Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 14 Juli 2020

drone yaman samad-3Jakarta, ICMES. Kelompok pejuang Ansarallah Yaman mengumumkan serangan rudal balistik dan drone-nya secara masif ke wilayah Arab Saudi dengan target bandara dan pangkalan militer di sejumlah lokasi di provinsi Jizan, Najran, dan Asir Arab Saudi.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) pernah meminta kepada Iran tidak membalas serangan drone AS yang telah menewaskan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassim Soleimani, namun Iran menolak permintaan itu.

Sebuah kelompok aktivis militer di jejaring sosial Facebook mengedarkan gambar-gambar hasil pencitraan satelit yang memperlihatkan kehancuran sistem pertahanan udara yang dipasang Turki di Libya.

Berita selengkapnya:

Ansarullah Yaman Pastikan Gempuran Terbarunya ke Saudi Menimpa Sasaran

Kelompok pejuang Ansarallah Yaman, Senin (13/7/2020), mengumumkan serangan rudal balistik dan drone-nya secara masif ke wilayah Arab Saudi dengan target bandara dan pangkalan militer di sejumlah lokasi di provinsi Jizan, Najran, dan Asir, Arab Saudi.

“Rudal balistik dan pesawat tak berawak kami dalam operasi militer yang luas telah menghancurkan sejumlah situs militer dan instalasi musuh Saudi di Jizan, Najran dan Asir, termasuk bandara dan pangkalan militer,” ungkap juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree dalam sebuah pernyataan yang ditayangkan di saluran TV Al-Masirah milik Ansarullah.

Dia menambahkan bahwa tentara Yaman dan para pejuang Ansarullah juga menggempur posisi musuhnya di wilayah Yaman sendiri.

“Kamp Tadawin di Provinsi Yaman Ma’rib juga menjadi sasaran ketika terjadi pertemuan para petinggi militer Saudi dengan orang-orang Yaman, yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan cedera.”

Pasukan koalisi yang dipimpin Saudi menyatakan pihaknya berhasil mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik dan enam drone yang diluncurkan oleh Ansarullah. Mereka juga menuduh pasukan Ansarallah melancarkan serangan ke sasaran-sasaran sipil di Arab Saudi.

Wakil pemerintah Sanaa bidang pertahananan dan keamanan Brigjen Jalal al-Ruwaisyan memastikan serangan tersebut menimpa sasaran-sasaran yang disebutkan oleh Yahya Saree serta menyebabkan kerugian fatal bagi Saudi.

“Serangan ini menimbulkan kerugian materi yang fatal serta menyebab puluhan militer Saudi tewas dan luka, termasuk beberapa petinggi dan ahlinya,” ungkap Al-Ruwaisyan.

Dia juga menegaskan, “Operasi neraca pencegahan ofensif dan defensif akan terus berlanjut seiring dengan pengembangan rudal balistik dan drone secara kontinyu, dengan daya jangkau barunya mengejutkan musuh dan  para pendukungnya.”

Senada dengan ini, Brigjen Abdullah bin Amir, pejabat Kementerian Pertahanan di Sanaa, mengatakan, “Operasi Angkatan Bersenjata Yaman tidak membabi buta, dan tidak pula menyasar warga sipil.”

Dia menambahkan, “Tujuan Angkatan Bersenjata Yaman ialah menghentikan agresi dan mencabut blokade…. Kami punya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa jet-jet tempur Saudi sendiriah yang menyerang tempat parkir mobil di Bandara Abha.”

Serangan terbaru Ansarullah ke wilayah Saudi dilancarkan tak lama setelah jet tempur Saudi menyerang sebuah rumah di Provinsa Hajjah hingga menyebabkan enam wanita dan empat anak kecil tewas serta melukai satu pria dan satu perempuan. (alalam/amn)

AS Minta Iran Tak Balas Pembunuhan Soleimani, Teheran Menolak

Pemerintah Amerika Serikat (AS) pernah meminta kepada Iran tidak membalas serangan drone AS yang telah menewaskan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassim Soleimani, namun Iran menolak permintaan itu.

Hal itu diungkap oleh Wakil Menlu Iran Mohsen Baharwand sembari menyebutkan bahwa permintaan itu diajukan oleh AS tak lama setelah serangan drone itu terjadi di Baghdad, Irak, pada Januari 2020.

“AS telah mengirim pesan ke Iran melalui Duta Besar Swiss (selaku penjaga kepentingan AS di Iran) yang meminta Iran tidak membalas, tapi  segera ditolak,” kata Baharvand, seperti dikutip Fars, Senin (13/7/2020),

Dia juga mengomentari laporan Pelapor Khusus PBB untuk urusan arbitrer Agnes Callamard baru-baru ini, yang menyebut pembunuhan Jenderal Soleimani sebagai pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB.

“Kecaman terhadap tindakan AS oleh Callamard sebagai Pelapor Khusus PBB, seorang ahli dan pengacara yang tidak memihak, sangatlah berharga. Laporan ini sekarang menjadi salah satu dokumen PBB dan akan bertahan sampai beberapa dekade di masa depan,” ujar Baharwand.

Jenderal Soleimani terbunuh oleh serangan drone militer AS di dekat Bandara Internasional Baghdad  pada 3 Januari 2020.

Serangan udara itu juga menggugurkan wakil komandan pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis serta lima orang Iran dan lima orang Irak lainnya.

Iran lantas membalas dengan merudal pangkalan militer Ain al-Assad yang ditempati pasukan AS di Irak.

Callamard menyebut serangan AS di Baghdad melanggar kedaulatan Irak karena dilakukan tanpa izin dari pemerintah Irak, dan AS juga tidak mengajukan bukti untuk klaimnya bahwa Jenderal Soleimani merencanakan serangan terhadap pasukan AS di Irak.

Dia juga mengatakan bahwa akan “sulit membayangkan bahwa serangan serupa terhadap seorang pemimpin militer Barat tidak akan dianggap sebagai tindakan perang, yang berpotensi mengarah pada tindakan intens, politik, militer dan sebaliknya, terhadap negara yang melancarkan serangan itu”. (fna)

Foto Satelit Ungkap Kehancuran Sistem Pertahanan Udara Turki di Libya

Sebuah kelompok aktivis militer di jejaring sosial Facebook mengedarkan gambar-gambar hasil pencitraan satelit yang memperlihatkan kehancuran sistem pertahanan udara yang dipasang Turki di Libya.

Foto itu menampakkan lokasi sistem pertahanan udara Turki sebelum dan sesudah serangan udara. Pada foto sesudah serangan terlihat bintik-bintik besar muncul pada titik-titik lokasi yang menjadi target serangan udara.kehancuran sistem turki di libya 2

Serangan udara itu sendiri terjadi beberapa pekan lalu, namun sampai sekarang masih misterius dan belum ada laporan pasti dan resmi mengenai siapa pelakunya.

Media Libya memberitakan kehancuran sistem pertahanan udara  yang dipasang Turki di Pangkalan Udara Al-Watiyah di Libya barat.

Surat kabar Libya Al-Mursad mengutip keterangan sebuah sumber resmi dari pusat komando operasi Angkatan Udara Komando Umum Tentara Nasional Libya (LNA) bahwa serangan udara itu menyasar  radar dan pertahanan udara Hawk dan Coral milik Turki untuk melumpuhkan pangkalan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan pihaknya sedang menyelidiki serangan itu dan akan memberikan respon yang sesuai setelah semua rincian dirilis.

Kementerian itu juga menyebutkan tak korban dari pihak militer Turki dalam serangan itu.

Sementara itu, Menlu Turki Mevlut Chavusoglu, Senin (13/7/2020), menyatakan bahwa persiapan militer pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki masih terus berlanjut untuk merebut kembali kota Sirte dan daerah al-Jafrah dari tangan LNA yang didukung Mesir dan Uni Emirat Arab.

Chavusoglu menegaskan bahwa gencatan senjata di Libya sekarang tidak akan menguntungkan GNA, dan penyerahan Sirte dan Al-Jafrah kepada GNA merupakan syarat untuk gencatan senjata dan dimulainya perundingan. (amn/railayoum)