Jakarta, ICMES. Seorang pejabat sumber keamanan menyebutkan rincian jumlah serangan udara Rezim Zionis Israel terhadap posisi pasukan Iran dan Hizbullah Lebanon di Suriah, serta jumlah korbannya.

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letjen Aviv Kochavi memperingatkan Lebanon soal perang mendatang Israel melawan Hizbullah, sembari mengakui bahwa Israel akan kejatuhan ribuan rudal setiap hari dalam perang mendatang.
Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengecam upaya terselubung Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel, dan menekankan bahwa normalisasi itu merupakan ancaman langsung terhadap Lebanon.
Rezim Zionis Israel telah menghancurkan sekitar 1.032 rumah dan bangunan Palestina di kota-kota Tepi Barat dan al-Quds Timur pada tahun 2021.
Berita Selengkapnya:
Ini Rincian Jumlah Serangan Israel terhadap Posisi Iran dan Hizbullah di Suriah serta Korbannya
Seorang pejabat sumber keamanan menyebutkan rincian jumlah serangan udara Rezim Zionis Israel terhadap posisi pasukan Iran dan Hizbullah Lebanon di Suriah, serta jumlah korbannya.
Kepada saluran berita Al-Alam, Senin (13/6), pejabat itu mengatakan bahwa sejak Suriah dilanda krisis pemberontakan dan terorisme pada tahun 2011, Israel sejauh ini telah melancarkan sebanyak 158 serangan terhadap posisi pasukan Iran dan Hizbullah di Suriah.
Dia menambahkan bahwa Israel menggelembungkan jumlah orang Iran dan Hizbullah yang gugur akibat serangan tersebut, sedangkan jumlah yang sebenarnya ialah 11 orang Iran dan 12 anggota Hizbullah.
Pada tahun 2020, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi mengumumkan bahwa jumlah martir Iran yang gugur akibat serangan Israel di Suriah delapan orang. Saat itu dia juga menyebutkan daftar nama martir tersebut.
Dikutip Al-Alam, beberapa sumber menyatakan bahwa serangan Israel tidak dibiarkan berlalu begitu saja, melainkan mendapat balasan “setimpal dan terkadang lebih kuat dan menyakitkanâ€.
Apa yang disebut “perang kapal†sejak tahun lalu, kontinyuitas serangan siber yang terkadang sampai melumpuh situs-situs infrastruktur Israel, serangan rudal dan drone ke sarang Zionis di Erbil, Irak, dan belakangan ini peristiwa kebakaran yang melahap sebanyak hampir 20 bus serta tewasnya perwira intelijen di Yafa, menurut Al-Alam, adalah serangan terhadap Israel dari Poros Resistensi di luar dan di dalam wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).
Belakangan ini, sejak tersiar kabar di media bahwa pasukan Rusia di Suriah digantikan oleh pasukan Poros Resistensi, Israel meningkatkan volume serangan udaranya ke Suriah, dan pada gilirannya, rezim penjajah Palestina itu juga semakin mengumbar klaimnya mengenai kerugian pasukan Iran dan Hizbullah. (alalam)
Kochavi: Israel akan Kehujanan Ribuan Rudal Setiap Hari dalam Perang Mendatang
Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letjen Aviv Kochavi memperingatkan Lebanon soal perang mendatang Israel melawan Hizbullah, sembari mengakui bahwa Israel akan kejatuhan ribuan rudal setiap hari dalam perang mendatang.
“Kami di satu sisi akan menyerang dengan kekuatan yang sangat besar, dan di sisi lain kami akan secara eksplisit memberi mereka peringatan dan membiarkan mereka pergi,†kata Kochavi di kota Modi’in, Israel tengah, pada Konferensi Kesiapan Israel untuk menangani keadaan darurat besar.
“Saya katakan di sini, kepada warga Lebanon, pertama dan terutama, saya tidak hanya menyarankan Anda pergi ketika perang dimulai, saya menyarankan Anda pergi saat ketegangan dimulai, sebelum tembakan pertama dilepaskan, karena kekuatan serangan kami akan menjadi sesuatu yang belum pernah Anda lihat sebelumnya,†katanya.
Kochavi kemudian menyinggung situasi front dalam negeri Israel dalam perang mendatang.
“Ini akan sulit, kita harus mengakui itu. Kita akan melihat roket dan rudal menghantam kita, dan itu akan menyebabkan kerusakan, pada orang dan properti. Kita harus melihat kenyataan langsung ke mata.â€
Dia menambahkan bahwa Israel akan diserang dengan “jauh lebih dari 300 roket sehari,” dan perang “akan berlangsung lamaâ€.
Kochavi berbicara demikian tiga hari setelah Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah mengancam akan mencegah Israel mengekstraksi gas dari reservoir gas lepas pantai Karish yang disengketakan di Laut Mediterania.
“Kubu Resistensi tidak bisa tinggal diam di depan penjarahan kekayaan Lebanon, dan tidak akan tinggal diam,†kata Sayid Nasrallah, sembari memperingatkan bahwa “semua opsi terbuka.†(medialine)
Hibullah: Normalisasi Israel dengan Israel Ancaman Langsung bagi Lebanon
Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengecam upaya terselubung Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel, dan menekankan bahwa normalisasi itu merupakan ancaman langsung terhadap Lebanon.
“Perlawanan adalah kebutuhan strategis untuk menghalangi musuh (Israel) dan mendukung negara (Lebanon), martabat dan kekayaannya. Kedekatan dukungan antara Arab Saudi dan Rezim Zionis menimbulkan ancaman langsung terhadap Lebanon, Palestina, Suriah serta semua negara terhormat,†ungkap Wakil Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Nabil Qaouk, dalam sebuah upacara di kota Bint Jbeil, Lebanon selatan, Senin (13/6).
Pada 30 Mei lalu Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mengatakan Israel berkoordinasi dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Teluk Persia untuk proses normalisasi hubungan diplomatik penuh dengan Arab Saudi.
“Kami percaya ada kemungkinan untuk melakukan proses normalisasi dengan Arab Saudi. Ini untuk kepentingan kami, â€kata Lapid.
“Kami sudah mengatakan bahwa ini adalah langkah selanjutnya setelah Kesepakatan Abraham untuk membicarakan proses yang panjang dan hati-hati,†tambahnya, merujuk pada kesepakatan normalisasi tahun 2020 yang dicapai Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan dengan mediasi presiden AS saat itu, Donald Trump.
Lapid menyebutkan bahwa proses normalisasi hubungan dengan Arab Saudi akan memakan waktu lama dengan kemajuan dalam langkah-langkah kecil, dan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan keamanan yang dipertaruhkan.
Syeikh Qaouk mengatakan bahwa AS berambisi menjatuhkan beban ekonomi dan keuangan yang sangat berat terhadap Lebanon agar negara ini bertekuk lutut di depan tuntutan Israel.
Dia kemudian menyalahkan AS atas memburuknya krisis di Lebanon, dan mengatakan bahwa masalah menjadi lebih buruk ketika Lebanon yang mengalami krisis keuangan tunduk pada tuntutan AS.
Menurutnya, desakan untuk memohon dukungan AS justru membuat krisis keuangan Lebanon tak terkendali dan menenggelamkan negara ini ke dalam keruntuhan ekonomi.
“Menyusul pemilu parlemen (15 Mei), Lebanon memiliki peluang nyata di depannya untuk menapaki jalan menuju solusi nyata dan efektif. Peta jalan dimulai dengan pembentukan pemerintahan baru yang lebih cepat karena waktu yang hilang tidak dapat diperoleh kembali. Orang Lebanon benar-benar muak dengan perpecahan dan perselisihan. Mereka ingin melihat proses yang lebih cepat yang bertujuan untuk menyelamatkan negara,†kata Sheikh Qaouk.
Dia menambahkan, “Kami menegaskan kembali keinginan kami untuk bekerja dengan semua pihak yang bersemangat untuk membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab, yang tidak akan menyerah pada sikap bermusuhan AS dan Arab Saudi.†(presstv)
Israel Hancurkan 1032 Bangunan Palestina pada tahun 2021
Rezim Zionis Israel telah menghancurkan sekitar 1.032 rumah dan bangunan Palestina di kota-kota Tepi Barat dan al-Quds Timur pada tahun 2021.
Dikutip Palestinian Information Center, Pusat Penelitian Tanah Masyarakat Studi Arab, pada Ahad (13/6), melaporkan bahwa pada tahun itu Israel menghancurkan 361 bangunan milik Palestina, dan menggusur 1.834 warga Palestina, termasuk 954 anak-anak.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa pasukan Israel telah menghancurkan 671 fasilitas yang menyediakan berbagai layanan untuk lebih dari 5.455 warga Palestina, termasuk 2.600 anak-anak dan 1.800 wanita.
Selain itu, Israel juga menghancurkan 93 sumur yang memasok air untuk 1.800 hektar tanah pertanian Palestina, dan 216 lumbung yang menampung lebih dari 16.400 ekor domba.
Israel secara rutin menghancurkan rumah-rumah Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan al-Quds Timur dengan dalih bahwa bangunan itu dibangun tanpa izin, yang hampir tidak mungkin diperoleh. Mereka juga terkadang memerintahkan pemilik Palestina untuk menghancurkan rumah mereka sendiri atau membayar biaya pembongkaran.
Israel telah menduduki ribuan hektar tanah pertanian Palestina untuk membangun dan memperluas unit pemukim ilegal baru di berbagai daerah di Tepi Barat.
Rezim Tel Aviv juga berencana untuk mengusir keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di al-Quds Timur dalam upaya untuk menggantikan mereka dengan pendatang Yahudi Zionis. (presstv)







