Rangkuman Berita Utama Timteng  Selasa 15 September 2020

liga arab sept 2020Jakarta, ICMES. Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtayeh mengatakan pemerintah akan memberikan rekomendasi kepada Presiden Mahmoud Abbas untuk mempertimbangkan kembali hubungan dengan Liga Arab.

Penasihat Pemimpin Besar Iran Urusan Internasional Ali Akbar Velayati menegaskan bahwa Iran akan terus menentang normalisasi hubungan dengan Israel dan bahwa keamanan Iran merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar.

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman Abdel Malik Al-Houthi mengutuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA)  serta menyebut keduanya “membawa bendera kemunafikan” dan mengikuti “garis yang menyimpang dan menyimpangkan di tengah umat”.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengadakan kontak telefon dengan sejawatnya dari Bahrain Abdullah al-Nuaimi dan membahas kerjasama kedua negara di bidang keamanan, demikian dilaporkan badan penyiaran Israel.

Berita selengkapnya:

“Selasa Hari Hitam”, Palestina Pertimbangkan Keluar dari Liga Arab

Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtayeh mengatakan pemerintah akan memberikan rekomendasi kepada Presiden Mahmoud Abbas untuk mempertimbangkan kembali hubungan dengan Liga Arab.

Hal ini terjadi di tengah kemarahan Palestina terhadap perjanjian normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) belakangan ini.

“Liga Arab telah menjadi simbol kelambanan Arab,” kata Ishtayeh dalam rapat mingguan kabinetnya, Senin (14/9/2020).

Pekan lalu, pertemuan menteri Liga Arab gagal mengadopsi rancangan Palestina yang mengutuk perjanjian normalisasi UEA-Israel yang terjadi pada Agustus lalu.

Bahrain kemudian menjadi negara Arab keempat yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Israel setelah UEA baru-baru ini serta Mesir pada tahun 1979 dan Yordania pada tahun 1994.

Gedung Putih akan menjadi tuan rumah upacara penandatanganan perjanjian normalisasi pada hari ini, Selasa (15/9/2020), yang akan dihadiri oleh Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed, dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdul-Latif al-Zayani.

“Selasa akan menjadi hari hitam dalam sejarah negara-negara Arab dan kekalahan institusi Liga Arab,” kecam Ishtayeh.

Otorita Palestina mengutuk kesepakatan normalisasi Bahrain-Israel sebagai pengkhianatan lain oleh negara Arab.

Menteri urusan sosial di Otorita Palestina Ahmad Majdalani kepada kantor berita AFP menyebut perjanjian itu sebagai “tusukan dibelakang perjuangan Palestina dan rakyat Palestina”.

Faksi Hamas, yang berkuasa di Jalur Gaza, menyebut kesepakatan itu “agresi” yang menimbulkan “prasangka serius” terhadap perjuangan Palestina. (aljazeera)

Soal Normalisasi Arab-Israel, Velayati Tegaskan Keamanan Iran “Garis Merah”

Penasihat Pemimpin Besar Iran Urusan Internasional Ali Akbar Velayati menegaskan bahwa Iran akan terus menentang normalisasi hubungan dengan Israel dan bahwa keamanan Iran merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar.

Kepada TV Al-Masirah yang berbasis di Yaman, Senin (14/9/2020), dia mengatakan bahwa Iran akan terus menentang normalisasi yang saat ini sedang terjadi antara beberapa negara Teluk Arab dan Israel.

“Keberatan kami terhadap normalisasi berpangkal pada fakta bahwa Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) telah melakukan tindakan yang berlawanan dengan aspirasi umat Islam dan bangsa Palestina, dan tindakan ini merupakan pengakuan resmi atas pendudukan Zionis,” ujarnya.

Mantan menteri luar negeri Iran ini menambahkan,“Iran tidak memiliki masalah keamanan karena normalisasi Arab-Israel, dan tak ada negara yang berani mengusik keamanan kami. Pasukan militer kami siap mereaksi segala upaya pengacauan keamanan. ”

Perjanjian damai antara UEA dan Israel dan deklarasi dukungan untuk perdamaian antara Bahrain dan Israel akan ditandatangani di hadapan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada hari ini, Selasa (15/9/2020). (raialyoum)

Pemimpin Ansarullah Yaman Sebut Saudi dan UEA Munafik dan Menyimpang

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman Abdel Malik Al-Houthi mengutuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA)  serta menyebut keduanya “membawa bendera kemunafikan” dan mengikuti “garis yang menyimpang dan menyimpangkan di tengah umat”.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh saluran TV Al-Masirah milik Ansarullah, Al-Houthi mengatakan, “Sebagian penderitaan umat ini berkaitan dengan kondisi internal di mana mereka terdera kezaliman, absensi keadilan, penyimpangan pemikiran, keterceraian beraian dan perpecahan, suatu hal yang tak wajar bagi yang orang-orang terhubung dengan umat Islam, sebab Islam membangun kehidupan yang istimewa, tinggi, dan agung.”

Terkait dengan normalisasi hubungan sebagian negara Arab dengan Rezim Zionis Israel, dia mengatakan, “Kita melihat para pemegang tampuk kekuasaan di tengah umat Islam justru berdiri di barisan kaum Yahudi yang memusuhinya, di barisan musuh Rasul  dan kesucian umat, dan ini mengindikasikan besarnya bahaya yang mengancam umat.”

Dia lantas menyebut rezim Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi sebagai “representasi garis menyimpang dan menyimpangkan di tengah umat”.

“Saudi dan UEA membawa bendera kemunafikan serta loyalitas dan kepatuhan kepada musuh umat dan membaikan peran destruktif di dalamnya,” kecam Al-Houthi.

Dia kemudian menyinggung heboh penistaan terhadap Rasulullah saw di sebagian negara Eropa dengan mengatakan, “Orang-orang yang secara kontinyu menistakan Rasul adalah mereka yang terhubung dengan Yahudi Zionis dan para pemimpin kafir AS dan Israel. Peran utama dalam permusuhan terhadap umat kita dilakukan oleh Israel dan AS, dan keduanya memiliki antek di Timur dan Barat.” (raialyoum)

Menhan Israel dan Menhan Bahrain Bahas Kerjasama Keamanan

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengadakan kontak telefon dengan sejawatnya dari Bahrain Abdullah al-Nuaimi dan membahas kerjasama kedua negara di bidang keamanan, demikian dilaporkan badan penyiaran Israel, Senin (14/9/2020).

Badan itu juga melaporkan bahwa Gantz mengundang Al-Nuaimi untuk berkunjung ke Israel.

Sebelumnya, kantor berita Bahrain BNA melaporkan bahwa pada hari itu terjadi pula kontak telefon antara Menteri Industri, Pertanian, dan Pariwisata Bahrain Zayed bin Rashid Al-Zayani, dan Menteri Kerjasama Regional Israel Ofir Akunis di mana kedua pihak saling mengucapkan selamat atas deklarasi perdamaian antara Bahrain dan Israel.

BNA menyebutkan bahwa dalam percakapan itu keduanya juga “mendiskusikan berbagai aspek kerjasama antara kedua negara di bawah payung perdamaian, yang akan berdampak positif bagi perekonomian kedua negara, terutama di sektor-sektor perdagangan, industri, dan pariwisata”.

Hari ini, Selasa (15/9/2020), Bahrain dan Israel dijadwalkan akan mengikuti upacara penandatangan perdamaian antara kedua negara bersamaan dengan upacara serupa antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel di satu tempat yang sama, yaitu Gedung Putih, Washington, AS.

Pada Jumat pekan lalu Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Bahrain dan Israel telah mencapai kata sepakat untuk normalisasi hubungan antara keduanya, dan dengan demikian Bahrain menjadi negara Arab Teluk Persia kedua yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel setelah UEA. (raialyoum)