Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 17 Oktober 2023

Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan jika kejahatan rezim Israel di Jalur Gaza terus berlanjut dan tidak ada solusi politik yang ditemukan maka tindakan preemptive akan segera diambil oleh faksi-faksi resistensi.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa para pejuang Palestina bebas membuat keputusan sendiri, dan Iran mendukung mereka.

Juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas, Abu Obeida, menyatakan “Gaza akan menjadi kuburan bagi penjajahnya,” dan menegaskan bahwa para pejuang Palestina tak gentar terhadap ancaman serangan darat Rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Menlu Iran: Kubu Resistensi akan Lakukan Serangan Preemptive terhadap Israel

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan jika kejahatan rezim Israel di Jalur Gaza terus berlanjut dan tidak ada solusi politik yang ditemukan maka tindakan preemptive akan segera diambil oleh faksi-faksi resistensi.

 “Selama perjalanan regional dan pertemuan saya dengan para pemimpin front resistensi, mereka percaya bahwa sebuah kesempatan harus diberikan pada solusi politik,” katanya dalam wawancara yang disiarkan televisi, Senin (16/10), usai safari ke Irak, Lebanon, Suriah, dan Qatar.

“Namun, jika kejahatan perang rezim Israel terhadap warga sipil terus berlanjut, kemungkinan apa pun mungkin terjadi,” sambungnya.

Rezim Israel mengerahkan 300.000 tentara cadangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menyatakan perang “panjang” di Gaza sebagai respons terhadap Operasi Badai al-Aqsa.

Operasi tersebut diluncurkan oleh gerakan perlawanan Palestina yang berbasis di Gaza pada Sabtu lalu sebagai tanggapan terhadap kampanye pertumpahan darah dan penghancuran yang dilakukan Rezim Zionis Israel selama puluhan tahun terhadap warga Palestina.

Sejauh ini, sudah lebih dari 2.800 warga Palestina gugur dan hampir 11.000 lainnya terluka akibat serangan biadab Israel di Gaza.

Menlu Iran menyatakan bahwa semua skenario terbuka untuk kubu resistensi, termasuk gerakan Hizbullah Lebanon, dan mereka telah melakukan semua pertimbangan dan perhitungan secara cermat.

“Para pemimpin kubu resistensi tidak akan membiarkan Rezim Zionis melakukan apapun yang mereka inginkan di kawasan ini. Segala tindakan pencegahan dapat dilakukan dalam beberapa jam mendatang,” tegasnya.

 “Jika kita tidak membela Gaza hari ini, kita harus mempertahankan kota-kota kita sendiri,” lanjutnya, mengutip pernyataan pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah bahwa jika gerakan yang berbasis di Lebanon tidak melakukan tindakan pencegahan terhadap Israel maka “besok, kita harus melawan pasukan Zionis di Beirut.”

Dia juga mengatakan, “Masalah yang dihadapi adalah apa yang terjadi (di wilayah pendudukan) berupa ‘gempa’ yang terjadi di rezim Zionis,” kata Amir-Abdollahian, mengacu pada Operasi Badai al-Aqsa, yang telah menyebabkan sekitar 1.200 orang Israel tewas dan hampir 200 lainnya ditawan.

Amir-Abdollahian kemudian menyebutkan ihwal diskusi dia sebelumnya dengan beberapa rekannya dari negara-negara Muslim.

“Kami telah mencapai kesimpulan bahwa jika kemungkinan-kemungkinan terbatas dan sempit yang tersedia bagi PBB tidak dimanfaatkan maka kemungkinan membuka front baru melawan rezim (Israel)tidak dapat dihindari,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa perang besar-besaran melawan Israel tidak dapat dihindari. Israel melalui kubu resistensi “akan mengubah peta geografis rezim pendudukan al-Quds.”

Menlu Iran juga mengecam Amerika Serikat karena mendesak kubu resistensi untuk menahan diri dalam perang yang sedang berlangsung di Gaza, tapi di saat yang sama juga mendukung rezim Israel.

“Kami telah dengan jelas mengatakan kepada pihak Amerika, dan saya mengumumkan bahwa mereka tidak dapat meminta semua pihak untuk menahan diri, namun menawarkan dukungan penuh mereka kepada para penjahat Israel,” tegasnya.

Dia juga menandaskan, “Waktu bagi Amerika untuk mengirim pesan-pesan seperti itu akan segera berakhir. Saya memperingatkan Anda untuk (lebih baik) menghentikan pertumpahan darah terhadap perempuan dan anak-anak (di Gaza) daripada mengirimkan pesan-pesan munafik.” (presstv)

Presiden Iran: Situasi di Gaza Mungkinkan Meluasnya Zona Pertempuran

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa para pejuang Palestina bebas membuat keputusan sendiri, dan Iran mendukung mereka.

Faksi perlawanan Palestina bebas dan independen dalam mengambil keputusan, dan kami mendukung semua tindakan yang mereka ambil untuk menghadapi agresi Israel dalam konteks pertahanan sah mereka atas wilayah Palestina,” tutur Raisi dalam percakapan telepon dengan sejawatnya dari Rusia, Vladimir Putin, Senin (16/10), di mana keduanya membahas perkembangan situasi Palestina, dan perkembangan kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara.

Presiden Iran memuji “sikap positif Rusia dalam mengutuk kejahatan perang dan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Gaza.”

Menurutnya, situasi saat ini di Gaza “menandakan perluasan cakupan perang dan pertempuran di semua lini.”

Presiden Iran juga meminta semua negara serta forum internasional, dan Rusia selaku anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mengambil “peran yang lebih efektif untuk menghentikan kejahatan perang Israel terhadap rakyat Palestina. ”

Raisi mengatakan, “Pendekatan Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam mendukung Israel mendorong mereka untuk terus melakukan kejahatan genosida terhadap rakyat Gaza.”

Di pihak lain, Putin mengatakan, “Pemboman hebat yang dilancarkan Israel terhadap wilayah yang dihuni oleh lebih dari dua juta orang yang tidak berdaya tidak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan.”

Dia menambahkan, “Menyerang Gaza melalui darat akan menimbulkan dampak kemanusiaan dan militer yang merugikan.” (irna/raialyoum)

Mengaku Tawan 200-an Orang Israel, Brigade Al-Qassam: Gaza akan Jadi Kuburan bagi Pasukan Zionis

Juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas, Abu Obeida, menyatakan “Gaza akan menjadi kuburan bagi penjajahnya,” dan menegaskan bahwa para pejuang Palestina tak gentar terhadap ancaman serangan darat Rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza.

Dalam sebuah rekaman audio dia menyebutkan bahwa Israel menyebarkan tuduhan palsu untuk menutupi kegagalannya serta terbiasa membunuh, membantai, menghabisi tahanan, dan meremukkan tengkorak anak-anak kecil  dalam semua perangnya terhadap rakyat Palestina dan negara-negara Arab.

Mengenai kemungkinan serbuan darat Israel ke Jalur Gaza, Abu Obeida dalam pernyataannya kepada rakyat Palestina, Israel dan seluruh dunia menegaskan bahwa ancaman agresi darat  itu adalah “sesuatu yang tak menggentarkan kami”.

Juru bicara Brigade Al-Qassam menekankan bahwa Gaza “akan menjadi kuburan bagi penjajahnya, dan pasir Gaza akan menelan musuhnya,” dan bahwa masuknya pasukan Israel ke Jalur Gaza “akan menjadi peluang baru untuk meminta pertanggungjawaban mereka  atas kejahatan mereka.”

Mengenai orang Israel yang ditahan oleh para pejuang Palestina di Jalur Gaza, Abu Obeida awalnya memperkirakan jumlah mereka berkisar antara 200-250 tahanan atau lebih, dan kemudian mengungkapkan bahwa Brigade Qassam sendiri menawan 200 orang Israel.

Dia juga mengungkapkan bahwa agresi brutal Israel terhadap bangunan dan rumah, tanpa peringatan, sejauh telah menyebabkan melayangnya nyawa 22 tawanan.

Dia mengumumkan bahwa kubu pejuang Palestina memiliki sekelompok tawanan yang berasal dari berbagai negara, dan bahwa mereka “dibawa selama pertempuran, dan belum ada  kesempatan untuk memverifikasi identitas mereka.”

Abu Obeida meminta semua negara di dunia untuk “memperingatkan pemegang kewarganegaraan mereka agar tidak berperang dengan tentara Israel,” dan menyatakan bahwa kelompok perlawanan akan membebaskan tahanan asing “jika kondisi yang diperlukan untuk itu tersedia.” (almayadeen)