Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 14 Januari 2020

dubes inggris utk iran Rob MacaireJakarta, ICMES. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran mengancam akan bereaksi “keras dan setimpal”  terhadap Inggris jika negara sekutu AS ini melakukan lagi “barang sedikit kesalahan”.

Inggris mengecam dan menyebut penangkapan duta besarnya untuk Iran, Rob Macaire, sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”.

Pasukan relawan Irak Hashd Shaabi merilis pernyataan berisi peringatan mengenai keberadaan pasukan asing di Negeri 1001 Malam ini.

Kubu presiden pelarian Yaman Abed Rabbuh Mansour Hadi menyatakan bahwa misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Hudaydah, Yaman, gagal dan tidak menghasilkan kemajuan apapun.

Berita selengkapnya:

Iran Mengancam Inggris akan Bereaksi Keras jika Inggris Melakukan “Kesalahan Lagi”

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran mengancam akan bereaksi “keras dan setimpal”  terhadap Inggris jika negara sekutu AS ini melakukan lagi “barang sedikit kesalahan”.

Dalam sebuah pernyataannya, Senin (13/1/2020), Kemenlu Iran mengecam keras tindakan dan pernyataan Inggris “yang tidak relevan”, dan mengingatkan bahwa Inggris akan mendapat reaksi keras yang tidak sebatas pemanggilan duta besarnya jika masih melanjutkan perilaku demikian.

Kemenlu Iran mengecam “keberadaan secara mencurigakan” Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Iran Rob Macaire di tengah kerumunan massa di Teheran yang menggelar unjuk rasa protes anti-pemerintah Iran, demikian pula berbagai pernyataan pedas perdana menteri dan menteri luar negeri Inggris terhadap Iran terkait dengan “aksi teror” AS terhadap mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qassem Soleimani serta pemimpin pasukan relawan Hashd Shaabi dan sejumlah orang lain yang menyertai keduanya di Baghdad.

Kemenlu Iran menilai semua tindakan Inggris itu sebagai campur tangan secara terbuka terhadap urusan internal Iran serta menyalahi prinsip-prinsip yang berlaku dalam hubungan diplomatik serta memperkuat kecurigaan mengenai keterlibatan Inggris dalam upaya keras AS menekan Iran.

Kemenlu Iran lantas mengingatkan bahwa sekali melakukan kesalahan lagi Inggris akan mendapat reaksi keras dan setimpal dari Iran dan bahwa pemerintah Inggris bertanggungjawab penuh atas semua dampaknya.

Kemenlu Iran menegaskan bahwa era kolonialisme Inggris di kawasan Timteng sudah berlalu sejak sekian abad silam sehingga tak perlu lagi dubes Inggris mencampuri urusan internal negara lain serta membangkitkan perpecahan dan konflik di negara lain.

Media di luar Iran melaporkan bahwa otoritas Iran pada Sabtu lalu menangkap Rob Macaire dan menuduhnya berpartisipasi dalam demonstrasi anti-pemerintah atas jatuhnya pesawat Ukraina.

Duta Besar, Rob Macaire, membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa dia menghadiri apa yang dia yakini sebagai peringatan untuk menghormati para korban kecelakaan, yang mencakup setidaknya empat orang yang memiliki hubungan dengan Inggris.

“Normal untuk mau memberi hormat – beberapa korban adalah orang Inggris… ” tulis Macaire di

Macaire mengaku ditahan setengah jam setelah meninggalkan penjagaan, dan BBC melaporkan dia ditahan selama sekitar tiga jam dan kemudian dilepas. (alalam/vox)

Hubungan Memanas, Inggris dan Iran Terlibat Saling Kecam

Hubungan antara Iran dan Inggris terus memburuk sejak peristiwa pembunuhan jenderal ternama Iran Qassem Soleimani yang berujung pembalasan Iran dan jatuhnya pesawat Ukraina.

Kali ini,  Inggris dan Iran terlibat aksi saling kecam. Inggris mengecam dan menyebut penangkapan duta besarnya untuk Iran, Rob Macaire, sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”.

Rob Macaire ditahan dalam waktu singkat pada Sabtu malam lalu setelah menghadiri sebuah aksi konsentrasi terkait dengan salah tembak pesawat Ukraina oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurut laporan BCC, Macaire sudah meninggalkan konsentrasi itu ketika sudah berubah menjadi aksi protes, tapi dia kemudian dituduh membantu mengatur aksi protes.

Seperti diberitakan sebelumnya, terkait keberadaan Macaire di tengah kerumunan massa di Teheran itu Kementerian Luar Negeri Iran mengancam akan bereaksi “keras dan setimpal”  terhadap Inggris jika negara sekutu AS ini melakukan lagi “barang sedikit kesalahan”.

Iran menyebut Macaire “orang asing yang tidak dikenal dalam pertemuan ilegal” sehingga  memanggilnya ke kementerian luar negeri pada hari Ahad (13/1/2020).

Kementerian luar negeri Iran dalam sebuah statemennya menyatakan bahwa Macaire telah “diingatkan” bahwa kehadirannya di “pertemuan ilegal melanggar” Konvensi Wina tentang hubungan diplomatik.

Perdana Menteri Boris Johnson dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengecam penangkapan Macaire dalam sebuah pernyataan bersama setelah keduanya melalui kontak telefon membahas “kepentingan bersama mereka dalam memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir”.

Menteri Keamanan Inggris Brandon Lewis di hari yang sama  menyatakan bahwa penangkapan duta besar Inggris “benar-benar tidak dapat diterima” dan merupakan pelanggaran terhadap Konvensi Wina tahun 1961.

“Iran perlu mundur dari kegiatan semacam itu dan memainkan peran yang tepat dalam bekerja dengan mitra untuk mengurangi,” kecam Lewis. (bbc)

Hasdh Shaabi Rilis Pernyataan lagi Soal Keberadaan Pasukan Asing di Irak

Pasukan relawan Irak Hashd Shaabi, Senin (13/1/2020), merilis pernyataan berisi peringatan mengenai keberadaan pasukan asing di Negeri 1001 Malam ini.

Hashd Shaabi menyatakan dukungannya kepada keputusan parlemen dan pemerintah Irak mengenai keharusan pasukan asing angkat kaki dari Irak, dan menyebutkan bahwa jajaran komandan dan pengurusnya pada hari itu telah mengadakan pertemuan di markas besarnya untuk membahas berbagai persoalan yang diprioritaskan di bidang keamanan dan militer.

“Pertemuan ini menegaskan  keharusan melanjutkan kegiatan pemaparan secara meluas dan pelaksanaan operasi khusus yang menarget sisa-sisa dan anasir teroris ISIS, selain memperkuat posisi defensif dan melindungi perbatasan dari infiltrasi yang belakangan ini mulai aktif lagi,” bunyi pernyataan Hashd Shaabi.

Pasukan relawan Irak menambahkan, “Pertemuan itu juga menekankan perlunya melanjutkan dan mengembangkan mekanisme pelatihan dan meningkatkan koordinasi bersama dengan pasukan keamanan, serta memperbarui dukungan kepada keputusan Dewan Perwakilan Rakyat dan Panglima Angkatan Bersenjata (Adel Abdul-Mahdi) sehubungan dengan kehadiran pasukan asing di Irak.”

Hashd Shaabi juga menegaskan keharusan melanjutkan rencana-rencana operasional dan pengembangan mental yang telah dicetuskan oleh pemimpinnya, Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas bersama Jenderal Iran Qassem Soleimani akibat serangan AS, serta keharusan melestarikan rekam jejak berbagai prestasi dan kemenangan yang telah dicapai Hashd Shaabi selama bertahun-tahun. (alalam)

Kubu Mansour Hadi Sebut Misi PBB di Yaman Gagal  

Kubu presiden pelarian Yaman Abed Rabbuh Mansour Hadi menyatakan bahwa misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Hudaydah, Yaman, gagal dan tidak menghasilkan kemajuan apapun.

Brigjen Sadeq Dwaid, anggota apa yang disebut Komite Pemulihan Pengerahan Pasukan di Hudaydah yang berafiliasi dengan kubu Mansour Hadi di Twitter, Senin (13/1/2020), mencuit, “Sudah satu tahun penuh, namun misi PBB di Hudaydah tidak menghasil sebarang kemajuan untuk penerapan Perjanjian Stockholm.”

Di hari yang sama Dewan Keamanan PBB mengadopsi rancangan resolusi yang diajukan oleh Inggris, untuk memperluas kegiatan Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Mendukung Implementasi Perjanjian Hodaydah selama enam bulan tambahan, hingga 15 Juli 2020.

Sejak tahun 2014 Yaman dilanda konflik antara Ansarullah dan pasukan loyalis Mansour Hadi. Konflik ini membesar setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer membela Mansour Hadi sejak Maret 2015.

Sejak intervensi itulah korban dalam jumlah besar berjatuhan. Jumlah jorban tewas tercatat resmi sekira 10,000 orang, sementara korban luka mencapai lebih dari 56,000 orang, namun pihak lembaga-lembaga kemanusiaan menyatakan jumlah korban jauh lebih besar dari itu.

Selain itu, sebanyak 3,3 juta orang mengungsi, 24,1 orang atau lebih dari sepertiga populasi negara ini, membutuhkan bantuan, menurut catatan PBB yang bahkan menyebut krisis Yaman sebagai yang terburuk di dunia sekarang.  (rtarabic/raialyoum)