wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, Abu Mahdi Al-Muhandis.

Pada rekaman kamera drone yang dirilis pertama kalinya pada program 60 Menit di CBS News, Ahad (28/22), dengan durasi 1 menit 45 detik terlihat beberapa rudal Iran jatuh tepat menimpa situs militer Lanud Ain Assad.

Menurut Departemen Pertahanan AS, lebih dari 100 pasukan AS menderita “cedera otak traumatis” akibat gempuran rudal tersebut.

Di pihak lain, IRGC menyatakan bahwa  Washington menggunakan istilah tersebut untuk menutupi jumlah tentara AS yang tewas. Iran menyebut serangan rudal itu sebagai “tamparan pertama”.

Dalam sebuah wawancara eksklusif yang disiarkan di CBS News, Ahad, Komandan Komando Pusat AS, Jenderal Frank McKenzie, mengatakan, “Itu adalah serangan yang belum pernah saya lihat atau alami.”

McKenzie menyebut rudal Iran “akurat” dan “menghantam cukup banyak di tempat yang mereka inginkan.”

Dia mengklaim bahwa intelijen AS telah mendeteksi persiapan Iran untuk serangan rudal dan mendapat cukup waktu untuk mengevakuasi 1000 tentara dan 50 pesawat. (infowarrior /presstv)

Gedung Putih Nyatakan AS Berhak Menghukum Putra Mahkota Arab Saudi

Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) berhak menghukum Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed Bin Salman (MBS) di masa mendatang jika dirasa perlu.

“Tentu saja, kami berhak mengambil tindakan apapun pada waktu dan cara yang kami pilih,” kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki dalam siaran pers, Senin malam (1/3)

“Secara historis, AS belum pernah menghukum, melalui presiden Demokrat dan Republik, para pemimpin pemerintahan negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan kami,” imbuhnya.

Pada akhir Februari, Gedung Putih membenarkan penolakan AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap MBS atas kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Menanggapi pertanyaan tentang mengapa tidak ada sanksi yang dijatuhkan terhadap orang yang oleh intelijen AS dinyatakan terlibat dalam kasus tersebut, Psaki menjelaskan, “Sepanjang sejarah, dan bahkan selama era modernnya, pemerintahan Demokrat dan Republik telah menahan diri dari menjatuhkan sanksi terhadap para pemimpin pemerintah asing yang terikat hubungan diplomatik dengan kita, bahkan dalam ketiadaan hubungan diplomatik di antara kita.”

Dia juga mengatakan, “Kita percaya bahwa ada metode yang lebih efektif untuk mencegah terulangnya hal ini di masa depan, serta membuka jalan untuk bekerja dengan Saudi di wilayah yang ada kesepakatan dan  kepentingan nasional AS di dalamnya. Ini adalah wajah diplomasi.”

Sembari menyebut pembunuhan itu sebagai “kejatan yang mengerikan”, Psaki menambahkan, “Ini adalah gambaran dari setiap partisipasi kompleks dalam urusan dunia. Kami sama sekali bukan takut, melainkan jelas sapenuhnya bahwa kami akan meminta pertanggungjawaban mereka (penguasa Saudi) di tingkat global dan dengan tindakan langsung.”

Intelijen AS dalam laporannya yang dirilis Jumat pekan lalu menyatakan pihaknya berkesimpulan bahwa MBS menyetujui penangkapan ataupun pembunuhan Khashoggi di Istanbul.

Di pihak lain, Kementerian Luar Negeri Saudi hari itu pula segera menepis laporan itu dan menyebutnya sebagai “pengambilan kesimpulan yang mengusik dan tidak benar mengenai pimpinan Kerajaan”.

Masyarakat internasional mengutuk kejahatan tersebut dan mendesak Riyadh melakukan penyelidikan secara transparan untuk mengungkap semua misteri yang ada di balik peristiwa itu. (raialyoum)

Ledakan Kapal Israel Helios Ray di Laut Oman, Terkena Rudal atau Ranjau?

Kapal dagang Helios Ray milik Israel terkena beberapa ledakan yang belum jelas sumbernya ketika sedang berlayar di Laut Oman, namun otoritas Israel menuduh Iran bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Surat kabar Prancis Liberation, seperti dilaporkan Rai Al-Youm, Senin (1/3), memuat beberapa foto lobang bekas ledakan pada tubuh kapal yang ada jalur perairan itu. Pemilik kapal itu, pengusaha Israel Rami Ongar, mengatakan bahwa ledakan itu meninggalkan lobang berdiameter sekira 1.5 meter.

“Belum jelas apakah ini disebabkan oleh tembakan rudal ataupun ranjau yang menempel di kapal,” katanya, seakan menepis kemungkinan ledakan itu terjadi karena faktor kecelakaan di luar kesengajaan.

Iran secara resmi menepis dugaan terlibat di balik insiden ini, namun Liberation menyebutkan bahwa dugaan itu justru membangkitkan militansi pihak-pihak yang lebih konservatif di kancah politik Iran sehingga surat kabar konservatif Iran Keyhan berkomentar bahwa Helios Ray “kemungkinan besar telah jatuh ke perangkap salah satu cabang Poros Resistensi”.

Menurut Liberation, Keyhan bahkan menekankan bahwa kapal itu merupakan kapal mata-mata yang diserang ketika sedang mengumpulkan informasi intelijen mengenai Teluk Persia.

Liberation juga menyebutkan bahwa peristiwa demikian tak pernah terjadi kawasan Teluk Persia dalam sekira 18 bulan terakhir, sementara Helios Ray diserang pada Jumat lalu ketika mengibarkan bendera Kepulauan Bahama, meskipun milik perusahaan Israel Helios.

Semua awak kapal itu dilaporkan berada dalam kondisi baik, namun kapal dagang yang baru meninggalkan Pelabuhan Damam, Arab Saudi, menuju Singapura pada Rabu lalu terpaksa kembali berlabuh di Dubai, Uni Emirat Arab. (raialyoum)

Ribuan Mantan Petinggi Militer dan Intelijen Israel Desak Biden Tak Kembali ke Perjanjian Nuklir Iran

Sebuah kelompok yang terdiri atas sekira 1800 mantan pejabat militer dan dinas rahasia Israel, Mossad, telah membuat sebuah petisi yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan berisi desakan kepadanya untuk tidak mengembalikan AS kepada perjanjian nuklir Iran Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Sindikat Berita Yahudi (Jewish News Syndicate/JNS), sebuah organisasi yang menghimpun para jenderal purnawirawan dan mantan intelijen Israel, memperingatkan bahwa kembalinya AS kepada JCPOA merupakan “ancaman eksistensial” bagi Israel.

Dalam petisi tersebut para anggota anggota JNS menyatakan khawatir terhadap kemungkinan Gedung Putih kembali kepada perjanjian yang diteken AS di masa kepresidenan Barack Obama pada tahun 2015 tersebut, dan yang kemudian diabaikan oleh penerus Obama, Donald Trump, pada tahun 2018.

JNS yang menyebut JCPOA cacat memperingatkan, “Bergabungnya kembali AS dengannya akan membuat Israel dan negara-negara moderat Sunni yang menganggap Iran sebagai ancaman kolektif terjebak dalam kesulitan”.

JNS juga mengklaim bahwa hal itu pada akhirnya akan memicu persaingan dramatis senjata nuklir di kawasan, dan karena itu para mantan petinggi Israel tersebut mendesak Biden agar mengikuti kebijakan “tekanan maksimum” Trump demi mempertahankan sanksi-sanksi berat AS terhadap Iran. (raialyoum)