Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 17 Maret 2020

iran dan rusiaJakarta, ICMES. Kemlu Rusia menyatakan Moskow akan memberikan bantuan kepada Iran di tengah tekanan sanksi AS yang berkelanjutan dan mewabahnya virus corona (Covid-19), dan Menlu AS Mike Pompeo meminta China untuk tidak menyebarkan “rumor” mengenai virus corona.

Juru bicara Keementerian Kesehatan dan Kependudukan Mesir, Khaled Mogahed,  Senin (16/3/2020), membantah laporan majalah Inggris The Guardian mengenai tingginya jumlah kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Negeri Piramida ini.

Kepala Komite Revolusi gerakan Ansarullah di Yaman, Mohammad Ali al-Houthi menyebut wabah virus corona sebagai ulah dan “buatan AS”.

Berita selengkapnya:

Rusia Bertekad Bantu Iran Hadapi Wabah Corona di Tengah Tekanan Sanksi AS

Kemlu Rusia menyatakan Moskow akan memberikan bantuan kepada Iran di tengah tekanan sanksi AS yang berkelanjutan dan mewabahnya virus corona (Covid-19).

“Menyusul adanya laporan-laporan yang masuk mengenai penyebaran wabah akibat virus corona maka kami harus mengingatkan kondisi tak adil dan tak setara yang dialami Republik Islam Iran,” ungkap Kemlu Rusia dalam sebuah statemennya, Senin (16/3/2020).

Kemlu Rusia mengutip pernyataan Presiden Iran Hassan Rouhani belakangan ini bahwa “sanksi sepihak dan ilegal -yang diterapkan AS sejak tahun 2018 sebagai bagian dari kampanye ‘tekanan maksimal’-  menjadi kendala kuat bagi perang yang efektif terhadap wabah ini.”

Kemlu Rusia menilai korban berjatuhan bukan hanya lantaran penyakit ini sendiri, melainkan juga karena “realitas bahwa AS sengaja menghalangi pemberantasannya”.

Kemlu Rusia menambahkan, “Kebijakan tak manusiawi AS menimbulkan keprihatinan yang sangat mendalam… Kami sangat mengimbau AS agar menghadapi realitas dan mengambil keputusan secepatnya untuk mencabut sanksi yang dipaksakan terhadap hak asasi manusia di Iran. Pendemi global bukanlah kesempatan untuk melakukan pembalasan geo-politik.”

Kemlu Rusia menegaskan, “Di tengah situasi penyebaran virus corona di Iran, Moskow meminta AS mencabut sanksi-sanksi terhadap Teheran.”

Presiden Rouhani dalam pidato televisinya, Senin, mengimbau kepada warganya untuk menetap di dalam rumah dan bersikap kooperatif dengan pemerintah dan tim-tim medis dalam upaya pemberantasan Covid-19.

Sementara itu, Menlu AS Mike Pompeo meminta China untuk tidak menyebarkan “rumor” mengenai virus corona (Covid-19), setelah sebelumnya seorang pejabat China di Beijing berbicara mengenai teori konspirasi yang melibatkan AS dalam penyebaran virus mematikan yang kini sedang melanda dunia tersebut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus, Senin (17/3/2020), menyatakan Pompeo dalam kontak telefon dengan Yang Jiechi, direktur Kantor Luar Negeri China, telah “menyampaikan keberatan yang sangat AS terhadap upaya (China) mengalihkan kesalahan atas COVID-19 kepada AS”.

“Menlu menekankan bahwa ini bukan saatnya untuk menyebarkan desinformasi dan desas-desus yang aneh, melainkan lebih merupakan waktu bagi semua negara untuk bersama-sama melawan ancaman bersama ini,” kata Ortagus.

Pompeo sendiri di Twitter menuduh pejabat Beijing mempromosikan “disinformasi” dan “rumor aneh.”

“Hari ini berbicara dengan Direktur Yang Jiechi tentang desinformasi dan desas-desus aneh yang sedang disebarkan melalui saluran RRC resmi,” cuitnya.

Dia menambahkan, “AS tidak  berusaha melindungi orang-orang kami, dan mengandungi pandemi global #coronavirus. Beijing harus mengakui perannya dan menjadi bagian dari solusi.”

Pompeo menyatakan demikian di tengah berkembangnya teori konspirasi yang diterima media Tiongkok yang mempertanyakan asal mula virus corona dan menyalahkan AS atas penyebaran penyakit yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, tersebut.

Sebelum itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, menyatakan ada data-data yang mengkonfirmasi bahwa perwakilan laboratorium-laboratorium  pusatlah yang menyebarkan Covid-19 ke China.

Dia bahkan menyebutkan adanya bukti-bukti bahwa virus itu telah dibuat oleh para ilmuwan AS pada tahun 2015.

Dilaporkan bahwa AS telah memberi China semua informasi yang dimilikinya tentang virus corona baru tersebut.

Di pihak lain, para ahli Cina telah menemukan di arsipnya sebuah artikel terbitan tahun 2015 dalam jurnal Nature Medicine, yang mengkonfirmasi bahwa para ilmuwan AS telah dapat mendapatkan virus corona jenis baru, yang berdampak langsung pada manusia.

Penulis artikel itu menekankan bahwa COVID-19 bersumber pada virus SHC014, yang ditemukan pada kelelawar, dan atas dasar itu “virus chimeric” (virus yang memiliki dua atau lebih sel dan jaringan yang berbeda secara genetis) dibuat dan dapat beradaptasi dengan tubuh manusia. (raialyoum/alalam)

Mesir Bantah Dugaan 19.000 Warganya Terjangkit Virus Corona

Juru bicara Keementerian Kesehatan dan Kependudukan Mesir, Khaled Mogahed,  Senin (16/3/2020), membantah laporan majalah Inggris The Guardian mengenai tingginya jumlah kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Negeri Piramida ini.

Mogahed dalam sebuah statemennya memastikan kementerian ini segera mengumumkan setiap kasus positif virus corona dengan sepenuhnya transparan sesuai peraturan kesehatan internasional dan dengan koordinasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dia menepis estimasi seorang pakar penyakit menular di salah satu universitas Kanada, yang dijadikan rujukan oleh The Guardian mengenai banyaknya jumlah pengidap virus corona yang bahkan diperkirakan mencapai lebih dari 19,000 orang.

Mogahed menekankan bahwa WHO merupakan badan resmi yang dipercaya memantau situasi pandemik  virus corona di semua negara di dunia, dan kantor WHO di Mesir bersama dengan kementerian tersebut memantau semua data akurat dan diperbarui setiap hari, sebagaimana juga terus mengawasi dan memantau tindakan pencegahan yang dilakukan oleh kementerian tersebut terhadap para pengidap virus corona serta orang-orang yang berkontak dengan mereka. (mm/rt)

Ansarullah Yaman Sebut Wabah Covid-19 Ulah AS

Kepala Komite Revolusi gerakan Ansarullah di Yaman, Mohammad Ali al-Houthi menyebut wabah virus corona sebagai ulah dan “buatan AS”.

Al-Houthi juga menyindir pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi dengan pernyataan bahwa pihak yang membunuh rakyat dengan senjata tidak akan segan-segan menebar kematian di tengah bangsa Yaman dengan cara paling praktis dan hemat biaya berupa penyebaran wabah penyakit.

“AS, Saudi, Uni Emirat Arab, dan para sekutu mereka bertanggungjawab atas hasil-hasil yang sudah pernah dijelaskan, selain atas agresi dan blokade di mana AS bukan saja menolak penghentiannya melainkan juga bahkan menyerukan penyetopan bantuan kemanusiaan,” ujar al-Houthi dalam sebuah pernyataannya, Senin (16/3/2020).

Dia menegaskan bahwa koalisi pimpinan Saudi itu bertanggungjawab atas menyebarnya Covid-19 di Yaman, termasuk karena mereka “sengaja tidak melakukan tindakan apapun untuk pencegahan wabah ini”.

“Negara-negara agresor itu sengaja tidak melakukan langkah pencegahan, tindakan darurat, isolasi, dan apapun di berbagai kawasan yang mereka duduki, seolah tak ada wabah bernama corona yang sedang melanda dunia,” ungkap Ali al-Houthi.

Dia menambahkan, “Kami menganggap AS dan para sekutunya bertanggungjawab atas segala keadaan di Yaman karena merekalah yang menguasai udara serta pintu-pintu laut dan darat, dan bertanggungjawab atas tidak adanya tindakan.”

Mohammad Ali al-Houthi kemudian menyerukan kepada anak-anak bangsa Yaman untuk “bersuka rela membangun tempat-tempat isolasi kesehatan di pintu-pintu perbatasan tanpa menunggu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang sampai sekarang belum memberikan apapun untuk memenuhi kebutuhan ini meskipun sudah dan terus dikontak.” (rt)