Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 2 Juli 2019

iran vs ASJakarta, ICMES: Presiden AS Donald Trump menyebut Iran “bermain dengan api” terkait dengan perkembangan baru mengenai pengayaan uranium Iran.

Pemerintah Iran mengaku tidak melanggar perjanjian nuklir terkait dengan keputusan baru Teheran menambah jumlah cadangan uranium yang diperkaya melebihi 300 kilogram.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri parlemen Iran Mojtaba Zolnoor menyatakan bahwa Israel akan musnah dalam tempo setengah jam jika AS menyerang Iran.

Pemerintah Suriah menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Suriah bertujuan mendongkrak mental kawanan teroris yang bercokol di Idlib dan lain-lain di wilayah Suriah.

Berita selengkapnya:

Soal Pengayaan Uranium, Trump Sebut Iran Bermain Api

Presiden AS Donald Trump menyebut Iran “bermain dengan api” terkait dengan perkembangan baru mengenai pengayaan uranium Iran.

Pemerintah Iran, Senin (1/7/2019), mengumumkan bahwa pihaknya telah mengumpulkan lebih banyak uranium yang diperkaya daripada yang diizinkan dalam perjanjian nuklirnya dengan negara-negara terkemuka dunia tahun 2015, yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) .

Perkembangan ini menandai langkah besar pertama di luar ketentuan JCPOA sejak AS keluar darinya pada lebih dari setahun yang lalu. Namun, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan bahwa langkah itu bukan pelanggaran terhadap JCPOA, dengan alasan bahwa Iran berhak bereaksi terhadap pengkhianatan AS.

Bagaimanapun juga, langkah ini memiliki konsekuensi besar untuk diplomasi manakala negara-negara Eropa berusaha menurunkan tensi ketegangan antara AS dan Iran. Perkembangan ini terjadi kurang dari dua minggu setelah Trump mengaku sudah merencanakan serangan udara ke Iran tapi kemudian memerintahkan pembatalan rencana itu pada 10 menit terakhir.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa cadangan uranium yang diperkaya negara itu kini telah melewati batas 300 kilogram yang diizinkan dalam JCPOA.

Badan pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang memantau program nuklir Iran berdasarkan kesepakatan itu, di Wina mengkonfirmasi bahwa Teheran telah melampaui batas tersebut.

Menjawab pertanyaan apakah ada pesan dari AS untuk Iran, Trump menjawab: “Tidak ada pesan ke Iran. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tahu apa yang mereka mainkan, dan saya pikir mereka bermain api. Jadi, tidak ada pesan apapun ke Iran. ”

Sebelumnya, Gedung Putih mengaku akan terus melancarkan “tekanan maksimum” terhadap Iran “sampai para pemimpinnya mengubah tindakan mereka”, dan mengingatkan  bahwa Iran harus memiliki standar yang melarang semua pengayaan uranium. (alalam/raialyoum)

Zarif Nyatakan Iran Tidak Melanggar Perjanjian Nuklir

Pemerintah Iran melalui Menlunya, Javad Mohammad Zarif, menegaskan bahwa negara republik Islam ini tidak melanggar perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) terkait dengan keputusan baru Iran menambah jumlah cadangan uranium yang diperkaya melebihi volume yang diizinkan JCPOA, yaitu 300 kilogram.

“Kami TIDAK melanggar #JCPOA,” tulis Zarif di Twitter, Senin (1/7/2019), terkait dengan paragraf perjanjian mengenai mekanisme bagi setiap negara untuk menyelesaikan perselisihan tentang kepatuhan.

“Begitu E3 mematuhi kewajiban mereka, kami akan mundur,” lanjutnya, merujuk pada tiga negara besar Eropa Inggris, Jerman dan Prancis, yang dituntut oleh Teheran agar menjamin akses Iran ke perdagangan dunia sesuai JCPOA.

Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Asosiasi Kontrol Senjata menyatakan tidak ada standar internasional yang melarang Iran memperkaya uranium.

“Bukan itu masalahnya. Itu adalah posisi AS,” katanya kepada kantor berita Reuters.

Seperti diberitakan sebelumnya, AS menanggapi keras keputusan Iran tersebut.  Presiden AS Donald Trump menyebut Iran “bermain dengan api” terkait dengan perkembangan baru mengenai pengayaan uranium Iran.

Kekuatan-kekuatan Eropa, yang masih terikat JCPOA dan berusaha mempertahankannya mendesak Iran untuk tidak menempuh tindakan lebih lanjut yang akan melanggarnya. Tapi mereka menahan diri dari pernyataan bahwa perjanjian itu batal atau mengumumkan sanksi mereka sendiri.

Langkah ini merupakan ujian diplomasi Eropa setelah para pejabat Perancis, Inggris dan Jerman menjanjikan tanggapan diplomatik yang kuat jika Iran secara fundamental melanggar kesepakatan itu.

Negara-negara Eropa, yang menentang keputusan Trump keluar dari JCPOA, telah meminta Iran bertahan pada parameternya.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyatakan negaranya ingin mempertahankan perjanjian itu “karena kita tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir. Tetapi jika Iran melanggar kesepakatan itu maka kita juga akan keluar darinya”.

Iran mengaku beritikad mempertahankan perjanjian itu, namun keberatan mematuhi ketentuan-ketentuannya untuk jangka waktu yang tidak terbatas, selagi sanksi yang diberlakukan AS mencegahnya manfaat yang seharusnya didapat Iran sebagai imbalan atas kesediaannya membatasi proyek nuklirnya.

Seorang juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa “tindakan seperti itu oleh Republik Islam Iran tidak akan membantu melestarikan rencana itu, juga tidak menjamin manfaat ekonomi yang nyata bagi rakyat Iran.”

Dia menambahkan bahwa itu harus diselesaikan menggunakan mekanisme kesepakatan itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negara-negara Eropa harus “mendukung komitmen mereka” dan menjatuhkan sanksi terhadap Iran. (alalam/aljazeera)

“Kapal Induk AS Akan Tenggelam dan Israel Segera Musnah Jika Menyerang Iran”

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri parlemen Iran Mojtaba Zolnoor menyatakan bahwa Israel akan musnah dalam tempo setengah jam jika AS menyerang Iran.

Dalam sebuah acara talk show saluran Al-Alam, Ahad (31/6/2019), dia menilai Presiden AS Donald Trump berdusta ketika mengaku bahwa telah menerbangkan jet tempur AS untuk menyerang Iran lalu membatalkannya pada 10 menit terakhir. Menurut Zolnoor, pernyataan Trump itu “tak lebih dari tipuan politik dan klaim belaka.”

“Seandainya AS yakin akan berhasil dalam serangan militernya maka tidak akan membatalkannya, dan pasti akan terjadi serangan. Ini tipu daya belaka,” ujarnya.

Dia juga bersumbar bahwa resiko lain serangan AS terhadap Iran adalah tenggelamnya kapal induk di Teluk Persia bersama ribuan personil yang ada di dalamnya. Selain itu, semua pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya akan menjadi sasaran hujan rudal Iran.

“Kami akan menenggelamkan kapal induk itu dengan seluruh personil dan awaknya yang berjumlah sekitar 7000 orang,” tegasnya.  (alalam/raialyoum)

Suriah Nyatakan Serangan Israel Bertujuan Mendongkrak Sisa Mental Teroris di Idlib

Pemerintah Suriah menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Suriah pada Ahad malam lalu (31/6/2019), bertujuan mendongkrak mental kawanan teroris yang bercokol di Idlib dan lain-lain di wilayah Suriah.

“Serangan itu bertujuan meningkatkan mental yang tersisa di kantung teroris Israel di Idlib dan di tempat lain, yang merupakan satu lingkaran dalam rangkaian serangan berulang Israel terhadap kedaulatan Suriah,” ungkap Kemlu Suriah, Senin (1/7/2019).

Kemlu Suriah menambahkan bahwa agresi Israel itu “dalam rangka upaya berkelanjutan Israel untuk memperpanjang krisis di Suriah dan perang Suriah melawan terorisme.”

Sehari sebelumnya, Israel melancarkan serangan rudal Israel ke Homs dan sekitar Damaskus hingga menewaskan sejumlah warga sipil, termasuk satu anak kecil.

Menurut Kemlu Suriah, dengan kejahatan ini rezim Zionis Israel telah membuktikan lagi kebrutalannya kepada khalayak dunia dan kesiapannya melanjutkan kejahatan itu serta perlawanannya terhadap ketentuan PBB setelah sekian lama berusaha menyembunyikan realitas itu.

Kemlu Suriah juga melayangkan surat pengaduan terpisah kepada Sekjen PBB dan Dewan Keamanan PBB ihwal serangan ini, yang antara lain menyebutkan bahwa Israel melanggar resolusi 350 tahun 1974 Dewan Kemanan PBB terkait dengan gencatan senjata antara Israel dan Suriah pasca-Perang Yom Kippur.

Kedua surat itu juga menyatakan bahwa serangan Israel pada Ahad malam tersebut selain menewaskan empat warga sipil, termasuk satu gadis kecil, juga melukai 21 orang lainnya yang sebagian besar adalah kaum perempuan dan anak kecil, dan menyebabkan kerusakan pada rumah dan properti warga sipil. (raialyoum)