Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 13 September 2022

Jakarta, ICMES. Militer Iran menyatakan negara republik Islam ini mengembangkan drone-drone khusus, termasuk tipe “Arash 2”, untuk menyerang Rezim Zionis Israel.

Intelijen Amerika Serikat (AS) memberitahu Rezim Zionis Israel bahwa kelompok pejuang Hizbullah Libanon sedang “merencanakan aksi militer”, ungkap media Israel

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengklaim bahwa Iran menggunakan lebih dari 10 fasilitas militer di Suriah untuk memproduksi rudal dan senjata canggih guna mempersenjatai kelompok-kelompok yang bekerja untuk kepentingannya.

Kelompok pejuang Hamas memberi semangat kepada para pejuang Palestina di Tepi Barat dengan menegaskan bahwa operasi yang terjadi di Gaza, Tepi Barat, Quds (Yerusalem) dan wilayah pendudukan 1948 berdampak besar pada kekalahan rezim pendudukan Zionis di Jalur Gaza.

Berita Selengkapnya:

Iran Blak-Blakan Nyatakan Kembangkan Drone Kamikaze Khusus Gempur Kota-Kota Israel

Militer Iran menyatakan negara republik Islam ini mengembangkan drone-drone khusus, termasuk tipe “Arash 2”, untuk menyerang Rezim Zionis Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi Iran pada Ahad malam (11/9), Panglima Angkatan Darat (AD) Iran Brigjen Kioumars Heydari menyebutkan bahwa Arash 2 memiliki kemampuan unik menentukan kembali target sebelum menghantamnya, dan bahwa drone ini  didedikasikan membasmi entitas Zionis.

Menurutnya,  AD Iran memiliki drone dengan jangkauan strategis, selain memiliki drone berjarak jangkau 2000 km serta beberapa drone  lain pada tingkat yang lebih rendah.

Mengenai karakteristik Arash 2, dia memastikan drone ini dirancang khusus untuk menggempur kota Haifa dan Tel Aviv di Israel (Palestina pendudukan 1948).

Heydari menegaskan bahwa AD siap memproduksi dan menggunakan Arash 2, yang memang sudah bergabung dengan AD dan akan memperlihatkan kemampuannya dalam latihan militer mendatang, dengan karakteristik yang mencakup akurasi bidik yang sama persis dengan presisi rudal Fath.

Arash 2 juga  memiliki keunikan berupa kemampuan menentukan ulang target dalam berbagai cara dan kemudian menghantamnya.

“Pada gilirannya, kami menunggu perintah dari atas untuk menggunakannya suatu hari nanti,” ujar Heydari.

Di sisi lain, Heydari menyebutkan bahwa helikopter AD memiliki rudal “Shafaq” berjarak jangkau 12 hingga 20 kilometer, yang diproduksi oleh para ahli senjata helikopter dan Kementerian Pertahanan Iran.

Dia juga mengatakan, “Dengan memproduksi rudal Shafaq, jangkauan rudal kami meningkat 9,5 kali lipat dari kempetitornya, TOW buatan AS, dan dilengkapi dengan teropong istimewa serta berkemampuan “fire and forget” yang memungkinkan pilot meluncurkan rudal lalu meninggalkan zona operasi secepatnya. (alalam)

Ingatkan Israel, AS: Hizbullah Bersiap Melancarkan Operasi Militer

Intelijen Amerika Serikat (AS) memberitahu Rezim Zionis Israel bahwa kelompok pejuang Hizbullah Libanon sedang “merencanakan aksi militer”, ungkap media Israel, Senin (12/9).

Mantan konsul Israel di Los Angeles Jacob-Shaul Dayan mengatakan Israel tidak membutuhkan intelijen dari AS, “tetapi itu selalu merupakan hal yang baik karena ada kerjasama yang luar biasa antara Israel dan AS.”

“Saya yakin semua itu tergantung kesepakatan gas yang akan ditandatangani, dan mereka ingin memastikan kesepakatan itu benar-benar ditandatangani,” ujarnya.

Pengamat politik Haim Ramon kepada saluran 13 Israel mengatakan, “Tentu saja, ada tekanan AS. Dalam pembicaraan antara Perdana Menteri (Israel) Yair Lapid dan Presiden (AS, Joe) Biden, mereka juga membicarakan hal itu, dan bukan program nuklir Iran pada khususnya,”

Dia menambahkan, “Pihak AS sangat menginginkan perjanjian ini, dan saya percaya perjanjian ini sangat penting bagi Israel.”

Ketegangan meningkat ke tahap yang sama sekali baru antara Lebanon dan Israel setelah Israel mengumumkan sedang mengeksplorasi gas di ladang Karish yang disengketakan, serta tindakannya menggunakan kapal pengeboran minyak Yunani dari Energean pada bulan Juni.

Ketegangan memuncak ketika Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah memperingatkan bahwa ekstraksi gas Israel itu adalah tindakan terlarang karena dilakukan tanpa perjanjian demarkasi yang menjamin hak Lebanon untuk mengekstraksi gasnya dari Laut Mediterania.

Website Channel 14 Israel melaporkan bahwa negosiasi tidak langsung antara Lebanon dan Israel mengenai demarkasi perbatasan laut menunjukkan kemungkinan untuk mencapai “penyelesaian permanen”, meskipun “beberapa pihak di Israel percaya bahwa akan ada konsesi yang menyakitkan, terutama mengenai rincian dalam perjanjian.”

Media Israel pekan lalu mengutip pernyataan seorang pejabat senior Israel di sektor gas bahwa perjanjian demarkasi perbatasan maritim yang terjalin dengan Lebanon merupakan penyerahan penuh Israel dan kemenangan besar bagi Sekjen Hizbullah.

Pada Agustus, Sayid Nasrallah mengancam ,”Jika Lebanon tidak mendapatkan hak-hak yang dituntut oleh negara Lebanon maka kita sedang menuju eskalasi.”

Pada tanggal 31 Juli, Hizbullah merilis video berisi pesan tegas serta menampilkan koordinat anjungan gas Israel di lepas pantai Palestina pendudukan. (almayadeen)

Menhan Israel: Iran Gunakan Banyak Instalasi Militer di Suriah untuk Produksi Rudal

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengklaim bahwa Iran menggunakan lebih dari 10 fasilitas militer di Suriah untuk memproduksi rudal dan senjata canggih guna mempersenjatai kelompok-kelompok yang bekerja untuk kepentingannya.

Dalam sebuah konferensi di New York, AS, Gantz mempresentasikan peta yang disebutnya sebagai situs militer untuk Pusat Studi dan Penelitian Ilmiah, sebuah badan pemerintah Suriah yang terlibat dalam pembuatan rudal dan senjata untuk Iran.

“Iran telah mengubah Pusat Studi dan Penelitian Ilmiah (Suriah) menjadi fasilitas untuk produksi rudal dan senjata jarak menengah, jarak jauh dan akurat, yang disediakan untuk Hizbullah dan proksi Iran. Dengan kata lain, pusat ini telah menjadi front Iran lainnya dan pabrik senjata strategis canggih,” terang Gantz, seperti dikutip Rai Al-Youm, Senin (11/9).

“Masyaf khususnya digunakan untuk memproduksi rudal canggih,” imbuhnya.

Dia menyebutkan bahwa Iran juga bekerja untuk pembuatan rudal dan senjata di Lebanon dan Yaman.

“Jika tren ini tidak dihentikan, maka dalam satu dekade, akan ada industri Iran yang maju di seluruh kawasan ini untuk memproduksi senjata dan menyebarkan teror,” tudingnya.

Sejauh ini, Iran maupun Suriah tidak mengomentari klaim Gantz tersebut. Damaskus sebelumnya juga menahan diri untuk tidak mengomentari tuduhan demikian, sementara Teheran telah membantah membangun kemampuan produksi senjata di berbagai kawasan Timur Tengah.

Selama beberapa tahun, Israel telah melancarkan serangan terhadap apa yang disebutnya sebagai target terkait Iran di Suriah.  (raialyoum)

Hamas: Resistensi Anti-Israel Berakumulasi di Tepi Barat

Kelompok pejuang Hamas memberi semangat kepada para pejuang Palestina di Tepi Barat dengan menegaskan bahwa operasi yang terjadi di Gaza, Tepi Barat, Quds (Yerusalem) dan wilayah pendudukan 1948 berdampak besar pada kekalahan rezim pendudukan Zionis di Jalur Gaza.

Anggota biro politik Hamas, Hussam Badran,  mengatakan hal tersebut dalam siaran persnya, Senin (12/9).

“Tepi Barat diharap (oleh Israel) meninggalkan resistensi, tekanan diterapkan terhadap generasi mudanya, uang dibayarkan untuk pembelokan kompas, dan kesadaran hendak dihanguskan demi menjauhkan kaum muda dari perlawanan,”ungkapnya.

Dia kemudian memastikan ada akumulasi aksi resistensi di Tepi Barat di mana generasi barunya menegaskan kepada dunia, “Kami akan membuat stempel kami sebagaimana orang-orang sebelum kami.”

Dia menambahkan, “Kami mengatakan kepada orang-orang kami di Tepi Barat bahwa Anda berada di lapangan dan mampu mengubah perimbangan dengan rezim okupasi, yang mulai ketakutan terhadap perluasan dan perkembangan resistensi di seantero Tepi Barat.”

Pada pada tahun 2005, pasukan Zionis menarik diri dari Jalur Gaza setelah mengevakuasi pemukim Zionis dan menutup situs-situs militer yang semula menempati sepertiga wilayah Jalur Gaza.

Serangan kubu resistensi terhadap pemukim  dan situs-situs militer itu sejak pecahnya Intifadah Al-Aqsa pada tahun 2000 memaksa rezim Zionis untuk mengosong 21 permukiman di Jalur Gaza, yang semula diduduki oleh pasukan Zionis sejak tahun 1967. (alalam)